SHARE
Novel Teenlit Ungkapan Dalam Qalbu

Kamu harus menempatkan segala sesuatunya itu sesuai pada tempatnya.

Aku intip kelas Bumi dari luar jendela. Bangkunya tak diisi yang punya. Bel sekolah sudah berdering sejak satu jam lalu, apa dia tidak masuk sekolah lagi? Kenapa?

“Ram.” Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh dan Seshi tersenyum lebar padaku. “Kamu kok di sini?” herannya.

“Kebetulan lewat. Kamu?” tanyaku balik.

“Dari koperasi, beli pulpen.”

“Bumi gak masuk ya Ses?” tanyaku lagi.

“Di lapangan, lagi di hukum karena telat.” Jawabnya.

Telat? Baru kali ini aku mendapatinya tak datang tepat waktu. Mungkin karena ini hari pertama ia bekerja sebagai loper koran dan belum bisa menyusaikan keadaan.

“Ram, kamu mau gak ngedate sama aku?” pertanyaan Seshi yang tiba-tiba itu sangat mengejutkanku.

“Kamu baik-baik aja Ses?” tanyaku sambil memegang kening Seshi.

“Kamu pasti gak mau kan?” Seshi segera menepis tanganku. “Aku yakin kalau Arly yang ngajak pasti kamu langsung mau.” Ujarnya seolah merajuk. Aku jadi merasa tak enak sendiri. Kesambet setan dari mana pula ini anak.

“Yaudah, kita ngedate.” Jawabku akhirnya menerima, dari pada dia ngambek bakal ribet urusannya. Bukannya apa, pasti Arly turun tangan kalau aku nolak Seshi.


Tumpukan buku tertata rapi di rak-rak besar yang membentang di hadapanku. Aku menggaruk ujung alisku, dan menelan ludah. Dimana aku harus menemukan buku yang ditaruh sembarang oleh pak Bahri guru Bahasa Indonesia itu. Kenapa juga aku yang mendapat tugas ini. apa salahku sampai di hukum aneh seperti ini.

“Arly, tadi saya lagi ambil buku di perpustakaan, tapi belum sempat saya baca, tahu-tahu saya di panggil kekantor. Jadi buku itu saya taruh sembarangan. Tolong kamu rapikan ya.” Perintah Pak Bahri saat bel pulang sekolah berbunyi tadi.

“Buk…”

“Saya harus buru-buru pulang, ada urusan penting.” Katanya seraya meninggalkanku tanpa penjelasan.

“Buku apa, dimana ditaruhnya?” akhirnya aku bertanya pada diriku sendiri.

Aku mulai menelusuri rak buku satu persatu demi mencari buku yang terletak tidak pada tempatnya. Aku dapati satu buku, dua, tiga, tidak – banyak buku aku dapati terletak bukan pada tempatnya. Apa-apaan ini, apa semua punya alasan yang sama seperti pak Bahri sampai meletakkan buku yang mereka baca sembarangan seperti ini.

Sejak kapan sosiologi masuk ke dalam bahasa dan sastra atau novel lama ditempatkan di bagian matematika. Aku masih terus menelusuri ketidak beresan buku-buku yang aku temui di setiap rak, dan hasilnya aku mendapati tiga tumpukan yang cukup tinggi buku-buku yang teraniayaya ini.

Aku perhatikan sekelilingku dan aku baru menyadari kalau aku hanya sendirian di perpustakaan. Aku pikir-pikir malang juga nasib perpustakaan di sekolah ini. Aku ingat-ingat jarang sekali perpustakaan ini dikunjungi murid-murid, terakhir kali aku kesini bersama Seshi dan Bumi tidak ada yang lain kecuali penjaga sekolah. Apa perpustakaan yang lain mengalami nasib yang sama?

Aku menata kembali buku-buku yang terabaikan itu sesuai pada tempatnya. Kalau setiap hari penjaga perpustakaan merapikan buku-buku seperti ini kasihan juga. Aku melihat novel di tanganku. Sepertinya aku pernah membaca novel ini. Oo, sepetinya yang menaruh novel ini di rak matematika itu aku.

Aku perhatikan buku-buku yang belum beres kemudian aku nyengir sendiri. Aku mulai mengerti dengan perintah pak Bahri. Sepertinya yang meletakkan buku-buku ini dengan sembarangan tak lain adalah aku. Aku ini sangat sembarangan, tidak disiplin dan teledor.

“Kamu harus menempatkan segala sesuatunya itu sesuai pada tempatnya.” Tiba-tiba Bu Asti petugas perpustakaan ada di sampingku.

“Maaf ya Bu.” Ucapku penuh rasa bersalah dan malu. “Pasti sebelumnya ibu capek ya rapihin buku-buku yang gak aku taruh pada tempatnya lagi.”

“Bukam capek, ibu sebenarnya senang kamu rajin ke sini. Ibu gak masalah kalau harus rapihin buku-buku ini setiap hari. Tapi kalau ibu biarkan terus, kamu gak akan menyadari kesalahan kecil kamu ini dan mungkin akan jadi kebiasaan bagi kamu.” Petuah Bu Asti aku maknai dengan dalam.

“Terima kasih Bu, maaf sekali lagi atas kesalah ini.”

“Terima kasih juga, kamu gak bosan ke perpustakan.”

Aku cuma bisa nyengir kuda kemudian Bu Asti membantuku merapikan buku-buku yang masih berantakan. Kata-kata bu Asti tadi sangat melekat di benakku. Terutama saat beliau bilang ‘Kamu harus menempatkan segala sesuatunya itu sesuai pada tempatnya.’ Aku jadi ingat perasaanku yang letaknya tak sesuai tempatnya.


Aku dengan santai menyeruput moccafloat di sebuah cafe sambil menunggu Seshi. Aku lihat jam tanganku dan ternyata aku sudah menungunya hampir dua puluh menit. Gadis itu, dia yang minta janjian untuk pergi berdua, tapi dia tak datang tepat waktu. Kalau aku pulang saja tanpa menunnggunya itu akan membuatnya kecewa dan kemunggkinan besar dia mengadukan sikapku pada Arly dan pastinya Arly akan sangat marah. Tapi sampai kapan aku harus menunggu.

“Ram.” Seseorang seakan memanggilku dari belakang. Aku menoleh dan ternyata Seshi di belakangku dengan tampang lesu.

“Ses, kamu dari tadi?”

Seshi mengangguk dan duduk di hadapanku.

“Aku kira kamu belum datang.”

“Kita pulang aja yuk.” Ajaknya mengheranku.

“Lhoh? Kenapa?”

“Tadi aku ke toilet, tapi tas aku gak aku bawa. Terus pas aku balik tas aku udah gak ada. Aku udah cari, udah tanya, tapi gak ketemu.” Jelas Seshi tak semangat dengan wajah tertekuk.

“Emp…” aku jadi kasian pada gadis ceroboh ini. “Yaudah, kita beli tas baru aja.” Usulku.

“Tapi dompet aku kan juga hilang Ram.”

“Yaudah kita beli dompet juga.”

“Bukan gitu, maksudnya aku gak punya uang buat belinya.” Terang Seshi.

“Oh.” Ternyata gadis ini lucu juga. Jangan-jangan dia belum pernah ngedate, jadi gak tahu kalau lagi ngedate itu semua biaya ditanggung cowok. “Kita makan aja dulu ya. Biar nanti pas jalan kita gak kelaparan.” Saranku. “Aku yang traktir.”


Sudah beberapa hari ini aku perhatikan Bumi telat masuk sekolah. Mungkin karena dia harus mengantar koran-koran terlebih dahulu sebelum sekolah. Aku kuatir ini bisa mengganggu pelajaranya. Apalagi sebentar lagi ujian.

“Jreng jreng..” Seshi tiba-tiba muncul dan menunjukkan sebuah dompet cantik warna merah muda padaku. “Kemarin aku ngedate sama Rama dan aku dibeliin dompet ini. Aku senang banget Ar.” Ujar Seshi riang sambil mencengkram bahuku dan loncat-loncat.

“Iya? Selamat ya. Aku ikut senang Ses.”

“Dia juga beliin aku tas Ar. Pokoknya aku Senang banget sampai sekarang. Untung aja tas aku hilang.” Ujarnya lagi.

“Hah?” aku seakan salah dengar ‘tas hilang’.

“Iya, jadi…” Seshi mulai menjelaskan kronologi ngedatenya tapi perlahan suara Seshi seakan lenyap karena aku melihat Bumi dan Erka mendekat pada kami. Erka, kali ini aku harus bagaimana? Menghindarinya lagi atau? “Ar? Dengarin aku gak sih?” Seshi mengoncang-goncangkan tubuhku.

“Pasti Seshi habis pamer dompet barunya deh.” Tebak Bumi. “Norak banget sih.”

“Rama juga cerita kemarin kalian ngedate.” Turut Erka.

Seshi menunjukkan Barisan giginya dengan berseri. Sementara aku masih mencoba menempatkan perasaanku pada tempatnya. Berusaha bersikap biasa saja.

“Kamu tadi di hukum apa Bum?” tanyaku perihal keterlambatan Bumi pagi tadi.

“Lari muterin lapangan sepuluh kali.” Jawabnya tegar. “Ya, itung-itung olahraga tambahan. Kayaknya aku bakat banget jadi atlet maraton.” Ungkapnya. “Oya, kemarin kamu di kerjain pak Bahri Ar?”

“Iya, kamu tahu kok gak bantuin aku?”

“Aku baru tahu dari dia.” Bumi menunjuk Erka.

Hening. Erka tahu aku kemarin aku di hukum? Tahu dari mana?

“Kemarin aku mau bantuin kamu Ar, tapi pas aku ke perpus kayaknya kamu udah selesai. Soalnya kamu lagi ngobrol sama bu Asti.” Ungkap Erka seakan ini mencairkan kekagokan yang aku alami.

“Oya, aku ada urusan sama bu Asti.” Ucapku seakan ingat sesuatu. “aku ke bu Asti dulu ya.” Pamitku buru-buru dan langsung meninggalkan mereka. Sebenarnya ini hanya alasanku untuk menghindar. Entah menghindar dari apa.


Bu Dela mengerutkan keningnya setelah mendengar keluhanku mengenai  hukuman untuk Bumi setiap harinya. Matanya menyipit seakan sedang berpikir untuk memberi jawaban yang tepat untukku.

“Saya bukannya minta supaya ibu gak ngehukum Bumi. Tapi bu, kalau hukuman fisik gak akan bisa menghentikan keterlambatan Bumi dan hukuman itu gak efisien karena Bumi malah akan tambah ketinggalan pelajaran sementara kita mau ujian dan…”

“Arly, saya ngerti, dari tadi kamu cuma menjelaskan hal itu-itu aja dengan kata yang berbeda.” Bu Dela mulai sewot. “Saya lagi berpikir, hukuman apa yang lebih efektif untuk Bumi dan lainya.”

“Saya tahu.” Aku merasa punya ide cemerlang. “Bagi setiap siswa atau siswi yang telat. Hukumannya baca buku di perpus kita tercinta.” Usulku dengan yakin. Kali ini Bu Dela mengangkat sebelah alisnya seolah ragu dengan ideku. “S elain perpustakaannya tambah pengunjung, yang telat makin menambah ilmu karena membaca.”

“Apa itu gak terlalu ringan?”

“Ya, kalau gitu tambah aja hukumannya dengan bersihin sekolah saat pulang.”

“Ada yang lain?”

“Ngerjain soal yang akan di ujikan?”

“Hemm, nanti saya bicarakan dengan dewan guru yang lainya. Sekarang kamu pulang aja dulu.” Perintahnya membuatku heran.

“Tapi kan Bu…”

“Arly…”

“Kan belum waktunya pulang Bu, masih jam istirahat.” Jelasku buru-buru sebelum guru BP ku ini salah paham.

“Masa? Yaudah, kembali kekelas.” Titahnya yang membuat aku langsung kabur dari ruangannya.


Daftar Isi Lengkap Novel Online Ungkapan Dalam Qalbu

Penting Dibaca:

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here