Stop Bullying! Membangung Mental Murid yang Bodoh

Seorang guru pengabdian yang baru dimutasi ditunjuk mengisi pelajaran di setengah akhir semester karena pengajar sebelumnya berhalangan.

Seperti biasa, beliau memulai kelas dengan pertanyaan seputar apa saja yang telah dipelajari, kemudian beliau melontarkan soal materi pekan lalu.

Metode lebih penting dari pelajaran… Jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri.

KH. Abdullah Syukri Zarkasyi

Sepontan, ia menunjuk seorang murid laki-laki yang duduk dihadapannya. Sontak satu kelas menjadi riuh dengan tawa murid lain.

“Ada apa?” Beliau heran. Tertawa pasti ada sebabnya.

Karena anak tersebut satu-satunya yang tidak tertawa, sang guru yakin kuncinya pada murid itu.

Setelah diselidiki, ternyata anak itu dikenal paling bodoh di kelas.

Sebagai guru, beliau tidak ingin gejala meremehkan orang ini mengakar pada murid-murid, tercela dan berdampak buruk. Tidak hanya bagi pelaku, namun juga terhadap mental korban.

Usai jam sekolah, beliau memanggil murid yang dianggap bodoh itu setelah teman-teman nya pulang.

Sambil memberikan secarik kertas, beliau berpesan, “Hafalkan bait-bait syair bahasa Arab di kertas ini. Harus hafal beneran dan jangan sampai siapapun tahu soal ini.”.

Murid itu pun mengangguk patuh mendengar perintah dan arahan sang guru.

Satu pekan belalu, sang guru menyampaikan materi baru di kelas, beliau menulis syair yang jadi bagian pelajarannya di papan tulis.

Beliau membacakan berulang-ulang dan menerangkannya.

“Baiklah anak-anak, sekarang siapa yang sudah hafal syair ini?” tanyanya sambil perlahan menghapus untaian syair tersebut.

Tak seorang muridpun sanggup mengangkat tangan, kecuali murid yang dikenal bodoh oleh rekan-rekannya.

Meski terlihat malu-malu, ia berdiri dan melantunkan syair itu dengan lancar.

Perlahan terlihat rekan-rekannya terbelalak terkejut seolah katak diterkam ular, melihat ‘si bodoh’ mampu melafalkan syair yang barusan dihapus.

Maka guru itu memuji dan mendoakan kebaikan untuk sang murid, seraya mengajak hadirin di kelas untuk bertepuk tangan sebagai apresiasi.

Pekan demi pekan berlalu, demikian selalu diulang trik tersebut oleh sang guru. Hingga cemooh dan ejekan temannya seolah tak pernah terjadi pada murid laki-laki tersebut.

‘Si bodoh; bertransformasi menjadi si pandai. Meski makan waktu, namun dengan izin Allah perubahan besar pada jiwa si murid tampak nyata.

Ia mulai yakin dan percaya diri bahwa sejatinya tak ada orang bodoh, tak terkecuali termasuk dirinya.

Perubahan tersebut mendorongnya untuk selalu semangat dan bersungguh-sungguh dalam semua mata pelajaran.

Meski tak sempurna, setidaknya sang murid tidak terpuruk dan direndahkan. Ada hal-hal yang bisa diandalkan serta dibanggakan pada dirinya.

Terima kasih para guru. Kalian adalah pondasi peradaban negeri ini. Tak seorang pun besar di peradaban tanpa guru.

Demikianlah pendidikan.

Kita yang sukses bukan semata diri ini yang hebat, tapi karena banyak support yang kita dapat.

Sejatinya tidak ada yang tidak sukses selama di jalan kebenaran dan kebaikan.

Adapun yang belum menemukan dirinya sendiri, galilah terus, yakinlah pasti ada emas, permata atau harta berharga di dalamnya.

Dengan ini, saya mengajak para orang tua dan anak-anak untuk menjauhi tindak perundungan, bullying.

Ketahuilah setiap anak punya takdir, bakat dan masa depan. Jangan kau patahkan harapan itu dengan cacian menjatuhkan mental.

Berikan kabar gembira pada anak bahwa mereka punya bakat.

يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم … ولا تلمزوا أنفسكم ولا تنابزوا بالألقاب بئس الاسم الفسوق بعد الإيمان ومن لم يتب فأولئك هم الظالمون

Hai orang-orang beriman janganlah kalian memperolok yang lain. Bisa jadi yang diolok-olok lebih baik dari mereka. … Dan janganlah kalian mencela dirimu sendiri serta janganlah kalian saling memanggil dengan gelar yang buruk. (al-Hujurat: 11)

Baca juga: Melatih Emosi Dengan Literasi dan Membaca

Share your love

Leave a Reply

Blog Openulis

Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.