SHARE

Islam memandang manusia, dunia dan kehidupan sebagai eksistensi yang komprehensif. Sebagaimana dunia, manusia pun demikian diciptakan hanya untuk beribadah menyembah Allah .

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Telah Ku ciptakan jin dan manusia hanya untuk menyembahku. (Ad-Dzariat: 56)

Pencapaian yang dimaksud ibadah itu sendiri adalah manusia memosisikan diri sebagai wakil Allah di dunia terhadap segala yang telah disediakan-Nya, bertanggung jawab terhadap fasilitas yang telah diberikan, mengakomodir, dan mewujudkan keberhasilan tertingginya  yang berupa kemakmuran dan peningkatan taraf hidup sesuai kehendak Allah, sebagai pemilik sejati dunia ini.

هو أنشأكم من الأرض واستعمركم فيها

Dialah Allah yang telah mencipkatan kalian di bumi dan menjadikan kalian pengelolanya. (Hud: 61)

Kesejahteraan dan kemakmuran adalah perintah Allah yang mutlak tidak dapat ditawar-tawar. Karenanya, upaya untuk itu harus dilakukan setiap muslim, sesuai kapasitasnya masing-masing.

Karenanya, Allah telah memudahkan jalan untuk itu. Dengan syarat, kita mau menggeluti aktivitas perekonomian hingga berperan aktif dalam masyarakat. Allah subhanahu wa taala berfirman:

هو الذي جعل لكم الأرض ذلولا فامشوا في مناكبها وكلوا من رزقه وإليه النشور

“Dialah Allah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada Allah lah kamu dibangkitkan.” (al-Mulk: 15)

Dalam upayanya untuk merealisasikan hal itu, seorang pengusaha muslim menyadari bahwa harta hanyalah media, bukan tujuan. Bahkan, sekalipun ia memperoleh hasil yang baik, maka hal itu harus dicapai dan dikelola dengan cara yang Allah cintai1 agar tidak bernasib sama sebagaimana Karun.

Dulu Karun dikaruniakan harta melimpah yang kuncinya saja tidak mampu dipikul oleh sekelompok pria kuat. Dengan kekayaan itu, ia mendapat kemapanan sosial dan ekonomi di mata setiap orang.

Namun, ketika ia diminta mengakui Allah sebagai sumber nikmat tersebut dengan mendermakan sebagian harta dan pengetahuannya, ia menolak. Dengan angkuh, ia menafikan nikmat-nikmat itu seolah tidak ada campur tangan Allah di dalamnya. Hingga perkataan sombongnya itu dicatat dalam al-Quran, “Kesuksesan ini karena ilmu yang saya miliki.”2

Ini adalah ungkapan arogan dari pribadi yang mengira aspek fenomena adalah sebab segalanya. Akhirnya, semua kekayaan itu dibenamkan bersama rumah dan gudangnya. Dahulu kekayaan Karun adalah impian semua orang, kini tidak ada seorang pun yang ingin seperti dirinya.

Seorang pengusaha muslim tidak memandang harta sebagaimana Karun –menilai harta adalah hak dirinya karena kunggunlan pengetahuan, sehingga ia merasa pantas untuk sombong  dan meremehkan sesama– Sebaliknya, ia meyakini Allah lah yang telah memberinya anugerah berupa kapabilitas ilmu dan amal, serta kesehatan. Dengan semua nikmat ini, memungkinkan dirinya untuk menyusun kesejahteraan.

Baca juga: Kisah Abdurrahman bin Auf, Pengusaha Muslim yang Takut Kaya

Ketahuilah ketika Allah memberikan harta pada seseorang karena rida dan kebaikan di dalamnya, Ia tidak akan membinasakan pemilik harta sebagaimana Karun dan orang-orang terdahulu. Harta bukanlah bukti ridha Allah pada seseorang, karena Ia Maha berkehendak, bukan karena seseorang itu mulia kemudian ia kaya, bukan pula karena bejat kemudian melarat.

Selaku mandataris, seorang pengusaha mengimani bahwa hartanya adalah titipan yang kelak harus dikembalikan sebagaimana dirinya sendiri. Selaku satu-satunya pemilik sejati, Allah memandatkannya harta untuk digunakan sesuai keinginan-Nya. Allah pun akan meminta pertanggungjawaban atas harta tersebut. Sebagaimana firman-Nya:

ويستخلفكم في الأرض فينظر كيف تعملون

“Allah menjadikan kamu khalifah di muka bumi, Dia pula yang akan menilai perbuatanmu.”3 (Al-Araf: 129)

ثم جعلناكم خلائف في الأرض من بعدهم لننظر كيف تعملون

“Kemudian Kami jadikan kamu successor mereka di muka bumi, supaya Kami dapat menguji kalian dengan kepemimpinan itu.” (Yunus: 14)

Rasulullah  bersabda:

 إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية، أو عمل ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

“Jika manusia mati, kesempatannya untuk mendapat pahala dari amalnya kecuali 3:

  1. Sedekah jariyah,
  2. Amal yang bermanfaat, dan
  3. Anak saleh yang mendoakan.5

Dengan demikian, seorang pengusaha muslim akan menyingkirkan arogansi dari dalam hatinya dan memaksimalkan fasilitas yang telah Allah berikan di alam dengan segenap potensi akal, pengetahuan serta semangat pendayagunaan yang baik.

Seri Buku Pengusaha Muslim:

Perspektif Islam Terhadap Harta

_______

1 Tidak menahan hak orang lain, menunaikan zakat hartanya, membelanjakan untuk keperluan yang diperbolehkan syariat, tidak berbangga diri atas harta tersebut, menyadari bahwa semua itu karena Allah.

2 Al-Qasas: 78

3 Memberikan reward atas kerja keras yang Allah inginkan, atau adzab atas kelalaian.

4 Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bin Abu Bakar al-Salami al-Naisaburi, Sahih Ibnu Khuzaimah, Tahqiq Dr. Muhammad Mustafa al-A’dzomi, al-Maktab al-Islamy, Beirut, 1390M, 1970M, vol. 4, hal. 122.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here