SHARE

Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan dalam Islam. Maknanya adalah memperlakukan setiap orang Islam sebagai saudara, tidak terbatas oleh negara, ras, suku maupun warna kulit.

Mengenai hal ini Allah ﷻ berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚوَاتَّقُوا اللَّـهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu bersaudara. Maka eratkanlah hubungan antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (al-Hujurat: 10)

Sabda Nabi Muhammad  berikut juga menjadi dalil betapa pentingnya keberadaan ukhuwah islamiyah di antara kita.

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Perumpamaan seorang mumin bagi mumin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling mengokohkan. (Muslim: 2585)

Perhatikan hadits persaudaraan ini,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang beriman dalam berkasih sayang dan cinta seperti tubuh yang padu, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merana karena sulit tidur dan demam. (Muslim: 4685)

Dalil di atas membuktikan, ukhuwah atau persaudaraan dalam Islam bukanlah slogan dan jargon semata. Tapi benar-benar wahyu yang datangnya dari Tuhan semesta alam.

Inilah mengapa agama Islam dinilai sebagai agama dan komunitas yang pertama kali mengajarkan persaudaraan. 1400 tahun yang lalu seluruh dunia membedakan orang lain dengan warna kulit, keturunan, aparteid dan kasta.

Meyikapi kelompok dan golongan dalam Islam
Dalam Islam tidak ada perbedaan ras dan pangkat

Kalau kita memiliki dua anak, yang pertama suka sepakbola, sedangkan yang kedua suka bola basket, itu wajar atau
tidak..?

Kalau putri kita yang pertama suka memasak, yang kedua hobinya menjahit, wajar atau tidak..?

Kalau wajar kenapa gusar??

Adalah sebuah kewajaran jika ada perbedaan diantara kita, selama perbedaan itu bukan pada masalah aqidah dan prinsip-prinsip utama Islam, maka tentu saja masih bisa dimaklumi….

Semoga ukhuwah kita tidak seperti persaudaraan pedagang sate dan ayam bakar. Keduanya saling bangga akan masakannya, saling menghina kalau masakan saudaranya tidak enak, tidak bergizi, dan tidak menarik.

Keduanya saling ngotot kalau masakannyalah yang paling lezat. Mungkin mereka lupa, bahwa keduanya sebetulnya sama-sama menjual Ayam yang dibakar. cuma beda bumbu dan penyajiannya.

Padahal di sebelah kedua pedagang itu ada seorang pedagang daging babi yang ngaku-ngaku daging sapi, tapi mengolah makanannya menjadi rawon dan soto sehingga banyak yang tertipu membeli rawon babi itu, karena ndak betah dengan pertengkaran kedua pedagang ayam yang dibakar itu …

Sekali lagi, inti dari ukhuwah islamiyah adalah memperlakukan orang lain sebagai saudara, selama ia muslim. Meskipun berbeda bendera, berbeda warna, atau berbeda golongan…

Melanjuti tulisan di atas….

Jika kita membenci muslim dalam kelompok atau ormas lain karena bersebrangan, bencilah sekadarnya saja.

وَابْغَضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا

Marahlah seperti marahnya anak-anak; sore main bersama, tiba-tiba ribut, cekcok kemudian pulang dan mandi. Tidak lama, datang waktu shalat magrib. Keluar rumah, jemput teman yang tadi beranteman, kemudian shalatlah dalam satu shaf.

Tidak kah kita ingat pesan Nabi  Tercinta,

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ العَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

Janganlah kalian shalat Ashar kecuali di Quroidzoh (Bukhari: 946)

Tapi para sahabat yang mulia berbeda pendapat, sebagian yakin itu adalah pesan Rasul  agar mereka bergegas. Sebagian lain, memahami bahwa itu benar-benar pesan yang mutlak harus dipatuhi tanpa interpretasi.

Lihatlah sikap Nabiyurrahmah terhadap semuanya, beliau tidak mencela seorangpun karena keputusannya.

Alaihi s-shalatu wa s-salam yakin bahwa sahabat-sahabatnya melakukan itu semua karena cinta pada Allah dan taat pada Rasulnya.

Umat lain boleh mengatakan, “musuh dari musuhku adalah temanku.”, tapi tidak bagi orang lain. Madzhab dan ormas lain adalah saudara kita, meski sering berbeda pendapat.

Betapa celakanya kita, jika menjadikan orang lain sebagai sahabat, tapi saudara sendiri menjadi musuh.

Sungguh saya tidak pernah menemukan pertentangan, perselisihan dan perbedaan pendapat di antara umat, kecuali ada garis tengahnya.

Setiap ulama memiliki ikhtiar dan ijtihad, mungkin saja mereka salah, tapi tidak mungkin mereka sengaja berbuat salah.

Lanjut baca …

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here