Hubbul Wathon : Cinta Tanah Air dalam Islam

Cinta tanah air adalah fitrah manusia, orang beriman, bahkan rasa itu dimiliki Rasulullah ﷺ.

Hubbul wathon minal iman (?)

Butrus al-Bustani

Setelah 13 tahun diintimidasi, Mekkah makin tak kondusif untuk ditempati orang beriman. Hari itu nabi Muhammad terpaksa berhijrah ke Madinah.

Usia beliau 53 tahun kala itu.

Bayangkan seseorang lahir di sebuah kota, tumbuh, bermain, belajar bahkan berumahtangga di sana, lalu terusir di usia 53 tahun.

Maka tak kuasa Nabi membendung rasa cinta pada negeri kampung halamannya. Karenanya dari kejauhan beliau membalikkan tubuh menghadap kota suci itu dan berkata,

مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وأَحبَّكِ إلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

“Sungguh tak ada negeri yang lebih indah dan aku cintai selainmu. Andai bukan karena kaumku mengusirku darimu, niscaya aku akan menetap selamanya.” (al-Tirmidzi)

Lihatlah curahan hati Rasulullah untuk kota Mekkah.

Padahal saat itu kota Ka’bah ini bukanlah negeri muslim, bukan daarul Islam, karena kemusyrikan masih mencengkeram kuat di sana.

Mekkah baru menjadi negeri muslim tahun 8 Hijriah pada momen Fathu Makkah.

Tapi cinta tanah air, meski bukan negara Islam, di mana dia dilahirkan dan dibesarkan adalah fitrah yang hadir di hati seseorang.

Sesampainya di kota Madinah, sepenuh hati beliau berdoa untuk tanah airnya yang baru.

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا المَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أوْ أشَدَّ

“Ya Allah, tumbuhkan cinta kami pada Madinah sebagaimana cinta Mekkah, bahkan lebih besar lagi.” (al-Bukhari)

Inilah lambang cinta tanah air yang dapat kita teladani dari sirah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Begitu memasuki kota Madinah, seketika beliau meminta diberikan cinta melebihi kota kelahirannya.

Padahal Madinah kota asing nan baru bagi dirinya. Beliau tidak dilahirkan dan dibesarkan di sana.

Karena Nabi sadar betul, beliau akan hidup dan merawat bumi di dalamnya.

Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung.

Saksikanlah bagaimana ketika Rasul hadir di Madinah, kaum Aus dan Khadraj yang bermusuhan selama 300 tahun berubah manjadi saudara.

Di sana tertulis jelas Piagam Madinah yang hari ini diakui sebagai konstitusi pertama dalam peradaban manusia.

Meski beragama lain, masyarakat Yahudi terjamin hidup dan keamanannya.

Di sana kemajemukan terjadi, semua setara, apapun ras, suku, warna kulit, gender mereka.

Ketika terjadi Fathu Makkah; Muslimin berhasil membebaskan kota Makkah, membersihkan kemusyrikan, 2000 orang masuk Islam, 360 berhala disingkirkan; Saat itulah terjadi kasak-kusuk di antara sahabat kaum Anshar asli Madinah.

“Jangan-jangan Rasulullah tidak kembali ke kota Madinah, dan menetap di Mekkah (kota kelahirannya).”

Maka baginda mengumpulkan semua sahabat Anshar secara khusus, untuk menjawab semua kegundahan di hati mereka,

فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْلَا الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنْ الْأَنْصَارِ وَلَوْ سَلَكَ النَّاسُ شِعْبًا وَسَلَكَتْ الْأَنْصَارُ شِعْبًا لَسَلَكْتُ شِعْبَ الْأَنْصَارِ اللَّهُمَّ ارْحَمْ الْأَنْصَارَ وَأَبْنَاءَ الْأَنْصَارِ وَأَبْنَاءَ أَبْنَاءِ الْأَنْصَارِ

“Demi Allah yang menggenggam jiwa Muhammad! Kalau bukan karena hijrah, pasti aku termasuk orang Anshar. Andai semua manusia berjalan di sebuah lembah, sementara Anshar menempuh lembah lain, pasti akan kutempuh lembah yang dilalui oleh Anshar. Ya Allah, rahmati kaum Anshar, anak-anak serta keturunan kaum Anshar.”

Lihatlah Nabi berjuang maksimal di tanah airnya yang baru, sampai akhir hayat. Kita bisa melihat makam manusia paling mulia itu bersemayam di masjid Nabawi Madinah.

Demikianlah karakter asli muslim di manapun mereka berada.

A. Futuhat Islamiyah

Semangat cinta tanah air dan bela negeri terus diwariskan generasi ke generasi.

Beriring, dakwah Islam dari jazirah Arab masuk negeri Syam, kemudian Persia, lalu bergerak ke arah barat yang mencakup Afrika Utara, Mesir-Maroko.

Safar itu pun mengantar kaum muslimin menyeberangi benua asing yang kita kenal dengan Eropa, melalui selat Jabal Thoriq (Gibraltar).

Silakan baca sejarah.

Meskipun berlatar belakang sebagai orang Arab, Persia dan Syam, kaum muslimin membangun peradaban di benua baru itu.

Yang tadinya tidak dianggap dalam percaturan dunia, menjadi negeri paling maju, Andalusia.

Lihatlah bangsa Eropa sebelum datangnya Islam. Bandingkan setelah cahaya agama Tauhid ini datang.

Bahkan Gerbert d’Aurillac yang kemudian dinobatkan menjadi Paus Silvester II pernah mengenyam pendidikan di Kordoba.

Inilah mengapa kedatangan muslim ke suatu negeri disebut “futuhat” yang berarti membuka dan membebaskan. Sebagaimana firman Allah,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا 

Sungguh akan kami bukakan pintu kemenangan yang nyata kepadamu. (al-Fath: 1)

Karenanya ulama ahli sejarah Islam memilih istilah “fath, futuhat“, bukan “as-saithoroh” yang berarti penguasaan, dominasi, yang cenderung pada penindasan dan penjajahan.

Allah berfirman,

لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ

Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (al-Ghasyiyah: 22)

مَا أَنتَ عَلَيْهِم بِجَبَّارٍ

Engkau tidak dapat memaksa mereka, (Qaaf: 45)

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

Tidak ada paksaan dalam beragama. (al-Baqarah: 256)

Inilah dalil yang menjadikan umat Islam berbeda dibanding bangsa lain.

  • 300 tahun kerajaan Mughal India memimpin, sampai hari ini pemeluk agama Hindu masih mayoritas.
  • 1300 tahun kesultanan Islam silih berganti meliputi Palestina dan Mesir, sampai hari ini peninggalan sejarah dan aktifitas keagamaan Kristen masih berlangsung.

Silakan pelajari bagaimana negara lain menguasai suatu negeri.

Inggris mencengkeram India, Belanda menjajah Nusantara, Zionis menjadi kanker di Palestina, China memberangus Turkistan Timur dan Tibet, belum lagi nasib bangsa Indian di Amerika dan Aborigin di Australia.

Jelas bukan bandingannya dengan muslimin ketika memasuki suatu wilayah.

1. Muslim Spanyol

Cinta tanah air adalah soal loyalitas pada negeri. Di Spanyol kaum muslimin membangun peradabannya dengan sebegitu indah.

Tercermin pada istana merah yang sangat iconic di sana, al-Hamra atau al-Hambra. Belum lagi masjid-masjid megahnya.

Kota sepak bola Madrid pun peninggalan muslim, diserap dari bahasa Arab “Majrit” yang berarti saluran air.

Karena saat itu saluran irigasi yang dibangun Daulah Andalusia sangat bangus, dari yang awalnya panen sekali dalam setahun, jadi 3 kali.

Bahkan warga Spanyol masih menggunakan kata “dinero” untuk uang, yang diserap dari bahasa Arab juga.

Dapat kita bayangkan bagaimana mukminin membina sebuah wilayah dari segala aspek, politik, spiritual, sosial, pertanian dan ekonomi.

2. Saat Muslim Kalah

Muslimin pernah menghadirkan kemajuan di Eropa yang tidak pernah diperbuat oleh masyarakatnya sebelum memeluk Islam.

Malahan seorang ilmuan Prancis, Gustave Le Bon sangat menyesali kekalahan kaum muslim yang berakibat pada terhambatnya kemajuan Paris.

Maka, di sini kita wajib mengambil pelajaran.

Singkat cerita, kaum muslimin harus kalah di kota terakhirnya, Granada (1492).

Saat itulah terjadi peristiwa paling memilukan dalam sejarah Spanyol, orang-orang Islam dipaksa memilih murtad atau mati.

Inilah penyebab populasi muslim menghilang dari Eropa selama beberapa abad, bahkan hari ini sangat kecil jumlahnya.

Di antara mereka ada yang dibunuh hanya karena memiliki kitab suci al-Quran.

Semua yang berkaitan dengan Islam dicabut, hingga tidak boleh ada seorangpun menyandang nama-nama Islam, seperti Muhammad, Abdullah, Umar, Ali, dsb.

Semua kegiatan ibadah dilarang, sampai kamar mandi pun dihancurkan. Karena mereka tahu, muslim tidak melakukan ibadah kecuali setelah bersuci.

Betapa jahatnya, dan bandingkan perlakuan itu tak pernah dilakukan muslim saat memimpin atau memasuki suatu wilayah.

Pola yang sama pun masih terjadi hari ini, sebagaimana dialami oleh masyarakat Uighur.

B. Cinta Tanah Air Indonesia

Jauh ke bawah garis khatulistiwa ada sebuah kawasan yang kita kenal dengan Nusantara dan Tanah Melayu.

Hari ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, apakah ada invasi militer dari kerajaan muslim yang saat itu berkuasa dunia?

Tidak.

Justru bangsa ini menjadi muslim dengan senang hati, melalui akhlak mulia para da’i, wali Allah dan pedagang.

Dengan damai negeri ini bertransformasi menjadi masyarakat muslim. Tanpa sedikitpun ada gerakan Tanam Paksa, Romusa atau Hindia Utsmani.

Lebih dari itu, masyarakat muslim adalah komunitas pertama dan paling nyaring dalam melawan kolonialisme Portugis, Belanda, Inggris, serta Jepang.

Karena muslim tak suka dijajah. Karena dijajah artinya tidak bisa shalat dan puasa, dilarang wakaf produktif, serta merusak jalinan ukhuwah persaudaraan.

Islam punya hukum amar ma’ruf dan nahi munkar. Muslim tidak bisa hidup sementara sahabatnya ditindas.

Tidak ada kata “yang penting saya aman hidup nyaman” sebagaimana sikap sebagian orang yang menjadi londo ireng dan kaki-tangan penjajah.

1. Jihad Merdeka

Generasi ke generasi nafasnya sama, ingin bisa shalat dan ngaji seperti dulu, harapan ini terangkum dalam satu kata, “merdeka”, dengan cara berjihad.

Di Mekkah ada syaikh Khatib Ahmad al-Minangkabawi, dari namanya kita tahu beliau berasal dari tanah Minangkabau.

Beliau adalah ulama, guru dari bapak-bapak bangsa Indonesia hari ini. Di antara murid beliau:

  1. Hadratus syaikh Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama
  2. K. H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah
  3. Abdul Karim Amrullah, alias Haji Rasul ayah dari Buya Hamka

Beliau tidak hanya mengajari ilmu Islam di Kota Suci, tapi juga membawa kegundahan tentang penjajahan di negeri ini.

Beliau selalu mendorong persatuan anak bangsa untuk mengusir penjajah.

Kita juga tahu Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh K. H. Hasyim Asy’ari.

Bacalah bagaimana perjuangan pangeran Diponegoro hingga Imam Bonjol.

Mereka semua ulama, yang diserukan adalah JIHAD.

Kalau hari ini kita mengkerdilkan kata “jihad”, menjadikannya kambing hitam atas kejahatan terorisme, sungguh kita telah khianat.

Maka tunggulah akibat dari pembelotan tersebut.

C. Contoh Sikap Cinta Tanah Air dalam Islam

Kemerdekaan bukanlah perjalanan satu-dua hari. Tapi ia shirat panjang yang harus dijaga generasi masa kini. Sebagaimana tertulis dalam artikel ini, antaranya :

  1. Mendoakan kebaikan dan cinta.
  2. Menjaga penduduk dan alamnya.
  3. Berkontribusi dalam pembangunan jiwa dan raganya.
  4. Menghargai pengorbanan para syuhada dan pahalawan.
  5. Belajar.

Siapa tak kenal sejarahnya, ia tak mengenal identitasnya, maka ia tak punya harapan untuk meraih kebesarannya.

Adapun “hubbul wathon minal iman” bukanlah hadits. Menurut konteks ini, yang benar adalah “hubbul wathon fitrotul muslimin” cinta tanah air adalah fitrah seorang muslim.

Leave a Reply

Blog Openulis

Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.