SHARE

Niat adalah ruhnya amal, sekaligus inti dan pondasinya. Jika baik, amal pun akan baik, jika rusak, amal turut rusak. Mengenai ini, Rasulullah bersabda, “ٍSetiap usaha tergantung niatnya dan setiap orang akan memperoleh keinginannya.” (al-Bukhari)

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لامْرِئٍ مَا نَوَى

Setiap pekerjaan haruslah memiliki tujuan, dan tujuan pengusaha muslim tidak terbatas pada ibadah semata, bahkan transaksi dan hal lazim lain dilakukan untuk mendekatkan diri pada Allah.

Bisnis Adalah Ibadah

Pengusaha yang mencari nafkah di bidang pertanian, industri, niaga ataupun kerajaninan tangan dsb. dapat dikatakan beribadah dan berjihad di jalan Allah selama mereka;

  • bekerja untuk menjaga diri dari harta haram,
  • mencukupi diri dengan yang halal,
  • memenuhi kebutuhan keluarga,
  • berperilaku adil dan baik ketika bertransaksi dengan siapapun,
  • memberikan nasihat kepada sesama muslim, dan memenuhi kebutuhan mereka, serta
  • mencintai mereka sebagaimana mencintai diri sendiri.

Satu pekerjaan yang sama dapat memiliki hukum syariah, nilai akhlak dan pahala yang berbeda tergantung niat pelakunya, sebagaimana termaktub dalam hadits,

وإن الرجل ليؤجر في رفع اللقمة إلى فم امرأته

“Seorang muslim pasti akan diberi ganjaran untuk setiap pekerjaan yang ia lakukan, bahkan untuk setiap makanan yang ia suapkan kepada istrinya.” (Ahmad)

Islam memandang pekerjaan adalah varian dari ibadah jika dibarengi dengan niat karena Allah. Pengusaha yang mengelola dunia dan meningkatkan kesejahteraannya, misalnya dengan bercocok tanam, mengoperasikan mesin, menambang mineral, serta berniaga akan meraup profit di dunia dan akhirat.

Karenanya, seorang pengusaha muslim diharapkan memiliki pandangan yang sama dalam ibadah dan transaksi. Hal itu dapat terjadi hanya dengan ikhlas karena Allah dan membebaskan diri dari cengkeraman hawa nafsu, harta dan segala gemerlap kenikmatan dunia yang fana. Rasul bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ مُنِعَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Sengsara! budak harta dan fashion. Jika diberi, ia baik, jika tidak, maka sebaliknya. Celaka ia, dan begitu selamanya.” (al-Bukhari)

Pengusaha muslim dituntut untuk selalu mengarahkan aktivitas perekonomiannya pada ridha Allah. Hal ini berlandaskan firman Allah:

قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين . لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين

“Katakanlah: ‘Sungguh shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah seorang muslim.’”.(al-An’am: 162-163)

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة

“Padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus,” (al-Bayyinah)

فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

“Siapa saja yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan apa pun dalam ibadah.” (al-Kahfi: 110)

Sebesar keikhlasan seorang pengusaha, sebesar itu pula pertolongan Allah kepadanya. Naungan-Nya tergantung kadar ketulusan niat dalam hati.

Niat dan Tujuan Dalam Bisnis

Diantara niat yang juga tidak boleh dilupakan saat bekerja dan berbisnis adalah niat membantu orang lain. Ada yang salah?

Ya, membantu orang juga bisa jadi motivasi dalam berbisnis. Misalnya, bertani dapat membantu memenuhi kebutuhan orang kota yang tidak mampu bercocok tanam.

Contoh lain adalah menjadi tengkulak atau distributor hasil tanam para petani. Kita dapat berniat membantu memasarkan sayuran mereka, karena di beberapa tengkulak, para pahlawan agraria itu dirugikan dan dijajah.

Konsekuensi Etika Bisnis Islam

Manusia diberikan hak untuk memilih antara baik dan buruk. Kemudian, jika memilih jalan ketakwaan, ia akan diuji kebenaran niat dan tekadnya.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tanpa diuji? (al-‘Ankabut: 2)

Tentu akan ada resiko yang datang untuk setiap pilihan. Saat kita menekuni bisnis dengan konsep Islam yang mengandung unsur ibadah, tentu harus mengerti hukum muamalat halal-haram, menghindari riba, selektif tidak boleh asal kerja “gak masalah kerja di diskotik, saya kan cuma tukang sapu bersih-bersih.” dsb.

Selain itu saat kita berniat membantu sesama, kita akan dihadapkan beberapa masalah dan kondisi. Misalnya:

Kita membuka usaha sebagai tukang tambal ban. Saat kompresor dan peralatan sudah dirapikan karena sudah waktunya tutup, tiba-tiba datang seseorang mendorong motornya, minta ditambalkan. Saat itu keikhlasan bekerja kita diuji. Berapa sih keuntungan yang didapat dari menambal, belum lagi repot harus bongkar ban, menyalakan mesin pompa angin dan seperangkat alat lain.

Contoh lain, kita ingin membantu kesejahteraan petani dengan menjadi penyalur hasil panen ke pasar dan swalayan. Dengan niat itu, kita dituntut tidak membeli dengan harga murah sementara kita menjual dengan harga mahal.

Artikel Panduan Bisnis Islami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here