Perbedaan Arti Iman, Islam, Muslim serta Mukmin Menurut Quran dan Hadits

! Islam dan iman adalah 2 kata yang kerap dibaca muslim dalam al-Quran dan Hadits. Diterjemahan biasanya cuma diserap mentah-mentah. Paling mentok, “mukmin” dimaknai “orang beriman”.

Di luar itu banyak arti tersirat yang belum kita ketahui. Atau justru selama ini gak pernah peduli?

Padahal memahami teks serta konteks sebuah agama sangat penting. Apalagi di zaman fitnah macam ini.

1. Pengertian Iman dan Islam

Jika ditanya apa definisi keduanya, sebagian kita menjawab antara;

  1. Islam itu iman, iman adalah Islam,
  2. Islam adalah syahadat. Iman artinya yakin dan percaya,
  3. Islam spesifik nama agama, iman sifatnya umum.

Jadi yang mana kah yang benar?

Secara umum para ulama punya kaidah khusus terkait pengertian iman dan Islam ini :

إذا اجتمعا افترقا و إذا افترقا اجتمعا

“Bermakna sama (sinonim) saat terpisah, dan berbeda makna saat bersama.”

Maksudnya;

  • Jika kata “iman” dan “Islam” ditemukan dalam satu ayat al-Quran maupun riwayat hadits, maka masing-masing memiliki makna tersendiri.
  • Tapi jika disebut dalam kalimat berbeda, beda halaman, beda matan, maka bersinonim. Iman artinya Islam dan Islam adalah iman.
  • Begitu pula turunan kata keduanya : muslim, mukmin, muslimin, mukminin, muslimat dan mukminat.

Islam dan iman adalah 2 hal berbeda dalam satu kesatuan. Ibarat jasad dengan ruh, jiwa dengan raga, lahir-batin. Saling melengkapi.

Keduanya terhubung meski berbeda. Bayangkan betapa ganas dan kuatnya harimau di hutan, tapi kalau udah mati, jadi kulit atau diawetkan di musium, siapa takut!

Inilah makna beriman dan berislam secara utuh, yang hakiki.

Contoh paling mudah terlihat pada syariat hijab; bagian luar menutup aurat, dalam hati ada takut kepada Allah dengan menjaga nama baik syiar.

a. Definisi Iman dan Mukmin

Iman berdasarkan bahasa artinya percaya.

Menurut istilah, iman adalah percaya dengan hati, ikrar dengan lisan dan beramal dengan seluruh anggota badan. Sedangkan mukmin artinya orang beriman.

Jadi, harus selaras antara hati, lisan & sikap. Kalau gak bisa sinkron, setidaknya jangan bertentangan.

Catatan : Fakta tersebut tidak bisa dipungkiri dari orang munafik. Antara lisan serta sikapnya selalu bertolak-belakang. Bilangannya cinta, praktiknya memusuhi.

Iman memiliki akar kata yang sama dengan aman dan amanah (أ م ن). Maka secara filosofis, orang beriman adalah orang yang teguh amanah dan menghadirkan rasa aman bagi orang lain. Rasul bersabda :

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

Tidak beriman orang yang tidak amanah. (Ahmad, Ibu Hibban)

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ، وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak sah iman sebelum hatinya lurus, tidak akan lurus hati selama lisannya tidak baik. Tidak akan masuk surga siapa yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya. (Ahmad)

Jadi, seorang mukmin tidak mungkin teroris, pelaku bom bunuh diri.

b. Definisi Islam dan Muslim

Islam dan muslim berasal dari kata, aslamayuslimu (أسلم – يسلم), artinya tunduk, menyerah dan patuh. Kemudian menurunkan kata salam dan salamah, diserap bahasa Indonesia jadi “selamat”.

Menurut syairat, Islam adalah agama yang Allah turunkan kepada Rasulullah Muhammad secara khusus, dan 124 ribu nabi-rasul secara umum. Adapun muslim artinya orang Islam atau orang beragama Islam.

Dengan definisi yang disarikan dari bebagai dalil nash, maka beragama islam maknanya berserah diri, tunduk kepada Allah dengan mengikuti Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam– demi keselamatan dunia-akhirat.

  • Islam secara gamblang digunakan oleh Allah sebagai nama agama yang Ia turunkan.

إن الدين عند الله الإسلام

Sungguh hanya Islam, agama yang Allah terima … (Ali Imran : 19)

… ورضيت لكم الإسلام دينا

dan telah Ku-ridai Islam sebagai agama bagimu. … (al-Maidah : 3)

  • Bahkan Allah sendiri yang menamakan pemeluk agama-Nya dengan sebutan muslim.

 هو سماكم المسلمين من قبل

Allah menamakan kalian “muslim” sejak dahulu. (al-Hajj : 78)

  • Tidak heran jika sejumlah tokoh dan rasul menyatakan dirinya seorang muslim.

ما كان إبراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما وما كان من المشركين

Ibrahim bukanlah seorang yahudi, bukan pula nasrani, tetapi nyata seorang muslim lagi tidak berbuat syirik. (Ali Imran : 67)

Indeks tokoh Islam lain:

Nama Surat Ayat
Murid nabi Isa Ali Imran 52
Penyihir Firaun yang bertaubat al-A’raf 126
Nabi Nuh Yunus 71-72
Nabi Musa kepada bani Israel Yunus 84
Balqis & Sulaiman an-Naml 31-44
  • keislaman sejumlah tokoh dalam surat, menyiratkan pesan bahwa Nabi Ibrahim, Nuh, Musa, Sulaiman pun bertauhid, mengerjakan shalat, puasa, haji dll.

وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون

Tidaklah kami mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Aku (Allah), maka sembahlah Aku saja“. (al-Anbiya: 25)

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (al-Baqarah : 183)

2. Persamaan Islam dan Iman

Setelah melihat pengertian keduanya, mari lebih dalam membaca kesamaan makna yang saling mewakili jika dipisah sebagaimana kita singgung di awal; Islam artinya iman, iman adalah Islam.

Banyak ayat menggambarkan tentang ini, contohnya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Siapa saja yang beragama selain Islam, maka amalnya tidak diterima. Di akhirat kelak dia merugi. (Ali Imran: 85)

Islam di sana dapat dimaknai iman, karena iman sendiri syarat ke-Islaman. Begini kira-kira maknanya;

  • “Siapa saja yang agamanya selain iman kepada Allah, kitab, malaikat, nabi, hari kiamat, takdir, maka amalnya tidak diterima. Di akhirat kelak dia merugi.”
Info : Inilah poin pertimbangan ulama dalam menentukan sesat atau tidak sebuah aliran.

Dari Abu Hurairah – radiallahu anhu -, Rasul -shallalahu alaihi wa sallam- berdabda:

آمُرُكُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَهَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ 

Aku perintahkan kalian untuk beriman kepada Allah, tahukah kalian apa itu iman kepada Allah? Yakni; bersaksi bahwa Allah satu-satunya Yang berhak disembah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. (al-Bukhari, Nasai’)

Menurut hadits di atas, pengertian iman kepada Allah adalah; syahadat, shalat dan zakat. Tapi, bukankan 3 amal ini bagian dari rukun Islam?

Dalam hadits Shahih al-Bukhari no 48, juga tertulis dalam kitab hadits Arbain Nawawi, malaikat Jibril pernah mengajarkan para sahabat dengan bertanya kepada Rasulullah tentang apa itu Islam, apa itu iman serta ihsan.

Beliau menerangkan bahwa ;

  • Islam ialah bersyahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan melaksanakan haji bagi yang mampu.
  • Iman itu yakin dan percaya kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, 124 ribu nabi & rasul, hari kiamat, dan takdir baik maupun buruk.
  • Ihsan adalah ibadah menyembah Allah seolah melihat-Nya, setidaknya meyakini Allah melihat kita.

3. Perbedaan Muslim dan Mukmin

Dikisahkan ada sekelompok suku datang kepada Nabi Muhammad, menyatakan telah beriman. Maka Allah menegur mereka dengan menurunkan firman-Nya :

قَالَتِ الأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Orang-orang Arab badui itu berkata, “kami telah beriman”. Sampaikanlah Muhammad, “kalian berlum beriman, cukup katakan ‘kami telah  masuk Islam’ karena iman belum tetap dalam hati kalian.” (al-Hujarat: 14)

Secara langsung ayat ini menunjukan perbedaan makna mendasar.

Kelompok tadi diterima sebagai muslim, tapi belum mukmin. Sebab, masuk Islam itu gampang, cukup syahadat. Tapi naik derajat mukmin perlu perjuangan. Allah berfirman:

أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون

Apakah manusia mengira semudah itu berkata “kami telah beriman” tanpa diuji? (al-‘Ankabut: 2)

Makanya para ulama kalau ditanya “apakah kamu muslim?” Mereka tidak segan menjawab, “ya, saya muslim”.

Tapi jika ditanya, “apakah kamu mukmin?” Mereka terdiam, antara takut dan harap. Ada harga untuk mengaku beriman.

Iman hubungannya dengan hati. Kita hanya mampu melihat yang dzohir saja. Kalau orang beriman, ia akan bersyahadat. Tapi kalau ada orang syahadat, jangan dipertanyakan imannya.

Usamah bin Zaid pernah ditegur keras oleh Nabi Muhammad . Karena membunuh musuh yang mengucapkan kalimat “Laa Ilaha Illa Allah”. Menurutnya, pria itu tidak benar beriman, modus terdesak.

Dengan bijak Rasul menjawab, yang kemudian jadi kaidah hukum, asas praduga tak bersalah, harus sesuai fakta dan bukti.

… أفَلَا شَقَقتَ عَنْ قَلبِه حَتّى تَعلَمَ …

Kenapa tidak kau belalah saja dadanya agar kamu tahu …! (al-Bukhari & Muslim)

Kita kembali, Rasulullah pun soal nyawa antara akidah pun tidak boleh sembarangan. Lantas, siapa kita merasa berhak men-judge seseorang, menuduhnya degan segala keburukan seperti riya, sombong, pamer, modus, dsb. Na’udzu billah.

4. Hikmah Diksi dalam al-Quran dan Hadits

Penempatan satu huruf saja dalam al-Quran & Hadits punya makna yang penting. Karenanya, penyebutan kata iman dan Islam secara terpisah atau bersama pun menyimpan arti tersendiri.

Lantas, bagaimana memahami diksi tersebut?

a. Merujuk Sifat Fisik

Meresapi semua data di atas, kata “Islam” erat dengan konteks amal lahiriah, seperti; ibadah dalam rukun Islam, berhijab dan membaca Kitabullah.

Yang kasat-kasat mata inilah yang kemudian jadi bukti, identitas atau indikasi keislaman. Contohnya sabda Rasulullah :

إن بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة

Sungguh pembatas antara muslim dari syirik dan kufur adalah sholat. (Muslim)

Sholat jadi pembatas antara orang beragama Islam atau selainnya. Membedakan penyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa atau lainnya.

Menjadi muslim tak lantas menumbuhkah sepasang sayap di punggung, hingga terlihat perbedaan fisik dengan orang kafir.

Kalau lagi kerja atau tidur, umat Muhammad dan pemeluk agama lain tidak ada bedanya. Setelah adzan berkumandang, barulah nampak jelas mana hamba Allah, dan yang bukan.

Makanya gampang sekali kalau mau tahu ISIS itu muslim atau bukan — supaya umat gak dibodohi diajak bom bunuh diri –, beneran mujahid atau boneka bayaran? Cukup lihat sholat mereka. Lancar al-Fatihah gak? Wudhunya gimana? Shalat Isya dan Subuhnya? Satu aja gak dikerjakan, dijamin bukan muslim, guaranteed bukan jihad fii sabilillah. Apalagi sampai memperkosa wanita.

b. Bernilai Dakwah

Karena sifatnya fisik, seharusnya muslim tidak perlu malu, minder beribadah. Justru amalan tersebut memiliki nilai dakwah.

Kita ambil contoh syariat menutup aurat. 15 tahun lalu wanita berhijab terhitung langka, tapi makin ke sini para muslimah mulai PeDe. Satu berhijab, yang lain bermunculan. Alhamdulillah.

Selanjutnya efek dakwah ini membesar yang kemudian disebut people power.

Seolah tak berhak, dulu muslimah dilarang berhijab di ranah profesional atau lingkungan kerja. Bayangkan, di negara Pancasila, tapi menjalankan agama seolah dihalangi.

Makanya, saudara agama lain jarang merasa didiskriminasi, wong muslim sendiri aja susah.

Kini, setelah banyak yang berhijab, perusahaan-perusahaan gak bisa nolak. Silakan saja masih bandel melarang, potensi kehilangan SDM dan calon potensial.

Allah berfirman:

ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحا وقال إنني من المسلمين

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata, “Sungguh aku individu dari kaum muslimin” (Fushshilat: 33)

Ada keyword “dakwah” and “amal sholeh” di sana, bersama rasa bangga disertai tawadhu mengaku muslim.

Artinya, ada kemulian pada dakwah yang diimplementasikan dalam budi pekerti, kebaikan yang dilakukan oleh muslim. Karena yang disebut adalah “muslim” kebaikan itu harus berdasar agama Islam.

Sekali lagi jangan malu, “saya belajar ini dari Islam”.

Bahkan sebaliknya, jika data demografi berkata “mayoritas penduduk Xinjiang adalah muslim”, lalu kenyataan berkata lain, terlihat jelas ada masjid, tapi tak ada adzan, tak ada shalat. Maka pantas wilayah tersebut dipertanyakan, “ada apa? mana angka muslim yang kau katakan baik-baik saja?”

c. Standar Minimum

Saat bicara istilah Islam atau diksi muslim, sebenarnya kita sedang diajarkan sebuah keringanan ‘n kemudahan dalam hidup berketuhanan. Misalnya firman Allah:

إن الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن إلا وأنتم مسلمون

“Allah telah memilih agama untuk kalian, maka jangan mati kecuali dalam keadaan muslim.” (al-Baqarah: 132)

Seolah ayat ini berpesan, “apapun keadaanmu, matilah sebagai muslim. Tak masalah terlambat mengenal Islam, tak peduli seburuk apa masa lalumu”.

Tidak heran para ulama bermudah-mudahan dalam menerima orang masuk Islam, asal meyakini Allah satu-satunya Tuhan, Muhammad adalah nabi-Nya yang terakhir, “silakan masuk agama ini, tak masalah jika belum mampu meninggalkan babi, it’s oke jika belum berani berhijab”.

Bahkan Rasul tetap mengajak bersyahadat di akhir hayat pamannya. Setidaknya punya ‘tiket’ masuk surga, ada kesempatan Allah mengampuni dosanya, ada harapan dapat syafaat dari siksa neraka.

Pemahaman ini yang diharapkan dimiliki semua muslim dalam menyikapi perbedaan madzhab.

Masih banyak lagi poin yang pastinya dahsyat. Terutama mengenai diksi kata “iman” yang bahkan menjawab kenapa Indonesia terpuruk, & kaum muslimin terbelakang.

Leave a Reply