Pacaran Cinta Pernikahan Islam

“Bu … akau mau nikah” Begitu pintanya. Bak kaset rekaman yang rusak, suara gadis malang itu membuat hatiku sayu, sepasang bola matanya terlihat hampa. Wajahnya yang cantik tampak pucat, karena kesadarannya telah melayang bersama separuh jiwanya yang membuat dia terus mengemis cinta, “Bu … Aku mau nikah”.

Bunga tengah bertarung melawan rasa sakit itu, dia menjerit agar hatinya utuh kembali dan ia dapat melanjutkan hidup secara normal.

Namun, terlambat hati terpaut sayang, cinta yang telah lama ia dambakan untuk disatukan dalam bahtera rumah tangga kandas seketika, saat dihadapkan pada kenyataan bahwa lamaran kekasihnya ditolak.

Kini sang gadis sarjana itu menghabiskan waktunyanya dengan kejiwaannya yang terganggu.

Aku menerawang kedalam dua pasang mata orangtua Bunga ada kesedihan. Mungkin mereka benar-benar merasa bersalah terhadap keputusan yang mereka buat.

Dengan mata nanar Ibu Bunga menatapku dengan penuh harap lalu berkata, “Ustadz … tolong sembuhkan putri kami, Bunga. Sekarang Kami rela dia menikah dengan siapa saja asalkan dia sembuh.”

“Saya hanya dapat berdoa dan berikhtiar, Bu … Allah yang menyembukan, saya akan coba meruqyah putri ibu semampu saya” balasku tulus.

Akupun meracik ramuan mujarab untuk rendaman dari campuran jeruk nipis, daun sirih, dan daun bidara, kemudian disatukan dalam ember besar berisi air, lalu meruqyahnya dengan ayat suci al-Quran dan doa-doa yang Rasul ajarkan.

“Bunga, ke mari.” Ucapku sambil tersenyum ramah sambil menuntunnya masuk ke dalam gentong merah berisi air ruqyah.

Tanpa ekspresi, Bunga mengikuti instruksiku. Kulihat langkah kakinya gontai bak mayat dalam ritual Ma’nene di Toraja. Jelas sekali, ia seolah mayat hidup. Dalam hati aku membatin, pastilah luka dalam qolbunya begitu dalam. Aku menjadi sangat kasihan pada Bunga.

Dengan izin Allah, selama proses ruqyah syar’iyah ini, aku berusaha tulus ingin menolong, apalagi orangtuanya sangat menumpukan harapan padaku.

Berhari-hari proses ruqyah dilakukan secara berkala. Ayat demi ayat kulantunkan padanya, gayung bersambut gayung obat herbal telah habis untuk mengobati gadis malang itu.

Alhamdulillah, setelah sesi ruqyah ke sekian kalinya, tatapan gadis itu tak lagi hampa. Allah telah mengisinya dengan rahmat dan kesabaran. Wajah Bunga pun menghangat kembali dan cerah dengan semangat baru.

Bukan aku, tapi Allah Yang Maha Menyembuhkan.

Pada satu kesempatan khusus, akhirnya Bunga mau mencurahkan isi hatinya. Jelas sekali matanya berkaca-kaca, wajahnya berusaha menahan luapan emosi yang bersumber dari sanubari.

“Ustadz, hatiku benar-benar hancur … ayah-ibu tidak merestuiku menikah dengan pria yang aku cintai. Tiba-tiba entah mengapa dada ini terasa sangat sempit, kepalaku pun terasa sangat sakit, kemudian aku kehilangan kesadaran dan baru terbangung setelah bertemu dengan Ustadz”.

Aku mengerutkan dahiku, curahan hati Bunga terasa menonjok ulu hati ini. Aku berbisik dalam batin, “Engkau lebih beruntung dariku, Bunga. Aku pernah mencintai seorang wanita, belum sampai tangan ini hendak menggapainya, cintaku ia tolak mentah-mentah”.

Kau masih sempat diperjuangkannya, hanya saja terkadang kenyataan memang sadis menerpa asa. Membuat kita menderita karena harus menerima realita.

Cinta memang tidak selamanya berakhir bahagia, kadang jika kita terlalu menghamba pada cinta manusia, jangan heran jika Tuhan cemburu karena kita lupa akan cinta-Nya. Dia pun tidak segan menimpakan pedihnya cinta, agar harapan itu kembali ditumpukan kepada-Nya.

CIntailah segalanya karena Allah, maka Dia akan menjaga cinta itu seutuhnya. Allah mencintai dua orang yang saling mencintai karena-Nya. Setiap orang yang saling mencintai dalam keburukan, kelak di akhirat saling bermusuhan (az-Zukhruf: 67).

Agak lama kuhabiskan waktu untuk memotivasi Bunga agar ia lebih kuat menata hidupnya yang Insya Allah masih panjang. Patah hati memang tak mudah diobati. Mintalah pada Allah Sang Pemilik hati.

Orangtua Bunga terharu senang, tidak ketinggalan ucapan kata syukur terlintas di senyum keduanya. Kesadaran putri mereka telah kembali. Berulang-ulang orangtua Bunga mengucapkan terimakasih padaku sambil mengantarkan pulang.

Sebelum berpisah, aku meninggalkan pesan untuk mereka agar mencarikan jodoh yang dicintai Bunga dan segera dinikahkan.

Gila Karena Cinta

Cinta itu perasaan yang hadir di jiwa. Jika bertamu tiada yang dapat menolaknya. Tentu saja kita tidak ingin menolak rasa itu. Juga, Islam tidak melarang jatuh cinta. Tapi kalau orangtua dan anak beda pendapat, apa boleh buat?

Kasus yang pernah di sampaikan oleh Ust. Perdana Akhmad di atas, biasa terjadi pada muda-mudi yang sebelumnya sudah menjalin hubungan pacaran. Karena sudah terlanjur suka dan cinta.

Kalau sudah cinta, tidak ada lagi aib pacar di mata kita. Kita juga lupa realita. Pernikahan itu tidak semudah pria-wanita memadu cinta tanpa ikatan agama dan negara; di sana ada tanggung jawab dan kesetiaan.

Cuma ada satu solusi agar tidak terjadi masalah serupa. Jauhkan putra-putri kita dari hubungan tidak jelas, pacaran.

Pacaran positif:

  • Positif zina
  • Positif buang waktu
  • Positif buang duit
  • Positif hamil di luar nikah

Ibnu Taimiyah berkata:

Mencintai yang haram hanya akan membawamu pada kepedihan dan kesengsaraan yang tak berujung. Majmu Al Fatawa : 10 (186)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here