SHARE
Novel Remaja Ungkapan Dalam Qalbu

Nahan emosi emang cukup sulit,
tapi yang mampu mengendalikan emosi adalah pemenangnya.

“Ka, Batholit apa dah?” Tanya Bumi ketika guru geografi kami meninggalkan kelas karena jam pelajaran telah berakhir dan saatnya istirahat.

“Batuan beku yang terjadi di dapur magma.” Jawab Erka sambil merapikan bukunya. Bumi juga turut merapikan bukunya.

“Bukannya batuan beku dalam yang bentuknya tipis, pipih gitu ya?” tanya lagi Bumi ketika mereka berjalan menuju kantin.

“Itu Still.” Jawabku menyambung yang berjalan di belakang mereka. Mereka terhenti sejenak dan mundur satu langkah menjajariku. Kompak sekali mereka, kini aku merasa seperti dikawal oleh bodyguard.

“Aku sedikit lupa sama pelajaran geografi pekan lalu, makanya tadi aku kurang nyambung waktu dibahas lagi.” Keluh Bumi sambil menggauk-garuk kepala bagian belakangnya.

“Makanya malem hari itu, kamu baca pelajaran yang buat besok. Biar gak lupa.” Saranku sesuai metode belajarku.

“Dengar tuh, jangan belajar kalau ada ulangan aja!” tambah Erka.

Semula perjalanan kami terasa mengasyikan, tapi entah kenapa ketika sampai di kantin, semua pasang mata tertuju pada kami. Tertuju padaku tepatnya.

“Kok semuanya ngeliatin kamu Ar?” bisik Bumi yang juga merasakan hal yang sama.

“Kalian mau beli makan apa?” tanya Erka yang tidak merasakan hal aneh.

Aku dan Bumi terdiam sejenak, Erka ikut terdiam namun penuh heran. Aku membaca ada keanehan dari tatapan mereka yang memandangku. Apa ada yang salah? Dari kejauhan Nai berlari ke arah ku. Tanpa bicara apapun Nai menarikku keluar dari kantin.

“Kamu pasti belum tahu kalau tadi pagi Rama berantem sama Kak Dhani.” Ungkap Nai sambil menggengam tanganku. Kami berjalan cepat menuju sebuah kelas.

“Kenapa mereka berantem? Ada yang terluka gak?”

“Kalau gak ada yang melerai, mungkin salah satu dari mereka udah babak belur.”

Kami terhenti di kelas XII IPS 3. Aku masih tidak mengerti. Tapi mata Nai menatap seseorang di dalam kelas dengan geram. Dan orang tersebut adalah kak Dhani. Semoga pemikiranku salah kalau Nai ingin menghabisi orang itu.

“Nai.” Sebutku pelan.

Nai menatapku dalam, lalu wajahnya tertunduk dan langkahnya berputar balik meninggal kelas tersebut. Aku mengikutinya tapi tidak mencoba untuk bertanya. Sebenarnya aku masih bingung dengan apa yang terjadi.

“Wajah polos kamu nyadarin aku, kalau apa yang aku lakukan itu gak akan ada gunanya.” Ucap Nai sambil menggandeng lagi tanganku.


“Kayaknya Rama suka sama kamu deh Ar.” Lirih Seshi tak bersemangat saat mendengar bel pulang berdering.

“Jangan pikir yang aneh-aneh.” Tanggapku sambil memasukkan buku ke ransel.

“Itu gak aneh Ar, kalian selama ini dekat. Wajar kalau Rama suka sama kamu. Makanya tadi pagi dia berantem sama kak Dhani.”

“Maksudnya?”

“Kayaknya Rama tahu kalau kak Dhani suka sama kamu, dan Rama gak suka itu.” Jelas Seshi tak sabaran.

“Emang kak Dhani suka sama aku? Kok aku gak tahu?” heranku. “Lagi pula kalau kak Dhani suka sama aku, kenapa Rama yang gak suka?” aku malah bertambah bingung.

“Arly…” Seshi tertunduk lemas.

Kadang pikiranku memang agak sulit untuk tersambung, entah bagian otakku yang mana yang konslet. Tapi aku memang kurang atau bisa dikatakan ‘tidak mengerti’ dengan permasalahan ini. Aku melihat raut kecewa Seshi, ku maknai lagi kata-katanya. Aku jadi merasa tidak enak padanya jika benar ‘Rama menyukaiku’. Aku harus bagaimana?


Kabar mengenai kakak kelas yang menyukai Arly sudah cukup menyebar. Aku tahu orang itu dari waktu lalu ketika Arly dan Raia bersama seorang kakak kelas kami di lapangan. Gerak-gerik Raia dan laki-laki yang bernama Dhani itu cukup menjelaskan bahwa Dhani itulah yang menyukai Arly.

Aku kira aku satu-satunya orang yang menyukai gadis polos itu. Tapi sikapnya yang selalu ceria dan manis pada setiap orang, memiliki daya tarik tersendiri baginya. Apalagi jika sudah dekat dengannya, siapapun akan merasakan hangat pribadinya.

“Emang kenapa kalian bisa berantem gitu?” tanya Erka di perjalanan pulang dari sekolah.

“Si Dhani aja tuh, yang sok mau naklukin Arly, emang semudah itu. Arly kan bukan cewek dangkal yang murahan.” Jawabku masih kesal mengingat peristiwa pagi tadi.

“Yang mulai siapa?” tanya Erka lagi.

Aku menarik nafas dan mulai menceritakan kronologi peristiwa yang terjadi pagi tadi.

Aku pergi ke kantin untuk membeli roti sebagai sarapan. Tak sengaja aku mendengar celotehan konyol.

“Siapa yang bisa nolak seorang Dhani. Ganteng, gak pernah bokek, berprestasi lagi.” Ujarnya angkuh.

Aku tersenyum sinis. “Cuma cewek dangkal yang gak bisa nolak cowok ganteng dan gak pernah bokek, tapi sayangnya Arly bukan cewek dangkal.” Kataku sambil berjalan di hadapannya.

Ternyata Dhani menghadangku. “Maksudnya apa?” nadanya tinggi.

“Arly gak akan mau sama kamu.” Ucapku tanpa basa basi.

Hal yang klasik jika ia emosi dan menarik kerah bajuku. Tapi sebelum dia melakukan itu, aku menyingkirkan pundaknya dari hadapanku. Rupanya benar, ia menarik kerah bajuku dari arah belakang. Walau bagaimanapun aku tidak bisa terima. Aku lakukan sebuah gerakan sederhana dengan memelintir tangannya yang menyangkut di kerah bajuku. Tapi teman-temannya langsung membantu agar ia tak merintih kesakitan. Apa boleh buat, aku kalah jumlah. Lagi pula itu tempat umum, tidak pantas jika dijadikan tempat berkelahi.

Erka menghela napas setelah mendengar ceritaku. Tak banyak yang ia lakukan selain merapikan kerah bajuku. “Nahan emosi emang cukup sulit, tapi yang mampu mengendalikan emosi adalah pemenangnya.” Ucapnya bijak sambil merangkul pundakku.

Sikapnya yang selalu ceria dan manis pada setiap orang,
memiliki daya tarik tersendiri baginya.
Apalagi jika sudah dekat dengannya,
siapapun akan merasakan hangat pribadinya.


Daftar Isi ⇒ Novel Online Ungkapan Dalam Hati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here