Mengenal Air Hujan Sebagai Rahmat Cegah Menjadi Azab

SHARE

Air hujan adalah senyawa yang suci dan mensucikan begitu kata al-Quran. Karenanya, hukum fiqih membolehkan air hujan dijadikan sebagai media berwudhu.

Seharusnya air hujan diteliti khasiatnya secara ilmiah oleh para ilmuan, khususnya muslim. Sehingga ilmu pengetahuan akan membenarkan apa-apa yang telah disampaikan oleh al-Quran. Dalam al-Quran sendiri banyak ayat yang mengulas tentang air hujan, di antaranya:

Dialah Allah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, dengan itu Kami hidupkan negeri (tanah) yang mati agar dengan air itu makhluk Kami, hewan ternak dan manusia yang banyak dapat minum. Sungguh Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran; Tetapi kebanyakan manusia itu tidak mau, kecuali mengingkari nikmat tersebut. (al-Furqan: 48-50)

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Kami turunkan dari langit, air hujan yang diberkahi (mubaarok), dengannya kami menumbuhkan berbagai flora. (Qaaf : 9)

Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَال: اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعً

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat hujan, maka beliau berdoa, “Allahumma Soyyiban Naafian (Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang deras lagi bermanfaat). (al-Bukhari: 1032)

Abdullah bin Umar -radhiallahu anhuma- berkata: Rasulullah  bersabda:

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ لَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي غَدٍ وَلَا يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِي الْأَرْحَامِ وَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ وَمَا يَدْرِي أَحَدٌ مَتَى يَجِيءُ الْمَطَر

Ada lima kunci ghaib yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah:

  1. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari,
  2. tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang terdapat dalam rahim,
  3. tidak ada satu jiwapun yang tahu apa yang akan diperbuatnya esok,
  4. tidak ada satu jiwapun yang tahu di bumi mana dia akan mati, dan
  5. tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan.

(al-Bukhari: 1039)

Turunnya hujan membawa rahmat bagi semua makhluk khususnya manusia. Air hujan diturunkan oleh Sang Pencipta dalam keadaan bersih. Kebersihannya bisa dirasakan dengan lidah, padahal dari laut, namun tidak asin.

Bukan saja bersih, air hujan yang turun membawa berkah yang banyak buat manusia. Karena itulah maka tak heran, air hujan bisa menjadi obat.

Tatkala turun hujan sebagian orang ada yang bermalas-malasan, sampai ada juga yang gelisah. Apalagi jika turunnya hujan dirasa mengganggu aktivitasnya, mungkin ada meeting, janji atau yang lainnya.

Sehingga yang terjadi adalah mengeluh dan mengeluh. Padahal jika kita merenung dan memahami hadits-hadits Nabi ﷺ, waktu hujan turun adalah saat mustajabnya doa, artinya doa semakin mudah terkabulkan.

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

Dua doa yang tidak akan ditolak: doa ketika adzan dan doa ketika ketika turunnya hujan.

Menurut sebagian tempat, hujan adalah pertanda musibah banjir. Orang-orang mengira “Alam tidak lagi bersahabat dengan manusia.”

Sebenarnya kitalah yang tidak membalas cinta mereka. Bagaimana tidak, hutan ditebang, sungai dan laut dilimbahi, udara dikotori. Kesombongan manusia pangkal adzab.

Bukankah kita hidup dari mereka! Bukankah kita memikul amanat sebagai khalifah di muka bumi! Betapa hujan ini merupakan nikmat yang tak ternilai harganya. Kalaulah bukan kerena rahmat Allah, niscaya kita akan dihujani kotoran dan sampah.

Kenyataannya air masih membawa banyak mafaat, seperti: untuk pembangkit listrik, untuk pertanian dan ladang, untuk menumbuhkan tanaman hutan, untuk minum ternak dan hewan liar.

Air memiliki kekuatan seperti udara, jika ia dicabut dari dunia, niscaya kita binasa. Bahkan Allah ciptakan banyak makhluk hidup dari air, Ia berfirman:

أولم ير الذين كفروا أن السماوات والأرض كانتا رتقا ففتقناهما وجعلنا من الماء كل شيء حي أفلا يؤمنون

Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi dahulunya adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak juga beriman? (al-Anbiya: 30)

Wajar saja, jika banjir datang, karena hutan dan gunung tembat bersemayamnya dibabat. Sungai tempat air bermain dipenuhi sampah. Lebih dari itu, buaya keluar dari kali, dan monyet kabur dari rimbanya.

Marilah kita lestarikan air untuk kehidupan. Negeri ini tidak boleh terlalu sibuk dalam teknologi yang merugikan alam dan tidak menguntungkan rakyat kecil.

Sumber:

  • al-Quran al-Karim
  • al-Hadits as-Syarif
  • Pustekkom (sumber gambar)
  • Diaul Haq. Subur, Mumpung Musim Hujan Tampung Air Sebanyak-banyaknya. Group FB: Komunitas Cinta Ruqyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here