Cerpen: Gerobak Tua [Selesai]

Cerpen Keluarga

Cerpen Gerobak tua sekoteng

Jika ayah mencari nafkah dengan berkeliling dagang sekoteng, maka ibu membantunya dengan membuat kue dan menitipkan daganganya di warung-warung yang dapat kami jangkau.

Kewajiban seorang anak adalah membantu orang tuanya, maka aku dan adikku sedikit membantu dengan menitipkan kue buatan ibu di kantin sekolah kami masing-masing.

Suatu ketika aku yang pulang dengan sisa kue yang cukup banyak mulai bertanya kepada ibu mengenai keinginkan membantu ayah, menjadi loper koran misalnya. Tanggapan ibu tak jauh beda. Aku adalah pelajar, maka tugasku adalah belajar. Tapi aku adalah seorang anak yang juga memikirkan orang tuaku.

“Ibu ngerti keinginan kamu untuk meringankan tugas kami. Tapi semua kewabiban kami, gak harus jadi beban untuk kamu.”

“Bu…”

“Bukannya di sekolah kamu lagi ujian? Belajar sana!” titah ibu memotong ucapanku.

Belum aku beranjak dari hadapan ibu, adikku datang dengan wajahnya yang di tekuk. Usai memberi salam ia meletakkan kotak kue yang kosong dengan kasar.

“Aira kesel banget! Masa teman Aira yang nyontek nilainya lebih bagus dari aku yang gak nyontek sama sekali!” lepas Aira sambil duduk dihadapan kami. “Dan pasti yang dapat beasiswa berdasarkan nilai yang tinggi, bukan karena buat siswa yang jujur. Rasanya aku mau nyontek aja kayak yang lain!” tandas adikku dengan kesal.

“Buat apa dapat beasiswa tapi dari hasil yang gak jujur. Sama aja kayak koruptor dong! Sukanya menyalah gunakan amanat.” Ujarku memberi tanggapan pada siswi kelas VIII itu.

“Tapi aku jugakan pengen jadi anak yang membanggakan ka.”

“Lho? Kamu jujur juga itu udah sangat membanggakan sayang.” Ucap ibu sambil mengelus kepala anak bungsunya.
Aku mengerti apa yang Aira rasakan, karena aku juga mengalaminya. Tapi aku sadar betul, bahwa kejujuran haruslah di utamakan.


Fajar sidik telah nampak sedari tadi dan hampir menghilang. Biasanya ayah sudah berada di rumah. Tapi subuh ini belum juga terdengar suara ayah sampai rumah.

Kami betiga pun cemas menantikan kedatangan ayah. Apa yah mengalami sesuatu?

Setelah menunggu cukup lama hingga tiba waktu kami berangkat sekolah barulah terdengar suara ayah mengucap salam. Dengan wajah lesu namun tetap tesenyum ayah menyapa kami. Aku dan Aira saling menatap dan kebingungan.

“Ayah kok baru pulang?” tanyaku cemas.

“Lhoh! Gerobak Ayah mana?” tanya Aira heran saat menyadari ayah pulang dengan tangan kosong.

“E, kalian mau berangkat sekolah kan? Kok malah introgasi ayah? Udah berangkat sana! Nanti telat.” Perintah ayah mengalihkan pembicaraan.

“Tapi ay…”

“Yaudah Yah, kita berangkat.” Aku meyeret Aira sebelum ia bertanya macam-macam yang malah membebani ayah.


Seperti sore biasanya, kami berkumpul. Ibu senantiasa duduk berdampingan dengan ayah. .Aku dan Aira menanti penjalasan ayah mengenai gerobak tuanya.

“Alhamdulillah semalam dagangan ayah laku terjual. Seperti biasanya ayah sholat tahajud di sebuah masjid. Seusai ayah sholat, ayah kira bisa langsung pulang. Tapi ternyata, gerobak ayah gak ada. Ayah cari kemana-mana, gak ketemu.” Jelas ayah perlahan.

“Ayah pulangnya pagi karena nyariin gerobak?” Aira bertanya dengan cepat.

“Tapi untung uang hasil penjualan sekutengnya ayah simpan dikantong, bukan di kotak gerobak. Jadi ayah pulang masih bawa uang.” Tambah ibu dengan segera.

“Untungnya juga ayah gak kenapa-kenapa. Aku gak tahu giman jadinya kalau ayah yang hilang.” Ungkapku menanggapi.

“Iya, kemarin kita cemas banget nungguin ayah. Takut ayah kenapa-kenapa.” Aira memeluk ayah dengan manja.

“Alhamdulillah. Ayah punya kalian, keluarga pengertian yang selalu nguatin ayah.”

Kami memeluk ayah. Aku tak dapat menyembunyikan kesedihanku, tapi ibu mengelus pipiku sebelum air mata turun. Aku harus menjadi lebih kuat untuk tidak menangis.


“Baru pagi ini ayah gak bersihin gerobak, sampai rasanya gemetarn gini.” Keluh ayah mengungkapkan kerinduannya pada gerobak tua.

Hari ini adalah hari ujian terakhirku, pikiran mulai tidak konsentrsi. Wajah ayah terus saja terbayang. Mungkin karean aku khawatir ayah akan mencari gerobak tuanya.

Walau bagaimanapun ayah sangat sayang dan bangga dengan gerobak yang dibuatnya sendiri sebelum menikah.

Aku jadi teringat ketika dulu aku pernah sempat meminta komputer pada ayah untuk menunjang pelajaranku disekolah.

Ayah hampir saja menjual gerobak tuanya itu demi aku. Beruntung kala itu tidak ada yang bersedia membelinya, jadi gerobak itu masih setia bersama ayah.

Sejak saat itu aku tak berani meminta sesuatu yang memberatkan ayah. Karena aku sadar sebenarnya ayah sangat menyayangi gerobak itu.

Ujianku selasai. Dengan segera kulangkahkan kaki untuk kerumah. Didepan gang aku lihat bendera kuning berkibar.

Kemarin sempat aku dengar bahwa ada tetanggaku yang akan operasi kanker, jangan-jangan – aku percepat langkahku. Banyak orang mengiringi perjalanan ke rumahku. Semua berkumpul di rumahku, mereka menatapku dengan duka. Kenapa?

Dirumahku, bukan keluargaku kan? Semuanya baik-baik saja kan? Tapi kenapa seduka ini? Di ambang pintu ibu langsung memelukku. Tubuhku gemetar memasuki rumah. Dan aku temukan semua jawabannya. Ayah – terbaring kaku. Benarkah itu ayah? Kenapa matanya terpejam? Ayah – kenapa ia bungkam? Kenapa ia diam saja? Ayah, benarkah kau pergi?

Aira, sudah tahukah kau tentang ini? Perlahan aku lepas pelukan ibu, aku bergegas menunggu Aira di depan gang. Wajah ceria itu muncul.

“Kakak nungguin aku?” tanyanya menghampiriku. “Ka. Aku beli tape uli buat ayah, biar ayah gak terlalu sedih karena gerobaknya. Tapi kakak boleh minta kok, kan aku belinya gak sedikit.” Ujar adikku polos sambil melihatkan kantung plastik yang dibawanya.

Aku mendampinginya kerumah. Aira bertanya-tanya heran karena banyak orang, pertanyaannya pun mulai cemas, dan ia berhenti bertanya ketika melihat ayah. Kami menagis perlahan dengan tertahan. Semua kekuatan kami seolah runtuh. Hanya ada jiwa tegar ibu yang menopang kami.

Tanggung jawabya adalah bukti cintanya. Hal yang tidak pernah aku sadari adalah, bahwa ia sangat menyayangiku.

Episode Sebelumnya: Gerobak Tua

Bacaa juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here