Orientasi Harta dan Mata Duitan Masalah Besar Umat Islam

SHARE
Emas duit uang materi

Saya ingin berbagi satu masalah besar yang menimpa saya dan Anda serta kaum muslimin hari ini. Bahkan Rasululluh mengatakannya sebagai fitnah umat Islam, dialah duit bin harta alias uang.

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah bagi umatku adalah harta.” (Tirmidzi)

| Silakan baca: apa itu fitnah?

Boleh saja orang Islam ngaku-ngaku punya konsep keikhlasan, ketulusan tanpa pamrih dan motif. Boleh saja kita bilang “lillahi ta’ala”, semua dilakukan hanya karena Allah.

Tapi kenyataan di masyarakat, banyak orang yang ngaku muslim tidak bisa melepaskan diri dari kecanduan duit. Segalanya diukur dengan yang namanya uang.

Ada yang ngaku ustadz, saat diminta ngisi pengajian bilangnya,  “Berani bayarnya berapa?”

Ya silakan saja, saya gak mau suudzon. Bisa aja dia punya banyak anak yatim-piatu yang harus disokong. Atau dia punya lembaga pendidikan gratis yang harus dia biayai operasionalnya.

Ada juga mahasiswa diajak jadi panitia, belum apa-apa sudah nanya “Aku dapat apa?” Giliran tahu dibayar, dia getol. Seolah motivasinya cuma uang.

Mungkin, pelajar universitas di atas hanyalah oktum yang terpaksa karena naksir anak gadis orang, kemudian ketika melamar dihujani sejuta pertanyaan dengan tema sama: kerja di mana?, gaji berapa?, sudah punya apa?

Yang paling sedih saat orang Islam mendengar kata “rezeki” tapi yang dibenaknya adalah uang. Padahal rezeki itu ada banyak. Sehat rezeki, punya anak itu rezeki, punya pasangan pun rezeki, bisa B.A.B juga rezeki dari Allah.

Mana iman, mana tawakal?

Kita baru mau-suka rela mengatakan “Alhamdulillah BERKAH”, setelah dapat uang atau traktiran makan dari teman pengajian.

Ini kan aneh. Mana mungkin ada teko isi susu ketika dituang, yang keluar air comberan. Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata:

من كان همه ما يدخل جوفه كانت قيمته ما يخرج منه

“Orang yang motivasinya hanya seputar isi perut, kualitasnya tidak lebih dari kotorang yang keluar darinya.”

Kenapa sih, keberhasilan hidup harus dinilai dengan besarnya penghasilan, kesuksesan diukur dari jumlah merek mobil mewahnya?

Kita mungkin menolak disebut berorientasi duit, mata duitan, materialistik. Tapi nyatanya setiap hari itu yang kita obrolin, buku-buku yang kita baca juga kebanyakan tentang uang.

Pelatihan motivasi, yang dibahas itu-itu aja, “cara jadi orang kaya”, Ngomongin kesuksesan barometernya selalu materi.

Ngak jarang yang berpikiran harta hanyalah perantara, “kalau jadi orang kaya, beramal lebih mudah”, “kalau duit banyak, ibadah lebih khusyuk”. Ngak juga tuh.

Bermanfaat nggak harus nunggu berduit, bahkan bahagia nggak ada hubungannya samasekali dengan harta. Kadang malah duit malah mengalihkan fokus kita yang utama.

Ingat kisah pasukan bangsa Israel yang dipimpin Jalut? Karena kebanyakan ngambil dunia, mereka gak sanggup lagi berjihad.

Kalau beneran duit hanya perantara, maka dia tidak layak disebut-sebut lebih dari tujuan, tidak ditonjolkan melebihi target, dan tidak pernah dibanggakan melebihi proses.

Kalau cuma punya harta segudang, Qarun udah lebih dulu. Kita ketinggalan mas. Bahkan saat nemu peti emas, orang selalu bilang “harta karun”.

Kalau hanya kemegahan, Firaun sudah pasti unggul dari kita semua. Bahkan dalam surat az-Zukhruf: 51 dia ngaku “Seluruh Mesir milik saya”, dan gak ada yang protes. Punya istana, kursinya dari emas.

Hati-hati orang tua yang mempriotiaskan calon mantunya harus kaya dan jabatan tinggi. Kalau dia firaun, gimana nasib putri bapak-ibu?

Kalau hanya donasi milyaran, Bill Gates pun sudah melakukan.

Hidup lebih dari sekedar duit. Kalau cuma duit, perhiasan mahal, dan rumah mewah, orang kafir pun bisa.

Orang terkaya nomer satu di dunia, bukan muslim. Nomer 2 nonmuslim, nomer 3 juga sama.

Ini artinya, duit atau harta bukan apa-apa di mata Allah. Rasulullah bersabda:

انَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini senilai dengan harga satu sayap nyamuk bagi Allah, pasti Dia tidak akan memberikan orang kafir seteguk air pun.” (al-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here