SHARE
KH Imam zarkasyi trimurti ponpes gontor

Pak Zarkasyi, Kiayi Gontor, punya kebiasaan berjemur pada waktu pagi di depan rumahnya yang terletak persis di tengah lalu lintas para santri.

Beliau duduk di situ bukan dengan maksud apa-apa melainkan untuk mengawasi santri dan menanamkan wibawa. Sehingga orang yang lewat itu kemudian menyadari dia selalu ada, lalu orang tidak berani melanggar.

Pak Zar punya trik luar biasa dalam mengawasi santri. Beliau sangat sibuk tetapi tetap mengajar di kelas juga; begitu masuk, santri disuruh membuka buku tertentu kemudian dia taruh kopiahnya di meja, dan dia pergi.

Selama ada kopiah itu, tidak ada santri yang berani keluar. Setelah kelas hampir selesai beliau kembali lagi, “Bagaimana sudah dibaca?” katanya. Kemudian terjadi diskusi sebentar, lalu bubar.

Hal-hal semacam itu yang barangkali bisa diduplikasi, tetapi itu dengan sendirinya memerlukan komitmen yang mendalam sekali dari pihak kita.

Komitmen itu dinyatakan dalam “sense of belonging”, “sense of participation”, dst. juga cara melihat anak didik dengan penuh kasih sayang.

Kewibawaan Pak Zar tertanam kuat, nampak, karena salah satunya beliau memperhatikan hal-hal kecil, tapi sesungguhnya dari hal kecil itulah menjadi tangga membangun dan berdampak pada sesuatu yang besar.

Di setiap pertemuan yang digelar Balai Pertemuan Pondok Modern Gontor (BPPM), guru-guru senior kami sering cerita, begitu usai acara pertemuan Pak Zarkasyi selalu keluar BPPM paling akhir.

Matanya amat awas memperhatikan susunan meja dan kursi yang telah disusun sesuai dengan cluster kelas (I-VI), sembari memastikan benda-benda apa saja yang tersisa di kolong. Jika ia menemukan sampah sisa pertemuan, biasanya Pak Zar memanggil wali kelas yang bersangkutan.

Itulah cara membentuk peradaban, menyusun kebiasaan-kebiasaan kecil yang baik menjadi ‘tumpukan’ kebiasaan yang lebih besar.

Persis dengan ungkapan yang beliau sampaikan lebih lima puluh tahun silam, “Perjalanan seribu kilometer dimulai dari setapak langkah kecil”.

Entah dari lisan siapa yang pertama kali mencetus pribahasa ini. Yang jelas, jauh sebelum Cina melakukan pembaharuan ekonomi, 1978, Gontor sudah mengamalkannya terlebih dulu; sejak dulu mungkin setua usia berdirinya Pondok Pesantren Gontor, dekade pertama awal abad 20.

Tentang pembaharuan ekonomi negeri itu, Prof. Dr. Fan Gang, penasehat ekonomi Perdana Menteri Li Peng, di berbagai kesempatan sering sekali mengutarakan bahwa salah satu resep ekonomi Cina bergeliat pesat karena mengamalkan pribahasa di atas.

Profesor kelahiran Cina 1953, doktor ekonomi Chinese Academy of Social Sciences (1988) itu mengatakan bahwa Cina mengamalkan strategi Part & Partial Progress. Suatu kemajuan diukur oleh bidang atau bagian (sub/kecil) dari suatu program yang besar, dengan mengukur prosesnya tahap demi tahap.

Sebab, kebiasaan (yang baik) dari tahap demi tahap tersebut, keawetannya lebih terjamin ketimbang merubah yang besar secara langsung. Itulah reformasi (perubahan gradual), bukan revolusi, yang cenderung kaget, dan kurang berakar kuat.

Kiyai Imam Zarkasyi begitu sabar, tekun, penuh keikhlasan merawat kebiasaan-kebiasaan yang kecil dan baik itu. Baginya, sebuah progres bukanlah diukur dengan melihat hasil secara langsung, tapi proses menuju hasil yang hendak dicapai itu. Sekali lagi, “perjalanan seribu kilometer dimulai dari setapak langkah kecil”.

Ketika ada bagian-bagian/sub kecil (atau bahkan terkecil) cenderung salah, santri-santri Gontor dalam pelajaran al-Muthalaah sering kali dingatkan dengan materi “ad-dudah fi safinah” (ulat dalam perahu kayu).

Satu ulat itu harus dibuang, karena berpotensi menggrogoti/membuat lubang dalam perabu. Kita tidak mungkin mengorbankan sesuatu yang besar hanya karena satu orang yang indiciplinner.

Kiai Imam Zarkasyi tak gentar ditinggal (eksodus) santri, seperti perkataan beliau yang sering kita dengar,

Andaikata murid saya tinggal satu, saya akan tetap mengajar. Yang satu ini sama dengan seribu. Namun bila yang satu ini pun tidak ada, saya akan mengajar dunia dengan pena.

Reformasi juga begitu. Ada banyak sekali perubahan/perbaikan yang sudah dicapai. Tapi nampak seakan-akan tidak mengalamai perubahan yang berarti. Karena kita malas menyuntik tumpukan perbaikan yang sudah ada tersebut ke dalam perbaikan yang lebih besar.

Itu juga karena masih berkompromi bahkan terkesan mentolerir terhadap satu pelaku indiciplinner dalam berbangsa dan bernegara yang sehat -bernama KKN- tiga musuh bebuyutan yang dulu sering kita dengungkan ‘bersama’.

Sudah baca kisah lain bersama pendiri Gontor, Kiyai Imam Zarkasyi?

Sumber:

  • Alfi Rahmadi, facebook.com/notes/alfi-rahmadi/cara-pak-zarkasyi-menciptakan-wibawa/165949270095578

1 Diskusi Asyik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here