Proklamasi Ke-Islaman, Iman itu Amal bukan Diam Jangan Minder

Setidaknya ada 2 model orang saat memulai shalat; pertama baca niat shalat di dalam hati, kedua melafalkan di lisan. Kalau yang dalam hati ditanya “mengapa…?”, Jawabnya “saya sudah yakin”. Kalau yang di lisan ditanya, jawabnya “untuk menguatkan niat”.

Shalat keduanya sah menurut para ulama, yang salah adalah yang menyalahkan yang lainnya, dan yang jelas salah adalah yang tidak shalat.

Karenanya para ulama menyatakan, iman itu perkara hati yang ghaib, tapi ditegaskan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan yang nyata dan terlihat.

Artinya, orang beriman itu tak mungkin diam dengan alasan “iman itu dalam hati”, tapi imannya itu akan terlihat lewat lisannya, juga di perbuatannya.

Ada dzikrullah, dzikir mengingat Allah, itu amalan di hati. Tapi ada juga mengingat Allah yang harus dibuktikan secara konkret, contohnya shalat. Allah berfirman:

إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

Akulah Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, maka dirikanlah shalat untuk mengingatku. (Taha: 14)

Shalat itu harus didirikan, dikerjakan, gak bisa “cukup di hati”. Bahkan shalat wajib laki-laki itu perlu di masjid agar kelihatan orang dan jadi dakwah.

Soal ikhlas itu urusan Allah yang tahu isi hati, tapi amal harus jalan terus.

Kita ambil contoh kasus pembakaran bendera tauhid.

Para tokoh liberal berkata, “tauhid itu hanya di hati, tak perlu diangkat-angkat pake bendera”, adalah propaganda sesat dan menyesatkan.

Baca sejarah, bendera dan panji Rasulullah Muhammad itu berlafadz tauhid, para sahabat mengangkatnya tinggi-tinggi, susah payah diperjuangkan jangan sampai jatuh.

Menjadi pembawa bendera saat perang adalah resiko jadi target utama panah & tombak. Bahkan di perang Mu’tah, Ja’far bin Abi Thalib harus kehilangan dua tangannya karena bergantian memegang bendera tauhid, sebelum akhirnya beliau wafat.

Lalu siapa kita yang merasa cukup di hati?

Orang-orang ini gagal paham, bahwa yang namanya syiar itu ya harus menyebar luas, diangkat tinggi-tinggi. Adzan misalnya, itu syiar, maka harus diumumkan, bukan di japri.

Sejarah Isi Pancasila Arti Piagam Jakarta dan Islam

Mereka bilang, “iman harus dalam hati saja, gak usah koar-koar.”

Tapi, mereka sendiri sesumbar di media mainstream paling nasionalis, NKRI harga mati, “saya Pancasila“.

Waktu bendera partai, bendera LBGT berkibar, mereka bangga. Giliran bendera agama, mereka cemooh.

Kalau kalian bertemu orang yang mengatakan, “merdeka cukup dalam hati” ketahuilah mereka antek penjajah. Paling tidak, mereka orang favorit kolonialisme.

Kata penjajah, “slow aja, pribumi sudah merasa cukup merdeka dalam hati, hihihi”. 😈

Baca juga artikel: Menguji Kedalaman Iman orang Islam

Untugnya dulu gak ada orang dungu seperti di atas. Hari Jumat 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno dan Bung Hatta bersama para ulama tegas mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Dengan itu negara ini mendapat pengakuan dari Palestina dan Mesir disusul negara lain.

Coba diem-diem aja, siapa yang tahu kalau ada negara Indonesia. Wong dulu aja dikenalnya Hindia Belanda, alias Indianya Belanda.

Begitu juga Islam dan Iman seseorang harus diumumkan. Orang lain harus tahu.

Ungkapan, “iman cukup dalam hati” adalah menyesatkan.

Tujuannya agar umat Islam tak lagi mau mengangkat bendera tauhid, kehilangan kalimat pemersatu yang dulu pernah digunakan Rasulullah, minder peradaban dan identitas.

Toh, mereka yang membakar bendera tauhid itu juga sama-sama syiar, bukan membakar dalam hati kan? Sekarang kita paham, mereka standar ganda.

Tentu yang dihatinya ada tauhid, pasti terganggu saat kalimat tauhid itu dibakar, dan takkan berkomentar miring saat ada yang ingin mensyiarkan bendera tauhid.

Allah  berfirman.

فقولوا اشهدوا بأنا مسلمون

Katakan, “saksikanlah oleh kalian, kami orang Islam.” (Ali Imran: 64)

Setidaknya ada lebih dari 70 ayat al-Quran yang mengaitkan iman dengan amal shaleh. Ini cukup membuktikan bahwa iman itu tidak cukup di hati tapi perlu bukti.

Cinta itu harus ditunjukan mas bro! Kalau dalam hati aja, dari mana doi tahu.

Leave a Reply