Kemampuan Literasi Menunjang Kecerdasan Emosional dan Sosial

Sampai kapanpun, kemampuan literasi akan selalu dibuntuhkan untuk menunjang kecerdasan emosional dan sosial manusia, terlebih di era digital saat ini.

Dirancang membawa kemudahan berkomuniasi, Sosial media malah melahirkan konflik dan permusuhan antar manusia yang lebih luas.

Dulu, orang ribut paling jauh sama kampung sebelah. Sekarang, satu negara bisa jadi musuh. Belum termasuk kasus bullying, ghibah, pamer, dan sombong.

Musibah ini akibat meluasnya jangkauan komunitas, tapi tidak dibarengi dengan tumbuhnya rasa saling memahami yang dalam hal ini perlu kemampuan literasi. Allah berfirman:

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير

Hai sekalian manusia, sungguh Kami ciptakan kamu dari seorang pria dan wanita lalu menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Ketahuilah manusia yang paling mulia di hadapan Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (al-Hujurat: 13)

Contoh saja kata “aing” pada masyarakat Sunda sering disalahpahami menjadi kata “anjing”. Bagi orang Solo yang tak mengerti, orang Papua dan Batak itu kasar cara bicaranya.

Sebaliknya kalau udah jadi teman, kita bakal sadar bahwa hal semacam itu bukanlah masalah. Bahkan tak jarang kita punya interpretasi baik atas ucapan sahabat yang dianggap orang lain adalah buruk.

Umar bin Khattab pernah membakar pintu rumah gubernur Kuffah karena menutup pintu disiang hari. Bayangkan itu terjadi pada kita, “Woi ngapain! Kurang ajar loh” bag-big-bug adu jotos.

Tapi tidak demikian dengan para sahabat mulia itu. Mereka saling paham, gubernur tidak boleh menutup pintu karena rakyat berhak meminta bantuan.

Umar pernah kesel sama Abu Ubaidah bin Jarrah, karena menyarankan pake baju bagus saat penyerahan kunci Baitul Maqdis, “kita ini mulia karena Islam…” Maksudnya bukan karena pakaian.

Untungnya Umar kenal betul sifat zuhud Abu Ubaidah, “Kalau bukan engkau yang mengatakan…” Bisa dibayangkan, itu orang pasti udah dipukul dan dipecat gara-gara salah omong.

Tapi kan gak seindah itu kejadiannya jika dihadapkan ke orang banyak di media sosial yang pasti beda suku, budaya, agama, dsb; Ada diksi yang harus dipilih, kata yang disaring, dan pembaca yang harus cerdas memahami.

Lihat saja keadaan hukum di Indonesia beberapa tahun terakhir. Tak terhitung laporan yang diajukan atas pelanggaran UU ITE.

Undang-undang tersebut awalnya untuk mencegah penipuan dalam transaksi online. Eh, kok penerapannya dipake buat kasus remeh, seperti pencemaran nama baik pribadi.

Kasihan pak polisi dan hakim, jadi harus repot ngurusin perkara yang sebenarnya bisa diselesaikan secara damai. Gimana kabar kasus yang lebih gede.

Apakah tak ada lagi rasa cinta dan memaafkan antara kita?

Belum lagi kasus dikit-dikit radikal, ekstrim dan intoleran. Mau jadi apa negeri kita tercinta?

Baca juga: Bagaimana Penegakan Hukum di Zaman Umar

Tentu kita gak mau negara ini makin ruwet karena saling ribut, lalu NKRI ini hancur (فتفشلوا وتذهب ريحكم).

Maka cara terbaiknya adalah meningkatkan rentang emosi masyarakat. Biar gak sumbu pendek, dengan meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi masyarakat sebagaimana kasus sahabat Nabi di atas.

Jangan dikit baca, lantas dikit-dikit emosi.

A. Literasi Memahami Kalimat

Berikut ini hadits nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Teman yang baik dan yang buruk ibarat penjual parfum dan pandai besi. Dari penjual parfum, kamu bisa kecipratan wangi, atau bisa juga beli, setidaknya menghirup semerbak harum kasturi. Sedangkan pandai besi, percikan apinya bisa mengenai pakaianmu. Minimal, bau asap tak sedap menyumbat hidungmu.” (al-Bukhari dan Muslim)

Riwayat hadits di atas jika dibaca oleh orang tak punya kemampuan literasi yang baik, meskipun cerdas, dia akan komentar :

“Kok jahat banget sih sama pandai besi. Apa salahnya coba, sampe kita nggak boleh berteman sama pandai besi? Berteman sama dia, dosa gitu? Kok nabi ucapannya julid banget!”

Perhatikan komentar tsb. Di jaman yang katanya modern ini, twitt serupa bisa masuk akal sekali bukan? Kemudian masuk headline news, “Pandai besi dijadikan korban bullying di hadits”.

Terbayang kegaduhan yang muncul setelahnya.

Inilah alasan paling penting kenapa kemampuan literasi masyarakat kita perlu ditingkatkan.

  1. Hadits di atas sama sekali tidak sedang menyebut siapa yang jahat, siapa yang baik secara langsung. Itu cuma kiasan. perumpamaan.
  2. Gaya bahasa hadits itu sederhana. Kamu berteman dengan penjual parfum, bakal ikut wangi. Main di kedai duren, ikut nyium duren. Kamu nongkrong di workshop blacksmith, siap-siap kena percik api, atau ketempelan debu besi. Maklum aja, kerjaannya begitu.
  3. Ini namanya balaghah. Simpel tapi ngena. Sama sekali tidak ada yang sedang menistakan pandai besi. Malah, pandai besi yang paham, akan tertawa setuju.

B. Literasi Paham dan Istilah

Di dunia ini banyak kata yang mudah dipahami. Tapi saat berubah jadi istilah tertentu, kadang bikin profesor jedotin kepala. Contohnya:

  • Islam = Ok saya paham
  • Nusantara = saya paham
  • Islam Nusantara apa maksudnya? Coba tebak yang benar:
    • a. Islam yang di nusantara
    • b. Islam masyarakat nusantara
    • c. Islam sebagai agama ekslusif dari sumber aslinya karena naturalisasi budaya nusantara

Kata “luas” itu punya makna luas, seluas namanya. Tapi kalau disandingkan dengan kata lain, misal “luas Jakarta”, maka kata itu menjadi terbatas.

Contoh lain lagi diantaranya istilah “Islam Liberal”.

1. Islam Liberal

Untuk pengertian apa itu Islam, rasanya sudah sangat jelas sekali di kelas pelajaran agama. Islam itu sendiri adalah aqidah. Aqidah artinya ikatan. Kita mengikat diri pada ketentuan dan hukum Allah.

Adapun istilah liberal, dari sejarahnya sudah sangat kentara apa dan bagaimana. Intinya, umat Kristen merasa muak dan ingin lepas dari kungkungan raja serta gereja.

Liberal artinya bebas.

Di sinilah tampak sebuah oxymoron, pertentangan. Islam mengajak kita meningkat, sedangkan liberal minta kita nyungsep. Gak bisa lah.

Islam mengikat sementara liberal maunya bebas. Bagaimana mungkin kaki kita berjalan ke timur dan di saat bersamaan juga berjalan ke arah barat?

Ini yang kadang bikin ribut di Internet dan medsos.

Negara ini punya konsep bernegara dan beragama dengan Pancasila. NKRI gak butuh liberalisme. Justru kehadirannya hanya akan jadi orang ketiga dalam rumah tangga kita.

C. Cerdas Memaknai Kata

Kata adalah unsur bahasa terpenting yang merupakan wujud kesatuan rasa dan pikiran. Di dalamnya tersimpan konteks, konsep, adab dan tujuan.

Maka, memahaminya jadi penting. Karena tak ada karya ilmiah yang tidak tersusun oleh kata-kata, salah paham bisa berakibat pada paham yang salah.

Contoh sederhana, kata “fitnah”. Ayat al-Quran yang berbunyi “fitnah lebih jahat dari membunuh” sering dipahami sebagai dalil tentang tuduhan.

Padahal, di sini fitnah bermakna ujian. Cakupan artinya lebih luas, bisa juga bullying, persekusi, mengusir, pembunuhan karakter juga bagian dari fitnah.

Contoh lain lagi, kata “jihad”.

1. Makna Jihad Yang Benar

Sebenarnya jihad itu cuma lafal umum biasa yang berarti rajin, giat, sungguh-sungguh dan struggle.

Karenanya, orang kafir pun bisa pake kata jihad sebagaimana kata makan, minum, tidur, menikah, update status. Contoh:

  • Elon Musk berjihad mengembangkan teknologi mobil listrik tanpa sopir.
  • Bill Gates jihad mempertahankan hegemoni Microsoft dalam dunia komputer.

Udah sesederhana itu. Tapi kalau gak paham, kata ini dianggap stereotip dengan aksi bom bunuh diri dan terorisme.

Wah kan berabe! Kayak balik lagi zaman penjajahan, ngomong “merdeka” aja masuk penjara. Masa’ ngajarin jihad dibilang radikal ekstrimis, pantes aja orang kesel. Mengertilah!

Omong-omong kata “radikal” ini juga banyak orang paham salah.

D. Penutup

Hari ini, kemampuan literasi ini penting banget. Ayo, kita sama-sama berlatih.

Gimana caranya?

Sering-seringlah baca buku, ikut kajian. Terus kalau udah punya bekel ilmu yang lumayan, kita bakalan pengen menuangkan karya tulis.

Belajarlah bikin kalimat-kalimat keren; Mulailah dari tulisan orang lain yang dirasa lebih berilmu.

Di sana kita coba mengolah kata dan memahami kata, kira-kira dipahami orang atau belum.

Jangan sombong, dan kedepankan husnudzon.

Ini dasar sekali, tapi in sya Allah bermanfaat. Mulai dari membaca dan memahami teks.

Share your love

Leave a Reply

Blog Openulis

Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.