Penyusunan al-Quran atau kodifikasi, secara garis besar sejarah telah melalui dua proses waktu. Pertama, saat Nabi Muhammad masih hidup. Kedua, pada masa Para Sahabat sepeninggal Nabi shallallahu a’alaihi wa sallam.

Al-Quran Masa Nabi Muhammad ﷺ

Al-Quran diturunkan ayat demi ayat dan surat demi surat berdasarkan peristiwa. Karena fashohah dan keindahan bahasanya yang sangat tinggi, ia tersebar begitu cepat.

Orang-orang Arab yang sangat menggandrungi fashohah dan estetika bahasa, pasti kagum terhadap Al-Quran sehingga mereka tidak segan datang dari tempat yang jauh hanya untuk mendengarkan beberapa ayat dari bibir Nabi Muhammad ﷺ.

Para pembesar Mekah dan kalangan berpengaruh suku Quraisy adalah para penyembah berhala dan memusuhi Islam. Mereka berupaya keras menjauhkan khalayak ramai dari Rasul dengan propaganda bahwa al-Quran itu adalah sihir, agar para pengikut mereka tidak mendengarkan ayat-ayat al-Quran.

Meskipun demikian, secara sembunyi-sembunyi di tengah malam yang gelap, orang seperti Abu jahal datang mendekati rumah Nabi untuk mendengarkan lantunan al Quran yang sedang beliau baca.

Bersamaan dengan itu, kaum muslimin bersungguh-sungguh dalam mengamalkan, mempelajari dan menghafal al-Kitab ini, karena mereka mengimani al-Quran adalah firman Allah  sekaligus sandaran pertama bagi keagamaan.

Karenanya, Nabi diperintahkan untuk mengajarkan Al Quran kepada mereka seperti yang termaktub:

…Telah Kami turunkan ad-Dzikra (al-Quran) kepadamu, agar kamu dapat menerangkan kepada manusia kitab-kitab mereka dan supaya mereka berfikir, (an-Nahl: 44)

Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah -shallallahu alaihi was sallam-  memerintahkan kepada sekelompok sahabatnya untuk fokus pada al-Quran, mempelajari, mengajarkan serta menyebarkannya.

Menurut riwayat, Nabi ﷺ mempunyai 26 orang penulis al-Quran, bahkan ada yang meriwayatkan 42 orang. Adapun nama-nama mereka yang 26 sebagai berikut :

  1. Abdullah bin Abi Kuhafah, 2. Umar bin al-Khattab, 3. Utsman bin Affan, 4. Ali bin Abi Thalib, 5. Zubair bin Awwam, 5. Aamir bin Fuhairah, 7. Abdullah bin al Arqam, 8. Amr bin al ‘Ash, 9. Ubayy bin Ka’ab, 10. Mughirah bin Syu’bah, 11. Handhalah bin ar Rab’, 12. Abdullah bin Ruwahah, 13. Kalid bin Walid, 14. Kalid bin Sa’id, 15. Al ‘Alla bin hadhrami, 16. Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 17. Yazid bin Abi Sufyan, 18 Muhammad bin Maslamah, 19. Mu’aiqib bin Abi Fathimah, 20. Abdullah bin Abdullah bin Ubayya, 21. Hudzaifah bin al Yaman, 22. Abdullah bin Abi Sarah, 23. Zaid bin Tsabit, 24 Hasien bin Namier, 25. Tsabi bin Qais dan 26. Huaithib bin Abdul ‘uzza.

Sebagian dari mereka tersebut ditunjuk sebagai penulis al-Quran tetap, dan sebagian yang lain hanya untuk sementara. Firman Allah itu ditulis setiap saat agar tidak musnah, dan mereka di izinkan untuk meninggalkan medan jihad, seperti ditegaskan dalam al-Quran.

Tidak sepatutnya semua orang beriman pergi ke medan perang. Mengapa tidak sebagian dari mereka memperdalam ilmu agama dan agar dapat memberi peringatan kepada kaumnya ketika telah kembali, supaya mereka itu dapat menjaga diri.(at-Taubah: 122)

Mengingat kenyataan bahwa sebagian besar para Sahabat Nabi buta huruf, maka beliau menjadikan mengajar baca-tulis sebagai tebusan bagi tawanan.

Dalam kelompok itu terdapat beberapa sahabat yang tekun membaca, menghafal dan memelihara surat-surat dan ayat-ayat al-Quran. Mereka lah yang kemudian dijuluki dengan sebut­an al-qurra’.

Dapat dipastikan bahwa ajaran dan nilai-nilai Al-Quran telah tersebar luas melalui para sahabat sebelum Rasulul­lah wafat. Ayat-ayatnya juga diturunkan secara bertahap dan ditulis dalam berbagai media seperti kulit domba atau pelepah kurma.

Nama surat-surat al-Quran juga tercatat dalam hadits dan riwayat para Sahabat.

Nabi Muhammad pernah menyebutkan “fatihatil kitab” untuk al-Fatihah, atau menyebutkan frasa awal suatu surat untuk merujuk pada suatu surat, seperti “qulhu” untuk al-Ikhlas dsb.

Selanjutnya: Penulisan dan Penyusunan al-Quran Masa Para Sahabat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here