SHARE
Kisah Pernikahan Khadijah Rasulullah Muhammad bin Abdullah

Kemuliaan akhlak dan garis keturunan menempatkan Khadijah sebagai wanita terpandang. Tak terhitung pelamar yang datang, tetapi mereka pulang dengan tangan kosong.

Keputusannya untuk tidak menikah berubah ketika mimpi indah meyambanginya suatu malam.

Pertemuan dengan Muhammad menerbitkan kembali impiannya yang lama dilupakan. Kehadirannya membisikkan masa depan yang lebih baik bagi diri, bahkan bangsanya.

Awalnya, ia ragu karena usia yang terpaut jauh. Tetapi, semakin lama ia bertambah yakin. Perbedaan usia tak seharusnya menjadi halangan.

Ia meyakini keutamaan dan keindahan akhlak pemuda yang kelak menjadi Rasul Allah. Keyakinan itu menguapkan keraguannya serta menumbuhkan keberanian dan keteguhan.

Kemasyhuran Muhammad di Mekkah kala itu, sampai kepada Khadijah yang merupakan saudagar kaya raya. Kemudian Ibunda Khadijzah membentuk kerjasama dagang dengan Nabi Muhammad .

Ia meminta karyawannya yang bernama Maisarah -seorang pria- untuk mengawasi dan mengikuti semua kehendak Muhammad serta tidak boleh menolak semua perintahnya. Agar terlihat sifat asli dan kepribadiannya.

Karena jika Maysaroh membantah perintah, ide, gagasan Muhammad, bisa jadi watak laki-laki itu tidak akan nampak, bisa jadi Muhammad bin Abdullah tampak baik karena usulan dan masukan Maisarah.

Sepulang perjalanan dagang dari Syria, Maisarah melaporkan segala apa yang ia lihat dari sosok Muhammad. Akhirnya, ia yakin bahwa pemuda itu adalah laki-laki yang tepat.

Kemudian Khadijah meminta bantuan sahabatnya, Nafisah binti Munabbih untuk menemui Muhammad al-Amin agar mau menikahinya.

Sungguh Khadijah wanita jenius, ia tahu siapa orang yang tepat untuk diserahkan urusan ini. Kecerdasan Nafisah menjaga martabat Khadijah sebagai wanita dan membesarkan hati Muhammad sebagai pria, Perhatikan bagaimana cara Nafisah berdialog dengan Rasulullah:

  • Nafisah: Wahai Muhammad, sekarang engkau telah mejadi pemuda terhormat, terpandang dan dewasa, namun mengapa engkau belum juga menikah?
  • Muhammad: Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah.

Dari sini Nafisah tahu, ternyata Rasulullah juga tertarik menikah.

  • Nafisah: Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita, maka apakah kamu mau menerimanya?
  • Muhammad: Siapakah dia?
  • Nafisah: Sungguh tidak ada wanita lain pantas bersanding denganmu kecuali Khadijah. Dia cantik, dia dermawan, dia baik, dia punya status sosial yang bagus seperti kamu, dan kalian berdua sangat serasi.
  • Muhammad: Lalu bagaimana mungkin aku menikah dengan Khadijah, aku tidak mempunyai mahar.
  • Nafisah: Itu biar saya yang atur.

Perhatikan lagi, betapa berkelasnya perkataan sahabat Ibunda kita ini. Ucapannya sama sekali tidak menjatuhkan derajat Khadijah sebagai wanita dan Nab Muhammad sebagai pemuda.

Gayung pun bersambut, Muhammad menerima lamaran Khadijah. Melalui pamannya Abu Thalib, Nabi melangsungkan lamaran resmi untuk pernikahan.

Sungguh tidak ada yang lebih melegakkan dari rasa cinta yang tersampaikan dan tidak ada yang lebih membahagiakan dari cinta yang diterima.

Akhirnya, mereka menikah dan kisah cinta keduanya dicatat sebagai sejarah sepasang manusia terbaik.

Baca juga:

Ringkasan

  • Jika ada seorang ikwan yang meminta dicarikan jodoh, cobalah ajukan diri akhwat. Mungkin, sebenarnya dia ingin mengatakan tapi malu. Bisa jadi jodoh yang dimaksud Anti sendiri. Maju Beranilah.
  • Selain merasa malu, laki-laki terkadang bingung. Mahar murah, tapi harus hajatan mahal. Mungkin sang wanita terima apa adanya, tapi orang tuanya minta lebih. Perlu didiskusikan.
  • Bukankah pernikahan adalah kebaikan dan sunah. Karenanya, malu bukan alasan untuk menghalanginya.
    Jangan dengarkan kata orang, lakukanlah niscaya engkau tahu.
  • Jika laki-laki yang engkau ajak menikah bebalik menghinamu, jangan sedih. Justru, ini adalah cara wanita untuk mengetahui akhlak pria itu.

Sumber:

  • Abdillah, Ummu Hasan. 2010. Muslimah. 26 September. Diakses Mei 11, 2015. muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/muslimah-cantik-bermahkota-rasa-malu.html.
  • Abdullah, Faguza. t.thn. Salimah. Diakses Mei 11, 2015. salimah.or.id/ketika-akhwat-harus-menawarkan-diri.
  • Bahraen, Raehanul. 2012. Muslimafiyah. 14 April. Diakses Mei 11, 2015. muslimafiyah.com/mau-tahu-akhlak-sebenarnya-seseorang-tanyalah-istrinya-dan-ajaklah-bersafar.html.
  • Hasan, Fatmah. 5. Islam Pos. 2014 Mei. Diakses Mei 11, 2015. islampos.com/wanita-lamar-pria-bolehkah-108667.
  • Jawas, Yazid bin Abdul Qadir. 2012. Al-Manhaj. 3 Desember. Diakses Mei 11, 2015. almanhaj.or.id/content/3441/slash/0/malu-adalah-akhlak-islam.
  • Khalifurrahman Fath, Taufik Damas. 2011. Keluarga Perempuan Rasulullah. Jakarta: Zaman.
  • Kisah-Kisah Teladan. 2011. Kisah-Kisah Teladan. 19 Januari. Diakses Mei 11, 2015. kisah.web.id/tokoh-islam/khadijah-binti-khuwailid.html.
  • Nuzul Dzikri, Ketika Aku Jatuh Cinta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here