Perbedaan Kisah Nabi Yusuf dan Musa Dalam al-Quran

Bagikan:

Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa sebagai rasul bani Israel sangat terkenal. Ternyata cerita keturunan Nabi Yaqub alaihissalam ini punya hubungan persamaan serta perbedaan yang perlu diketahui umat Islam.

Nama Surat

Ada sebuah surat dalam al-Quran yang Allah berikan headline Ahsanul Qashash (أحسن القصص), kisah terbaik, terindah, the best … Itulah surat Yusuf.

Sekilas kita teringat sebuah surat yang bernama “al-Qashash“.

Ego manusiawi saya bertanya, “kenapa label ‘ahsan’ tidak disandangkan kepada surat ke-28 itu saja?” Wallahu ‘alam, yang jelas kita dapat mafaat dari pemilihan kata dalam kitabullah ini.

Toh, akhirnya kita sendiri jadi penasaran membaca dan tadabbur. Ternyata, ada kesamaan dan ikatan antar 2 cerita dalam 2 surat tersebut, kisah Nabi Musa dan Yusuf.

Latar Sejarah

Setelah huruf muqatha’ah, dua kisah itu dibuka dengan stempel konfirmasi serta validitas oleh Allah berupa pernyataan,

تلك آيات الكتاب المبين

Ini adalah ayat-ayat al-Kitab al-Quran yang nyata.

Klausa ini menegaskan, kisah yang terkandung dalam 2 surah ini benar adanya, bukan fiktif, cerita belaka. Punya nilai sejarah.

Bahkan Rasulullah Muhammad, dan sahabatnya sering mengambil keputusan dan ibroh dari fakta ini.

Adapun diksi “kisah” dan “cerita” yang digunakan artikel ini hanya untuk memudahkan penyampaian.

Kisah Singkat

Bertebaran banyak kisah para rasul dalam al-Quran, terutama keteladanan Nabi Musa. Dalam post ini kita akan fokus pada fakta yang terdapat pada 2 surah tersebut saja.

Kisah Yusuf dimulai dengan mimpi seorang anak sebagai nubuwah kemuliaan masa depan. (4)

Sedangkan kisah Musa diawali dengan mimpi kehancuran firaun yang zalim dengan hadirnya seorang anak bani Israel di masa depan. (4-6)

Cinta Ayah & Ibu

Sebagai seorang utusan Allah, ayah nabi Yusuf punya mukjizat mentafsirkan mimpi. Ini mukjizat semua nabi secara umum, bahkan mimpi mereka adalah wahyu. (6)

Sang ayah pun paham psikologi umat, terlebih 12 putranya sendiri. Maka, Yaqub melarang sang anak bercerita pada yang lain. Demi keselamatan. (5)


Di zaman lain, ada seorang ibu yang gelisah karena melahirkan seorang putra yang terancam dibunuh akibat paranoid firaun.

Namun Allah memberikan ilham padanya “taruh di peti (di sungai), jangan takut, jangan sedih, kalau hilang, pasti kembali …” (7)


Pada gilirannya, kedua anak itu hilang. Meski sedih, tapi sang ayah teguh karena wahyu Allah, dan sang ibu tangguh karena ilham.

Menurut riwayat, perpisahan antara Yusuf dan Yaqub selama 80 tahun. Sedangkan Musa dan ibunya hanya terjadi sehari semalam.

Keduanya jadi simbol sempurna cinta seorang ayah dan ibu.

Allah tahu siapa butuh apa.

Dusta dan Tipu Daya

Karena dengki, 10 saudara laki-laki Yusuf sepakat menjebloskan adik mereka ke dalam sumur tak berdasar. Ayat 10 berkata, “goyabat” demikian artinya, “goib” tak terlihat.

Mulanya izin ngajak jalan-jalan, ternyata dusta.

Mereka lupa bahwa sang ayah seorang nabi, dusta itu tebuka. Baju bersimbah darah pun tak mampu sembunyikan fakta.

Mereka biarkan sang adik dibawa pergi kafilah niaga. Kakak laki-laki jadi sebab terpisahnya adik dengan ayah.


Awalnya peti diikat sebagai tempat sembunyi sang bayi. Apa boleh dikata, tali pun putus membawanya.

Demikian Allah punya rencana, mengantarkan Musa pada si durjana, Ramses 2, konon namanya.

Dari kejauhan kakak perempuan mengawasinya, agar Musa dapat kembali pada bunda.


Siapa sangka, dikemudian hari semua abangnya Yusuf jauh-jauh dari Palestina ke Mesir hanya untuk minta makan dari adik yang mereka buang.

Tak dikira, anak yang harusnya dibunuh firaun dan pengikutnya justru dilindungi dalam istana.

Setengah Doa

Singkat cerita, Yusuf dibeli al-Aziz (jabatan) di Mesir. Sementara Musa, ditemukan oleh Asiyah. Keduanya berkata hal yang sama pada pasangannya.

عسى أن ينفعنا أو نتخذه ولدا

Kelak ia bermanfaat untuk kita atau angkat saja sebagai anak.

Allah kabulkan lisan keduanya. Sang pejabat mendapat setia, dan sang permaisuri mendapat iman.

Kejadian yang sama terulang dalam al-Quran, bukankah luar biasa!

Dewasa, Hikmah dan Ilmu

Setelah beranjak dewasa, keduanya Allah berikan hikmah kenabian dan ilmu. Untuk nabi paling ganteng kedua itu Allah berfirman:

ولما بلغ أشده آتيناه حكما وعلما وكذلك نجزي المحسنين

Tatkala dewasa, kami berikan dia hikmah dan ilmu. Demikianlah kami membalas orang-orang baik. (22)

Untuk pria yang kemudian jadi Guru nabi Yusya bin Nun itu, Allah berfirman:

ولما بلغ أشده واستوى آتيناه حكما وعلما وكذلك نجزي المحسنين

Tatkala dewasa dan matang, kami berikan dia hikmah dan ilmu. Demikianlah kami membalas orang-orang baik. (14)

Khilaf Manusiawi

Dalam istana tuannya, ketampanan Nabi Yusuf jadi fitnah syahwat atas dirinya dan Zulaikha (nama israiliyat). (23). Yusuf berlindung pada Allah setulus hati, maka ia selamat. (23-24)

Di tengah kota, amarah fanatisme Musa jadi sebab kematian seorang pemuda qibti. (15) Musa bertaubat, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (16-17)

Saksi Mata

Dalam peristiwa yang melibatkan sang pemuda dan wanita, ada saksi yang membebaskan Yusuf atas segala tuduhan zina. Namun Alaihissalam tetap dijebloskan ke penjara pada akhirnya. (26-34)

Adapun Musa dalam surah al-Qasas terbukti bersalah didukung saksi yang memberatkannya. Namun ia lolos pergi ke Madyan. (18-21)

Sejarah Bani Israel

Meski moyang mereka, Ibrahim berasal dari Irak, Yusuf dilahirkan di Palestina, dijual ke Mesir. Sempat dipenjara ‘karena’ ganteng, tapi dakwah tetap jalan.

Akhirnya tiba giliran dibebaskan oleh Malik karena mampu mentafsirkan mimpi dan dianggap mampu mengelola krisis.

Ternyata paceklik juga melanda negeri masjid al-Aqsa di mana keluarga 11 saudara Yusuf tinggal.

Singkat cerita, nabi yang terkenal tampan ini pun membuat rekayasa agar mereka membawa nabi Yaqub ke negeri piramida.

Akhirnya, mereka beranak-pinak melahirkan ribuan keturunan di sana, dengna 12 klan dan bani Israel.

Hingga tahun berganti abad, sistem pemerintahan berganti orang. Keturunan Yaqub bin Ishak pun di jajah sampai zaman nabi Harun dan adiknya.

Inilah sebab setiap kali kisah nabi Yusuf, rajanya disebut “malik”. Saat nabi Musa, rajanya disebut “firaun”.

Tafsir

Sebagaimana sejarah yang telah diurai di atas, Allah mengirim Musa untuk membawa kaumnya dari mesir kembali ke tanah Baitul Maqdis, Palestina.

Singkat cerita, kaum itu banyak membangkang setelah diselamatkan dari firaun dan pengikutnya, bahkan setelah meihat banyak mukjizat Nabi Musa di antaranya membelah lautan.

Akhirnya, Allah mengunci mereka dengan tersesat di gurun selama 40 tahun. Barulah mereka bisa masuk ke kota al-Quds di bimbing oleh cucu nabi Yusuf, Yusya bin Nun.

Leave a Comment