Cerpen: Cahaya di Rumah Mungil

Share yuk:

Pagi hari yang cerah, ayam berkokok di samping rumah mungil yang indah. Tak jauh dari rumah mungil, terdapat rumah yang besar dan megah.

Di rumah mungil yang indah itu, gadis kecil berusia 5 tahun bernama Inara tinggal bersama ibu dan neneknya. Sedangkan ayah Inara sudah meninggal dunia saat Inara berusia 3 tahun.

Semua penghuni rumah mungil sedang bersiap untuk makan pagi. Sementara di rumah besar masih terasa sepi.

Ayam menyapa rumah besar tersebut. “Hai rumah besar, sepertinya di dalam sana sangat sepi dan kau juga terlihat selalu murung.”

Rumah besar itu menjawab, “Penghuniku masih tidur, dan aku merasa sedih karena di sini terasa sangat sepi. Penghuniku lebih sibuk di luar sana, mereka pulang hanya untuk tidur. Itu yang terjadi setiap hari sehingga aku merasa bosan.”

“Kasihan sekali kamu rumah besar.” Ujar Ayam ikut merasa sedih. Lalu ayam kembali dan menyapa si rumah mungil.  “Wah kamu selalu ceria rumah mungil. Aku jadi senang bermain di dekatmu.” Kata ayam sambil menaiki pagar.

“Iya Ayam, penghuniku selalu bahagia, jadi aku ikut merasa bahagia.” Jawab si rumah mungil

Dahulu setiap malam, ayah Inara selalu membaca Al-Quran sambil memanggkunya. Inara selalu tenang karena sangat senang mendengar suara ayah yang bagus sekali saat membaca Al-qur’an.

Kini, meskipun ayah Inara sudah tiada, Inara tidak suka bersedih dan tetap semangat karena Ibunya berkata, “Walaupun ayah sudah tiada, Inara gak boleh sedih. Inara masih punya ibu dan nenek yang selalu sayang Inara.”

Nenek juga berkata “Kalau Inara sedih, ayah akan sedih juga. Lebih baik berdoa untuk ayah, supaya ayah selalu disayang Allah.”

Jadi Inara selalu mendoakan ayahnya dan Ibu serta neneknya. Hanya saja, kini Inara tidak bisa duduk tenang saat nenek dan ibunya membaca Al-qur’an. Inara lebih memilih bermain dengan bonekanya karena tidak sabar menunggu nenek dan ibu selesai membaca Al-qu’an.

“Ayo sekarang Inara belajar membaca huruf Hijaiyah dulu ya.” Perintah ibu dengan lembut.

“Inara bosan bu bacanya mengulang terus.” Keluh Inara

“Bacanya diulang karena Inara belum lancar. Kalau Inara sungguh-sungguh belajarnya, pasti nanti bisa lancar.” Ujar Ibunya memberi semangat.

“Tapi Inara gak sabar. Mau cepat-cepat baca Al-quran.” Rengek Inara Nenek berkata sambil mengusap kepala Inara,

“Dalam hadits, Rasulullah bersabda: Orang yang pandai membaca Al-Qur’an, dia berada bersama para malaikat yang mulia dan orang yang terbata-bata di dalam membaca Al-Qur’an serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.”

“Jadi kalau kita tetap semangat belajar membaca Al-qur’an, walaupun belum lancar, Kita tetap akan dapat pahala 2 kali lipat seperti orang yang sudah pandai membaca Al-qur’an.” Ujar Ibu lagi.

“Ya udah deh, Inara belajar lagi” Ucap Inara dengang agak lesu.

Sementara itu, di rumah besar setiap malam selalu terlihat terang karena lampu-lampunya lebih banyak. Namun rumah besar tetap merasa bosan.

“Padahal aku ini besar dan mewah, tapi kenapa penghuni di sini sepertinya tidak bahagia? mereka pulang hanya untuk tidur.” Keluh rumah besar

Di suatu siang, teman Inara datang ke rumahnya untuk bermain.

“Inara, aku udah bisa baca Al-qur’an sekarang, dan ayahku sudah janji mau kasih hadiah.” Ujar teman Inara yang bernama Nina.

“Wah, pasti kamu senang sekali Nina.” Ucap Inara ikut senang.

Sore harinya, Inara bercerita kepada ibunya tentang Nina yang akan mendapat hadiah dari ayahnya.

“Kalau aku, gak bisa dapat hadiah dari ayah.” Keluh Inara merasa sedih. “Aku kangen sama ayah Bu.”

“Inara ingat gak? Dulu Inara selalu duduk di pangkuan ayah setiap kali ayah membaca Al-Qur’an,” tanya Ibu.

Inara menganggukan kepala, “Iya, Inara selalu ingat. Suara ayah yang sangat bagus Bu.”

“Mendengar suara ayah yang bagus saat membaca Al-qur’an, bukannya itu sudah jadi hadiah dari ayah walaupun Inara gak pernah minta?” Tanya Ibu lagi.

“Iya, ternyata ayah sudah kasih hadiah.” Inara tertegun mengingat ayahnya.

“Gimana kalua sekarang Inara yang kasih hadiah ke ayah!” Usul ibu.

“Gimana caranya aku kasih hadiah ke ayah?” Inara merasa bingung.

“Caranya, Inara sungguh – sungguh belajar membaca Al-quran. Kalau Inara bisa baca al-qur’an, pasti ayah senang.”

“Aku mau bisa, tapi bacanya susah Bu.”

“Walaupun mengulang, yang penting Inara rajin belajarnya, pasti nanti bisa lancar membacanya.”

“Iya, aku pasti bisa yang penting selalu semangat dan rajin.” Ucap Inara untuk dirinya sendiri.

Bintang-bintang sudah mulai bermuculan di langit malam, di rumah mungil Inara sedang belajar membaca huruf hijaiyah dengan benar bersama nenek dan ibunya, rumah mungil merasa sangat gembira. Sedangkan di rumah besar, masih sama seperti sebelumnya. Walaupun diterangi lampu-lampu yang banyak suasananya masih sepi.

“Aku iri dengan rumah mungil, walaupun dia tidak besar, dia terlihat selalu Bahagia.”

“Inara harus selalu semangat ya belajarnya” Ucap Nenek setelah inara selesai belajar.

“Kata Rosulullah, jika pemilik rumah membaca Al-qur’an di dalamnya, rumah itu akan terasa luas, malaikat mendatangi rumah itu, dan setan akan menjauhinya sehingga banyak kebaikannya di dalam rumah itu.” Ujar nenek sambil membelai kepala Inara.

“Sedangkan jika tidak membaca al Qur’an dalam rumah. rumah itu akan terasa sempit bagi pemiliknya, malaikat menjadi tehalang untu masuk ke rumah itu, dan setan mudah masuk ke dalamnya sehingga sedikit kebaikannya.” Ucap ibu menambahkan.

“Iya, aku harus rajin belajar dan membaca Al-qur’an, supaya banyak malaikat yang mau datang ke rumah.” Ucap Inara bersemangat.

Meskipun tidak punya banyak lampu, rumah mungil selalu gembira dan semakin bercahaya.

Karya Asih Langit Biru:

Share yuk:

Leave a Comment