SHARE
kalender masehi matahari Iman IQ Spiritual Islam

Tidak sedikit, Islam dipandang sebagai moon god worship (agama penyembah bulan). Hal itu terjadi, karena banyaknya ibadah muslim yang ditentukan oleh bulan; pergantian hari dan tahun, awal puasa Ramadhan, serta 1 Syawwal.

Karenanya, perlu diluruskan bahwa bulan tidaklah menetapkan ibadah, setelit tersebut hanya alat menentukan waktu ibadah sebagaimana jam tangan.

Dalam agama Islam, bulan hanya dianggap makhluk Allah. Keberadaanya mendampingi matahari, sekadar tanda kebesaran Allah bagi orang berpikir. Allah subhanahu wa taala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika kamu hendak menyembah, sembahlah Allah saja. (Fushshilat: 37)

وجعلنا الليل والنهار آيتين فمحونا آية الليل وجعلنا آية النهار مبصرة لتبتغوا فضلا من ربكم ولتعلموا عدد السنين والحساب وكل شيء فصلناه تفصيلا

Telah Kami jadikan malam dan siang sebagai dua bukti keberadaan Allah, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu dapat bekerja menjemput rezeki dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (al-Israa: 12)

Allah menyebutkan bahwa Ia menciptakan dua tanda kekuasaannya, salah satunya adalah siang yang diwakili matahari. Disebutkan dalam ayat tersebut, bahwa siang memiliki 2 fungsi:

  1. Waktu menjemput karunia Allah dan mencari nafkah, sebagaimana disebutkan dalam surah al-Jumu’ah ayat 10.
  2. Media untuk menghitung hari, bulan dan tahun.

 

Mengenai bulan, dalam ayat lain Allah menjelaskan:

هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب

Allah yang menjadikan matahari sumber cahaya dan energi, sedangkan bulan memantulkannya, kemudian kami tetapkan posisi-posisi bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). (Yunus: 5)

Jika dalam ayat pertama Al-Kholiq menyinggung soal matahari, di sini Ia menerangkan soal bulan. Tebukti pada penyebutan “manazil” plural dari “manzil” yang bearti bahwa ada 3 manzil/posisi atau lebih dan hanya bulan yang memiliki posisi sebanyak itu:

  1. Posisi bulan sebagai benda langit berotasi.
  2. Posisi sebagai satelit yang dengan poros mengelilingi bumi.
  3. Posisi bulan yang terus bergerak bersama revolusi bumi.
  4. Posisi sebagai anggota tata surya bimasakti, bulan juga bergerak dengan bergesernya matahari karena alam semesta bertambah luas.

Ada banyak ayat yang mendampingkan mentari dan rembulan. Keduanya disandingkan bukan sebagai lawan, tapi pasangan. Dengan adanya 2 benda itu, terciptalah transisi yang menimbulkan efek kontras siang-malam di permukaan bumi.

Jika bulan dianggap alat menghitung, maka kita perlu menerima matahari sebagai alat juga, karena satunya adalah alasan bagi yang lain.

Saya kira beberapa ayat di atas sudah dapat membantah dan menggambarkan bahwa Islam bukanlah agama bulan, kenyataanya Islam juga menggunakan matahari untuk menentukan waktu-waktu ibadah diantaranya:

A. Shalat

Sebagaimana yang telah diketahui dalam al-Quran bahwa shalat adalah kitaban mauqutan (telah ditentukan waktunya) yakni dengan melihat pergeseran matahari secara langsung ataupun efek dari bergeraknya, bukan dengan jam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merincikan:

وَقْتُ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُولِهِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَوَقْتُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ مَا لَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ وَوَقْتُ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ وَوَقْتُ صَلَاةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَأَمْسِكْ عَنِ الصَّلَاةِ فَإِنَّهَا تَطْلُعْ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ

“Waktu Dzuhur saat matahari condong ke barat, ketika panjang bayangan seseorang sama dengan tinggi dirinya selama belum masuk waktu Asar. Waktu Ashar selama matahari belum menguning. Waktu Shalat Maghrib selama mega merah belum hilang. Waktu shalat ‘Isya hingga pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah mulai terbit fajar (shodiq) selama matahari belum terbit. Jika matahari terbit, maka tahanlah diri dari shalat karena ketika itu matahari terbit antara dua tanduk setan. ” (Muslim: 612)

B. Sahur

Waktu sahur sangat erat dengan fenomena matahari di pagi hari, sekaligus berkaitan erat dengan puasa dan shalat subuh juga melihat matahari.

… وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر …

…makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar… (al-Baqarah: 187)

C. Peritstiwa Lain

Tidak hanya dalam kegiatan yang memang dicatat untuk beribadah saja, namun dalam hal lain al-Quran juga mencatat perhitungan matahari.

ولبثوا في كهفهم ثلاث مئة سنين وازدادوا تسعا

Mereka tinggal di  gua tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun. (al-Kahfi: 25)

Perhatikan ayat di atas. Adakah hal yang menarik! Mengapa al-Quran menggunakan kalimat “tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun”, bukankah cukup dengan menyebut “tiga ratus sembilan tahun”?

Ternyata tidak semata-mata agar bernilai sastra sehingga seolah dibuat-buat, semuanya ada penjelasannya. Karena semua kisah yang tertulis dalam Kitab Suci itu adalah sejarah yang faktual. Tidak seperti pernyataan tokoh liberal Indonesia mengenai kisah dalam al-Quran.

Setelah diteliti, kalimat itu bertujuan untuk mengabarkan dua kalender, tentunya Qomariyah (Hijriah) dan Syamsiyah (Masehi).

Kurang lebih ada selisih 11 hari antara kalender masehi dan hijriah dalam priode satu tahun; 356 – 355 = 11.

Jika selisih itu terjadi 10 kali (dalam 10 tahun) maka jumlahnya 110 hari, jika terjadi 30 kali (30 tahun), jumlahnya 330 hari. Hitungan ini belum termasuk jika ada 12 hari selisih antara hijriah dan masehi.

Jadi, setiap 30 tahun masehi, ada 31 tahun hijriah. Setiap 100 tahun masehi ada 103 hijriah dan setiap 300 tahun masehi ada 309 hijriah.

Secara tidak langsung, ketika menyebut 300 al-Quran ingin menyinggung kalender solar, dan menyinggung kalender lunar.

Demikianlah artikel singkat ini untuk jadi wawasan ikhwan dan kawan sekalian. Namun ada berapa catatan yang tidak boleh ditinggalkan.

Pertama, Perlu diketahui, penggunaan matahari sebagai sistem penanggalan atau kalender solar sudah lama diterapkan banyak bangsa. Nama-nama bulan Masehi yang sekarang banyak digunakan masyarakat dunia adalah adopsi dari nama-nama dewa romawi.

Sebagai contoh, bulan Martius mengambil nama dewa Mars, bulan Maius mengambil nama dewi Maia dan bulan Junius mengambil nama dewa Juno.

Karenanya, perlu adanya kesepakatan umat untuk menggunakan nama lain yang tidak ada unsur kesyirikan jika hendak menggunakan kalender Masehi, misalnya:

كانون الثاني untuk menggantikan Januari yang ramai diketahui di Timur Arab, dan الربيع pengganti Maret yang maklum di Libia.

Kedua, karena alasan pertama juga dilarang bagi muslim untuk mengikuti perayaan atas tuhan agama lain termasuk pergantian tahun baru Masehi yang umumnya cuma hura-hura.

Sumber:

  • al-Quran al-Karim
  • Biografiku. (2015, 10 17). Biografi Edwin Powell Hubble. Diambil kembali dari Biografiku: http://www.biografiku.com/2010/05/biografi-edwin-powell-hubble.html
  • Burhan, A. (2015, 10 17). Nasrani-Yahudi Dalam Tinjauan Madilog. Diambil kembali dari Marxist: https://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1948-Nasrani.htm
  • Efendi, A. (2015, 10 17). Persoalan Kalender Masehi dari Masa ke Masa. Diambil kembali dari Majalah Gontor: http://majalahgontor.net/persoalan-kalender-masehi-dari-masa-ke-masa/
  • Hadi, M. (2015, 10 17). Dentuman Besar: Awal Kelahiran Alam Semesta. Diambil kembali dari Fisika Lipi: http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1112242228
  • Hasanudin. (2015, 10 17). Nama-Nama Bulan Masehi di Negara-Negara Arab. Diambil kembali dari Hasanudin: http://www.hasanudin.id/2015/09/nama-nama-bulan-masehi-di-negara-arab.html
  • Shahih Muslim, Makatabah Shamela
  • Wahyudi, M. Z. (2015, 10 17). Kalender Bulan Vs Matahari. Retrieved from Kompas: http://sains.kompas.com/read/2010/08/11/09585030/Kalender.Bulan.Vs.Matahari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here