SHARE

Bagi teman-teman yang biasa ikut lomba menulis, pasti sudah tidak aneh lagi ketika penerbit atau penyelenggara lomba dengan syarat naskah tidak boleh tebal melebihi sekian halaman.

Padahal “Karya, karya kita. Terserah mau berapa halaman.” Sambil bingung-bingung sendiri. Kalau naskah kependekan, bagaimana memperpanjangnya. Kalau naskah kepanjangan, gimana juga memadatkannya.

Masalah ini tidak terjadi kepada penulis pemula saja, penulis terkenal seperti Bang Darwis Tere Liye pun pernah membuat voting mengenai jumlah halamanuntuk novelnya yang akan segera naik mesin cetak.

Perlu diketahui, penerbitan buku merupakan bagian dari industri, sehingga jelas harus memperhitungkan untung rugi yang akan diraih. Karenanya, tidak ada penerbit yang berharap buku yang mereka cetak tidak laku.

Menerbitkan buku erat kaitannya dengan sejumlah pelaku publishing yang harus dibayar; penulis, ilustrator, kru yang bekerja untuk penerbit itu sendiri, distributor, percetakan, dan tentu saja ongkos produksinya. Mereka juga harus beli tinta dan kertas, tagihan listrik untuk komputer dan mesin cetak.

Makanya, penerbit harus memperhitungkan agar bisa balik modal. Sambil berharap bisa best seller dan menghasilkan keuntungan melimpah. Karena itu, penerbit membuat kebijakan agar produksi mereka benar-benar bisa diserap oleh pasar. Caranya, dengan menyeleksi ketat naskah-naskah yang masuk.

Sebuah naskah akan berkaitan dengan buku yang dicetak sekaligus berimbas pada ongkos produksi. Semakin tebal bukunya, ongkos produksi semakin tinggi, dan harga jual buku akhirnya akan jatuh lebih mahal.

Coba lihat, mana ada sebuah buku tebal dihargai murah? Tentu Anda pernah ke perpustakaan, lihat buku tebal berjilid-jilid; mu’jam, ensiklopedia, kamus, berapa banyak orang yang akan membeli. Lagi pula, buku seperti ini sulit dibawa jalan-jalan.

Karenanya, penerbit menerapkan pembatasan halaman agar ongkos produksi bisa ditekan dan harga jual buku pun masih berada pada kisaran harga yang ‘aman’ dan terjangkau oleh calon pembeli. Apalagi tidak semua penikmat buku memiliki budget besar untuk sebuah buku.

Sekarang ini rata-rata penerbit mensyaratkan panjang sebuah naskah novel berkisar antara 150 – 200 halaman A4, dengan spasi 1,5. Setelah menjadi buku hasil cetak, jumlah halaman sebanyak itu biasanya akan menjadi 200an – 300-an halaman (tergantung dimensi [ukuran buku], font, dan kerapatan yang digunakan).

Lantas, pertanyaan susulan pun kemudian merujuk pada sejumlah penulis lokal yang ternyata bisa menerbitkan novel-novel tebal karyanya. Sebut saja Andrea Hirata, Kang Abik, Tasaro GK, Dee Lestari, dan beberapa nama lain. Mengapa mereka bisa menerbitkan novel setebal itu? Dipastikan kalau naskah mentahnya akan melebih dari kuota maksimal 200 halaman.

Melihat nama-nama tersebut, siapa sih yang menyangsikan tulisan mereka? Karya-karya mereka selalu ditunggu penggemar yang jumlahnya sudah sangat banyak. Buku setebal apa pun, dan harga berapa pun, ribuan penggemarnya sudah menunggu dengan antusias.

Nama mereka seolah sudah menjadi warranty kelarisan karya mereka. Tidak heran kalau penerbit tidak ragu lagi untuk menyediakan ongkos produksi dalam menerbitkan buku mereka. Bahkan anggaran promo yang besar pun disiapkan untuk menciptakan gaung bukunya. Label best seller sepertinya sudah ada di depan mata dan hanya tinggal menunggu waktu saja.

Bagaimanapun, nama penulis ikut mempengaruhi penjualan sebuah buku. Kehati-hatian sepertinya diterapkan oleh Penerbit saat menerbitkan karya penulis pemula, dengan perhitungan pangsa pasar yang belum jelas (belum memiliki penggemar tersendiri). Seandainya buku mereka tidak laku, kerugian ongkos produksi tidak setinggi buku yang dicetak tipis.

Kenapa di luar negeri bisa? Buktinya Joanne Kathleen atau yang dikenal dengan J.K Rowling bisa menerbitkan Novel Harry Potter. Kang Iwok Abqary alias Ridwan Abqary seorang penulis terkenal buku Tiga Hati mengejar Cinta dan 99 Kisah Menakjubkan Dalam Alquran, mengatakan:

… setahu saya nih, penulis di luar negeri sudah memiliki agen naskah tersendiri. Sebelum dikirimkan ke penerbit, si agen sudah mengacak-acak naskahnya sedemikian rupa, sehingga kelayakan naskahnya bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan tidak sekali dua kali si agen meminta revisi pada penulisnya, bisa berlangsung beberapa kali sampai naskahnya benar-benar siap jual. Lagi pula, tahu kan kalau naskah Harry Potter ini sudah ditolak puluhan kali sebelum akhirnya diterbitkan dan menjadi mega hits di seluruh dunia?

Untuk teman-teman pemula, jangan berkecil hati karena tidak bisa menerbitkan naskah tebalnya. Coba saja dulu, ajukan karya pribadi yang menurut anda unik, keren, dan sangat menarik. Pasti dengan senang hati, penerbit akan langsung setuju.

Meski masih penulis baru, tapi banyak cara untuk menyiasatinya. Untuk mendongkrak buku dan juga penulisnya, siapa tahu malah akan diagendakan jadwal road promo sebagai branding. Kesempatan akan selalu terbuka bagi orang bertawakal.

Tidak ada salahnya mengikuti aturan main penerbit. Tapi, kalau kamu memang punya alur naskah yang sangat panjang, kenapa tidak dipecah saja menjadi beberapa bagian seperti trilogi.


Note: Tulisan ini adalah hasil adaptasi dari blog Kang Abaqary.

Jangan ketinggalan:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here