SHARE
Novel Remaja Ungkapan Dalam Qalbu

Sekitar pukul tiga sore bus kami berparkir di depan hotel yang akan menjadi tempat pelaksanaan acara perpisahan dan tempat bermalam. Pukul delapan malam kami berkumpul di ruang serba guna hotel untuk menghadiri acara perpisahan. Beberapa siswa yang menjadi pengisi acara mulai bersiap untuk menunjukkan aksinya dipanggung.

Aku memasuki ruangan bersama Seshi dan mengambil tempat duduk yang sekiranya nyaman, kami duduk di barisan bangku tengah. Siswa dan siswi lain mulai berdatangan dan menduduki bangku kosong. Beberapa orang menyapa kami berdua pun sebaliknya, hanya saja aku tak melihat Bumi, Erka dan Rama.

“Gak sabar deh, mau lihat Rama, Bumi, juga Erka di panggung. Kira-kira mereka ngapain ya?” tanya Seshi. Pertanyaan yang mengingatku bahwa tiga sahabat cowok kami itu adalah pengisi acara.

“Kalian gak makan kue?” sapa Kaila sambil membawa sepiring kecil kue-kue lucu pilihannya.

“Kayanya enak-enak tuh.” Tanggap Seshi melihat piring di tangan Kaila.

“Makan sana, mumpung masih banyak pilihan.” Saran kaila sambil berlalu.

Seshi melirik ke arahku, aku mengerti lirikkan itu. “Ayo!” ajakku, menuntun Seshi ke tempat makanan dihidangkan secara prasmanan.

“Kaila bawain kue itu buat Erka.” Cetus Liona teman sekelasku yang sedang memilih kue juga.

“tuh kan, ketahuan, dia suka sama Erka.” Tanggap bella yang bersama liona.

“tapi kenapa dia dulu nolak Erka?” Tanya Liona balik.

“kaila suka sama Erka?” tiba-tiba Seshi ikut nimbrung.

“kayaknya sih gitu.”

“bisa jadi malam ini mereka jadian.”

“tapi Erka masih suka sama kaila?” Tanya Seshi lagi.

“ya aku sih gak tahu, tapi kan bisa aja bunga yang layu berkembang lagi kalau kena air segar.” Ujar liona.

“maksudnya?” Seshi tak mengerti.

“maksudnya…”

Aku meninggalkan mereka setelah memilih kue-kue dan kembali ketempat dudukku semula. Meski kue-kue di piring kecilku nampak begitu lezat, entah kenapa aku merasa tak selera.

“Makanannya aja diambil, nanti kalau seret gimana?” bukan sulap bukan sihir, Erka ada di sebelahku sekarang. Ia menyodorkan secangkir the yang masih beruap.

“Kamu, kok di sini? Bukannya sama kaila?”

“Kaila?” heran Erka. “oya, aku siap-siap dulu ya buat nampil nanti.” Erka kabur. Ihhh, jadi bete. Aku buru-buru menyeruput the pemberian Erka dan…

“ouh..” tehnya masih panas banget dan aku merasa lidahku terbakar.

“Erka kok pergi?” Tanya Seshi yang baru datang.

“mau siap-siap buat tampil.” Jawabku yang masih kepanasan. “wisssst.. banyak banget kuenya.” Kesanku saat melihat piring Seshi lebih besar da nisi kuenya lebih banyak.

“Yoiii.. buat persiapan.” Jawab Seshi sambil melahap salah satu kuenya. Tanpa pamit Seshi mengambil teh di tanganku dan langsung menyeruputnya.

“masih panas..” ujarku memperingati.

“ahhh..” Seshi gelagapan. “telat banget ngasih taunya, ini teh panas banget.”

“makan ini aja.” Tak ingin merasasa bersalah, aku mencomot kue sus di piringku.

Acara dimulai, kami semua menghikmatkan diri berfokus pada pembukaan acara. Satu persatu setiap kelas bergantian mempersembahkan penampilan terbaiknya. Seshi mulai berhenti mengunyah saat kelas Bumi muncul di panggung. Bumi dan teman-temannya menapilkan stand up komedi. Bumi sebagai komediannya, dan teman-temannya mengiringi dengan memainkan alat musik.

“Kalian tahu?” Bumi berdialog. “persahabatan bisa diibaratkan seperti anggota tubuh, kaki, tangan, otak, jantung, mata dan organ-organ lainya menjadi satu tubuh. Kalau kaki kita menginjak kotoran, tangan kita yang mau gak mau harus membersihkannya, siapa lagi kalau bukan kita sendiri? Kalau kaki kita menginjak paku, jantung kita yang senat senut. Kalau kita injak uang? Mata kita yang lihat, jangan sampe kelihatan mata orang lain, hhe.”

Para audience terkekeh.

“Kita gak akan bisa hidup dengan satu organ tubuh aja. begitu juga aku, gak bisa hidup tanpa sahabat, jika sahabatku terluka aku juga akan merasa sakit dan jika kita harus berpisah, aku merasa bagai mutilasi..”

Suasana henung sejenak kemudian ruangan Ramai digaduhi tepukan tangan para penonton.

“So sweet..” komen Seshi sambil memelukku.

Semua pasti di komentarin so sweet sama Seshi. Tapi bener juga sih. Aku membalas pelukan Seshi.

Penampilan di panggun berganti dengan penampilan dari kelasku. Aku gak ikut ambil bagian karena kelasku menampilkan paduan suara dan aku gak ambil bagian karena gak bisa nyanyi, yang ada nanti ruangan ini tiba-tiba kosong saat aku buka suara. Hhe.

Zoia, nadia dan teman-teman sekelas yang lain berjajar rapi di atas panggung dan membuka suara secara bersamaan.

Oh, thinking about all our younger years

There was only you and me

We were young and wild and free

Now nothing cantake you away from me

But that over noe

You keep me coming back for more

Baby you’re all that I want

When you’re lying here in my arms

I’m finding it hard to believe

We’re in heaven

And love is all that I need

And found it there in your heart

It isn’t too hard to see

We’re in heaven

Kelasku menyanyikan berjudul heaven. Mereka sangat kompak menyanikannya hinnga penampilannya nampak sangat mengagumkan.

Suasana hening menunggu penampilan selanjutnya dari kelas lain. panggung pun digelapkan.

Every night in my dreams I see you, I feel you..

Terdengar suara dari belakang panggung. Aku kenal suara merdu itu.

“Rama.” Bisik Seshi. Kemudian penonton yang lain bertepuk tangan.

Rama memasuki panggung dan diikuti temanya yang akan memainkan alat musik. Rama melantunkan lagu my heart will go on – celindion.

Every nigt in my dreams

I see you, I feel you

That is how I know you go on

Far across the distance

And spaces between us

You have came to show you go on

Near, far, wherever you are

I belive that the heart does go on

Once more you open the door

And you’re here in my heart

And my heart will go on and on

Lagu ini, aku menjadi sedih jika memaknainya. Rama akan melanjutkan pendidikannya keluar kota. Aku akan berpisah dengannya. Rama, kenapa dia menyanyikan lagu ini?

“kerennn..” sorai beberapa gadis yang melihat Rama. Tau deh, emang pesona Rama gak bisa diabaikan.

Setelah Rama turun panggung, giliran kelas Erka untuk tampil. Aku merasa deg-deg – kan, entah kenapa. Mungkin karena yang tampil adalah orang yang aku suka.

Music mulai didendangkan dan Erka akan membuka suaranya.

Sahabat, dengarkan sekedar pintaku ini

Aku ingin mencurahkan luapan isi hatiku

Telah lama engkau tahu diriku terbeban perih

Hanya engkau yang berkenan menemani hidupku

Tiada yang sebaik dirimu

Tak setulus teduh caramu

Tak semurni palung sikapmu

Yang menguatkan semangatku

Sebelum tiba saat rebah tubuhku

Sebelum tiba saat lepaskan jiwaku

Sahabat, dengarkanlah repihan isi hatiku

Aku ingin engkau tahu beratinya kau bagiku

Sesungguhnya tubuh ini tak mampu bertahan lagi

Meski hanya untuk bisa menggenggam tanganmu..

Panggung seketika langsung Ramai dengan tepuk tangan setelah Erka selesai menyanyikan lagu dari band Padi yang berjudul Repihan Hati.

Usai penampilan dari masing-masing kelas, malam perpisahan diakhiri dengan acara renungan. Ruangan digelapkan, suasana menjadi benar-benar hening. Para siswa disita waktunya beberapa saat untuk mengenang masa-masa selama di sekolah. Mata terpejam dan pikiran mulai melayang mengenang hal-hal yang dilalui selama sekolah.

Masa-masa kami sebenarnya berjalan cukup lama tapi terasa sangat sigkat. Keceriaan, kepedihan, senang, susah semua yang kami jalani bersama terbayang cukup jelas.

Seshi, gadis imut itu mampu bertahan denganku selama tiga tahun. Bumi, aku tidak akan pernah lupa dengan semangat dan kekocakannya. Erka, dialah cowok pertama yang membuat perasaanku tidak keruan. Dan Rama, entah aku harus bicara apa tentangnya, dia sahabat terbaikku. Aku tak bisa menahan air mataku saat mengenang Kinari. Nai, meski ia tak duduk di sisiku sekarang, tapi ia akan selalu ada di benakku.

Pundakku tiba-tiba terasa berat sebelah, terdengar bisik isakan pelan. Aku buru-buru menghapus air mata di pipiku, membuka mata dan mengusap-usap pelan kepala Seshi. Aku mengerti, dan kini aku memeluk erat gadis di sisiku.

“Seshi sayang banget sama Arly, walau kita nanti gak satu sekolah, ini bukan berati kita berpisahkan?” Pelukan Seshi semakin erat.

“Maafin Arly ya, kalau Arly banyak salah ke Seshi.”

“jangan minta maaf,” ujar Seshi manja.

“Terima kasih buat semua kebaikan Seshi.”

“Gak perlu berterima kasih, karena Seshi gak tahu harus berapakali bilang terima kasih untuk kebaikan Arly.”

Aku masih memeluknya, tapi entah kenapa aku sangat merindukannya. Air matakupun tak terbendung. Kami menangis dalam gelap, dan tersenyum dalam pilu. Pelukan kami terlepas saat ruangan terang kembali, kami tersenyum lebar bahkan tertawa saat melihat pipi satu sama lainnya basah.

“kalau kita bakal jauh nanti, aku rindu kamu, kamu gak akan bisa hapus air mataku.” Ucap Seshi saat aku menyeka pipinya.

“kalau Cuma karena kangen sama aku, kamu bakal nangis. Lebih baik kamu jangan kangen sama aku.”

Seshi sedikit manyun dan memelukku lagi. “Aku gak akan nangis kalau kangen aku.” Bisiknya.


Aku, Erka dan Bumi melepas pelukan yang cukup lama. Kami tersenyum bersama tanpa mengeluarkan kata namun mengerti maksud hati satu sama lain. Tidak mau terlarut hanya bertiga, setelah tegur sapa dengan teman-teman lain, kami bertiga berlari mendatang Arly dan Seshi yang masih sibuk bersama teman-teman lain juga.

“Hai..” raya nongol meyergap, Seshi dan Arly langsung memeluknya kemudian mereka bercengkRama dalam pelukan itu mirip sedang bisik-bisik rahasia.

“Kita kok gak sebegitunya ya?” Tanya Bumi.

“Biasa, perempuan emang begitu.” Jawab Erka.

“emp, kita nyamperin Arly sama Seshi mau ngapain?” Tanya lagi Bumi.

Aku dan Erka saling menatap. Iya juga sih, bagi kami, ada tindakan yang ingin kami lakukan namun tak bisa dijelaskan.

“Emang kamu gak mau bilang sesuatu ke mereka?” Tanya Erka.

“emang kalian mau bilang apa?”

“Ya, minta maaf, terima kasih atau apa kek.” Jawabku mulai merasa Bumi ketularan Seshi kalau lagi tulalit.

Raya pamit untuk ke teman-teman yang lain kemudian Bumi menggandeng Arly dan Seshi. “kita jalan-jalan yuk!” ajak Bumi.

“keduluan kita.” Kataku pada Erka kemudian kami membuntuti Bumi yang berjalan di depan.

Arly yang semula sejajar dengan Bumi dan Seshi mundur perlahan dan menyelip diantara aku dan Erka.

“kita emang gak apa-apa ya keluar dari ruangan?” Tanya Seshi sedikit khawatir.

“ya gak apa-apalah, kan acaranya udah selesai lagian kita kan ga pergi jauh.” Jawab Bumi.

“emang kita mau kemana?”

“Gak kemana-mana, cuma sedikit menjauh dari keRamaian supaya kita lebih eklusif aja” jawab Bumi lagi.

“Mereka serasi ya?” Tanya Arly pelan.

Bersamaan aku dan Erka menatap Arly. Senyumnya, jeli matanya, keceriaannya meneduhkan penglihatanku dan aku rasa itu juga yang Erka lihat.

Bumi berbalik dan menghentikan langkah kami kemudian kami duduk di rumput yang warna hijaunya menggelap karena terpengaruh malam.

“Aku sering dengar kalimat yang bilang kalau dalam persahabat gak ada yang namanya kata maaf dan terima kasih. Aku gak ingin bilang maaf atau terima kasih, kata itu gak akan cukup dan bahkan aku gak nemuin kata yang tepat untuk di persembahkan kepada kalian.” Ucap Bumi tertunduk.

“Dalam persahabatan gak perlu kata apapun, atau persembahan apapun kecuali ketulusan.” Jawab Arly ikut tertunduk.

“jadi apa yang seharusnya dilakukan?” Tanya Seshi.

“Doa.” Jawab Erka.

Tuhan memberikan mereka untuku sebagai anugrah. Aku tak pernah membayangkan jika harus jauh dari mereka, bagaimana aku bisa meninggalkan anugrah ini tuhan?

“mungkin Kinari gak ada sama kita sekarang, tapi kalian harus tahu. Bagi aku, kinari gak pernah ninggalin aku, karena namanya masih tersebut dalam doaku. Dan kalian harus tahu, mungkin nanti kita gak barengan kayak gini. Tapi kita gak akan pernah kehilangan satu sama lainnya selama kita masih saling mendoakan.” Ucap Arly bijak.

Kami semua terdiam memaknai perkataan Arly yang menelusup dalam relung batin. Setelah cukup lama, Bumi membaringkan tubuhnya dan menatap ke luas langit di penuhi bintang. Seshi mengikutinya disusul Arly, Erka dan aku.

“Kenapa ya kalau di kota kita bintangnya gak kelihatan sebanyak ini?” Tanya Seshi.

“Karena di sini daratannya lebih tinggi dari kota kita tinggal.” Jawabku.

“Kalau aku lihat bintang, pasti bintang yang berjajar tiga itu kelihatan mulu.” Arly menunjuk bintang yang berjajar tiga seakan menggores langit dengan cahaya indah.

“jadi mau lihat bintang jatuh deh.” Harap Bumi.

“bagi aku kalian bintang jatuh yang menghampiri aku.” Ucap Erka.

Aku tersenyum sendiri, Erka seakan bisa menerka perasaanku. Arly juga seperti itu. Mereka seakan tahu persis bagaimana otak dan hatiku.

“Aku sayang kalian.” Ujar Seshi.

“Kita tahu.” Jawab kami kompak.

Cukup lama kami memandangi cahaya gemerlap di pekatnya gelap, tiba-tiba ada yang mengusikku.

“Maaf ni kalau bakal ngerusak suasana, aku mau ke toilet.” Pamitku yang buru-buru kabur dari mereka.


Lengkap: Novel Online Ungkapan Dalam Hati

 

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here