SHARE
pengikur firaun dan nabi musa

Rasanya seluruh dunia pernah mendengar kisah Nabi Musa dan Firaun, baik muslim maupun bukan. Saya tidak tahu pasti kisah pastinyanya menurut versi Yahudi dan Nasrani.

Yang jelas, Firaun sangat jahat, bengis dan kufur, bahkan melebihi Iblis ketika ia berkata, “akulah tuhan kalian.”

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

Akulah tuhanmu yang paling tinggi. (An-Nazi’at [79]: 24)

Arrrgh sudahlah. Manusia terlaknat itu telah mati. Kalau masih hidup, mungkin Anda akan jadi pengikutnya. Oooh gak kebayang jadi pengikutnya si pharaoh. Orangnya aja lebih-lebih dari setan, pengikutnya pun pasti lebih buruk dari follower setan.

Kira-kira mungkin tidak?

Jawabnya, sangat mungkin.

Kalau dipikir sich, emang gak mungkin. Tapi kalau dilihat, apa saja bisa terjadi.

Faktanya, Firaun membangun piramid. Firaun orang kaya, punya banyak tentara, berkuasa, dapat memberi banyak emas dan perlindungan untuk golongannya.

Kalian ingat, saat Nabi Musa gak sengaja membunuh orang qibti! Beliau langsung diburu, wanted.

Sementara Musa, hanya seorang penggembala kambing. Bicara pun tidak fasih. Senjatanya pun hanya sebatang tongkat kayu.

Imagine! Ada seorang raja yang berkuasa, tapi ngaku tuhan. Tiba-tiba, datang seseorang tidak terkenal –Ada yang bilang, dia pengembala kambing– sambil menyeru, “Jangan percaya Firaun, dia sesat, sembah Allah saja.”

“Hello, siapa loh? Dateng-dateng bikin gaduh.”

Begitulah kita jika hidup di zaman firaun. Dewasa ini masih banyak yang percaya pada harta, pangkat, jabatan dan retorika.

Kebenaran dan hidayah bisa kita abaikan bila sudah tersentuh pejabat, stakeholder dan idola kita.

Kita masih saja menjadikan pembangunan jalan raya, reklamasi, dan gedung tinggi sebagai indikator kesuksesan pemerintah, tanpa melihat perubahan sosial dan rumah tangga yang makin bobrok.

Mudah sekali kita menafikan ayat suci al-quran dan syariat dengan mengatakan, “gak apa-apa miras, tapi kan banyak turis yang datang”, “meski prostitusi adalah maksiat, tapi menguntungkan pemerintah dari pajaknya”, dll.

Akhirnya, saya tutup sesi kali ini dengan sebuah quote menarik:

“Jika engkau belum sanggup menjadi singa Allah yang membela agamanya. Maka jangan jadi anjing firaun yang selalu menyalak Orang beriman untuk membela kebatilan.”

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here