SHARE
etika bisnis pengusaha muslim yang sukses

Beriman kepada qadha dan qadar baik maupun buruk adalah salah satu rukun iman yang harus ada dalam diri seorang pengusaha muslim. Ia harus benar-benar yakin bahwa segala yang menimpanya bukanlah kebetulan, apalagi kekeliruan, karena semua hal baik dan buruk merupakan ketentuan Allah.

Ibnu Abbas meriwayatkan, suatu hari beliau dibonceng oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang berkata,

يَا غُلامُ، إِنِّي مُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فاَسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ، لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ، لَمْ يَضُرُّوكَ إِلا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلامُ، وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Nak, ku ajarkan engkau beberapa kalimat; Jagalah perintah dan larangan Allah, maka Ia akan menjaga mu. Jagalah hak Allah, maka Ia akan menjagamu dari kesulitan dunia dan akhirat. Minta dan berlindunglah hanya kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh dunia bersepakat ingin berbuat baik ataupun buruk padamu, niscaya itu semua tidak akan pernah terjadi kecuali yang telah Allah Takdirkan. Takdir telah ditulis dan tidak akan dapat dihapus.” (Ahmad)

Dengan meresapi hadits di atas, seorang pengusaha muslim akan menyikapi profit dengan rasa syukur, bukan malah berbagga diri.1 Sebaliknya, ia akan menyikapi kerugian dengan optimisme bahwa Allah menghendaki kebaikan untuknya.

Hal itu dibuktikan dari kerugian yang tidak berimplikasi terhadap agamanya. Dengan demikian, ia akan menjaga diri dari sikap tercela yang Allah singgung,

فأما الإنسان إذا ما ابتلاه ربه فأكرمه ونعمه فيقول ربي أكرمن . وأما إذا ما ابتلاه فقدر عليه رزقه فيقول ربي أهانن

“Adapun manusia apabila diuji melalui kemuliaan dan kesenangan, ia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila diuji melalu rezeki sesuai kebutuhannya, ia berkata: ‘Tuhanku telah menghinakanku.’” (Al-Fajar: 15-16)

ومن الناس من يعبد الله على حرف فإن أصابه خير اطمأن به وإن أصابته فتنة انقلب على وجهه خسر الدنيا والآخرة ذلك هو الخسران المبين

“Di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan kecanggungan; jika memperoleh kebajikan, ia tetap beriman. Jika dilanda bencana, ia berpaling. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Inilah kerugian yang nyata.” (Al-Hajj: 11)

Dari Shuhaib, Rasulullah bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Mengagumkan! Ciri orang beriman, semua urusannya baik: Jika mendapat nikmat, ia bersyukur. Jika tertimpa musibah, ia bersabar.” (Muslim, Ibnu Hibban)

Umar bin al-Khattab berkata, “Ada 4 nikmat yang Allah berikan kepadaku setiap kali musibah menerjang:

  1. Musibah itu tidak menimpa agamaku.
  2. Musibah itu tidak lebih besar dari yang aku alami,
  3. Musibah itu tidak menghalangiku untuk ridho pada ketentuan Allah
  4. Karena musibah itu, aku dapat mengharapkan pahala.”2

Ibnu Masud berkata, “Seseorang dapat sangat berambisi terhadap kekayaan dan kekuasaan hingga dua hal itu memudahkan untuk berbuat segala sesuatu. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk melenyapkan kekayaan dan kekuasaan itu darinya, karena berpotensi menjebaknya ke dalam neraka. Lalu orang itu mengumpat dan menyalah-nyalahkan orang lain, padahal yang menimpa dirinya adalah kebaikan dari Allah.”3

Perlu diingat, sebagian orang Islam memiliki pengertian yang keliru mengenai qadha dan qadar, hingga menjadikannya alasan untuk malas dan frustrasi. Entah mereka lupa atau sengaja melupakan bahwa keuntungan dalam Islam berbanding lurus dengan resiko.4

Di zaman keemasan Islam, Iman kepada qadha dan qadar telah memotivasi untuk berani mengambil resiko dan gigih.  Keyakinan itulah yang telah melahirkan pengusaha besar seperti Abdurrahman bin Auf.

Beliau berhijrah ke Madinah tanpa membawa harta benda. Kemudian Nabi Muhammad mempersaudarakannya dengan orang Ansar, Saad bin al-Rabi. Seketika itu Saad berkata, “Saya adalah orang Ansar yang terkaya, saya akan membagi harta itu, setengahnya untukmu; Saya memiliki dua orang istri, silakan pilih yang paling menarik hatimu, kemudian akan saya ceraikan, setelah habis masa idahnya, silakan nikahi dia.” Abdurrahman bin Auf pun membalas dengan doa, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukan saja kepada saya letak pasar.”

Kemudian dia diantarkan ke pasar Bani Qainuqa.5 Disana dia bekerja secara professional untuk mendapatkan upah. Hari itu ia membawa pulang keju dan mentega, kemudian keesokannya ia berangkat lebih pagi.

Hingga pada suatu hari terlihat bekas parfum Zafaron di pakainnya,  melihat hal itu Nabi bertanya, “Apa ini?” Ia menjawab, “Saya baru saja menikah.”, “Berapa mahar yang kau berikan padanya?” lanjut Rasul. “Sebiji emas” jawab Abdurrahman. (al-Bukhari)

Dengan rasa hormat, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran baik Saad bin al-Rabi. Ia malah pergi ke pasar untuk berdagang, sambil mengimani qadha dan qadar yang telah Allah tulis; hingga mampu mengalahkan orang Yahudi di pasar mereka sendiri. Ia sukses mengumpulkan harta berlimpah, bahkan ketika wafat, ia meninggalkan 80.000 dinar6 untuk satu orang istrinya, itu pun hanya senilai 1/32 dari total seluruh kekayaannya.

Artikel Bisnis

_______

1Al-Qasas: 76

2Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, vol. 3, h. 121.

3Zainuddin Abi al-Faraj bin Rajab al-Hanbali, Jami al-Ulum wa al-Hikam, Dar al-Dawah, hal. 164.

4Dalam bisnis Islam tidak ada ajaran “modal sekecil-kecilnya, untung sebesar-besarnya”.

5Pasar milik komunitas Yahudi.

6Konversi satu dinar seharga seekor kambing siap kurban saat itu dan saat ini, setelah 14 abad.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here