SHARE
Berita Islam Meyudutkan Agama

Kerap kali kita dikejutkan dengan karya-karya dan media yang melecehkan agama Islam, seperti karikatur, film dan buku yang secara langsung menghina Nabi Muhammad dan al-Quran.

Tidak lain, tidak bukan mereka hanya ingin melampiaskan nafsu dan melihat apakah umat Islam saat ini masih peduli terhadap agamanya.

Silakan baca: Test The Water Umat Islam

Jika ternyata muslimin masih peduli, mereka akan menyorot dan menyebarkan rekaman oknum yang anarkis. Entah dengan membayar sekelompok orang atau rekayasa angle.

Bersamaan dengan itu, waktu kita habis hanya untuk mencari tahu, update informasi. Akhirnya produktifitas kita menurun. Biasanya mampu membaca 100 halaman per hari, jadi cuma 50.

Biasanya sempat mengroteksi 13 murid, sekarang hanya 6. Untuk itu kita perlu mengkaji ulang, apa yang harus dilakukan jika terjadi peristiwa serupa. Secara umum umat Islam harus melakukan 2 hal:

B. Bergeming

Bergeming artinya diam, tidak melakukan apapun. Syaikh Mutawali Sya’rawy –Allah yarham– pernah ditanya tentang pendapat beliau terkait tulisan yang menghujat Islam yang pernah tersebar pada awal tahun 1990-an. Beliau menjawab,

“Saya belum membacanya, dan tidak akan membacanya”.

“Bagaimana Anda bersikap demikian, Syaikh? Padahal media sedang meributkan hal itu?”

Belaiu menjawab, “Tidakkah kamu membaca Firman Allah dalam surat Annisa ayat 140?”

Kemudian Syaikh Sha’rawy membacakan ayat berikut.

وقد نزل عليكم في الكتاب أن إذا سمعتم آيات الله يكفر بها و يستهزأ بها فلا تقعدوا معهم حتى يخوضوا في حديث غيره إنكم إذا مثلهم إن الله جامع المنافقين والكافرين في جهنم جميعا

Sungguh Allah telah menurunkan ketentuan kepadamu dalam Al-Quran. Apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Kalau kamu tetap duduk dengan mereka, tentulah kamu serupa dengan mereka. Allah benar-benar akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam.

Secara singkat al-Quran mejelaskan ketika Kitabullah diejek, Rasul di hina, Islam di cemooh:

  1. Kalau itu media seperti TV, jangan lagi ditonton.
  2. Kalau itu majalah atau buku, jangan dibaca apalagi dibeli.
  3. Kalau itu individu atau tokoh, jangan datangi seminarnya.
  4. kalau akun sosmed atau fanspage, jangan like, follow, share dan berkomentar.

Kalau kita pernah membaca sirah nabawiyyah, kita tahu sebelum datangnya Islam, orang-orang Arab memiliki budaya syair di pasar.

Bahkan sebelum perang Badar dan Uhud dimulai, mereka saling berperang syair lebih dahulu, sebelum perang dengan pedang berkecamuk, perang dengan lisan dimulai sebagai pemanasan.

Dalam periode Mekkah dan Madinah banyak sekali syair-syair yang dibuat oleh kafir Qurays yang berisi penghinaan terhadap Rasulullah  dan para sahabat beliau.

Tetapi, tidak ada satupun buku sejarah yang menukilkan kepada kita sampai hari ini bagaimana bentuk syair-syair penghinaan dan ejekan tersebut, mulai dari sirah nabawiyyah yang ditulis Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, sampai buku-buku kumpulan syair jahiliyah dan Islamiyyah tidak ada satupun yang menukilkan syair hinaan tersebut.

Akhirnya sekarang hilang. Kenapa?

Karena memang mereka ignore terhadap hal-hal demikian, tidak dibesar-besarkan.

Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu pernah berpesan, “Padamkanlah opini negatif dengan mendiamkannya, jangan disebarkan dimana-mana, sehingga orang-orang yang sakit jiwa tidak ikut-ikutan menyebarkannya”.

A. Action

Kita adalah umat yang hidup. Diam bukan berarti takut, Di balik itu semua kita berperan aktif untuk tetap berjihad memperjuangkan Islam.

Namun, ada caranya yakni:

Pertama; Membuat komunitas pengacara muslim intenasional, sehingga kapanpun hal serupa terjadi, kita bisa mengadukan perkara itu ke Mahkamah Internasional.

Meskipun kita tahu, tidak akan ada keadilan yang dapat diberikan Mahkamah Internasional, kalau mengenai Islam. Setidaknya kita sudah berupaya dan berjuang.

Kedua; Mengajukan protes secara resmi melalu menteri luar negeri dan duta besar negara yang bersangkutan.

Ketiga; Memberikan jawaban intelek terhadap penistaan tersebut. Misalnya jika bentuk pelecehan itu berupa buku, kita buat buku sanggahan.

Seperti buku Islam Dihujat karya Ibu Irene Handono yang membantah tuduhan buku Islamic Invansion.

Keempat; Memboikot produk-produk dari negara yang bersangkutan. Tidak mengkonsumsi makanannya, tidak menonton filemnya, tidak mengenakan pakaiannya. Jika lagu jangan diunduh.

Seperti kasus kartun Nabi, awalnya Denmark tidak peduli mengusut filem tersebut. Akhirnya negara-negara timur tengah bersatu dan memboikot semua produksi Denmark. Sampai Denmark merugi, kemudian mereka mau berunding.

Silakan baca:

> Tafsir al-Maidah 51 Tentang Pemimpin

> Hikmah Sulit Menghafal al-Quran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here