Cerpen Gerobak tua sekoteng

Sang mentari telah bertengger, nampak langit biru yang belum berawan begitu cerah menyambutku. Embun-embunpun masih betah merebah pada dedaunan.

Semilir kesejukan menyapaku. Inilah yang selalu aku nikmati ketika sang waktu dengan ceria mengiriku.

Setiap pagi sebelum jam 6, kegiatan rutin di rumah kami adalah aku yang belanja ke pasar, adikku yang menyapu halaman, ibu yang menyiapkan sarapan, dan ayah yang memandikan gerobak tua sekotengnya.

Gerobak yang mungkin lebih tua dariku, gerobak yang masih setia mendampingi ayahku untuk mencari nafkah.
“Kok Ayah masih ngelapin gerobak aja?” tanyaku sepulang dari pasar, bagaimana aku tidak terheran.

Sebelum aku berangkat kepasar Ayah telah melicinkan gerobak itu dengan air sabun, dan kini ia masih bersama gerobak itu. Padahal biasanya semua sudah selesai sebelum aku pulang.

“Iya, tadi gerobaknya kotor banget. Kemarin sore kan hujan jadi jalan yang ayah lewatin becek semua.” Jelas ayah sambil memeras kain lap yang ada ditangannya.

Sebenarnya aku ingin sekali menggantikan tugas ayah sebagai pencari nafkah, tapi kepala rumah tangga itu sangat keras kepala. Meskipun tubuhnya sangat ringkih dan sering dirasuki angin malam, jiwanya sangatlah jantan.

Ia tak pernah melepaskan tanggung jawab dari pundaknya. Seperti itulah Raja di istana kecilku. Ia selalu berjuang untuk kesejahteraan rakyatnya.


Awan gelap menghampar sejauh pandanganku menutupi sebagian langit hingga tiada bintang-bintang dan bulan yang berseri untuk kami.

Kegundahan menyelimuti Qalbu kami. Bukan hanya aku, tapi kita semua tahu bahwa hujan bukanlah teman yang baik untuk mencari nafkah, sekalipun bagi tukang ojek payung. Begitu pun bagi ayahku.

Jika keadaan langit seperti ini, kami selalu meminta ayah agar tidak berangkat. Tapi ayah akan selalu menyambut butir-butir rahmat dari langit dengan penuh penghormatan.

Baginya semua adalah rezeki yang harus disyukuri. Bukankah jika hujan turun dan suhu menjadi lebih dingin orang akan banyak yang menginginkan sekoteng? Tapi bukankah jika hujan turun dan suhu menjadi lebih dingin akan berbahaya untuk kesehatanya? Dia hanya akan menjawab “sudah biasa.”

Dini hari itu ayah pulang dengan murung, aku yang menyambutnya menjadi agak bingung. Ayah memahami pertanyaan qalbuku dari tatapan mata ini, tapi kemudian ia menjawadnya dengan senyuman.

Aku periksa barang dagangannya di gerobak, semuanya bersih tanpa sisa. Bukankah ini artinya daganganya habis terjual? Lalu kenapa ayah semurung itu? Tak seperti biasanya.

Padahal, meski ia pulang dengan dagangannya masih ada, ia akan mendatangiku dengan keceriaannya yang hangat, tapi kenapa hari ini berbeda? Qalbuku tak henti-henti bertanya.


“Ayah, gak pengen cerita sesuatu ke aku?” tanyaku akhirnya pada sore hari saat ayah sedang menyiapkan barang dagangannya.

Ayah menatapku dengan matanya yang sayu. Aku coba jamah batinnya namun sungguh dalam qalbunya hingga ku tak mampu berbuat sesuatu selain menunggu jawaban darinya.

“Ayah pengen banget kamu jadi sarjana nak. Maafin ayah, belum bisa ngasih yang terbaik.” Katanya sambil mengusap-ngusap kepalaku.

Sejenak aku teringat tuntutan ku kala itu pada ayah. “nanti selulus SMA. Tari mau kuliah yah.” Pinta ku manja.

Anggukan ayah seolah menyanggupi. Tapi kala aku melihat gerobak tua itu, aku sadar nampaknya permintaanku agak berlebihan. Bukankah keinginanku meringankan ayah.

Aku raih tangan ayah yang semula di kepalaku. Kucium tangannya dan kutatap wajahnya. “Ayah, ilmu di dapat bukan dari pendidikan formal aja kan? Maafin aku kalau belum jadi anak yang terbaik buat ayah, tapi aku akan selalu berusaha. Aku janji, kalau aku kerja nanti, aku bakal beliiiin apaaa aja buat Ayah. Jadi ayah gak usah begadang lagi, istirahat aja dirumah nemenin ibu.”

“Kalau kamu minta ayah istirahat, buat apa ayah hidup?” jawabnya lepas. “Sekarang kamu belajar, sebentar lagi udah mau ujian kan?”

Bahkan ayah tak memberikanku kesempatan untuk bertanya apa alasan ia bicara seperti itu. Sebesar itukah rasa tanggung jawabnya? Ayah, tahukah kau bahwa aku sangat menyayangimu.

Aku hanya bisa melaksanakan perintah ayah. Belajar dan berlaku jujur bagi ayah itu cukup membanggakannya sebagai ayah, maka tugas utamaku adalah belajar dengan tekun dan tidak berlaku curang.

Maksudku hanya mengambil air minum kedapur, tapi tanpa sengaja aku mendengar ayah berbicara pada ibu dikamar mereka yang tanpa pintu, melainkan hanya selembar kain sebagai penutup.

“Yang ayah sesalkan, kenapa ayah seceroboh itu. Seharusnya ayah uang itu ayah bawa masuk ke masjid, tapi kenapa ayah biarin aja uang itu di kotak gerobak, kenapa juga kotaknya gak ayah kunci.” Ujar ayah penuh sesal.

“Iya ayah, ibu ngerti apa yang ayah rasain, tapi mungkin itu belum rezeki kita. Kalau Allah berkehendak seperti itu, kita bisa apa selain mencoba ikhlas.” Kata ibu dengan bijak.

Inikah sebab ayah berwajah murung kemarin?

Takutkah ia mengganggu pelajaranku hingga ia enggan berbagi dukanya pada putri sulungnya ini?

Ayah, sekuat apakah engkau?

Hingga begitu tekatnya engkau menyembunyikan dukamu dari anak-anakmu. Aku tahu ayah, itu kau lakukan agar kami tak merasa cemas dan tetap konsentrasi belajar. Itu demi kami.


Dalam sebuah keluarga diperlukan waktu kebersamaan, agar terjalin keharmonisan keluarga. Begitupun dengan keluarga kami yang selalu berkumpul sebelum Magrib, sekedar untuk mendengarkan cerita satu dengan yang lainnya, ataupun untuk menonton TV bersama.

“Untung ayah gak jadi pejabat. Jadi gak punya kesempatan untuk korupsi.” Celoteh adikku saat kami tengah menyaksikan berita tentang koruptor yang di sidang.

“Kakak dan kamu pelajar, tapi kita gak pernah nyontek walau pun punya kesempatan kan?” aku menimpali Aira adikku dengan pertanyaan.

“Ya kitakan pelajar, tugas kita belajar, bukan menyontek.”

“lalu apa tugas pejabat itu korupsi?”

“Gak semua pelajar itu mencontek, contohnya kalian. Begitu juga pejabat, gak semuanya korupsi. Semua tergantung pada orangnya masing-masing sayang.” Ibu menengahi pembahasan kami.

“Itu sebabnya ayah selalu minta agar kalian jujur.” Ayah menyambung perkataan ibu. “Kejujuran kita bukan hanya akan menguntungkan kita sendiri. Tapi juga menguntungkan orang lain.”

“O, berati kejujuran itu juga menjaga kita dari keegoisan ya Yah?” tannya gadis usia empat belas tahun itu.

Ayah menganggukkan kepalanya untuk menanggapi pertanyaan putri bungsunya.

“Andai semua orang jujur, mereka gak akan memikirkan dirinya sendiri.” Pahamku.

“Manusia tempatnya salah dan lupa, semoga kita selalu punya kesempatan untuk bertaubat.” Kata ibu sambil mengusap kepalaku. Wanita ini sangatlah bijak, betapa beruntungnya aku dilahirkan olehnya.

Tak lama adzan magrib berkumandang, maka kami bersiap untuk sholat berjamaah. Hal yang tak pernah ayah tinggalkan adalah menjadi imam waktu shalat magrib dan isya untuk anak dan isterinya.

Selepas Isya adalah waktu ayah untuk mendorong gerobak sekotengnya, berjihad demi keluarganya.

 

Bersambung… Gerobak Tua [Tamat]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here