SHARE
Kasus Gugatan Cerai Istri Khulu

Menurut survey, kasus gugatan cerai yang diajukan istri kepada suami (khulu’) lebih banyak daripada kata talak dari suami kepada istrinya. Ada faktor internal yang mendasari terjadinya perceraian. Persentase terbesar adalah perselisihan kemudian disusul dengan masalah tanggung jawab ekonomi. Yang mengejutkan lagi,

Yang mengejutkan lagi, khulu ini tidak hanya terjadi oleh pasangan muda yang baru menikah, pasutri yang usia pernikahannya melebihi 5 tahun pun banyak yang bercerai.

Selain itu ada pula faktor eksternal yang sering terjadi pada zaman sekarang. Disebutkan bahwa tren ini terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir. Wanita saat ini semakin berani protes, semakin suka membantah, dan semakin melawan kepada suaminya, di antara faktor penyebab hal ini adalah:

1. Keinginan

Dunia sekarang telah sampai kepada zaman dimana hiburan, bermalas-malasan, dan teknologi yang membuat dunia semakin instan telah menjadi tren utama yang terus diperjuangkan. Faktor-faktor tersebut telah menggerogoti wibawa laki-laki dan menjadikan wanita semakin dikedepankan.

2. Kepentingan

Banyak prestasi yang diraih oleh kaum perempuan dan mengungguli kaum lelaki. Juara kelas, mahasiswa teladan, dan bidang lain yang mengedepankan kemampuan verbal telah didominasi kaum hawa.

Ini yang menjadikan perempuan semakin merasa di atas angin dan semakin meremehkan lelaki. Kemampuan verbal memang secara kuantitatif cukup dibutuhkan di zaman serba instan ini. Sedangkan kepemimpinan dan kemampuan non-verbal hanya sedikit dibutuhkan (secara kuantitatif).

Persaingan bisnis semakin ketat membuat para pengusaha cenderung memanfaatkan tenaga kerja dari kaum hawa, karena mereka cenderung lebih menarik. Akhirnya suami yang tidak laku-laku di dunia kerja harus menjadi tukang ojek bagi istrinya. Sehingga, istri merasa lebih berjasa, terlebih ia memiliki pangkat di kantornya.

3. Kebodohan

Dunia yang semakin liberal menjadikan para pemuja dunia semakin getol menggoreng propaganda keadilan gender. Salah satunya dengan memperjuangkan feminisme. Seolah-olah wanita memiliki hak yang dahulu telah diambil paksa oleh pria.

Faktor-faktor di atas merupakan fitnah hebat yang melanda buat laki-laki maupun wanita. Laki-laki semakin berkurang wibawanya, semakin tidak terpakai kemampuannya, dan semakin tertekan.

Wanita semakin merasa berkuasa, semakin bebas, semakin menentang nilai dan ajaran agama, sehingga pada akhirnya wanita semakin mudah untuk dieksploitasi. Secara tidak sadar istri semakin merasa tertekan dan merasa tidak bahagia, justru ketika merasa punya kuasa terhadap suami.

Cukuplah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bukti pendukung akan hal ini:

“Aku melihat neraka, belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Mengapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rosululloh?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikannya. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (al-Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Sumber:

  • pengusahamuslim.com/ketika-wanita-berkuasa-atas-laki-laki-dan-melawan-kodrat, Diakses 9 oktober 2014
  • fajrifm.com/angka-perceraian-meningkat-menteri-agama-sarankan-ikuti-seminar-pra-nikah/, Diakses 9 oktober 2014
  • memokediri.com/angka-perceraian-tinggi/, Diakses 9 oktober 2014
  • suara.com/news/2014/08/14/171415/wamenag-angka-perceraian-capai-354-ribu-per-tahun/, Diakses 9 oktober 2014
  • health.liputan6.com/read/2028251/jumlah-perceraian-pasutri-di-indonesia-333-ribu-per-tahun/, Diakses 9 oktober 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here