Novel: UDQ #11 Sakit

SHARE
Novel Teenlit Ungkapan Dalam Hati

Apa ada hukumannya kalau kita jatuh cinta sama teman sendiri?

Aku buka lemari tempat menyimpan harta karunku. Stoples-stoples yang tertata apik itu aku keluarkan dengan segera. Permen-permen ini bukti perasaanku selama ini. harusnya aku tunjukkan semua ini padanya. Kini semua permen ini tak berarti lagi, untuk apa dibuktikan semuanya jika ia telah menerima orang lain. Untuk apa semua ini?

Sebuah stoples pecah dan permen-permen berhamburan.

Hatiku hancur lebih dari stoples kaca yang telah berkeping-keping itu. Perasaan apa seperti ini? sakit, kesal, geram, kecewa, atau apa? Apakah ini patah hati? Jika aku banting semua stoples ini pun tak akan cukup menjadi pelampiasanku. Aku punguti permen permen yang berserakan satu persatu.

Dulu aku timbun permen-permen ini setiap harinya dengan sabar. Tapi kini semuanya memang tak berarti. Seharusnya aku tak pernah mencintai gadis bodoh itu hingga aku melakukan hal bodoh seperti ini. Aku yang saja bodoh, bisa-bisanya jatuh cinta padanya – Arly si gadis bodoh.


“Astaga Ram.” Aku mendengar suara Yogi. Ia memesuki kamarku, tapi mataku terpejam dan sangat berat untuk dibuka. Entah berapa jam aku tertidur. “Kenapa sampah bungkus permen berantakan begini?” heran Yogi sambil menggoncang-goncangkan tubuhku.

Nyeri, bukan karena Yogi membangunkanku. Pipiku terasa begitu nyeri. Perlahan aku membuka mata dan melihat Yogi merapikan permen-permen itu. “Ka Yogiiii.” Suaraku parau, tenggorokanku terasa serak.

“Stoples ini kamu yang mecahin?” Yogi menunjukkan pecahan beling dari stoples yang aku banting. Aku mengangguk untuk mengakui kesalahanku. “Permennya kok banyak yang tinggal bungkusnya gini, isinya kemana? Kamu makan?” Tanya lagi Yogi dengan nada tak ingin percaya. Aku menganggukkan kepalaku lagi dan Yogi menunjukkan tampang terkejutnya.

“Sakit Kaaaa.” Keluhku yang mengusap-ngusap pipi.

“Sakit gigi?” tebak Yogi masih sibuk merapikan kamarku. Melihat iba padaku yang tak berdaya, Yogi buru-buru mendekatiku, menyentuh keningku, dan meraba tubuhku. “Kok panas?”

“Sakit hati Ka.”

“Sakit hati sampai begini? Gila!” seru Yogi sambil bergegas menyelamatkan adiknya.


Aku tengok kelas XI – IPA 2 untuk menemui Nai, ternyata ia tak masuk. Aku dengar Rama juga tak masuk karena sakit. Sakit apa Rama? Aku tanya teman-teman yang lain juga tidak tahu Rama sakit apa. Aku ingin bertanya pada Erka, tapi sepertinya ia tidak ingin menjawab pertanyaanku. Aku hanya bisa mendengarkan temanku berbincang tanpa bisa ikut bersama mereka.

“Rama sakit apa sih?” tanya Seshi dengan membelakangiku.

“Sakit hati kali.” Aku dengar Bumi menjawab pertanyaan Seshi.

“Tuh anak jarang sakit. Sekalinya sakit, malah susah obatnya.” Erka menambahkan.

Kata-kata itu seakan menghujam ke pundakku. Apa mereka ingin menyindirku? Merasa diasingkan, sungguh aku merasa sedih. Mereka tidak boleh tahu perasaanku kini, atau mereka akan berpikir aku mencari perhatian. Keluar kelas sekarang lebih baik bagiku.

“Kita jenguk yuk!” ajak Seshi bersemangat.

Sebesar apa kesalahanku sampai aku menerima hukuman seperti ini. aku melangkah perlahan menuju perpustakaan. Membaca buku termasuk cara terbaik untuk menghilangkan gundah. Aku pilih salah satu buku dari rak sastra.

“Ar!”

Buku yang baru saja aku ambil terjatuh. “Bumi!” aku terkejut mendapatinya ada di sampingku.

“Kaget ya?” Bumi mengambil dan menyerahkan buku yang terjatuh barusan padaku. “Sejak kemarin, aku merasa kok kita jauh banget ya?”

“Bumi, aku gak bermaksud kayak gitu.” Nadaku terdengar lirih.
“Aku tahu kok. Maaf ya kalau aku kesannya nyuekin kamu. Aku cuma gak habis pikir aja kalau kamu bakal nerima kakak kelas kita itu. Ya, aku tahu dia pinter, walaupun gak seganteng aku.”

“Bum?”

“Hhe, sebenarnya aku berharap kamu nerima Rama, bukan kakak tua itu.”

Aku mengerutkan dahi. “Kakak tua?”

“Iya, kan dia kakak kelaskan kita, lebih tua dari kita kan?” Bumi memperjelas maksud ucapannya.

Sadar didalam perpustakaan yang bukan tempat untuk mengobrol, aku dan Bumi keluar ruangan mencari tempat yang enak untuk berbincang. Kami melajutkan pembicaraan sambil berjalan pelan di pinggir lapangan.

“Aku sama Rama kan sahabatan Bum, kayak aku sama kamu. Lagi pula kalau aku sama Rama, pasti hati Seshi bakal hancur.”

“Lho, apa masalahnya dengan persahabatan? Apa ada hukumannya kalau kita jatuh cinta pada sahabat? Hati Seshi emang gak hancur, tapi sekarang hati aku retak. Mungkin juga akan segera hancur kalau Seshi sama Rama.”

Aku menahan langkah Bumi dan menatap dalam matanya. Bumi menyukai Seshi? Benarkah? Ya, mata Bumi menjawab semuanya.

“Maaf, aku gak tahu kalau kam…”

“Ussttt… soal ini cuma kamu dan Erka yang tahu.” Bumi segera membungkam mulutku dengan tangannya. Aku memberikan kedua jempol tanganku dan Bumi melepas tangannya dari mulutku.


Tidak masuk sekolah karena harus ke rumah sakit untuk menemui seorang dokter gigi termasuk hal konyol bagiku. Aku bukan lagi anak kecil yang harus dinasehati agar tidak terlalu banyak makan permen. Tapi gadis bodoh itu benar membuatku bodoh.

Ketika jatuh cinta padanya, ia membuatku mengoleksi dan menjaga permen pemberianya. Ketika patah hati karenanya, ia membuatku melahap satu stoples permen dalam satu malam. Dasar bodoh!

Aku teringat sebuah lagu dangdut yang bersyair ’lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati…’ dan sekarang aku malah merasakan kedua penderitaan itu. Arly, hebat sekali dia. Membuat aku menderita begini.

“Nih obatnya.” Yogi memberikan sekantong plastik berisi berbagai macam bentuk pil padaku. “Jangan sampai kamu patah hati lagi kayak gini!” ancam kakakku. “Kamu gak tahu kan sakit apa aja yang kamu alami cuma karena patah hati? Banyak Ram, sampai aku bingung.” Ujar Yogi tak sabar dan bersiap untuk mengoceh kembali. Sejenak Yogi terdiam. “Ram, itu teman kamu kan?” Yogi menunjuk satu arah.

Pandanganku tertuju ke tempat yang Yogi arahkan. Seorang gadis berjalan dengan laki-laki muda yang nampak seperti dokter. Aku pertegas penglihatanku. Kinari, gadis itu berada di rumah sakit. Bukankah seharusnya ia di sekolah? Ada apa denganya? Kinari melihatku, ia meninggalkan dokter muda tersebut untuk menghampiriku.

“Kamu di sini Ram?” Kinari seakan tak percaya. “Pipi kamu bengkak gitu, sakit gigi?” tebaknya. Aku menganguk untuk menjawabnya. “Kok bisa?” tanyanya lagi.

Yogi yang mengerti aku sedang tidak nafsu bicara, mulai menjelaskan penyebab pipiku membengkak. Kinari terbahak geli dengan berusaha menahan tawanya. Dokter muda yang bersama Kinari menyusul mendatangi kami.

“Ram, ini dokter Firman.” Ujar Kinari memperkenalkan dokternya. Aku ingat Kinari pernah menceritakan doker ini. ‘Dokter yang super ganteng dan baik hati’ – ‘Aku suka sama dokter Firman.’ Jadi ini laki-laki yang pernah membuat Kinari menangis. Lumayan.

“Saya Firman, kebetulan saya jadi dokter jantung di sini.” Sang dokter muda menjabat tangannku dan Yogi untuk memperkenalkan dirinya.

“Dakter Firman ini dokter pribadi aku lho.” Kinari membanggakan dokternya.


Daftar Isi ⇒ Novel Teenlit Ungkapan Dalam Qalbu Online

Jangan sampai ketinggalan:

 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here