30 Adab Terhadap Guru & Ustadz agar Ilmu Berkah

Hormat dan beradab kepada guru adalah kewajiban yang sudah maklum dilaksanakan semua murid. Karena guru atau ustadz adalah fasilitator ilmu, maka sepantasnya kita bersyukur dan berterima kasih. Nah, adab ini termasuk wujud rasa tersebut.

Bahkan, hal itu termasuk ajaran nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه

Bukan golongan kami, siapa yang tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak menyayangi yang lebih muda, serta tidak mengerti hak orang berilmu”. (Ahmad)

Adab umumnya berkaitan dengan sopan-santun dan kepantasan. Sekiranya tak pantas, maka jangan lakukan. Untuk memudahkan gambaran bagaimana itu beradab + berakhlak, berikut kami cantumkan contoh-contohnya.

A. Adab kepada Guru

  1. Simak nasehat dan perkataan beliau. Ini tidak bisa ditawar. Namanya kita belajar, maka perhatikan. Buat apa datang, rugi kalau gak ada yang didapat.
  2. Saat guru mengajarkan ilmu yang telah kita tahu, never say, “Saya sudah tahu!” Tetaplah rendah hati. Jadilah tanah subur yang selalu siap menyerap air.
  3. Jangan sekalipun meng-ghibah ustadz. Bayangkan, ghibahin teman sendiri aja gak boleh, apalagi guru.
  4. Jangan berkendara, saat gurumu jalan kaki. Tawarkan tumpangan yang nyaman jika searah, atau setidaknya cari jalan lain.
  5. Jangan munafik. Kamu berkata “yes” di hadapannya, tapi “no” saat di belakangnya.
  6. Pastikan kamu selalu tersenyum di hadapan guru. Ini juga bagian sunnah Rasul.
  7. Saat menyebut namanya, turutkan doa seperti “hafidzahullah” (semoga Allah menjaga beliau) atau “rahimahullah” (semoga Allah merahmati beliau).
  8. Jangan merasa lebih pandai. Jika kamu mendapat segudang ilmu baru, jangan pernah merasa lebih hebat dari guru yang dulu pernah mengajarmu. Doktor ekonomi misalnya, jangan sombong kepada guru pembukuan di SMP-nya dulu.
  9. Sempatkanlah mendoakannya saat kamu mengingatnya. Sebagaimana Imam Ahmad mendoakan Imam as-Syafii selama 40 tahun sisa hidupnya.
  10. Jika terjadi silang pendapat antara dengan beliau, jangan mendebatnya. Namun, kemas pendapatmu dalam pertanyaan. Buat seolah engkau bertanya.
  11. Mungkin kamu tergesa-gesa mengejar dosen untuk paraf skripsi, jangan tarik jubahnya atau sesuatu dari pakaiannya.
  12. Jangan maksa minta jawaban, jika guru enggan menjawab.
  13. Jangan menunjuknya dengan jarimu. Baik beliau orang kedua atau orang ketiga dalam pembicaraan.
  14. Saat duduk di hadapannya, perhatikanlah dudukmu. Jangan sampai menyamai duduknya. Jangan mentang-mentang beliau senderan, terus kita juga begitu. No.
  15. Ciumlah tangan gurumu, jika beliau tidak keberatan. Terutama gender yang sama.
  16. Jangan berada di depannya, jika kalian jalan bersamaan. Meskipun beliau minta ditunjukkan jalan, tetaplah berada agak belakang,
  17. Dahulukan gurumu, misalnya saat akan duduk, atau masuk sebuah ruangan.
  18. Jika ustadzmu mencari sandal atau sepatu, gercep ambilkan untuknya. Misalnya keluar dari masjid, usai shalat berjamaah.
  19. Bila gurumu membawa barang bawaan, peka dong. Sambut dan tawarkan, “pak boleh saya bawakan?”.
  20. Jangan memanggilnya dengan nama langsung, baik di depan maupun belakangnya. Hiasi nama beliau dengan gelar kehormatan seperti “Ustadz”, “Kyai” dll.
  21. Jangan pernah angkat suaramu, apalagi berteriak. Yah, kecuali penting atau disuruh.
  22. Perhatikanlah saat sehat dan sakit beliau. Terlebih, kita tahu beliau punya penyakit. Cobalah belikan asupan yang bisa meringankan sakitnya.
  23. Tawarkan kepada beliau makan dan minum.
  24. Jangan memasukkan jari ke hidung atau telinga, saat dihadapan guru. Apalagi, nyongkel sisa makanan.
  25. Usahakan datang duluan ke kelas atau majelis, jangan sampai ustadz yang malah nunggu muridnya.
  26. Jika dia memerintahkanmu, jangan katakan “nanti”. Langsung aja, eksekusi.
  27. Jangan malu atau menolak, bila diperintah maju ke depan kelas.
  28. Kalau bisa, berikan hadiah kepada beliau, sebagai tanda cinta dan kagum.
  29. Utamakan husnudzan kepada beliau.
  30. Jangan membanding-bandingkan beliau dengan ustadz yang lain.
  31. Jangan lupa minta didoakan. Sangat mungkin munajatnya yang menghantarkan keberkahan ilmumu.
  32. Jangan pelit ucapkan “syukran”, “jazakumullah khairan”, atau doa lain semisalnya.
  33. Jika kamu bertamu ke rumahnya, pakailah pakaian rapi & wangi. La tansa, pakai peci.
  34. Bila kamu berpisah dengan beliau, sisipkan doa, “Allah yahfadzukum” (semoga Allah menjagamu), “Allah yahmiikum” (semoga Allah melindungimu).

B. Ringkasan Adab Murid Terhadap Guru

Ingatlah selalu, kita ini murid yang sedang menimba ilmu. Tentu, berbuat ihsan pada pemilik sumur adalah keharusan. Jangan pula kau kotori mata air itu, karena kita juga yang kelak meminumnya.

Guru, dosen, ustadz adalah gelar kemuliaan, bukan sembarang julukan, tak bisa dibandingkan dengan gelar ‘rendahan’ seperti arsitek, gubernur, presiden dan mentri.

Sekali guru, selamanya guru kita. Mereka adalah orang tua kita di sekolah, pesantren ataupun kampus.

Jangan terbawa arus euforia liar sebagian mahasiswa. Memandang dosen hanya sebatas tenaga pengajar, tak ubahnya karyawan rektorat.

Kita ini belajar agar tumbuh menjadi pribadi yang pantas mengisi pradaban manusia, beradab dan berakhlak mulia.

Artikel lain: Adab Mengirim Pesan WA Kepada Guru dan Dosen

Share your love

Leave a Reply

Blog Openulis

Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.