13 Keutamaan Menikah Muda, Lengkap Dengan Manfaatnya

156
SHARES
17.9k
VIEWS

Menikah adalah proses kompleks yang sangat melibatkan fisik, pikiran, mental, perasaan dan keberanian dalam menempuh kehidupan yang berbeda.

Saat itu seseorang mulai memvariasikan hidupnya dengan mencoba menjadi bagian dari hidup orang lain, dan menjalin hubungan yang berasaskan saling melengkapi untuk mencapai satu kebahagiaan yang ditempuh bersama-sama.

Di sebagian kebudayaan, menikah dan kawin di usia muda adalah hal yang tabu dan asing, apalagi di zaman modern ini. Di negara lain, justru sebaliknya. Remaja zaman now kalau belum punya pacar dan belum pernah berhubungan intim, GAK KEREN namanya.

Golongan pertama, lebih mementingkan karir yang belum tentu membahagiakannya dan membuat hidupnya lebih tenang. Kelompok kedua, terlalu bodoh melihat hubungan seksual sebatas bukti cinta dan kekinian.

Mereka berusaha mencari sebanyak-banyaknya kenikmatan dunia namun tanpa seseorang yang bisa diajak berbagi suka dan duka di sisinya.

Sebagian yang lain, mencoba untuk menyempurnakan kekayaannya dan berharap dengan banyaknya kekayaan ia akan lebih mudah menjalani rumah tangga.

Tentu, tidak ada salahnya menjalani karir, bekerja dan berusaha mendapatkan harta, namun mau sekaya apakah kita baru akan merasa siap untuk menikah?

Di sisi lain ada golongan masyarakat yang menunda pernikahan dengan alasan untuk mendewasakan diri terlebih dahulu.

Dengan alasan, ingin mendalami sifat dan karakter lawan jenis, agar lebih yakin dan mantab dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Untuk mereka, kembali kita ajukan pertanyaan di atas, mau sedewasa apakah dirimu, baru kau berani untuk menikah?

Padahal, survey membuktikan mayoritas orang pacaran itu menipu. Artinya, setelah menikah tidak sebaik dan sebagus waktu pacaran.

Ada lagi kenyataan bahwa sebagian paramedis berpendapat bahwa menikah di usia muda itu akan membahayakan sistem reproduksi wanita, dikarenakan sistem reproduksinya belum matang.

Kami katakan, “Pernyataan mereka itu hanya mengada-ngada!”1 Menstruasinya seorang gadis merupakan pertanda bahwa rahimnya telah siap menerima benih.

Mereka berkata bahwa usia ideal menikah adalah 25, 26, atau 27, dengan alasan, rahimnya telah lebih siap menerima janin, dan ia juga akan terhindar dari kanker rahim atau kanker serviks.

Sunggu merupakan alasan yang dibuat-buat.

Kami takut bahwa pernyataan yang mereka (ilmuan barat) keluarkan itu, hanya karena benci dengan banyaknya jumlah kaum muslimin seandainya umat Islam menikah di usia muda.

Maka, ketika Anda bertemu dengan seorang dokter yang pernyataannya sama dengan ilmuan-ilmuan barat tersebut, abaikan saja ucapannya.

Baiklah, sekarang kita akan membahas beberapa manfaat sosial dan medis yang akan didapat oleh seseorang jika ia memilih untuk menikah di usia muda, berikut ulasannya:

1. Romantis

Menikah adalah bukti cinta sejati. Ia adalah lambang dari romantisme yang hakiki.

Perlu diketahui muda-mudi yang suka tebar pesona sok romantis, supaya tidak ada lagi yang tertipu sama gombalan dan modus.

Jangan percaya kalau ada orang yang bilang cinta, kalau gak ada progres dari ucapannya. Buktikan, setidaknya dengan melamar.

Jangan tergoda hanya dengan puisi dan bunga, sebenarnya dia gak benar-benar punya rasa. Buktinya, dia gak pernah berikrar dan membawa mahar.

Tepat sekali jika Rasulullah -alaihis shalatu was salam- berkata, mengenai romantisme pernikahan ini:

لَمْ نَرَ – يُرَ- لِلْمُتَحَابِّينَ مِثْلُ النِّكَاحِ

“Tidak ada romantisme yang lebih indah bagi dua orang yang saling mencintai selian menikah.” (Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan dishahihkah oleh Albani)

2. Membangun Keseimbangan Awal

Usia muda adalah masa ketika gejolak jiwa mulai bertumbuh, dan merupakan masa dimana Anda butuh seseorang untuk menopang diri dan hidup agar masa depan kita lebih teratur, terarah, dan seimbang.

Adalah sangat bermanfaat ketika masa muda disibukkan dalam karir, meskipun lelah menghadapi kesulitan dan tantangan, namun selalu ada seseorang yang mendampingi Anda menghadapi itu semua.

Ia akan menjadi tempat mengungkapkan setiap keluh kesah yang Anda alami dalam hidup. Ia juga merupakan penerang ketika Anda mendapati jalan yang gelap lagi buntu.

3. Saat Terbaik Untuk Saling Menyesuaikan

Jika kita perhatikan, akhir-akhir ini di daerah perkotaan sangat marak perceraian, belum lagi perceraian ini dialami para selebritis kemudian disiarkan media.

Sebenarnya apakah yang menyebabkan hal ini bisa terjadi?

Pasalnya, banyak pemuda-pemudi yang ikutan alergi terhadap pernikahan sweet seventeen. Tentu saja berimbas pada jumlah remaja pacaran, segan menikah, takut sama orang tua, akibat minim kedewasaan, dengan alasan ingin mengenal calon pasangan terlebih dahulu.

Padahal, paling asyik mengenal pasangan itu setelah akad nikah. Toh pacaran diluar nikah tidak menjamin kita mengenal pasangan. Buktinya, banyak orang dewasa yang bercerai meskipun sudah pacaran 5-10 tahun. Toh pacaran bisa berkedok, sok baik, sok rajin, pakai makeup.

Bayangkan sebaliknya, jika dua individu yang telah kuat dalam suatu prinsip, kemudian disatukan dalam rumah tangga. Lantas ternyata setelah menikah ditemukan ketidak cocokan pada prinsip masing-masing, bukankah hal ini akan lebih mudah menghancurkan sebuah pernikahan?

Menikah di usia muda itu bagai membentuk sebuah adonan kue, Anda akan belajar bagaimana caranya untuk lebih saling mengerti dan memahami. Witing tresno jalaran soko kulino.

Menyesuaikan karakter akan lebih mudah dilakukan saat usia masih muda, karena suami-istri masih lebih terbuka untuk belajar. Shaleh Abdul Qudus berkata,

إن الغُصُونَ إِذا قَوَّمْتَها اعتدلْت # ولا يلينُ إِذا قَوَّمْتَهُ الخَشَبُ

Ranting muda itu mudah sekali diluruskan, jika kau mau. tidak sesulit dahan pohon tua yang kaku.

Pasangan Suami Istri4. Mencari Pasangan Sempurna

Tidak sulit mencari pasangan yang sempurna. Selama kita tidak memperumit diri kita dengan bejibun kriteria.

Ketahuilah, ketika kesempurnaan adalah syarat sesorang boleh menikah dengan kita, maka kita telah menjadi orang yang egois. Karena kita hanya menuntut orang lain, sedangkan diri sendiri tidak sempurna.

Dalam perjalanannya, rumah tangga tidak akan selalu indah seperti pengantin baru. Seiring dengan waktu, sifat asli pasangan pun akan kelihatan.

Yang awalnya sempurna bagi kita, sangat mungkin berubah menjadi sosok yang paling menjengkelkan di dunia.

Yang awalnya biasa-biasa saja, tidak menutup kemungkinan akan jadi lebih baik, bahkan membangun chemistry (baca: kemistri) terpendam hingga kita merasa “dialah jawaban atas doaku”.

Selama mengarungi bahtera rumah tangga, setiap pihak akan belajar bagaimana karakter yang disukai dan dibenci oleh pasangannya.

Hakikatnya, kesempurnaan hanyalah milik Allah ﷻ. Karenanya, kalau mau pasangan sempurna harus dibangun di atas standar Rabbul Alamin yakni aqidah dan agama.

Perlu ditekankan, jangan karena kita berbicara tentang kesempurnaan, lantas kita berperinsip “gak sempurna gak apa” termasuk dalam hal agama.

5. Berjuang Menjaga Kesucian

Tak dapat dipungkiri, kebutuhan seksual adalah fitrah manusia yang harus terpenuhi. Siapa saja, pria atau wanita boleh mendapatkannya. Tentu saja melalui prosedur KUA, yakni penikahan yang sah menurut agama.

Makanya, Islam tidak pernah melarang siapapun untuk menikah. Mau itu ustadz, profesor, ulama, guru, pengurus masjid, semuanya boleh nikah tanpa terkecuali.

Dengan pernikahan, hasrat seksual akan lebih mudah diatasi. Tentu saja lebih melindungi diri dari maksiat kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallalahu `alahi wassalam:

يا معشر الشباب ، من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر ، وأحصن للفرج ، ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء

Wahai para pemuda! Siapa saja di antara kalian berkemampuan untuk nikah, maka menikahlah, karena pernikahan itu dapat menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu perisai bagi dirinya. (al-Bukhari)

ٍSecara otomatis, melalui pernikahan, potensi untuk melakukan maksiat akan berkurang. Jangankan zina, melamun saja sudah menjauhkan kita dari mengingat Allah, terlebih ngelamunin lawan jenis. Kalau sudah punya pasangan kan bisa ngelamunin suami/istri.

Dengan menikah, nilai ketakwaan kita di hadapan Allah juga bertambah. Secara tidak langsung, pernikahan menjaga diri kita sekaligus agama Islam.

Sebagaimana sabda Rasulullah :

من تزوج فقد أحرز شطر دينه فليتق الله في الشطر الثاني

Siapa saja menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (Thabarani dan Hakim)

Meskipun hadits di atas dianggap dhaif atau hasan li ghairihi, tapi kandungan maknanya benar. Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumiddin berkomentar:

“Ini adalah isyarat tentang keutamaan menikah, dalam rangka melindungi diri dari penyimpangan, agar terhindar dari kerusakan. Karena pada umumnya yang sering merusak agama manusia adalah kemaluan dan perutnya. Dengan menikah, maka salah satunya telah terpenuhi.”

Al-Qurthubi menlanjutkan:

“Makna hadits ini bahwa nikah akan melindungi orang dari zina.”

6. Kesiapan

Demi Allah! Orang yang menunggu untuk menjadi seseorang yang benar-benar sempurna baik di bidang agama, sosial, atau materi sama saja tidak mau menikah. Karena kesempurnaan adalah milik Allah.

Merupakan hal yang sangat terpuji jika seseorang berusaha semaksimal mungkin memantaskan dirinya agar kelak dapat menjadi orang yang ideal bagi pasangan hidupnya.

Sangatlah mulia seorang hamba yang belajar al-Quran, memahami Hadist, menguasai bahasa arab, mencari kekayaan, dan memupuk kedewasaan sebagai persiapan menikah.

Namun sangat disayangkan, jika kemapanan harta dan jenjang pendidikan dijadikan alasan untuk menunda pernikahan. Apalagi dianggap sebagai satu-satunya kunci sukses berumahtangga.

Sahabatku yang dicintai Allah, hidup itu seluruhnya adalah proses, proses mendewasakan dan proses yang menjadikan seseorang lebih pantas.

Keputusan yang tepat adalah menikah meskipun masih miskin harta dan ilmu. Pernikahan itu pun akan membuat amal dan ilmu lebih sempurna, selama pernikahan itu dipenuhi semangat menuntut ilmu.

Janji suci itu pun juga akan membuatmu lebih kaya dan berkecukupan, sebagaimana firman Allah azza wa jalla:

وأنكحوا الأيامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله والله واسع عليم

Nikahkanlah orang-orang yang sendirian (jomblo) di antara kamu, dan orang-orang yang patut (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan erempuan. Jika mereka miskin,  Allah akan cukupkan mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (an-Nur : 32)

7. Puncak Kebahagiaan

Pastinya semua manusia ingin bahagia. Walaupun bahagia itu sendiri berbeda-beda menurut persepsi orang.

Bagi sebagian, bahagia itu sederhana, asal bisa beribadah walaupun miskin. Menurut yang lain, bahagia adalah kepuasan meraih sukses (pendidikan tinggi, karir menanjak, nama baik, penghargaan dll).

Terserah yang mana, apapun itu. Kalau Anda kelompok pertama, menikahlah. Karena pernikahan adalah ibadah dan menyejukkan.

Jika Anda golongan kedua, menikahlah. Karena dengan menikah, Anda akan merasakan kesuksesan meskipun belum meraih cita-cita yang Anda targetkan. Menikah juga dapat membimbing agar lebih cepat sampai tujuan. Karena pernikahan itu membuat kita jadi fokus.

Allah –subhanahu wa ta’ala– berfirman:

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri,2 supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Ia menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (ar-Rum : 21)

Menikah itu menenteramkan. Mau Ibadah, enak dan nyaman. Yang tadinya tidak berpahala bahkan mengundang dosa, jadi membuahkan rahmat dari Allah.

Menikah itu pintu gerbang kesuksesan. Berangkat kerja, ada yang dituju, untuk orang tercinta. Pulang kerja, ada yang menunggu, anak dan istri. Kerja lebih fokus dan bersemangat.

Gak fokus itu bukan karena kurang minum, tapi karena butuh pendamping.

wanita nembak duluan (melamar minta dinikahi)
Wanita melamar pria

8. Gerbang Memiliki Keturunan

Jujur saja, sering kali kita dibuat tertawa lucu dan gemas saat melihat anak-anak dan balita. Kita juga merasa bangga ketika menonton acara anak-anak berprestasi di TV dan lomba.

Tidak jarang kita membayangkan betapa bahagianya kita jika anak-anak itu adalah anak kandung kita sendiri.

Semua orang baik, pasti ingin punya momongan. Dalam surat Ali Imran: 4, Allah menyatakan bahwa anak-anak adalah penghias hidup manusia. Mereka mewarnai dengan keindahan.

Mengenai anak ini Allah  mengajarkan pada kita sebuah doa dalam al-Quran, agar diberikan istri dan keturunan shalih yang menyejukkan hati:

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan (anak-cucu) yang  dapat menyenangkan hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (al-Furqan: 74)

Secara tidak langsung, ada 2 makna pada aya di atas:

Pertama, “kalau mau mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, carilah dari anak-anak kalian, mereka adalah tempat yang tepat”.

Kedua, “kalau mau punya anak, nikah dulu, punya pasangan dulu.”

Dalam tafsir as-Sam’ani, al-Qurazi berkata:

“Bagi seorang mukmin melihat istri dan keturunan yang bertakwa adalah hal yang paling membahagiakan.”

Kali ini, kita tidak akan membahas bagaimana cara membentuk anak yang dapat membuat kita menangis karena bahagia. Tapi, saya hanya ingin mengajak bepikir, “bagaimana mungkin punya anak, nikah saja belum!”3

9. Ibadah Yang Menyenangkan

Ceritanya ada 3 pemuda yang bertanya pada istri Nabi, bagaimana ibadah Rasul. Setelah diberitahu, mereka merasa bahwa ibadah mereka masih sangat kurang jika dibandingkan Rasul. Mereka termotivasi ingin beribadah semaksimal mungkin.

“Salah satu diantara mereka akhirnya memutuskan untuk tekun ibadah dan menjauhi pernikahan. Menurutnya, menikah dan memiliki pasangan hanya akan menambah beban kehidupan. Setelah mengetahui kabar tiga sahabatnya ini, bukannya memberikan dorongan dan semangat, justru Nabi Muhammad melarangnya dan mengatakan bahwa beliau beribadah, juga menikah.” (al-Bukhari: 5063, Muslim: 1401)

Hadits ini menunjukkan bahwa, lebih baik kurang ibadah tapi menikah, daripada bertahan membujang meskipun tekun ibadah.

Lagi pula, siapa kita? Apa bisa ibadah 24 jam penuh tanpa tidur dan makan karena puasa dan tahajjud?

Makanya, kalau gak bisa ibadah 7X24 jam, lebih baik menikah aja. Tidak mengekang diri, ibadah lebih longgar karena nilainya lebih baik dari ibadah seharian penuh.

Bagaimana tidak asyik dan menyenangkan; menatap pasangan dapat rahmat Allah berpegangan tangan menghapus dosa, suap-suapan dapat pahala.

Menikah adalah ibadah paling lama, tapi menyenangkan.

10. Stamina dan Vitalitas yang Prima

Ketika Anda menikah di usia muda, maka kebugaran tubuh Anda sedang mencapai puncaknya.

Bagi seorang wanita telah diketahui bawa menikah di atas usia 30 tahun akan menyebabkan kurangnya kesempatan bagi mereka untuk dapat hamil dan memperoleh keturunan.

Selain itu, tubuh masih bisa diajak kompromi untuk bekerja keras dalam mencari nafkah dan mendidik anak.

Bayangkan, seorang lelaki menikah di berusia 35 tahun. Saat anaknya baru masuk SMP, umur sang bapak sudah hampir setengah abad, akan sangat sulit baginya dapat bekerja keras lagi demi memenuhi kebutuhan anak dan rumah tangganya.

Kebalikannya, seseorang menikah di usia muda, misalkan 20 tahun. Esimasinya, ketika berumur 21 atau 22 tahun, ia sudah memiliki keturunan. Ketika anaknya memasuki jenjang kuliah dan hampir tamat, ia baru berusia 40 tahun.

Di usia 50 tahun, sudah bisa menimang cucu dan tidak perlu memeras otak terlalu keras hanya untuk membiayai sekolah anak. Menikah muda, merasakan masa muda dan tua bersama. Menikah tua, tidak akan merasakan masa muda bersama.

11. Indahnya Masa Muda Akan Hilang Karena Mengasuh Anak?

Banyak yang menyangka bahwa memiliki anak di usia muda, hanya akan melenyapkan indahnya masa muda, karena direpotkan dalam mengasuh bayi.

Ini adalah pola pikir pengecut dan pemalas, karena menyerah sebelum mencoba.

Jika logika kita dipenuhi oleh hegemoni hura-hura, keluyuran, dan buang waktu. Tentu, masa muda yang berisi kesenangan sesaat akan pudar. Tapi kalau pikiran kita berisi visi dan misi ke depan, mengasuh anak tidak akan menghilangkan masa muda. Sebagai mana dijelaskan dalam poin-poin di atas.

Mengasuh, membesarkan dan mendidik anak tidak boleh dijadikan beban. Bahkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menganjurkan kita untuk memperbanyak anak.

Nikahilah perempuan yang penyayang lagi subur. Sungguh aku akan berbangga dengan sebab banyaknya jumlah kalian (Ummat Nabi Muhammad) dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat. (Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik)

Banyak anak, adalah sunnah Nabi. Kalau mau banyak anak, menikahlah selagi muda.

Juga, Rasulullah  menerangkan akan keutamaan yang paling agung dari mempunyai anak, yakni:

“Ketika manusia mati maka terputuslah dari semua amal kebaikannya kecuali tiga:

  • Shadaqah jariyah [sedekah jangka panjang]
  • ilmu yang bermanfaat [diamalkan], dan
  • Anak shalih yang mendo’akannya” (Imam Muslim)

Sekali lagi tentang anak, bagaimana mungkin meraih doa anak shaleh, anak saja tidak punya. Nikah saja ngak, gimana mau punya anak.3

Jangan pernah terbesit di pikiran kita bahwa banyaknya anak akan membuat sempit kehidupan ekonomi, karena tidaklah Allah menciptakan seorang manusia ke permukaan bumi melainkan telah Allah jamin rezekinya, Allah ta`ala berfirman:

Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar. (al-Isra : 31)

Banyak anak, banyak rezeki adalah fakta. Karena setiap anak dilahirkan bersama rizkinya masing-masing. So, jangan takut punya banyak anak.4

Mencari Jodoh yang baik shaleh-salehah dalam Islam
Menikah sakinah, mawaddah, wa rahmah

12. Menjauh Dari Zina

Telah diketahui bersama, dorongan seksual adalah fitrah manusia yang juga dimengeri dalam ilmu biologi. Islam tidak memerintahkan untuk membuhuh nafsu, melainkan mengendalikannya.

Sedangkan mengendalikan itu semua sangatlah sulit. 16, 17, 18, 19 tahun usia kita, makin bertambah, makin bergejolak. Tentunya sangat berbahaya.

Dorongan tersebut lama-kelamaan tidak akan dapat ditahan, terlebih di zaman teknologi ini. Di mana-mana banyak wanita berpakaian minim, ketat, bahkan telanjang. Akhirnya, seorang dapat terjerumus dalam perzinaan. Inilah yang ingin dijaga oleh Agama Islam.

Sungguh, pernikahan akan semakin menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, serta menjauhkan dari perbuatan zina yang sangat dimurkai oleh Allah.

Jika hasrat muncul, orang yang sudah menikah dapat kembali pada pasangannya. Kalau jomblo, bisa berbuat apa?

Rabb ta’ala berfirman:

Janganlah kamu mendekati zina; sungguh zina itu adalah perbuatan yang keji lagi jalan yang buruk. (al-Isra: 32)

13. Keutamaan Dari Allah

Dalam surat al-Isra, Allah menjelaskan bebagai perintah dan larangannya. Termasuk pernikahan dan kehidupan berumahtangga, yang kemudian ditutup dengan sebuah ayat yang berbunyi:

Itulah (nikah) hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di selain Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka secara hina lagi dijauhkan dari rahmat Allah. (al-Isra: 39)

Semoga dengan adanya tulisan ini keyakinan kita pada Allah akan bertambah dan kita akan terhindar dari ketakutan untuk memulai membina rumah tangga di usia muda.

Bagi yang belum menikah, semoga Allah mudahkan ia menemukan pasangan hidupnya dan bagi yang telah menikah, maka jagalah pernikahanmu karena ia merupakan sebuah amanah dari Allah kepadamu.

Jangan jadikan usia muda sebagai alasan bercerai. Tulisan di atas tidak hanya ditujukan untuk pria saja, perempuan juga boleh dan dianjurkan. Agar tidak malu, lamarlah pria idaman saudari ikutilah cara ta’aruf ibunda Khadijah.

Kesimpulan: Menikah Muda

Nikah muda, bukanlah hal yang buruk. Bahkan banyak tokoh masa lalu yang menikah di usia muda. Justru, nikah muda di umur 17-25 tahun akan menyelamatkan masa depan anak karena terhindar dari zina dan pacaran. Khususnya, wanita.

Orang tua dituntut untuk berpikir terbuka. Pacaran adalah gerbang menuju perbuatan amoral seperti zina. Tentu saja itu perbuatan hina dan haram. Menutup pintu haram hanya bisa dengan membuka pintu halal.

Menjauhi zina, cukup dengan melarang pacaran. Memotivasi anak agar menghindari pacaran sangat mudah, dengan mengizinkan para remaja untuk nikah muda.

_______

1 Kenyataannya banyak perempuan melahirkan di usia belasan tahun, ternyata aman dan selamat.

2 Dari “jenismu sendiri” maksudnya adalah jenis manusia dengan manusia, dan jin kawinnya sesama jin. Tidak seperti yang katakan oleh jaringan Islam liberal di Indonesia, yang menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah lesbian dan gay.

3 Bisa punya anak angkat, tapi anak angkat tidak sama dengan anak kandung. Wanita tidak bisa mendapat pahala jihad dari mengandung dan melahirkan. Setelah dewasa, Anak angkat dapat membatalkan wudhu orang tua.

4 Membatasi kehamilan haram, tapi mengatur jarak kehamilan diperbolehkan.

Next Post

Comments 286

  1. Benny cahyadi says:

    Assalamualaikum wr.wb ustadz saya seorang santri maaf iyah…saya mau menyusun prinsip saya sendiri buat kedepan target saya umur 25 tahun sudah beres pasantren dan saya umur 25 tahun sudah mapan untuk nikah tpi saya pasti kan belum punya kerjaan dan belum punya penghasilan sendiri tpi saya udah ada calon buat nanti kedepan.apakah bisa untuk menikah tpi belum mempunyai penghasilan sendiri tpi saya mulai sekarang mau pokus belajar agama dulu apakah bisa buat nanti….

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah

      Bisa saja menikah tanpa memiliki penghasilan, dengan syarat ada yang menanggung nafkah istri.

  2. Siti Munawaroh says:

    Assalamu’alaikum wr. Wb….
    Sya wanita berumur 17th, insya Allah thun dpn mau d. Khitbah dg seorang lelaki yg baru mau menginjak 27th..
    Pertanyaanya, apakah saya harus menerima lamaran tersebut dan segera menikah sedangkan sya blum tau tentang ilmu menikah sama dg lelaki tersebut?? Afwan tolong penjelasannya🙏

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

      Semua terserah saudari Munawaroh. Kalau ada ketertarikan fisik dan agama, silakan diterima. Kalau tidak, boleh ditolak. Nikah Muda sangat baik, tapi tidak perlu tergesar-gesa. Khitbah masih ada waktu, saudari bisa beli buku tentang pernikahan, ikut pengajian. Insya Allah dibukakan jalan.

  3. Restu Prana Ilahi says:

    Bismillah. Assalamualaikum Ustadz. Saya Restu, seorang pria berumur 23 tahun. Saya mempunyai target tahun 2019 menikah. Alhamdulillah saya sudah bekerja sebagai seorang guru di SD Islam, ada beberapa guru juga di sana yang menarik perhatian saya untuk menikahinya, namun saya terkadang ada keraguan dalam diri apakah dia orang yang cocok atau tidak bagi saya. Kemudian saya juga ragu untuk mengungkapkan ketertarikan saya padanya, saya ingin melamar salah satu dari guru disana. Shalat Istikharah dan hajat juga sering saya lakukan. Menurut Ustadz, saya harus bagaimana?

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Mas Restu, lanjutkan saja tekadnya. Pilih yang menurut saudara yang paling baik, tentu setelah memohon kepada Allah semoga pilihan tersebut adalah yang terbaik. Nanti kalau bukan Jodoh, sebelum akad/lamaran ada saja peristiwa yang membatalkan langkah suci saudara. Yang penting coba dulu.

      Bicara soal keraguan, itu sudah barang tentu dialami banyak orang yang akan menikah. Sangat mungkin itu godaan setan agar kita tidak kunjung menikah. Demi Allah, mencari yang sempurna tidak akan ada ujungnya.

  4. Masyhurah Syafiqah says:

    Assalamualaikum ustadz, ana masyhurah dari makassar.
    Ana akhwat 17 tahun,ana boleh minta penjelasan ustadz,orang tua ana terutama ayah ana ngomong “nak,teman nusroh ayah ada yang mau datang ngelamar?” itu tertuju ke kkak ana tapi kkak ana menolak dan ana yg ditunjuk untuk nerima lamar itu? gimana mohon penjelasannya☺

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Semua tergantung saudari, kalau suka dan tertarik, silakan diterima. Kalau masih ragu, bisa selidiki.

  5. Hanifa says:

    Assalamualaikum ustad, perkenalkan saya hanifah umur 20 thn, saya mahasiswa keperawatan semester 3 , saya kenal dengan seorang laki2 umur 29 thn dia sudah bekerja sebagai guru meskipun masih blm pns, dia juga sudah mempunyai bisnis sampingan , dari awal saya sebelum masuk kuliah sudah memiliki perjanjian dgn orang tua untuk tidak menikah dulu sebelum lulus kuliah , tapi saat masih semester 2 saya sudah dekat dengan laki2 tersebut dan laki2 trsebut mengutarakan keseriusannya untuk menikahi saya , saya kenalkan kepada orang tua saya, orang tua pun sebenarnya welcome dgnnya, begitupun dengan orang tua laki2 , tp setelah saya mengutarakan keinginan untuk menikah saat semester 5 awal orang tua tidak menyutujui dgn alasan lulus kuliah dulu, dan belum mendapat pekerjaan dan pasangan saya disuruh untuk menunggu saya 2 thn lagi. Tpi pasangan saya maunya menunggu 1 tahun lagi dengan alasan umur pasangan saya yg sudah kepala 3 . Saya tertarik dgn sifat pasangan saya yang bertanggung jawab, sopan, beragama . Bagaimana menurut pandangan ustad apakah saya harus melepaskan pasangan saya atau menikah saat blm selesai kuliah? Dan bgaimana cara memberikan penjelasan kpd orang tua tentang masalah ini? Terimakasih

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah

      Saudari sudah punya perjanjian, saran saya dipenuhi. Katakan itu pada sang pria. Minta dia langsung meminta pada orang tua saudari. Suruh dia bilang pada ortu saudari bahwa dia sudah tidak bisa menunggu lagi.

  6. Nauf says:

    Assalamualaikum ustads.. Saya Pria 20 thn.. Saya sedang kuliah semester 2 dan calon saya juga sama 20 thn sedang berkuliah.. Saya ingin menikah ustads.. Tapi saya belum yakin tentang bisakah saya untuk membayar kuliah saya dan calon saya.. Belum lagi tentang keperluan tiap bulannya.. Bagaimana solusinya ustads? Terimakasih sebelumnya🙏

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah.

      Solusi pertama, serahkan semua pada Allah, mohon petunjuk. Kemudian, curhat pada orang tua bahwa saudara memang butuh menikah. Terus, jangan sering bertemu dengan calonnya.

  7. Rumkel Rusmini says:

    Assalamualaikum. Ustadz, prkenalkan nma sya nina sya berumur 23 Tahun, sya ingin menikah di umur 23 Tahun, saya suka sama seorang akhi yang umurnya sama dengan saya, tapi saya tidak berani untuk mengungkapkan rsa suka sya kpada akhi trsebut ustadz, n sya juga tdk tau apkah dia suka dgan sya, mngkin ni yang org blang mncintai dlm diam, n jga ad tman akhi sya yg pngin d ajak srius( maksudx akhi ni mau mlamar sya), ap solusix utk sya mnjawab tman akhi ni ustadz, n ap solusix utk sya mncintai dlam diam ni ustad, sya sdh mlaksanakan shalat tahajud mnta ptunjuk pda Allah, namun sya blum mnemukan jwabanya, ap yang harus saya lakukan ustaz, syukron….

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah

      Kalau ukhti suka pada seorang ikhwan, katakan saja, atau lewat perantara saudara, teman atau keluarga ukhti. Tiru teladan Ibunda Khadijah. Kalau masih gak berani juga pakai perantara, siap-siap kehilangan pria yang ukhti cintai, atau setidaknya kehilangan kesempatan jadi istri pertamanya.

      Lalu, kalau ada yang melamar ukhti, dan pribadi tidak ada keberatan dari sisi penampilan dan fisik, pekerjaan, tentu agama juga, “bismillah” terima saja. Sambil istikharah, nanti Allah tunjukan jalan atau Allah jadikan pilihan ukhti ini adalah pilihan terbaik.

      Semoga bermanfaat.

  8. Putri says:

    assalamu’alaikum pak ustad, saya putri umur 21 tahun saya sekarang sedang menjalin hubungan dengan pacar saya tapi hubungan jarak jauh saya sudah lulus kuliah dan sedang bekerja di jakarta sedangkan pacar saya masih kuliah di bandung pak, suatu ketika saya mendapat ajakan menikah pak dengan pria asal malaysia berumur 35 tahun, dan pria asal malaysia ini pak sedang bekerja di London lalu dia mempunyai niat baik untuk mendatangi kedua orang tua saya bulan depan. jadi pak ustad yang saya ingin tanyakan adalah saya tidak ingin menyakiti perasaan seseorang tapi saya juga tidak bisa menolak ajakan yang diperintahkan Allah swt. lalu saya harus bagaimana ustad, mohon masukan nya terimakasih.
    assalamu’alaikum

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

      Sebaiknya, dekatkan diri pada Allah. Mohon ampunan-Nya. Jangan lagi berpacara walau jarak jauh. Sekarang tanyakan pada yang sedang kuliah, kapan mau melamar? Suruh menghadap orang tua saudari bahwa dia serius mencintai Putri. Itu 2-3 hari sebelum pria asal Malaysia datang. Kemudian, biarkan pria Malaysia itu datang mengajukan hal yang sama. Perlu diingat, jangan dulu terima dua pria itu. Bilang saja, “kami istikharah dulu”.

      Setelah itu, diskusikan dua orang itu, mana yang terbaik dan mana yang sudah terlihat siap. Mintakan pada Allah yang terbaik.

      Itu dulu masukannya. Semoga membantu.

      Wassalamu’alaikum wa rahmatullah.

  9. Kamal says:

    Assalamu’alaykum pak ustadz, perkenalkan saya seorang pria berusia 28 tahun, berprofesi sebagai dose* dan pengacara*. Sebelumnya saya mau bercerita saya memiliki hubungan dekat dengan wanita berusia 17 tahun (2 SMA). Saya kenal wanita ini melalui sebuah aplikasi dating, yang mana saya sendiri pada saat itu disuruh teman untuk cari pasangan lewat aplikasi. Terus terang saya bukan orang yang suka modus ke wanita dan saya juga bukan orang yang suka dengan kegiatan pacaran. Pada saat kenal dia , saya putuskan melalui shalat tahajud dan istikharah bahwa saya bersedia menunggu dia sampai selepas SMA, dengan catatan saya mau segera diperkenalkan ke orang tuanya agar tidak terjadi fitnah dan lain sebagainya. Belum lama ini saya segera minta diperkenalkan dan segera mau saya khitbah, tetapi jawabannya nanti saja pada saat dia sudah lulus SMA dan diterima di universitas negeri. Saya sangat mencintainya ustadz, saya mau segera berada dalam hubungan yang diridhoi Allah, mengingat usia saya juga hampir menyentuh kepala 3, mohon tanggapan dan sarannya ustadz. Jazakumullah khayran katsiran. Wassalamu’alaikum.

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

      Menurut undang-undang di Indonesia, memang harus lulus SMA dulu. Jadi, kalau sanggup, tunggu tamat. Tapi lamaran dilakukan saat masih sekolah juga tidak apa-apa, bukti keseriusan.

      Tapi, gak usah nunggu masuk ke universitas, kelamaan. Toh mas Kamal sudah sangat dewasa. Kalau nanti dipersulit misalnya harus tamat S1, sebaiknya cari yang lain.

      Sekian, terima kasih. Semoga bermanfaat.

      Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

  10. Nanda al-mahdi says:

    Assalamualaikum pak ustad, nama saya nanda pak ustad, usia saya kurang lebih 18 tahun pak ustad begitu juga dengan seseorang wanita sebut saja “S” saya sekarang sekolah sudah kelas 3 smk pak ustad,saya dengan “S” sudah sepakat untuk menikah pak ustad dan saya sudah dapat penghasilan dari berbisnis online walau hasil nya tidak banyak pak ustad,orang tua saya dan orang tua perempuan tsb sudah sangat akrab pak ustad,pertanyaan nya apakah seusia saya sudah boleh untuk berumah tangga pak ustad?

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah

      Kalau orang tua sudah setuju, mencari penghasilan sudah bisa. Tentu saja boleh menikah. Tapi, saran saya selesaikan SMK-nya dulu.

  11. Jumantoro says:

    Assalamu’alaikum
    Saya ingin meminta pendapat saudara saudari sekalian , sya laki laki berumur 17 thn msih duduk dibangku SMA klas 2 , melihat keadaan saat ini begitu banyak zina yg terjadi dikaum remaja , zina mata , zina hati . Sya berkeinginan menikah muda untuk menghindari itu semua , tetapi orang tua sya melarang sya dgn beberapa alasan , 1. Sya tidak boleh mendahului kk sya 2.sya belum punya penghasilan padahal sya udh bisnis kecil kecilan 3. Sya masih blm dewasa

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah

      Orang tua melarang, pasti ada tujuan baiknya. Mas Jumantono sebaiknya lulus SMA dulu, karena sekolah sekarang tidak mau menerima murid yang sudah menikah.

      Untuk sementara, perbanyak puasa dan hindari pergaulan dengan wanita, jangan berteman dengan perempuan, beri batasan dan jarak, jangan terlalu dekat.

      Untuk jaka panjang, kembangkan terus bisnisnya. Sisakan sebagian keuntungan untuk biaya pernikahan seperti mahar.

      Sekarang ini, tampakan bahwa saudara ini benar-benar sudah mandiri dan dewasa. Misalnya, bangun subuh sendiri, kemudian ke masjid, cuci pakaian sendiri, bantu orang tua memasak. Kalau punya adik, diayomi, dsb…

      Saya yakin kedepannya orang tua akan langsung ACC.

      Semoga bermanfaat.

  12. Diny says:

    Assalamualaikum pak ustadz sy seorg wanita single parent usia 37 tahun pny 3 org anak, sdh 1 tahun ini sy dekat dengan seorang pemuda berusia 23 tahun sebut sj A.. Dr awal dekat sy dan A berusaha saling terbuka mengenai diri pribadi masing2, termasuk mengenai anak2 yg sy lihat dan merasakan bhw A sgt peduli dan sayang sm anak2 sy.. Setahun berjalan mmg awalnya blm terfikir utk menikah lg mengingat perbedaan usia sy dgn nya 14 tahun dan perbedaan status jg sy janda dan A bujangan.. Krn sy berfikir takut berdosa akhirnya sy meminta A utk menikahi sy akhir tahun ini (2019 akhir telatnya) klo memang A serius menyayangi sy dan anak2..Krn bwt sy halalkan ato tinggalkan, sy kasih waktu utk A smpe akhir tahun 2019 ini utk menikahi sy..Apabila tidak, sy akan meninggalkan nya dan akan sy anggap A hanya main2 k sy.. Awalnya A ingin menikahi sy d tahun 2021 dgn alasan target menikah d usia 25 tahun dan mau mapanin diri dlu (kerjaan tetap dan kesiapan mental), tetapi rencana A sy tolak krn sy tdk mau menunggu terlalu lama mengingat usia sy.. Slm dekat dgn A sy sdh d kenalkan dgn keluarga nya dan alhamdulillah klrga nya merespon positif sdh menerima sy dan anak2.. Mereka bahkan sdh menganggap sy seperti keluarga nya.. Klo melihat sikap A trhadap sy dan anak ckp tgg jwb, hanya yg slalu dia permasalahkan k sy adalah dia blm mapan scr finansial dan dia blg siap sepenuhnya tetapi sdg berusaha.. Nah yg jd masalah, apakah keputusan sy sdh tepat ingin d nikahi A yg jauh lebih muda 14 tahun dgn sy? Krn terus terang keluarga sy menghawatirkan sy apabila sy menikah dgn laki2 muda yg jauh bgt usianya dgn sy.. Bagaimana cara meyakinkan keluarga sy ttg A? Apakah rmh tgg akan berhasil apabila kepala keluarga lebih muda dr istrinya? Terima Kasih Pak Ustadz

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Alhamdulillah, semoga Allah lancarkan pernikahannya. Mengenai meyakinkan keluarga, di tahap ini hanya bisa menunjukkan “A” memang bekerja dan itu bentuk tanggung jawab.

      Kalau masalah mapan, hampir 90% laki-laki itu tidak mapan sebelum nikah. Jangan lupa berdoa dan doakan semoga pernikahan ini adalah keputusan tepat.

  13. via says:

    assalamualaikum pak ustadz. saya perempuan berumur 19 tahun, saya punya teman laki2 juga berumur 19 tahun. kita kenal sejak sma, sering dipasangkan setiap kegiatan2 di sekolah, seperti lomba dll. dia laki2 yg soleh pak ustadz, ilmunya luas dan sering sharing tentang agama dengan orang2 di sekelilingnya. setelah tamat sma kami tidak pernah berkomunikasi, tapi tiba2 dia menghubungi saya ingin bertemu. setelah bertemu, dia mengutarakan semua yg dia rasakan kpd saya sejak dulu, dengan niat agar dia bisa fokus kedepannya saat mondok untuk menghafal al-qur’an, dan dia berpesan agar saya tetap menjaga diri. sy tidak respon apa2 saat itu tadz, karena saya bingung harus apa. sekarang saya tidak pernah tau kabarnya bagaimana, dia sudah tidak aktif sosmed dll. setelah berbulan2, tiba2 sy teringat sama dia tadz, tiba2 saya ingin mengungkapkan perasaan saya ke dia, bukan untuk berpacaran tp cuma agar dia tau saja. tp sy terlalu malu dan sungkan untuk bilang ke dia tadz. menurut pak ustadz bagaimana? apakah saya harus menyampaikan atau disimpan sendirian? terimakasih pak ustadz..

    • Omar says:

      Wa’alaikissalam wa rahmatullah.

      Menurut saya, daripada saudari galau, lebih baik mbak meminta keluargamu atau sahabat dekat yang dapat percayai untuk menyampaikan perasaan itu kepada pemuda tersebut. Yang demikian bukanlah sesuatu yang hina atau dosa selama cara penyampaiannya baik dan sopan.

      Kalau tidak ada teman/kerabat yang dapat dipercaya, silahkan kirim nama dan nama dan kontak pemuda itu ke saya, nanti akan saya sampaikan perasaan saudari.

      Semoga Allah mudahkan.

  14. Tika says:

    Assalamualaikum.
    Saya Tika (perempuan) usia 22 tahun dan pasangan saya berusia 21 tahun.
    Kami sudah saling kenal sejak hampir 2 tahun, dan memutuskan untuk berpacaran sejak 4 bulan lalu.
    Saya dan pasangan sudah sama-sama merasa mantap untuk menikah, akan tetapi pasangan saya masih kuliah dan akan lulus di tahun 2020. Sedangkan saya sudah sarjana dan sudah bekerja.
    Pasangan (laki-laki) saya juga ibadahnya sudah bagus, shalat 5 waktu di masjid, suka mengikuti kajian-kajian, tahsin, dsb. Dia juga seorang lulusan pesantren dan rajin membaca Al Qur’an. Dia juga memiliki keinginan untuk membimbing saya ke arah yang lebih baik khususnya dari segi agama. Dia juga menginginkan saya untuk menggunakan pakaian syar’i jika sudah menikah kelak. Oleh karena itu, saya yakin dia akan menjadi pemimpin saya yang baik.
    Kami tidak mau membuang-buang waktu kami untuk pacaran dengan waktu yang lama atau harus menunggu pasangan saya lulus wisuda S1 terlebih dahulu.
    Orang tua kami sudah saling kenal karena kami bertetangga.
    Cuma yang kami takutkan adalah untuk berbicara kepada kedua orang tua kami, karena posisinya yang sudah bekerja adalah saya (perempuan) bukan pasangan (laki-laki) saya.
    Kalau saya pribadi sebagai calon istri, insyaAllah saya terima dalam kondisi apapun suami saya kelak. Saya juga tidak begitu berorientasi kepada hal-hal duniawi meskipun semuanya butuh uang tapi saya yakin dengan menikah Allah akan memberi pintu rezeki bagi umatnya yang bersungguh-sungguh untuk menikah.
    Kira-kira bagaimana yah jalan terbaiknya? Apakah kami harus menunda sampai pasangan (laki-laki) saya memiliki penghasilan tetap atau tetap maju untuk membangun rumah tangga mulai dari 0?
    Terima kasih, wassalamualaikum.

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh

      Solusinya yang paling mudah, calon saudari harus bekerja. Tidak perlu penghasilan tetap, tapi tetap berpenghasilan meskipun freelance, serabutan, dan uangnya pas-pasan untuk makan.

      Kalau sudah bekerja, seharusnya orang tua tidak melarang nikah.

      Wassalamu’alaikum wa rahmatullah.

  15. Agus suseno says:

    Assalammuallaikum pak ustad saya seorang laki-laki anak pertama berumur 19 tahun sedangkan perempuan saya berumur 23 saya ingin menjalin pernikahan tapi orang tua menginginkan saya untuk bersenang-senang dulu di usia muda tapi saya tidak mau karna saya tidak ingin bersenang-senang karna takut terjerumus dengan hal yg tidak diinginkan

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah
      Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan untuk menikah. Jangan khawatir, setelah menikah mas Agung akan tetap bersenang-senang + bahagia.

  16. Irma says:

    Assalamualaikum.. ustadz saya mau mintak solusi dari ustadz umur saya 19 thn dan sedang kuliah, saya ingin menikah karna saya ingin menjaga kehormatan saya, saya takut tidak bisa mengendalikan diri saya sedangkan pasangan saya sudah berumur 22 thn dan dia juga sudah bekerja , tetapi orang tua saya tidak mengizinkan karna saya masih di anggap masih belum dewasa dan ayah saya tidak mau menjadi wali sebab saya sudah katakan kepada mereka. Padahal saya sudah memperlihatkan sifat mandiri saya. Iya memang saya tidak berdandan tidak sepertiwanita dewasa lainnya karna saya hanya ingin berdandan nantik setelah saya menikah dan diizinkan suami saya. Jadi solusi nya bagaimana ustadz agar saya bisa meyakinkan kedua orang tua saya. Sedangkan saya tidak ingin durhaka kepada mereka dan saya juga sangat ingin menikah saya takut tidak bisa mengendalikan diri saya. Mohon solusi nya ustadz.
    Sekin. Wassalamualaikum.

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Ukhty Irma. Saya ucapkan selamat atas keputusan dan niat baiknya untuk segera menikah. Saya acungkan jempol karena tidak mau berdandan.

      Semoga Allah mudahkan impiannya.

      Mengenai restu orang tua, coba minta bantuan paman atau ustadz atau siapa pun yang sekiranya dihormati ayah-ibu saudari untuk berbicara kepada mereka berdua. Sering-sering juga, berdoa pada Allah dan minta izin ke orang tua, coba sehari sekali. Semoga hatinya luluh.

      Sering-sering juga share video pendek tentang pernikahan. Share artikel ini juga ke WA dan medsos orang tua.

      Semoga Allah mudahkan jalan saudari.

      Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

  17. Sarah amanda says:

    Assalamualaikum pak uztad, mau tanya sedikit
    Saya umur 18tahun skrg ini, pasangan saya berumur 28tahun. Kita tidak pacaran hanya sekedar dekat saja selama 2tahun. Dia mengajak saya nikah diusia muda, saya merasa belum siap pak uztad krna saya takut tidak menjadi istri yang sempurna buatnya. Selain itu, orangtua saya juga ingin kalau saya kuliah terlebih dahulu.
    Saya juga takut akan kehilangan dia saya pak uztad, apalagi diumurnya yang sudah matang dan siap menikah.
    Bagaimana cara saya agar meyakinkan orangtua saya agar saya bisa menikah?

    • Omar says:

      Wa’alaikisslama wa rahmatullah wa barakatuh.

      Saya acungkan jempol jika saudari tidak berpacaran. Menikah itu baik dan banyak manfaatnya. Kuliah juga bagus. Silakan baca artikel “Kuliah atau nikah“. Dua hal ini tidak ada salahnya jika dilakukan bersamaan. Toh, mahasiswi yang sudah menikah tidak sedikit.

      Di luar sana, banyak laki-laki ragu dan takut menikah. Ada juga yang hanya berani pacaran. Ini sudah ada pria jantan yang mau datang melamar, kenapa tidak diterima? Apakah orang tua bisa menjamin, setelah lulus kuliah akan ada orang lain yang datang meminang?

      Menikahkan seorang wanita adalah kewajiban ayahnya. Apakah ayah sudah punya calon? Apakah ayah bisa menjamin?

  18. Sara says:

    Assalamualaikum pak ustad. Sy ingin bertanya. Umur saya desember nanti 18 tahun,dan umur pacar saya 23 tahun. Dia seorang laki2 yang alhamdulillah sudah mempunyai pekerjaan yang tetap. Dia ingin menikahi saya tapi saya baru masuk kuliah. Yang saya ragukan disini adalah umur saya yang menurut saya masih terlalu muda yang takutnya akan mempengaruhi ketidak langgengannya dalam usia pernikahan nanti
    Jadi bagaimana solusinya ustad..

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Solusinya:

      1. Kalau masih mau nikah, saudari harus mendewasakan diri.
      2. Kalau masih ragu, jangan nikah, jangan juga pacaran. Berbahaya.
  19. Nadia says:

    Assalamualaikum ustad saya nadia umur saya 20 thun, pacar 23 thun gini ustad saya mau cepat di halalkan orang tua udah restui, tapi pacar saya mau tematin kuliah nya baru halalkan saya, karena dia mendiri, bagaimana menurut ustad saya harus gimana

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah

      Alhamdulillah jika Ortu sudah setuju. Tapi pacarnya kapan lulusnya? Kalau lebih dari 6 bulan, sebaiknya putus dulu. Kalau masih 3 bulan lagi, sebaiknya lamaran dulu. Terus, selama belum ada kejelasan, jangan mau dihubungi lagi.

      Semoga sukses.

  20. Anggi says:

    Assalamualaikum,
    Boleh minta solusinya. Saya seorang laki” usia 24th.
    Begini minggu” kemarin saya sempet ditanya kapan menikah oleh orang tua pasangan saya, jujur saya seneng bgt dan bhagia ketika orang tua pasangan saya menanyakan itu krena sebelumnya saya juga ada niatan ingin ngelamar dan menikah gn pasangan saya cuman waktu itu blum ada waktu yg pas ternyata malah keduluan sama orang tua pasangan saya.
    wlpun orang tua pasangan saya udah mengizinkan dan merestui tp dari pasangan saya belum bisa jawab itu semua seperti belum siap bgtu.
    Sedangkan dari saya, insya allah siap untuk menikah

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah.

      Tunggu apa lagi? Langsung saja melamar. Kata Rasul “Diamnya seorang gadis saat dilamar (tidak bilang YES, tidak bilang NO) adalah tanda dia setuju.”

      Kemudian, kasih waktu 3 bulan untuk menikah. Kalau belum siap juga, saran saya cari yang lain.

      Semoga bermanfaat.

      Wassalamu’alaikum.

  21. ridho says:

    mau tanya tidak jadi, dari baca artikel sudah terjawab semua,
    pak uztad membuat open mind sekali, hehe
    alhamdulillah diarahkan ke artikel ini,
    niat nikah muda pun semakin kuat,

  22. Abu Sunan Ramadhani says:

    Mengapa kawin di usia muda ?.
    Apa sih yang hendak dicari dan dihasilkan dari suatu perkawinan ?.
    Ada banyak alasan mengenai hal itu, sebagiannya ada dibahas di sini …

  23. Nazila syaifa maulani says:

    Assalamualaikum,umur saya jalan 18,saya sudah ditunangi dengan pria 19 tahun,saya berniat untuk menghafal al qur’an
    Apakan saya berdosa menunda pernikahan??apa yng harus saya lakukan tadz?

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Menikah dan menghafal al-Quran itu bisa bersamaan. Kenapa harus dipisahkan?

      Menikahlah. Saat suami menjemput rezeki, istri menghafal di rumah dan mendoakan kesuksesan sahabat sejatinya. Apalagi sambil mengandung, sambil menghafal. Semoga anak yang dilahirkan, sudah membawa hafalan. 🙂

  24. Samsul says:

    Assalamualaikum ustazd,saya samsul berusia 21 anak ke 7 dari 10 bersaudara anak laki2 semua wanita hanya satu yautu adik tapi sudah menikah,dan kaka tinggal 5 yg belum menikah,saya sudah di tarik untuk menikah oleh pihak keluarga cemceman saya,saya sudah cerita pada ortu dan kluarga saya,tetapi yg jadi halangan nya itu kaka saya yg belum pada menikah gmna ustazd? Terimakasih wassalam

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah.

      Mas Syamsul, nikah itu bukan balapan, sehingga main cepet-cepetan. Nikah itu juga bukan antrian, yang dateng duluan, nikah duluan. Jodoh itu takdir. Kalau sudah dateng waktunya, gak perlu dihalangi dengan alasan yang tidak masuk akal. Seperti kematian, yang lebih muda bisa mati duluan.

      Wassalamu’alaikum.

      • Di'is says:

        Asalamualaikum boleh minta saran ust.. Sy berumur 22, sya dan pasangan saya beda kota namun sya pun sudah kerja d kota sya tinggl ini.. Sya ingin menikah namun tdak mungkin rasany jika di ajak tinggl d kota saya ini d karnakan org tua ny yg sudah tinggl sebelah namun jika saya yg ke kota nya sya pun bingung mau kerja apa tad bgitu

        • Omar says:

          Wa’alaikumussala wa rahmatullah

          Idealnya, istri ikut suami. Tapi kalau tidak bisa, harus dikomunikasikan dulu apa dan bagaimana alasannya. Masalah nafkah dan pekerjaan, istri tidak perlu cemas itu tanggungjawab suami. Apapun pekerjaannya, di mana pun itu, yang penting kerja. Insya Allah ada lowongan.

  25. Sintawati says:

    Asallamualaikum

    Ust mau tanya nih usia saya 16 tahun sedangkan usia pasangan saya 19 tahun ia berniat inggin serius dengan saya apakah di usia saya yng 16 tahun ini bisa melangsungkan pernikahan karna takut mendapat pasal??
    Terimakasih sebelumya ustd

    Wasalamualaikum

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah

      Mengenai usia pernikahan, saran saya tanyakan pada KUA setempat, karena pernikahan harus tercatat SAH menurut negara juga. Kalau menurut agama, usia 16 tahun, sudah boleh menikah. Semoga membantu.

      Wassalamu’alaikum wa rahmatullah

  26. Ridawati says:

    Assalamualaikum wr.wb
    Saya ridawati umur 18 masih sekolah SMK sdangkan pasangan saya umur 24 rumahnya berhadapan atau tetanggan. Pasangan saya ingin segera menikah ketika lulus nanti karna ingin beribadah katanya. tetapi orang tua saya menginginkan saya untuk kerja atau kuliah dulu untuk meraih masa depan .malahan keluarga kurang merestui hubungan saya.
    Mohon minta solusinya. Terima kasih

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Sebenarnya, tujuan orang tua itu baik. Tapi, terkadang orang tua tidak mengerti manfaat menikah. Coba disukusikan dengan pasangannya, pastikan setelah nikah, saudari masih bisa kuliah. Sebagai kompensasi agar orang tua merasa terjamin.

  27. Rochmad says:

    Assalamualaikum
    Umur saya 23 sedang calon saya 20,sudah saling kenal lama , saya pengen melamar nya lalu menikahi nya,
    Tapi camer saya masih ragu” dengan pekerjaan saya,takut kebutuhan anak nya tidak terpenuhi
    Bagaimana cara nya saya meyakinkan camer saya ??

    Terima kasih,,

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Kalau sudah ada niat, langsung saja melangkah. Katakan pada calon mertua, “meskipun bukan pekerja tetap, tapi saya akan selalu tetap bekerja”. Kalau gaji belum UMR, bukan masalah. Nanti Allah berikan rezeki dari arah yang tak terduga. Dengan syarat, menikah karena ingin bertakwa pada Allah.

      • Rochmad says:

        Terima kasih
        Akan saya coba menghadapi camer 💪
        Assalamualaikum

  28. Nova says:

    Assalamualaikum wr.wb ana mau bertaxa nih ustadz bgaimana klau ortu dri pihak perempuan blm setuju kalau anak.x menikah muda sblm serjana dan dpt kerjaan…tpi dri pihak laki…sudah siap untuk menikahi perwmpuan…nah bagaimana dg hal tsb…??? Sedangkan dari pasangan tsb sdh menjalin hub pcran slm 1 thn…

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barkatuh

      Yang terutama, ajak bicara keluarga baik-baik, hati ke hati. Ungkapkan keinginan dan tujuan baik sang wanita, manfaat nikah muda serta bahaya pacaran.
      Saudari juga bisa meminta bantuan dan saran KUA setempat. Bahkan minta dijelaskan pada orang tua.
      Kalau orang tua masih belum merestui, putuskan hubungan tidak jelas tersebut (pacaran).

      Karena ortu tidak setuju dengan menolak yang sudah berani melamar, dan karena menikahkan anak perempuan adalah kewajiban orang tua. Utamanya, ayah harus memberikan konpesasi putrinya dengan jaminan segera menikah dan pasti menikah dengan pria yang shaleh.

      Semoga membantu.

  29. Nur yanthi says:

    Assalamu’alaikum wr,wb. Saya wanita berumur 21 tahun, saya ingin minta pendapat ustad. Saya sedang dekat dengan teman laki” sy saat SD sudah hampir 1,5th. Kami sudah tau dngn perasaan masing” dn teman saya ini mengajak nikah, dan ortu saya sudah tau begitupun dng ortu laki”. Mamah dr teman saya ini juga sudah menyuruh utk menikah, namun saya belum siap karena saya ingin kerja dulu smbil memantapkan diri. Ortu saya pun sudah bilang utk segera menikah namun saya ingin targetnya tahun depan. Dan saya masih memikirkan dr teman saya ini dalam sholat masih bolong”, karena saya ingin mempunyai imam yg bisa menuntun saya. Bagaimana ya ustad dengan pikiran saya yg seperti itu? Tapi saya sudah mantap dngn dia. Terimakasih 🙂

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam Ukhty,

      Ortu sudah setuju menikahkan. Jangan tutup kesempatan ini dengan pekerjaan. Nikah sambil kerja kan bisa. Apalagi, kalau kerja itu tidak mendesak. Saya kira, cukup suami yang mencari nafkah. Masalah, doi yang shalatnya bolong-bolong, coba ajukan pada dia “Mas, kalau kamu cinta sama saya, buktikan dengan shalat 5 waktu di masjid. Nanti saya chek ke pengurus masjid. 🙂 ”

      Begini lebih baik.

  30. Andi Zul says:

    Assalamualaikum, izin CoPast

    • Omar says:

      Silakan di share atau di Copas artikel nikahnya, semoga bermanfaat.
      Jangan lupa mencantumkan url sumbernya.

  31. Lia says:

    Assalamu’alaikum wr wb
    saya berumur 24thn skrg sedang kuliah menuju s1 krn sebelumnya sy d3. sudah pacaran 2tahun dgn teman kuliah saya dan sekarang dia kuliah sambil kerja disebuah kantor kedinasan. seiring berjalannya waktu, dia mengatakan bahwa ingin menikahi sayang dan pihak keluarganya jg membolehkan apabila ingin menikah. saya juga mau karena utk menjauhkan diri dari zina dan tidak ingin menambah dosa. tapi ada kendala, ketika saya ingin menyampaikan hal tsb saya seperti tidak ada kesempatan bicara kepada ibu krn ibu saya selalu membahas tentang rumah yg akan kami bangun, saya sulit mencari celah. dan ibu saya jg belum mengizinkan utk saya membawa calon ke rumah. saya bingung dan sedih karena kadang ibu saya suka ber suuzdon kepada kami apabila sedang bersama. apa yg harus saya lakukan? sayang sangat ingin sekali menikah dan saya pikir ini sudah saatnya dan jg ingin beribadah bukan hanya sekedar nafsu. sementara calon sudah mendesak saya apakah sudah disampaikan ke ibu apa belum niatan kami ini. mohon bantuannya.

    Jazakumullah Khairon

    • Omar says:

      Wa’alaikissalam wa rahmatullah wa barakatuh.

      Ukhty Lia, saya senang jika ada wanita yang ingin segera menikah. Itu ibadah. Perhatikan baik-baik saran saya, dibaca sampai akhir.

      • Saran pertama saya jika ingin menghindari zina, jauhi yang namanya pacaran. Ini bukti di hadapan Allah bahwa saudari bertekad menjaga kesucian.
      • Kedua, cari tahu atau tanyakan langsung pada ibunda, apa alasan ibu saudari tidak mengizinkan menikah.
      • Ketiga, Husnudzon-lah pada suudzon ibu sendiri.
      • Keempat, datang ke rumah untuk melamar, tidak perlu menunggu izin orang tua. Tidak perlu acara formal, membawa seserahan, apalagi tukar cincin. Asalkan sang pangeran punya keberanian, datang saja ke rumah dengan sopan, katakan “kedatangan saya ke sini, ingin melamar putri bapak/ibu”. Simple…
      • Kelima, yang paling penting adalah berdoa dan berusaha membujuk orang tua, muliakan beliau, ajak makan keluar, kemudian minta izin dengan sopan bahwa saudari ingin menikah, sudah ada calonnya.

      Semoga Allah permudah, mulai dengan basmalah, jangan lupa istikharah.

  32. Dea permatasari says:

    Assalamualaikum.wr.wb
    Perkenalkan nama saya Dea permatasari saya berusia 18thn dan kekasih saya berusia 19thn ia berniat untuk menikahi saya ditahun ini beberapa bulan lagi sekitar saya berumur 19thn dibulan september yang akan datang.
    Saya masih ragu karena saya mempunya adik yang masih memerlukan saya untuk biaya sekolah,juka saya menikah nanti saya takut adik saya akan putus sekolah karena saya terlalu sibuk dengan keluarga saya nanti.

    • Omar says:

      Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.
      Kalau itu yang membuat mbak ragu. Coba tanyakan calon suami, apakah saudari boleh bekerja setelah menikah?

      Atau, ganti saja maharnya jadi “membiayai adiknya Dea sekolah”

  33. rizal malik says:

    Nama saya rizal umur (21) insyaallah saya punya calon istri umur (19) mau tanya.. Untuk memantapkan calon agar Mau menikah dengan kita di usia muda bagaimana?