SHARE

Ada banyak ajaran radikalisme dalam buku Sejarah Peradaban Islam di sekolah negeri dan swasta Indonesia. Diantarnya adalah kisah konflik kekuasaan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.

1. Khilafah yang Tertukar

Diceritakan dalam Sejarah Kebudayaan Islam; Muawiyah sebagai gubernur Syam menolak untuk mem-baiat sayyidina Ali sebagai khalifah pengganti Utsman bin Affan yang syahid terbunuh di kota Madinah, sebelum para pemberontak itu ditangkap dan diadili.

Bahkan, Muawiyah mengancam akan mengangkat senjata melawan menantu Nabi Muhammad  tersebut jika tuntutannya tidak segera dikabulkan serta menuduh Ali adalah dalang dibalik peristiwa berdarah itu.

Karena permintaan “darah dibalas dengan darah” tersebut tidak dikabulkan, pecahlah perang antara 2 sahabat Rasul itu dengan hasil panjang yang melelahkan. Akhirnya tercetuslah ide untuk menurunkan keduanya dari singgasan kekuasaan oleh Amr bin Ash dan Abu Musa al-Asy’ari.

Karena Abu Musa dianggap lebih tua, ia dipersilakan naik ke mimbar terlebih dahulu untuk mengatakan, “Saya mencopot Ali dari jabatan Khalifah”. Begitu juga yang semestinya dikatakan Amr terhadap Muawiyah.

Amr bin Ash pun naik, sebaliknya dia berkata, “Saya juga mencopot Ali sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Musa al-Asy’ari, setelah itu saya tetapkan Muawiyah sebagai khalifah.”

Dari peristiwa inilah muncul kelompok yang dianggap pejuang pembela kebenaran, karena mereka berusaha memadamkan api pertikaian dan perang dengan jihad membunuh 4 tokoh di atas. Mereka dikenal dengan julukan Khawarij.

2. Kepentingan Ahli Sejarah

Coba lihat setelah membaca kisah fiktif yang dikira fakta, apa yang terbesit dalam otak para pelajar? Apalagi cerita ini disampaikan oleh para guru dan ustadz yang juga sudah terkontaminasi.

Mereka akan berfikir;

  • para sahabat Rasul -alaihissalatu wassalam- adalah orang-orang yang jahat.
  • Ali adalah orang lemah yang tidak mampu menangkap pemberontak dan tidak dapat membuktikan dirinya tidak bersalah,
  • Muawiyah tukang dendam,
  • Amr orang yang licik,
  • sahabat lain sama saja,
  • pengikut mereka bodoh,
  • yang benar adalah Khawarij.

Setelah mencerna semua ini, para siswa yang polos akan mulai meragukan agama Islam dan ajarannya yang lembut. Bahkan mereka akan mimilih jalan teroris Khawarij.

3. Fakta

Kisah yang benar adalah sebagaimana yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kitab at-Tarikh.

Abu Musa al-Asy’ari berkata kepada Amr bin Ash saat terjadi tahkim, “Bagaimana engkau melihat perkara ini?”

Abu Musa menjawab, “Saya memandangnya termasuk orang yang diridhai Rasulullah saat wafat.” –yang dimaksud adalah Ali bin Abi Thalib-,

Amr bin Ash berkata, “Kalau begitu dimana engkau menempatkan saya dan Muawiyah?”

Abu Musa menjawab, “Jika Ali meminta bantuan kepada kalian berdua, maka kalian harus membantunya. Namun, jika dia tidak butuh kalian berdua, maka telah sekian lama urusan Allah tidak butuh pada bantuan kalian berdua”.

Setelah itu selesailah konflik dengan keputusan seperti di atas, kemudian Amr bin Ash kembali ke Gubernur Muawiyah dengan membawa kabar ini dan Abu Musa pun kembali ke Khalifah Ali dengan membawa kabar dan keputusan yang sama.

Sementara riwayat yang masyhur dalam poin pertama tadi tidak diragukan lagi kepalsuannya dengan bukti terdapatnya sanad Abu Mikhnaf yang dhaif karena ia dinyatakan sebagai pembohong setelah diadakan penelian oleh para ulama.

4. Pemerintahan yang Paripurna

Khalifah umat Islam tidak mungkin dicopot begitu mudahnya oleh Abu Musa al-Asy’ari dan tidak pula oleh orang lain, apalagi hanya dengan angkat suara di atas mimbar.

Yang benar adalah keduanya sepakat untuk menetapkan Ali tetap menjadi Khalifah amirul mu’minin dan mempertahankan Muawiyah sebagai gubernur di Syam.

Setelah peristiwa itu Ali bin Abi Thalib tetap memimpin kekhilafahan selama 4 tahun hingga akhirnya dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam yang tidak puas dengan keadilan dan ijtihad Ali.

Kemudian kaum muslimin secara aklamasi mengangkat al-Hasan sebagai khalifah setelah Ali bin Abi Thalib. Sementara itu, Muawiyah tetap mengembat amanat sebagai gubernur untuk provinsi yang terdiri dari Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon.

Selang 6 bulan memimpin umat Islam, sayyidina Hasan melihat masih ada peluang-peluang konflik politik, akhirnya beliau mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan amanat berat itu kepada Muawiyah bin Abu Sufyan.

Tahun itu dijuluki oleh kaum muslimin dengan Amul Jamaah (tahun persatuan). Kaum Muslimin bergembira dengan adanya persatuan ini setelah mengalamin konflik panjang, 6 tahun di masa Utsman dan 4 tahun di masa Ali.

Kejadian ini juga menjadi bukti kebenaran sabda Rasulullah ,

إِنَّ ابْنِي هَذَا لَسَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنَ المُسْلِمِينَ

Cucuku ini (Hasan bin Ali bin Abi Thalib) sungguh akan menyatukan dua kelompok besar kaum Muslimin. (al-Bukhari)

Kelompok kaum muslimin di bawah komando sahabat mulia ar rasyid Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dan kelompok kaum muslimin di bawah komando Muawiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu anhuma. Dua kelompok besar ini bersatu berkat jasa Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma.

Setelah itu kaum Muslimin di bawah komando Muawiyah bin Abu Sufyan menaklukkan negeri-negeri. Mereka hidup di bawah keadilan sang pemimpin.

Sampai-sampai ada ulama yang mengatakan, “Ini adalah Al-Mahdi” mungkin beliau menyamakannya dengan keadilan yang memenuhi bumi yang akan dibawa oleh Imam Mahdi di akhir zaman.

5. Kejadian Unik Surat Romawi

Setelah Khalifah Utsman syahid, Khalifah Ali diminta mengisi kekosongan untuk mencegah huru-hara yang lebih besar. Sebagaimana kita ketahui betapa berbahayanya vacuum of power.

Tapi Muawiyah menolak membaiatnya sebelum pembunuh Utsman mendapat hukuman qisos. Cuma sebatas itu. Sungguh Muawiyah tidak ingin merebut kekuasaan, ia hanya meminta haknya. Bahkan Muawiyah tidak mengirim pasukannya ke Madinah.

Tidak lama, sengketa antara Ali dan Muawiyah itu terdengar hingga Romawi. Melihat perhelatan khilafah islamiyah yang begitu hebat dan pesat serta membahayakan kekuasaanya, Kaisar Romawi pun merasa inilah kesempatan untuk merobohkan pemerintahan yang dibangung berdasarkan kurikulum Nabi.

Ia pun mengirim surat pada Muawiyah yang isi diantarnya, “Jika kau mau, aku bisa bawa kepala Ali kehadapanmu”.

Dengan tegas Muawiyah membalas surat itu, “Apa urusanmu dengan dua saudara yang sedang bertengkar. Aku dapat mengirim pasukan yang ujung paling belakangnya di depan masjidku dan ujung paling depannya di depan istanamu. Jika engkau mau aku bisa bawakan kepalamu kehadapan Ali.”

Ketahuilah, mereka semua bersaudara dengan iman. Mereka adalah sahabat Nabi Muhammad  yang telah mendapat ridha dan rahmat Allah sebagaimana terkmaktub dalam al-Quran:

والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم

Orang-orang terdahulu lagi berislam diawal dakwah Rasulullah, yakni orang-orang muhajirin dan Ansar serta mereka yang mengikuti setelahnya dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (at-Taubah: 100)

Bahkan Rasul –shallallahu alaihi wa sallam– telah menjamin dan memberikan garansi kualitas para sahabatnya.

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka itu tidak bisa menandingi satu mud infak sahabat, bahkan tidak pula separuhnya” (al-Bukhari, Muslim).

Melihat betapa mulia mereka di hadapan Allah dan Rasul-Nya, tidak mungkin mereka bertikai karena nafsu, menipu dan memperebutkan dunia. Kecuali, kita meragukan kebenaran firman Allah dan sabda Rasul.

Al-Qadhi Iyadh berkata dalam Syarah Shahih Muslim, “Muawiyah termasuk sahabat utama dan shalih. Adapun perangan yang terjadi antara dirinya dengan Ali, sebabnya adalah takwil dan ijtihad. Mereka semua berkeyakinan bahwa ijtihad mereka tepat dan benar”.

Sudah saatnya kita mengubah pemahaman keliru kita dalam buku sejarah Islam yang lama. Akhirnya saya tutup ulasan ini dengan statement Hasan bin Ali sebagai pemimpin pemudan surga ketika ditanya oleh orang-orang Muslim, “Mengapa anda serahkan kepemimpinan kepada Muawiyah?”

Beliau menjawab,

“Dulu, saat ayahku, Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah berhadapan, yang ada di hadapan mata mereka masing-masing adalah akhirat. Tetapi, hari ini ketika kita saling berhadapan dengan Muslim lainnya, di mata kita adalah dunia, bukan akhirat.”

Sejarah perkembangan Islam di dunia:

1 Diskusi Asyik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here