Menarik sekali membahas fenomena banyaknya wanita cantik, pintar, anggun, wajahnya cerah merona, fashionable, tapi masih jomblo ngenes alias belum juga menikah di saat usia sudah beranjak 25 tahun.

Pertanyaannya, kenapa mereka belum menikah?

Apa benar Allah belum memberikan jodoh?

Ustadz Ma’mun Affany, penulis buku 29 Juz Harga Wanita, sering mendapatkan pesan di inbox dari akhwat-akhwat dengan nada serupa berikut:

“Ustadz, sepertinya sulit sekali cari jodoh, usia saya sudah lebih dari 25 tahun tapi belum ada yang melamar.”

Kalau boleh di-review, gadis-gadis ini terbilang cantik, putih, bersih, pintar. Apa kurangnya coba? Tidak ada yang menghalanginya untuk membuat laki-laki jatuh hati.

Setelah diusut punya usut, sejarah mereka rata-rata sama; dulunya pernah menolak ikhwan yang berniat menikahinya lantaran merasa bahwa ikhwan itu tidak begitu menarik, tidak selevel. Maklum, namanya juga gadis cantik.

Gadis cantik erat dengan impian setinggi langit, percaya diri harus dapat cowok yang wow. Masa yang biasa, minimal; tampan, baik hati, dan kaya. Padahal cowok demikian hanya ada di fiksi drama Korea.

Kalau Anda hanya cantik, laki-laki sekarang sudah berpikir matang. Meskipun cantik, tapi agamanya buruk, kerjaannya hanya ke salon dan minta gaun, tas, serta perhiasan. Buat apa? Emangnya uang kertas cetak sendiri? Laki-laki yang otaknya waras, pastinya akan mundur.

Karenanya, harus dipahami bahwa menikah dan jodoh bukan urusan cantik saja, tapi juga butuh proses panjang. Oleh sebab itu, mulailah sedini mungkin. Anda yang masih berusia 18-20 tahun, mulailah menyusun rencana nikah muda. dan mempelajari hukum pernikahan dalam Islam.

Meskipun Anda cantik, jangan sombong dan ke-PeDe-an kalau nanti mudah dapat cowok, atau yakin sangat mudah menaklukkan hati pria. Bisa jadi nantinya justru Anda dipermainkan laki-laki karena mengetahui Anda sedang panik tidak cepat dapat jodoh.

Jangan takut mulai mencari jodoh sejak S1. “Ah, ingin S2 dulu”. Silakan, tapi jangan salah, tidak jarang akhwat yang sudah S2 tapi masih jomblo. Sebaliknya, yang dulu nikah dari lulus S1 atau saat kuliah strata satu, sekarang sudah S2.

Ending-nya sama-sama punya ijazah master alias magister. Bedanya, Anda masih gendong buku ke perpustakaan, sementara teman Anda sudah ngajarin anak baca buku.

Bedanya, akhwat lain sudah tidur sambil memeluk anak, Anda ketiduran karena ngantuk baca buku.

Ada satu pesan menarik dari Kiyainya Ust. Ma’mun, “Kalau laki-laki boleh S2 dulu. Tapi kalau perempuan, nikah dulu baru S2.”

Kalau dipikir kenapa beliau menyampaikan itu? Jawabannya menurut saya, “Laki-laki akan lebih laku dan berwibawa setelah menyandang gelar master. Kalau perempuan sudah S2, justru laki-laki akan berpikir panjang untuk mendekatinya. Bisa jadi; minder, atau …”.

Psikologis laki-laki pun tidak mau berada di bawah derajat istri. Wanita yang sudah S2 pun punya cara pandang tersendiri, yang mungkin hanya cocok dengan pria bertitel doktor.

Kalaupun berpikir, “buat apa nikah cepet-cepet, lebih baik senang-senang dulu lah selagi masih muda”. Dapat dikatakan, sebenarnya ini alasan ngeles orang yang belum dapat jodoh nikah. Menikmati masa muda bukanlah setelah kuliah, Anda sudah ketuaan. Buktinya banyak teman yang sudah punya bayi. Tidak dapat dipungkiri, kesenangan tertinggi wanita saat bermain-main bersama anak kecil, terutama anak kandungnya.

Tidak percaya? Coba lihat tetangga, di instagram juga banyak yang share video bareng anak. Lihat kebahagiaan mereka. Dapat pelukan dari anak balita yang gemesin adalah surga dunia untuk wanita. Anda juga pasti merasakan hal serupa saat main sama anak orang lain, tapi tidak seindah anak sendiri.

Maka mulailah dari sekarang. Tidak cocok dengan laki-laki yang datang adalah hal biasa, tapi menunda niat untuk memulai mencari jodoh adalah hal yang menyiksa Anda sendiri pada satu waktu nanti. Mulailah dari sekarang mencari jodoh wahai para calon bidadari.

Tidak sedikit yang mengomentari, “Ustadz ini nakut-nakutin kita aja … Jodoh kan di tangan Allah.” Ya, jelas. Takdir dan rezeki memang di tangan Allah. Air hujan yang jatuh dari langit pun dengan izin Allah. Jika ukhty tidak keluar, bagaimana bisa mandi air hujan. Begitu juga jodoh.

Emangnya hanya laki-laki yang harus ikhtiar dan tawakkal. Lantas, para wanita hanya berdoa? Coba contoh Ibunda Khadijah istri Rasulullah dan para sahabatnya. Ada usaha yang dikeluarkan untuk mendapatkan jodoh. Bukan hanya berpangkau tangan.

Setidaknya, agar di kemudian hari tidak ada penyesalan, “coba dulu saya mau menikah. Seandainya dulu saya berusaha sunguh-sungguh.” Toh, kalau sudah berusaha belum ketemu jodohnya, pahala dari Allah akan tetap mengalir. Tidak akan rugi, deh.

Sebagai mana pria boleh jatuh cinta, wanita juga boleh jatuh cinta. Laki-laki dapat melamar wanita idamannya, wanita pun berhak menyatakan perasaanya.

Tulisan ini tidak bermaksud melarang para wanita untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Hidup tidak hanya perlu pintar intelektual, tapi juga butuh cerdas menjalaninya, kita tidak selamanya ditemani orang tua, kita pun tidak mampu hidup menjadi tua sendirian, kita butuh teman.

Otak punya jatah makanan, yakni ilmu. Biologis butuh energi, begitupula jiwa.

Saya tidak mau para wanita ketakutan setelah membaca tulisan blog ini, lantas menerima setiap pria yang melamarnya. Harus selektif, setidaknya yang agamanya bagus.

Untuk teman-teman yang sudah terlanjur S2 dan S3, masih ada kesempatan. Salah satunya, Anda sendiri yang mengajukan diri. Berani?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here