SHARE
Novel Teenlit Ungkapan Dalam Qalbu Hati

Kenapa banyak orang yang tak mau mendengar nurani mereka.

Ini hidup kita, diri kita sendiri,

seharusnya kita mampu percaya pada diri sendiri,

bukan malah mengkhianatinya.

Aku melambaikan tangan pada Seshi dari kejauhan. Seshi menyambut lambaian tanganku dengan berlari secepat mungkin kearahku kemudian ia menarikku kesuatu tempat. Kami menuju aula sekolah dan tanpa aku mengerti, murid-murid lain searah dengan kami.

“Ada apa Ses?” heranku yang masih dituntun Seshi.

Aku, Seshi dan murid-murid lain yang satu angkatan termasuk Rama, Erka serta Bumi, berkumpul di belakang aula sekolah. Tak lama, Berri mantan ketua osis di angkatan kami maju kedepan.

“Ekhem.” Isyarat dari Berri agar tidak ada yang bicara selain dia. “Sebelumnya aku harap, selain yang ada di sini, gak ada lagi yang tahu pertemuan rahasia kita ini.” pertemuan rahasia, apa maksudnya? “kalian dikumpulkan di sini untuk masa depan kalian.” Perkataan Berri mulai serius. Aku mulai menyimaknya dengan baik. “Ini…” Berri menunjukkan secarik kertas. “Bocoran jawaban untuk ujian kita besok. Aku pinta kalian harus sangat hati-hati saat menggunakannya. Kalau tidak kalian harus menanggungnya sendiri.” Ujar Berri penuh kewaspadaan.

Bocoran ujian? Belakangan aku memang mendengar desas desus mengenai ini. aku hampir tidak percaya kalau bocoran itu benar-benar ada. Secara langsung dengan tangannya sendiri Berri mulai membagikan kertas kesetiap peserta ujian kelulusan hingga sampailah ia padaku. Ia menyodorkan selembar kertas padaku.

“Maaf, aku gak perlu.” Tolakku denganku halus. Berri berlalu dariku dengan meninggalkan tatapan sinis. Aku mengerti tatapan itu. Mungkin ia berpikir aku sok idealis, tapi beginilah aku.

Sementara Seshi menerima kertas itu dengan senang hati. Sungguh tak tahan dengan suasana seperti ini, aku melangkah jauh dari perkumpulan mereka. Sulit dipercaya bahwa ini sebuah realita, kenapa banyak orang yang tak mau mendengar nurani mereka. Ini hidup kita, diri kita sendiri, seharusnya kita mampu percaya pada diri sendiri, bukan malah mengkhianatinya.

“Arly…” Bumi menyusulku. “Aku bisa sulap, kamu tahu apa ini?” ia menunjukkan kertas bocoran yang dibagikan tadi. “tebak, apa yang bisa aku lakuin dengan kertas ini?”

Bumi melipat kertas itu dengan rapi, kemudian ia menyobek-nyobek kertas ditangannya itu hingga menjadi sepihan halus.

Aku sering meliahat sulap seperti ini di tv, kertasnya disobek-sobek kemudian di kepal-kepal dan dibacakan mantra, maka kertas akan kembali utuh seperti semula. Bumi menyeringaikan giginya dan seperti apa yang ada di pikiranku, Bumi mengepal-ngepal serpihan itu. Tangannya didekatkan kemulutnya dan ia mendekat kewajahku.

“Huuufffft.” Bumi meniupkan kertas yang menerbangkan serpihan halus itu kewajahku tanpa aku duga. Aku termenung tak mengerti dengan apa yang ia lakukan barusan. “Sulap.. kertas contekan itu sekarang udah gak ada…” Aku bertepuk tangan untuknya meski aku masih tak mengerti. “Aku gak akan mengkhianati diriku sendiri… Terima kasih ya Ar, kamu buat aku yakin bahwa aku bisa. Maka gak ada alasan buat aku untuk gak percaya sama diriku sendiri.” Ungkap Bumi dengan bangga.

“So sweet…” kali ini aku bertepuk tangan karena benar-benar kagum terhadap sahabatku ini. “Aku bangga sama kamu Bum…”

“Aku juga kagum banget waktu tadi liat kamu nolak kertas contekan itu.”


Erka dan aku langsung menjauh dari aula saat kita sadar bahwa itu hanya perkumpulan tidak penting. Melihat wajah Erka yang cuek dan santai tidak peduli dengan bocoran itu membuat aku penasaran dengan tanggapan Arly, Bumi dan juga Seshi tentunya.

“Erkaaa, Ramaaa…” lantang suara Seshi langsung membuat kami menoleh ke belakang. “Kalian liat Arly gak?” tanya Seshi setelah berhasil menyusul kami.

“Bukannya tadi sama kamu?” Erka bertanya balik.

“Iya, tapi kayaknya dia marah aku nerima contekan ini, jadi dia ninggalin aku.” Jelas Seshi sambil menunjukkan kertas di tangannya.

“Kamu nerima bocoran itu Ses?” tanyaku setengah tak percaya. Seshi mengangguk malu. “Kamu yakin itu pasti benar?”

“Setelah aku pikir, Arly jauh lebih benar.” Jawabnya. Kami berjalan sejajar menuju kelas kami di lantai tiga. “Mungkin ada rasa takut kalau aku bakal gak lulus, tapi pasti aku akan lebih bangga kalau ngerjain soal ujian dengan kemampuan sendiri.”

“Kamu tambah dewasa ya Ses.” Puji Erka.

Seshi pasti ketularan Arly yang sudah pasti menolak bocoran itu. Semula aku memikirkan Bumi. Saat kami melewati perpustakaan, aku melihat sepatu Bumi dan sepatu Arly berjajar. Kalau Bumi bersama Arly sekarang, artinya dia tidak menerima bocoran itu.

“Arly kayaknya di perpus deh.” Ucap Erka yang juga melihat sepatu Arly.

“Iya, sama Bumi.” Tambahku.

Aku pikir hanya aku yang memperhatikan benda-benda kepunyaan Arly, tapi sepertinya Erka juga perhatian pada Arly dan dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya di hadapanku. Semua nampak jelas bagiku, sekalipun hanya guratan senyum tiap kali Erka menyadari keberadaan Arly.


Episode: Lengkap Novel Online Remaja SMA UDQ

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here