Toleransi Tidak Mengucapkan Natal, Kristen Nusantara

Toleransi Umat Beragama

SHARE
Jamaah islam liberal adalah

Setiap menjelang natal di Amerika Serikat ada kontroversi soal ucapan Natal, atribut dan sosok Santa Claus. Debat tahunan, persis seperti di Indonesia.

Misalnya acara komedi terkenal SNL (Saturday Night Live) beberapa kali menyindir kaum Kristiani yang tidak suka melihat orang kulit hitam berkostum Santa.

Memang tidak sedikit kaum Kristiani AS yang berkeyakinan Sinterklas harus orang bule, “Kan asalnya dari kutub utara. Mana ada orang Afrika di kutub utara?”

Lalu dibalas lagi, “Santa kan tokoh fiksi, bebas saja dong mau menggambarkan dia seperti apa.”

Ada juga yang membuat lelucon rasis, “Santa pasti bule karena di Amerika dia bebas masuk rumah orang, disediakan kue dan susu. Kalau dia kulit hitam, sudah pasti langsung ditembak.”

Kalau di Indonesia, debat seputar hukum haram mengucapkan selamat natal. Di Amerika, umat Kristiani biasanya geram dengan pernyataan kaum liberal yang menuntut penggantian ucapan “Merry Christmas” dengan “Happy Holliday“.

Bahkan, tahun 2015 lalu secara brutal seorang pejabat kota Texas memposting status Facebook bahwa ia akan menamparsiapa saja yang mengucapkan “Happy Holiday” padanya.

If one more person says Happy Holidays to me I just might slap them. Either tell me Merry Christmas or just don’t say anything,

Menurut kaum liberal Amerika, “Merry Christmas” dianggap terlalu ekslusif. Sedangkan “Happy Holiday” lebih toleran karena berlaku juga untuk kaum minoritas Yahudi yang merayakan Hanukkah, atau kaum kulit hitam yang merayakan Kwanzaa, atau untuk mereka yang tak merayakan natal sama sekali.

Dibandingkan dengan di Indonesia, para ulama sepakat mengingatkan umat Islam untuk tidak mengucapkan selamat Natal. Justru jaringan Islam liberal meminta umat Islam untuk menunjukkan toleransi dengan mengucapkan selamat natal.

Lucu ya, kebalik-balik. Padahal, kalau dalih mereka adalah toleransi, ya pakai ucapan “Happy Holiday” atau selamat berlibur saja supaya bisa diterima semua kalangan yang juga tidak merayakan natal seperti di United State.

Seperti yang pernah kami jelaskan, jaringan liberal di Indonesia bahkan dunia hanyalah sekelompok manusia yang tidak konsistensi. Mereka labil, karena pengetahuan yang mereka pelajari tidak berdasarkan ilmu tapi nafsu dan kebencian.

Soal kostum Santa, banyak ulama mengingatkan umat Islam jangan mau dipaksa pakai atribut natal yang dianggap sebagai atribut agama lain. Sedangkan kaum liberal meminta umat Islam untuk paham bahwa kostum natal itu bukan atribut agama tapi budaya eropa barat, jadi nggak apa-apa pakai atribut budaya barat, bukan budaya agama lain.

Kalau memang cuma budaya barat, kenapa harus begitu keras dipertahankan? Kenapa kok ngga diganti blankon saja misalnya, kan lebih bernilai budaya Indonesia, lebih nusantara?

Giliran Islam, katanya harus Islam Nusantara, jangan ke arab-araban. Kalau Kristen, kenapa dibiarkan kebarat-baratan, sekalipun asalnya sama-sama dari Arab? Kenapa nggak dituntut harus Kristen Nusantara juga?

Referensi

  • http://l7world.com/2013/12/black-santa-sets-record-straight-snl.html
  • Couch, Aaron. http://www.hollywoodreporter.com/live-feed/snl-recap-john-goodman-episode-665784
  • http://www.newsiosity.com/articles/society/dont-wish-texas-official-happy-holidays
  • http://www.westernjournalism.com/texas-official-has-brutal-message-for-everyone-saying-happy-holidays-immediately-sparks-controversy/

Sumber: Caroline Kalempouw. https://www.facebook.com/ckalempouw/posts/10154085757331406

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here