SHARE

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia melaksanan puasa Ramadhan, selama 29 hingga 30 hari. Termasuk di Indonesia, menyambut bulan suci itu dengan semarak.

Meriahnya bulan mulia Ramadhan pun dapat dirasakan semua kalangan, dari anak kecil hingga lansia, mu’min maupun nonmuslim.

Namun, sangat disayangkan kesakralan malam seribu bulan harus dinodai oleh beberapa peristiwa janggal akibat kesalahan kaum muslimin sendiri yang tidak memahami hal-hal berikut:

1. Rebutan Rukyatul Hilal dan Hisab

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

Telah diwajibkan puasa kepadamu wahai orang beriman, sebagaimana umat sebelum kamu, agar engkau bertakwa. (al-Baqarah: 183)

Saya yakin ayat di atas sudah berada di luar kepala pembaca sekalian. Selain pendek, mudah, potongan surat al-Baqarah ini merupakan ayat favorit para dai ketika menjelaskan tentang hukum puasa.

Mengenai waktu pelaksanaan ibadah puasanya, Nabi Muhammad  telah memberikan panduan kapan dan bagaimana menentukan tibanya Bulan Ramadan dan berpuasa.

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

Berpuasalah kamu dengan rukyatul hilal, dan berbukalah dengan melihat bulan,.. (al-Bukhari)

Artinya apa?

Puasa Ramadhan itu harus dengan melihat bulan secara langsung, lebaran demikian. 

Ada yang salah? Ya, kesalahan kita adalah, ketika ada yang berbicara dengan dalil ini, ia akan distempel, “Kamu NU ya!” Padahal hadits ada lanjutannya.

فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

…kalau bulan itu tidak terlihat, maka genapkan Bulan Sya’ban 30 hari. (al-Bukhari)

Artinya apa? Hisab

Aneh juga, kalau kita ngomong dengan hadist ini, orang akan mengatakan, “Kamu Muhammadiyah ya!”

Kok Nahdlatul Ulama, kok Muhammadiyah! Ini kan Rasul yang bicara, inikan Nabi yang menyampaikan, tolong jangan diorganisasikan. Agama itu firman Allah, sabda Rasul, dan Ijma Sahabat. Bukan AD-ART kelompok, bukan perintah ketua ormas.

2. Ribut Tarawih yang Terbaik

Seperti biasanya sejak zaman kenabian, bulan Ramadhan dimulai dengan shalat Tarawih. Seharusnya, kita yang hidup di abad ini juga biasa saja. Tak perlu ribut mempermasalahkan rakaat.

Secara terperinci Rasulullah tidak pernah memberi batasan atau jumlah tetap rakaat tarawih. Semasa Beliau hidup, para sahabat pernah melihat dan mengikuti Rasul shalat 8+3 rakaat.

Namun, ada juga sahabat yang mengerjakannya sebanyak 20+3 rakaat di zaman Kekhalifahan Umar bin al-Khattab dan beliau pun tidak melarang. Bahkan lebih dari itu juga ada.

11 rakaat tarawih yang Nabi Muhammad lakukan adalah karena ingin memberi kemudahan pada umat. Kalau ada yang mau lebih silakan, karena asalnya shalat sunnah malam per-dua rakaat salam, jumlahnya pun tidak terbilang, plus witir ganjil.

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

Shalat Malam (Tahajud/Tarwih) masing-masing dua rakaat,.. (al-Bukhari, Muslim, Ibu Majah, Abu Daud, Ibnu Hibban, Ahmad, Muwatha Malik dan Musnad as-Syafi’i)

Tidak masalah mau berapa rakaat, yang perlu diingat adalah yang berdirinya paling lama adalah yang terbaik.

 أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ اي الْقِيَامِ

Shalat yang terbaik adalah yang berdirinya paling lama. (Muslim, Humaidi)

Jadi, mau banyak, silakan. Tapi jangan lupa kualitasnya. Sedikit pun tidak apa-apa.

3. Tidak Tahu Waktu Imsak dan Berbuka Puasa

Saat Ramadhan, selain mengubah jadwal makan, umat Islam juga mengganti tayangan favoritnya. Yang biasanya nonton berita dan olahraga, kini berganti menjadi bedug adzan magrib.

Kebiasaan kalau mau imsak dan buka puasa menyimak televisi dan radio ini sangat tidak sehat. Budaya ini menimbulkan kebiasaan tidak ilmiah dan tidak kritis.

Rasulullah telah bersabda kalau mau puasa atau buka “lihat bulan” bukannya lihat tv, dengar radio, apalagi broadcast medsos.

Tentu saja tulisan ini tidak bermaksud menyatakan “dengar adzan di TV tidak sah puasanya.” Tapi kita harus ingat, “lihat bulan”. Dengan mengingat pesan Beliau, umat ini akan tahu setiap persendian ibadah.

Benar, adzan di negara kita ini sudah berdasarkan rukyah dan hisab. Tapi, hal seperti ini kita tetap harus sadar.

Sebagaimana menulis sudah sangat modern, menggunakan komputer dan ponsel. Tapi, kita tetap harus belajar menulis di atas kertas menggunakan pensil.

Hati-hati, karena hal ini bisa jadi bahan test the water terhadap umat Islam.

Jangan lupa. Masih senada dengan masalah di atas, muadzin atau bilal dianjurkan berbuka dahulu jika telah waktunya maghrib, batalkan puasa kemudian baru adzan.

4. Gagal Paham Waktu Sahur yang Tepat

Dari pada kita bingung, kapan waktu terbaik untuk sahur. Yuk kita lihat Nabi terbaik melaksanan sahur melalui riwayat Anas yang pernah mendampingi Nabi,

قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

Jarak antara sahur Rasulullah dan adzan shalat Subuh sekitar 50 ayat membaca al-Quran. (Bukhari dan Ibnu Hibban)

Ingat, 50 ayat itu dibaca orang yang sudah lancar ya, bukan yang baru belajar. Kira-kira sekitar 20-25 menit. Hal ini juga didukung oleh sabda beliau yang lain:

كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

Makan dan minumlah sampai azan Ibnu Ummi Maktum. (Bukhari)

Hadits di atas berarti, perintah sahur sampai masuk waktu adzan. Zaman Nabi Muhammad adzan dikumandangkan 2 kali, pertama adzannya Bilal bin Rabbah (fajar kadzib) dan yang kedua adalah adzannya Ibnu Ummi Maktum sebagai tanda sudah masuk waktu shalat Subuh (adzan shadiq).

Ummi Maktum ini sahabat Rasul yang tunanetra. Beliau adzan setelah ada yang kasih tahu, dan yang kasih tahu juga memastikan sampai benar-benar datang waktu fajar shadiq.

Fakta ini adalah bukti sahur tidak perlu jauh-jauh dari waktu shalat subuh. Sebaiknya mendekati waktu fajar. Sebagaimana riwayat di atas, jaraknya 50 ayat bacaan al-Quranul Hakim.

Kemudian, Imsak juga bukan pertanda harus berhenti makan. Unik Ramadhan di kita, lewat speaker masjid, orang-orang sudah dibangunkan sahur sejak jam 1, “sahur… sahur…” Padahal waktunya sahur masih lama.

Waktunya imsak, berhenti makan. Padahal imsak itu cuma mengingatkan. Yang bangun waktu imsak, jangan putus asa. Minum aja dulu, kalau sempat jangan ketinggalan makan. Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

تَسَحَّرُوا وَلَوْ بِجَرْعَةٍ مِنْ مَاءٍ

Sahurlah walau hanya dengan seteguk air. (Ibnu Hibban)

Tapi, jangan nekat. imam Nawawi dalam al-Majmu berkata “Kami katakan bahwa jika fajar telah datang, sedangkan makanan masih ada di mulut, hendaklah dimuntahkan dan ia boleh teruskan puasanya. Jika ia tetap menelannya padahal ia yakin terlah masuk fajar, maka batal lah puasanya.”

5.Pegang Remote Sebelum Magrib Hingga Lupa Doa Mustajab

Ketika mendekati waktu membatalkan puasa, masyarakat kita sibuk rebutan remot, cari-cari yang adzan duluan. Akhirnya, lupa bahwa saat berpuasa dan akan berbuka, doa sangat mustajab dan mudah dikabulkan.

Saat itu, waktu kita menjadi mahal. Sempatkan diri untuk berhenti, menghadap kiblat, angkat tangan, minta apa saja, doakan orang tua, bangsa ini, dan semua orang yang butuh hidayah. Rasulullah  bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَإِمَامٌ عَدْلٌ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga doa yang tidak akan ditolak: Doa orang berpuasa sampai ia berbuka, doa pemimpin yang adil dan doa orang yang dizalimi. (Ahmad, Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban, Tirmidzi)

Udahlah… gak zaman ngabuburit hunting takjil, sekarang bukber bersama keluarga di rumah sambil berdoa.

6. Salah Doa Berbuka Puasa

Hafal doa buka puasa? Coba yuk kita test:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Ya Allah karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. (Abu Daud, Tabarani)

Terasa ada yang kurang ya? Aneh? Janggal?

Maklum, biasanya pake “Wa bika amantu” di tengah dan “Ya Arhama r-Rahimin” di akhir.

Inilah problem kita, remeh tapi bahaya. Lebih akrab dengan kebiasaan dan adat daripada perkataan Nabi Teladan.

Sebenarnya, mungkin tidak apa-apa menambah-nambah doa. Tapi, kenapa menjadi asing ketika dibacakan hadits aslinya?

Takutnya, terjadi kasus serupa terhadap Kitabullah. ketika al-Quran ditambah-tambah, kita gak sadar. Ini membuktikan pendidikan agama Islam kita masih sangat kurang.

Ok, gak apa-apa. Lagian menurut sebagian ulama, hadist di atas derajatnya dhoif. Daripada kita ribut, mendingan kita bahas doa yang derajatnya hadits-nya lebih lebih tinggi, hasan:

ذَهَبَ الظَمأ وَابْتَلَّتِ العُرُوْقُ وَثَبَتِ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

(Dzahaba z-dzoma wabtallati l-Uruq wa tsabati l-ajru in sya Allah)

Telah hilang dahaga dan telah basah aliran darah serta tercatat ganjaran insyallah. (Nasai, Abu Daud, Daruqutni, Baihaqi, Baghowi)

7. Doa Dulu atau Buka Puasa?

Gampang jawabannya.

Lihat aja doa di atas, “Telah hilang dahaga” (ذهب الظمأ).

Kira-kira buat menghilangkan haus, minum dulu atau doa?

Pastinya, minum dong.

Lagi pula kata kerja yang digunakan adalah kata kerja lampau. Berarti, Nabi Muhammad minum dulu baru berdoa, “Dzahaba dzoma…”

8. Beda Takjil dan Ifthar

Takjil adalah makan ringan, cukup 3 butir kurma dan segelas air. Ifthar adalah makan besar, sepiring nasi, sayur, lauk dst.

Sebaiknya, ketika adzan maghrib cukupkan diri kita dengan 1 atau 3 kurma dan air. Setelah itu kumur-kumur, kemudian shalat magrib.

Orang tua harus mengingatkan anak-anaknya ketika bukber diluar. Kalau buka bersama, cukup takjil saja. Habis itu langsung shalat. Takutnya, saking enaknya ngobrol dengan teman sampai lewat waktu maghrib.

9. Lebay Pantangan Saat Puasa

Termasuk kesalahan kita saat berpuasa adalah berlebihan membuat larangan. Biasanya orang tua menakut-nakuti anak-anak dengan mengatakan, “gak boleh ini… itu… nanti batal” padahal kita sendiri tidak tahu hukumnya.

Akhirnya, pantangan yang kita buat itu malah mempersempit ruang gerak sendiri. Berikut beberapa hal yang diperbolehkan saat puasa:

  • Siwak dan Sikat gigi dengan pasta gigi, yang tidak boleh adalah minum air kumur-kumur odol.
  • Menyiram kepala dengan air,
  • Bercelak,
  • Suntikan selain infus untuk keperluan medis,
  • Mencicipi makanan setelah itu jangan ditelan,
  • Mengambil darah untuk keperluan medis selama tidak membahayakan,
  • Bekam,
  • Berkumur dan memberishkan hidung saat wudhu (Istinsyak dan Istinsyar),
  • Mencium istri,
  • Bangun tidur dalam keadaan junub,
  • Menggunakan minyak wangi/rambut,
  • Meludah,
  • Berenang, tidak boleh menyelam sambil minum air.

10. Haruskah Itikaf di Majid?

Banyak orang Islam yang merngharapkan kemulian dan pahala Malam Lailatul Qadar di Bulan Ramadhan dengan Itikaf di masjid.

Namun, sebagaimana diketahui syarat itikaf haruslah berada dalam masjid.

Bagaimana jika tidak bisa? Bagaimana dengan wanita?

Perlu diluruskan dan diingat, Lailatul Qadar tidak mensyaratkan ittikaf. Wanita atau siapapun selama tidak menghalangi kewajibannya, diperbolehkan ke masjid.

11. Wanita Haid Harus Ikut Shalat Idul Fitri dan Adha

Ied, i’d atau idul artinya hari raya. Makanya, penggunaan frasa “hari raya idul adha” sebenarnya kurang tepat. Karena jika ditelisik artinya “hari raya-hari raya adha”.

Ok, kita lewatkan saja yang itu.

Hari raya dalam Islam memiliki keunikan tersendiri, didahului dengan puasa dan dimeriahkan dengan shalat. Shalat Idul Fitri dan Ied Adha juga istimewa. Saking spesialnya, harus dihadiri semua orang termasuk wanita haid, nifaspun harus menyaksikan shalat dan khutbah Idul Fitri dan adha.

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Rasulullah memerintahkan kami untuk keluar pada hari raya Fitri dan Adha mengajak para gadis, wanita haid, maupun gadis yang dipingit. Adapun wanita haid, memisahkan diri dari tempat pelaksanaan shalat dan menyaksikan shalat serta khutbah muslimin. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, seorang dari kami tidak memiliki jilbab.” Beliau berkata, “Hendaklah yang lain meminjamkan jilbab kepadanya”.

أُمِرْنَا أَنْ نَخْرُجَ فَنُخْرِجَ الحُيَّضَ، وَالعَوَاتِقَ، وَذَوَاتِ الخُدُورِ فَأَمَّا الحُيَّضُ؛ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ، وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلْنَ مُصَلَّاهُمْ

Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya, maka kamipun mengajak keluar para wanita haid, para gadis, dan wanita pingitan. Sementara orang-orang Islam shalat dan mendengarkan khutbah, para wanita haid meyaksikan dari luar tempat shalat. (Bukhari)

Dua dalil dari hadist shahih ini cukup membuktikan keharusan keluar rumah saat shalat idul adha dan fitri, karena jika dibandingkan dengan sholat fardhu 5 waktu gak begitu-gitu amat, sampai disuruh keluar.

12. Gagal Paham Maafan dan Salaman

Memaafkan adalah ajaran Islam yang mulia. Sayangnya, seolah saling memaafkan hanya ada di event tertentu seperti lebaran.

Ini sangat aneh. Sejatinya maaf-maafan tidak harus menunggu lebaran.

Selain itu, tampaknya kita terlalu meremehkan dosa dengan adanya halal bi halal. Seakan dosa maksiat terhapus seketika saat hari raya. Padahal, salaman dan maafan ini sifatnya umum untuk dosa kecil saja.

Sementara dosa besar seperti mencuri, harus minta maaf secara detil dan intens yang lebih dari sekadar shake hand.

13. Keliru Ritual Zakat Mal dan Fitrah

Seiring dengan berakhirnya Ramadhan :'( biasanya masyarakat akan antusias merespon ketika pengurus masjid mengumumkan untuk zakat fitrah. Sayangnya, banyak hal yang luput dari ibadah zakat ini:

Pertama, orang lupa bahwa zakat fitrah itu tidak sama dengan zakat maal. Seolah dengan menunaikan 3.5 liter beras, kewajiban zakat hartanya pun sudah lunas.

Kedua, ada orang kaya yang ingat dan tahu bahwa ia juga harus mensyukuri nikmat harta yang Allah berikan, kemudian ia berzakat. Tapi dia tidak menghitung jumlah dan nisabnya. Zakat harta tidak harus di bulan suci Ramadhan.

Tiga, Para Mustahiq zakat diharuskan datang ke masjid. Tentang hal ini saya belum tahu dalilnya, tapi apakah tidak sebaiknya diantar ke rumah masing-masing?

Coba kita belajar lagi.

14. Mana Yang Lebih Dulu, Puasa Syawal atau Qadha Ramadan?

Ini pertanyaan tahunan, “Puasa Syawal 6 hari dulu, apa bayar hutang puasa dulu?”

Jawabannya, bayar hutang puasa dulu.

Namanya juga hutang, harus dibayar secepatnya. Tapi, kalau bulan syawal tinggal 6 hari lagi, ya mending puasa syawal dulu. Mau gimana lagi, udah mepet.

Makanya, yang enak itu setelah Idul Fitri, besoknya puasa bareng-bareng. Gak berat, karena masih ada semangat dan kebiasaan Ramadhan.

Akhirnya, Pembahasan tentang puasa qadha ini mengakhiri pembahasan kita. Semoga membawa manfaat yang dapat diamalkan.

Tanpa bermaksud memojokkan madzhab atau ormas manapun, kami membuka ruang komentar dibawah. Kalau ada yang kurang mohon ditambah.

Jazakumullah awfaural jaza.

Baca juga:

Motivasi Sulit Menghafal al-Quran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here