SHARE

Dulu sekali, sekitar dekade 1970 dan sebelumnya, fasilitas Pondok Modern Darussalam Gontor belum seperti sekarang, terutama fasilitas kamar mandi santri.

Satu-satunya kamar mandi umum yang dimiliki pondok adalah yang terletak di belakang Gedung Baru (sekarang Gedung Aligarh) yang hanya berjumlah 30 unit kamar mandi dan WC, sangat kurang untuk jumlah santri yang ketika itu mencapai 1200 lebih.

Keadaan itu membuat pondok bekerja sama dengan masyarakat desa. Para penduduk Desa Gontor yang rumahnya berdekatan dengan pondok diminta agar sumurnya dipakai mandi untuk para santri. Jika beberapa peralatannya rusak atau perlu diganti, pondok yang membelikan atau menggantinya. Ketika itu, lebih dari 20 sumur orang desa, dalam radius 100 meter sekitar pondok, dipergunakan oleh para santri.

Para pemilik sumur itu, di antaranya ada yang bernama Pak Amiran, Pak Bero, Pak Gunung, Pak Katiman, Pak Syahir, Pak Soleh, dsb. Jadilah para santri yang biasa mandi di tempat-tempat tersebut dinisbahkan menjadi Bani Soleh, Bani Syahir, Bani Amiran, Bani Bero, dsb.

Hubungan para santri dengan para pemilik sumur tersebut sangat akrab. Sekembalinya ke pondok setelah liburan sekolah, para santri pun acapkali membawakan oleh-oleh untuk pemilik sumurnya masing-masing. Pemilik sumur pun sangat mengenang “anak-anaknya” itu hingga kini, lengkap dengan karakter, sifat, dan kebiasaan masing-masing.

Demikian pula, para pemilik sumur itupun telah menganggap para santri sebagai anak sendiri. Terjadilah hubungan yang harmonis, simbiosis mutualisme.

Tidak hanya itu, di sumur-sumur itu para santri juga menorehkan kenangan, menjalin persaudaraan, keakraban, membentuk grup feeling dengan teman-temannya yang berasal dari berbagai daerah. Kenangan itupun terbawa hingga kini, berbilang tahun setelah para santri itu menjadi alumni.

Dibalik itu semua, ada juga sisi-sisi negatif dari kondisi di atas:

Pertama, sumur-sumur itu dipakai (baca: dikuasai) oleh kelompok tertentu. Misalnya, konsulat (asal daerah) Madura menguasai sumur Bani Syahir; mayoritas anak-anak Bani Soleh berasal dari Jakarta; Bani Amiran dan Bani Bero beranggotakan siswa Kelas 6.

Kedua, karena menganggap rumah sendiri, anak-anak santri pun biasa meletakkan barang-barangnya di rumah pemilik sumur tersebut. Bahkan, ada pula di antara mereka yang menjadikan rumah pemilik sumur sebagai kamar kedua, alias tempat bersembunyi, menghindar dari disiplin dan aktivitas pondok. Tentu saja, hal itu termasuk pelanggaran berat.

Ketiga, membahayakan jika pemilik sumur itu memiliki anak gadis, sungguh sangat berbahaya bagi para santri. Untuk hal ini, dalam berbagai ceramahnya, K.H. Ahmad Sahal selalu mengingatkan orang-orang desa agar tidak berusaha mendekati merayu dengan cara apapun kepada para santri. “Para mas santri itu mau sekolah. Maka, jangan diganggu! Misalnya, bajunya saya cucikan, Mas! Saya setrikakan, Mas! Alah-alah, jangan, jangan!” demikian beliau acap mengingatkan dalam Kuliah Subuh, para hari Idul Fitri dan Idul Adha.

Karena itu, sejak dekade 1980-an, jika membangun asrama, pondok selalu melengkapinya dengan kamar mandi dan WC. Bangunan asrama lama, yang sebelumnya tidak memiliki unit kamar mandi, pun dibangun kamar mandi. Lambat laun, semua santri pun tidak lagi menggunakan sumur-sumur orang desa itu. Bani-bani itu pun tinggal kenangan.

Dari para pemilik sumur itu yang masih hidup, ada Pak Gunung (Gunadi). Selain pemilik sumur, Pak Gunung adalah juga menyediakan jasa mencuci dan menyeterika baju para santri. Baju-baju kotor diambilnya dari Bagian Penatu Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM ‘organisasi intra-nya siswa Gontor), kemudian dicuci, disetrika, dan dikembalikan kepada santri melalui Bagian Penatu OPPM tadi.

Rumah Pak Gunung juga strategis, yakni tepat di utara lapangan. Maka, setelah bermain bola, para santri yang anggota sumur itu dapat langsung menuju sumur Pak Gunung, untuk mandi dan pergi ke masjid.

Sekarang tidak adalagi bani-bani itu. Rumah Pak Katiman telah dibeli Pondok; rumah Pak Syahir telah berubah menjadi gedung Saudi; rumah Pak Amiran telah dibeli dan menjadi rumah kediaman Ustadz Syukri.

Selain itu, Pondok telah menyediakan kamar mandi bagi santri hampir di semua asrama. Demikian pula tempat berwudhu dan mencuci telah begiu banyak meskipun belum memadai benar bagi jumlah santri yang 4300-an orang itu.

Yang paling dirasa cukup adalah tempat berwudhu santri. Menurut Ustadz Abdullah Syukri,

“Untuk menjalankan disiplin, jumlah tempat wudhu harus cukup. Jika tidak, kita bisa dzolim. Dengan jumlah santri 4000, setidaknya, tempat wudhu harus berjumlah 500 pancuran. Dengan demikian, dalam waktu 10 menit, para santri sudah selesai berwudhu dan pergi ke masjid atau asrama. Kalau kran rusak, banyak anak yang terlambat berwudhu dan terlambat menunaikan shalat. Maka, keran-keran air itu harus selalu dikontrol, agar yang rusak segera diganti.”

Menariknya, Ustadz Syukri, secara berkala, menghitung sendiri jumlah keran itu. Maka, ketika ada guru yang disuruh menghitung jumlah keran air, kemudian salah atau kurang, dengan nada tinggi beliau menyuruh guru tersebut menghitung kembali, kadang sampai berulang kali. Itulah Gontor.

Seorang kyai Pondok Modern harus menguasai benar kondisi pondoknya, agar dapat menggerakkan santrinya, dengan melengkapi sarananya, sehingga pondok dan santri menjadi aktif, kreatif, dan dinamis. “No time for ecek-ecek,” ujar beliau acap kali dalam beberapa pertemuan.

Rumah yang masih ada adalah rumah Pak Gunung, Pak Tumingan, dan Pak Bero. Lainnya, sudah dipindah atau berubah menjadi bangunan milik pondok.

Mandi Di Gontor itu, sama sekali tidak butuh perjuangan, tinggal naruh Gayung dikamar mandi, maka itu tanda bahwa kita sudah mengantri untuk mandi.

Mandinya juga kilat, maksimal 10 menit kalau tidak ingin digedor santri yang ngantri mau mandi. Makanya ga ada acara Luluran, atau pakai acara mandi rempah segala. Ga peduli pakai sabun atau tidak, yang penting basah. Karena ada yang mandinya ga modal sama sekali, gayung pinjem, sabun pinjem, shampoo pun minta.

Jadi, biar tidak dimintai para “penjagal” shampoo, biasanya para santri akan menuangkan shampoo ke kepala sebelum pergi ke kamar mandi. Praktis, tidak perlu bawa botol shampoonya.

Tapi mandi di Gontor putra itu bukan prioritas. Lebih baik tidak mandi daripada tidak makan, begitu prinsip yang dipegang para santri. Sebab kalau mandi, itu bisa kapan saja. Pas dikelas, izin keluar sebentar dengan alasan mau kebelang juga bisa dilanjut mandi.

Tapi kalau makan, sekali ga kebagian ya sudah, tahan lapar sampai siang. Makanya, banyak sekali model santri Gontor yang ketika masuk kelas itu bawa sabun sama sikat ditaruh di saku celana belakang. Itu tandanya belum mandi, dan dia akan mandi ketika istirahat, atau ya itu tadi, minta izin sebentar kepada ustadznya kebelakang.

Kamar mandi di Gontor juga praktis. Karena Aurat laki-laki hanya dari pusar ke bawah hingga dengkul, maka kamar mandinya-pun tidak semua tertutup sempurna. Ada yang Cuma separuh
tertutupnya, karena ya semua penghuninya laki-laki jadi ya ndak masalah, selama tidak mandi bersama dalam satu kamar mandi.

Dulu ada wali santri yang mempermasalahkan soal antri kamar mandi ini. Dia bahkan berani membicarakan faslitas kamar mandi dan antriannya ini di depan K.H. Imam Zarkasyi. Beliau lalu menjawab :

“Ya begitulah pak, memang masih ada kekurangan di Gontor ini. Fasilitas yang ada belum bisa memnuhi jumalh santri yang datang. Makanya mungkin akan diadakan pengurangan jumlah santri, termasuk tahun ini…”

“Iya Kyai… betul itu… dikurangi saja jumlah santrinya Kyai…”

“Iya… mungkin termasuk anak bapak juga belum bisa diterima disini, karena faslitasnya kurang…”

“Wah…kalau anak saya ya jangan Kyai….”

KH Imam Zarkasyi tersenyum. Begitulah manusia, kalau sudah sampai soal ego pribadinya yang kena, biasanya akan jadi bela mati-matian. Padahal pesantren itu kumpulan berbagai macam ego yang bermacam-macam.

Beda lagi kalau di Gontor putri. Disini mandi adalah prioritas utama. Lebih baik tidak makan daripada tidak mandi. Makanya di sana jam tiga subuh sudah pada bangun, karena ya untuk nyuci dan mandi itu. Karena mungkin mandinya lama (karena putri mungkin ya), sehingga antrinya juga lama….

Gontor, Aboslutely Memorable Moment….

Baca juga, sekilas tentang Pondok Pesantren Gontor

Sumber:

  • Nashrulloh Zarkasyi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here