SHARE
makna al-maidah 51 menurut bahasa

Tertanggal 6 Oktober 2016, Gubernur PLT jakarta pengganti Jokowi, Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama dilaporkan ke polisi. Pasalnya, dia telah melakukan penistaan terhadap ayat suci al-Quran.

Mulanya Ahok mengajak PNS di pulau seribu untuk ikut program bisnis. Sampai sini tak ada masalah, baik-baik saja. Hingga di pertengahan ia berkata:

“…dibohongi pake surah Al-Maidah 51 dan macem-macem itu.”

Isi surat selengkapnya berbunyi,

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض ومن يتولهم منكم فإنه منهم إن الله لا يهدي القوم الظالمين

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Siapa saja di antara kamu menjadikan mereka pemimpin, sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Allah sungguh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.

Inilah sebab timbulnya polemik yang menjerat Ahok. Ok, mari kita fokus pada quote di atas dengan melihat dua sudut pemahaman yang berbeda:

  • Pemahaman mayoritas, bahwa Pak Basuki menistakan surat al-Maidah. Ayat 51 dibilang bohong oleh Pak Basuki.
  • Pembela Pak Ahok menangkap, bahwa Gubernur tersebut tidak mencela al-Maidah ayat 51. Sebaliknya, dia menyoroti orang yang membawa surat ke-5 ayat 51 sebagai alat berbohong.

Ayo bedah kutipan di atas dengan kepala dingin. Jika kita ubah kalimat itu dengan struktur yang lengkap maka akan terbentuk kalimat seperti ini:

“Anda dibohongin orang pakai surat Al Maidah 51.” – Ini adalah kalimat pasif.

Anda: Objek
Dibohongin: Predikat
Orang: Subjek
Pakai surat al-Maidah 51: Keterangan Alat

Dengan struktur kalimat seperti ini, jelas yang disasar dalam kalimat Pak Basuki adalah subjeknya. Yaitu “orang”. Dalam hal ini orang yang menggunakan surat al-Maidah ayat 51.

Karena surat 5 ayat 51 di sini hanya sebagai keterangan alat yang sifatnya netral. Saya analogikan dengan struktur kalimat yang sama seperti:

“Anda dipukul orang pakai kemoceng.”

Struktur kalimat di atas sama-sama OPSK, jenis kalimat pasif. Subyek ada pada orang. Sedangkan kemoceng merupakan keterangan alat yang bersifat netral. Di sini menariknya.

Kenyataan, sifat kemoceng memang netral. Bisa dipakai membersihkan debu, memukul dan lain sebagainya tergantung predikat. Yang menentukan fungsi kemoceng ini menjadi positif atau negatif adalah predikatnya.

Nah, yang jadi masalah adalah apakah surat al-Maidah ayat 51 bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bohong/bo·hong/ tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta:

Jika kita merujuk pada kutipan ayat al-Quran di atas, makna dari surat al-Maidah ayat 51 tersebut sudah sangat jelas. Bukan kalimat bersayap yang bisa dimultitafsirkan. Tanpa dibacakan oleh orang lain, seseorang yang membaca langsung surat al-Maidah 51 pun mampu memahami artinya.

Kesimpulanya, dengan makna sejelas itu, ayat 51 surat al-Maidah tidak dapat dijadikan alat untuk berbohong. Jadi, ketika Pak Ahok berkata dengan kalimat seperti itu, sudah pasti dia menyakiti umat Islam karena menempatkan al-Maidah 51 sebagai “keterangan alat” yang didahului oleh predikat bohong.

Menempelkan sesuatu yang suci dengan sebuah kata negatif, itulah kesalahannya.

Sebuah logika yang sama dengan kasus seperti ini:

  • Seseorang ulama menghimbau jamaahnya : “Jangan makan babi, Allah mengharamkannya dalam surat al-Maidah ayat 3”.
  • Penjual babi lalu komplain. “Anda jangan mau dibohongi ulama pake surat al-Maidah Ayat 3”.

atau…

  • Seseorang ulama menghimbau masyarakat, ” al-Quran mengharamkan miras dan judi dalam surat al-Maidah ayat 90″.
  • Bandar judi dan produsen vodka pun akat suara, “Anda jangan mau dibohongi ulama pakai surat al-Maidah Ayat 90. “

Jika Anda sudah membaca arti Surat Al Maidah Ayat 3 dan 90 , mana yang akan Anda percaya? Ulama yang memberitahu Anda atau Penjual Babi, Minuman Keras, dan Bandar Judi?

Itu pilihan Anda.

Namun sebagai orang yang mengaku muslim, jika al-Quran dan as-Sunnah sudah menentukan satu hukum, maka itulah yang dipegang dan dijalankan. Kalau tidak mau lagi mengamalkan al-Kitab dan al-Hadits, apakah kita masih layak menyebut diri kita sebagai orang Islam?

Agak berlebihan, mungkin menurut sebagian umat beragama lain dan kaum liberal. Tapi, bagaimana jika kitab suci mereka yang dilecehkan?

  • Kamu dibohongi pake Bibel
  • Kamu dikadali pake Weda
  • Kamu dikibuli pake Tripitaka

 

Memahami Makna “Aulia” al-Māidah ayat 51

Akhirnya Ahok meminta maaf karena tafsiran pribadinya menimbulkan banyak kecemasan, dan memang bukan kapasitasnya untuk mentafsirka. Walaupun begitu, masih ada saja orang-orang yang sok mengerti al-Quran dengan mengatakan,

“Ahok tidak bersalah, karena arti “aulia” itu bukan pemimpin, dan orang yang membawakan surat al-Maidah ayat 51 memaknai kata tersebut sebagai pemimpin.” 

Atau minimal mereka mengatakan klausa yang saya garis bawahi.

Okay, mari kita bahas kata “aulia” ini. Ketika mecoba menggunakan suatu kata/istilah, kita harus melihat bagaimana penutur asal memahami kata tersebut, dalam hal ini orang Arab, lebih diutamakan lagi melihat orang-orang yang dekat dan sezaman dengan literatur kata tersebut.

Karena, beda bahasa, beda negara, beda juga konsep yang dianut, meskipun kata/istilahnya sama. Contoh, kata “cokot” menurut orang Jawa dan Sunda. Istilah “Fitnah” dalam bahasa Indonesia dan Arab.

Berhubung polemik yang kita bahasa adalah al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, mari kita bahas bagaimana sikap para sahabat Rasul yang notabenenya orang yang hidup saat al-Furqan1 itu diturunkan.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ شِهَابٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ -يَعْنِي ابْنَ سَعِيدِ بْنِ سَابِقٍ-حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي قَيْسٍ، عَنْ سِمَاك بْنِ حَرْب، عَنْ عِياض: أَنَّ عُمَرَ أَمَرَ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى فِي أَدِيمٍ وَاحِدٍ، وَكَانَ لَهُ كَاتِبٌ نَصْرَانِيٌّ، فَرَفَعَ إِلَيْهِ ذَلِكَ، فَعَجِبَ عُمَرُ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- وَقَالَ: إِنَّ هَذَا لِحَفِيظٌ، هَلْ أَنْتَ قَارِئٌ لَنَا كِتَابًا فِي الْمَسْجِدِ جَاءَ مَنِ الشَّامِ؟ فَقَالَ: إِنَّهُ لَا يَسْتَطِيعُ (أَنْ يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ) فَقَالَ عُمَرُ: أجُنُبٌ هُوَ؟ قَالَ: لَا بَلْ نَصْرَانِيٌّ. قَالَ: فَانْتَهَرَنِي وَضَرَبَ فَخِذِي، ثُمَّ قَالَ: أَخْرِجُوهُ، ثُمَّ قَرَأَ

Ibnu Hatim meriwayatkan yang bersumber dari Iyad:

Ketika memikul amanat sebagai Khalifah, Umar bin al-Khattab pernah memerintahkan Abu Musa al-Asyari untuk menunjuk pengelola pemasukan dan pengeluaran di Syam.

Lalu, Abu Musa menunjuk seseorang yang beragama Nasrani dan mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tersebut.

Singkat cerita, Umar bin al-Khattab pun kagum dengan hasil pekerjaannya dan ingin memanggilnya, “Hasil kerja orang ini bagus, bisakah kau datangkan dia dari Syam untuk melaporkan semuanya di hadapan kami?”

Abu Musa menjawab: “Ia tidak bisa masuk (ke dalam Masjidil Haram)”.

Umar bertanya, “Kenapa? Apakah ia sedang junub?”2

Abu Musa menjawab, “Bukan, tapi karena ia seorang Nasrani”.

Seketika itu Umar langsung menegur Abu Musa dengan keras dan memukul pahanya seraya berkata, “Pecat dia!”

Kemudian Khalifah ke-2 itu membacakan surat al-Maidah ayat 51.

Berdasarkan sumber yang diinformasikan oleh Ibnu Katsir, sahabat Rasulullah seperti Umar al-Faruqpun memahami seseorang yang kita beri amanat haruslah orang beriman.

Barang kali masih ada saja yang kekeh bahwa, aulia itu tidak bermakna pemimpin, melainkan teman. Kalau begitu, dijadikan teman saja tidak boleh, apalagi pemimpin.

Aulia adalah jamak, bentuk plural dari “wali”. Kata “wali” itu sendiri sudah diserap kedalam bahasa Indonesia. Karenanya, saya akan mengajak pembaca untuk melihat KBBI.

wa·li n 1 orang yang menurut hukum (agama, adat) diserahi kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya, sebelum anak itu dewasa; 2 orang yg menjadi penjamin dl pengurusan dan pengasuhan anak; 3 pengasuh pengantin perempuan pada waktu menikah (yaitu yang melakukan janji nikah dengan pengantin laki-laki; 4 orang saleh (suci); penyebar agama; 5 kepala pemerintah dsb;

Mari kita uraikan, ayat di atas dengan menggunakan makna “wali” dari KBBi: “Wahai orang berimana, jangan kau jadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai…

  1. Pengasuh anak;
  2. Orang yang akan menjamin pengurusan anak;
  3. Wali nikah, saat ijab kabul;
  4. Orang saleh;
  5. Kepala pemerintahan;

Saya kira sudah jelas semuanya, dari pemahaman native speaker, logika istilah, sampai makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Di pertengahan ayat 51 al-Maidah, tertulis bahwa siapa yang memilih orang kafir sebagai aulia/pemimpin, maka yang mimilihnya termasuk dari golongan orang kafir itu.

Maklum saja, jika ada nonmuslim yang menghujat al-Quran dan as-Sunnah karena tidak mengerti. Yang mengherankan, ada orang Islam tapi mati-matian membela pemahaman orang kafir yang tidak berdasar, tanpa ilmu dan referensi yang jelas.

________________

1al-Furqan: Nama lain dari al-Quran, karena sifatnya sebagai petunjuk untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk.

2Orang junub tidak boleh masuk masjid, sampai benar bersih dengan mandi janabah.

3al-Faruq adalah julukan bagi Umar karena dia pandai membedakan antara kebaikan dan keburukan. Selain itu Umar juga sahabat yang paling dekat dengan al-Quran, pikiran, lisan dan tindakan.

Sumber:

  • al-Quran al-Karim
  • Brili Agung
  • KBBI
  • Openulis.com
  • nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/10/08/oepea9377-ramairamai-laporkan-ahok-ke-polisi
  • republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/10/06/oem6xe313-video-ahok-anda-dibohongi-alquran-surat-almaidah-51-viral-di-medsos
  • republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/10/08/oeq21v-membedah-sisi-linguistik-kalimat-ahok-soal-almaidah-51-part3
  • pilkada.liputan6.com/read/2622179/ahok-saya-minta-maaf-kepada-umat-islam
  • Tafsir Ibnu Katsir, 1/132
loading...

9 COMMENTS

  1. saya sangat2 mengerti tulisan admin diatas, buat yang ga mengerti aca terus dah sampai kalia mengerti peranyak minum susu biar pintar, jd bisa ngomong yang bener,ga menghujat org,

  2. Saya akan setuju dengan anda kalau hanya melihat dari sisi BAHASA (maybe) tampa melihat dari niat dan maksud pak Ahok memperkatakan apa yang dia ucapkan itu. Dari sisi bahasa pun saya bisa buktikan yang penjelasan anda di atas tidak 100% benar alias kurang tepat. Tapi untuk kesempatan ini saya hanya mau bertanya kepada anda dari paragraf akhir anda(silahkan langsung direply di sini):

    “*Maklum* saja, jika ada nonmuslim yang menghujat al-Quran dan as-Sunnah *karena tidak mengerti*. Yang mengherankan, ada orang Islam tapi mati-matian membela pemahaman orang kafir yang [tidak berdasar, tanpa ilmu dan referensi yang jelas.]”

    1. Siapa yang lebih bersalah terhadap Allah, seorang muslim yang menghujat Al-Quran atau seorang non-muslim yang *tidak mengerti* menghujat Al-Quran?

    2. Sepertinya anda beranggapan orang-orang muslim yang tidak sepaham dengan anda, memakai pemahaman dari orang kafir dan tidak dapat/mampu mempelajari dan mendalami kejadian di pulau seribu dan menyimpulkan kejadian tersebut dengan kebijakan sendiri secara tulus, murni adanya dan tidak berpihak kepada yang bersangkutan. Betulkah ?

      • Ok, fair enough. Anda tidak mengerti kita bahas yang lain.

        Arti kata “aulia” = teman atau pemimpin jelas sangat berbeda untuk menafsirkan suatu kalimat(ayat). Seharusnya anda harus fair(seimbang) dan tidak melontarkan kalimat ini:

        “Kalau begitu, dijadikan teman saja tidak boleh, apalagi pemimpin.”

        Kenapa?

        Karena pemimpin itu jelas beda kedudukannya dengan seorang teman. Tau kah anda siapa sebenarnya secara rohani, yang menjadikan seseorang itu sebagai pemimpin di suatu negara atau daerah? Yah, Allah sendiri. Ini saya bagikan sepotong artikel dari website http://www.muslimsforpeace.org/loyalty/

        Sincere Obedience

        Islam requires every Muslim to be loyal to his country – regardless of the *ruler’s faith*. The Holy Quran states, “O ye who believe, obey Allah and obey the Prophet and obey those in authority from among you” (4:60). In Islam, therefore, loyalty first belongs to God, obedience to others authority being derived from Him. As a sovereign can demand obedience from his constituency because he is responsible for their safety, obedience to such a one becomes obedience to God. Prophet Muhammad declared, “Whoso obeys the ruler obeys me, and whoso disobeys the ruler disobeys me” (Muslim); “Listen to and obey your ruler, *even if you [despise him]*” (Bukhari).

        Intinya di sini adalah patuhilah pemimpin di negara/daerah-mu WALAUPUN DIA BERBEDA AGAMA. Ke-2, dengarkan dia walaupun engkau menaruh dengki/benci terhadapnya.

        Saya melihat gerakan 4 nov adalah gerakan untuk menjatuhkan pemimpin daerah(walaupun sudah nonaktif) dan pemimpin bangsa sekaligus. Saya melihat sebagian kaum muslim tidak mengerti aksi demo tersebut dan tergolong ikut-ikutan atau disuruh. Tapi di lain sisi sebagian besar umat islam, yang sepantasnya mengerti akan ajaran di atas telah menyalahgunakan hak dan tanggung jawab terhadap ajaran Islam itu sendiri. Kalau seorang muslim mengetahui ajaran Al-Quran tapi masih bertindak bertentangan dengan ajaranNYA, bukannya mereka lebih pantas dipanggil penista agama??

        Belum lagi ancaman demi ancaman yang dilontarkan ketua-ketua ormas Islam terhadap seorang pemimpin. Dan juga penolakan yang kasar dan termasuk biadab sewaktu pak Ahok berkampanye.

        Saya berharap umat Islam bisa melihat lebih jernih dan berimbang dalam menghadapi masalah-masalah keimanan agama di Indonesia.

  3. Blog ulasan agama nih..mantab
    Namun alangkah lebih lengkap jika dianalisis dan ada catatan pendapat penulis sendiri..tidak hanya menampilkan pendapat orang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here