Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Menurut al-Quran

Pernah denger kisah nabi Ibrahim mencari Tuhan? Ceritanya, nabi yang dibakar oleh raja Namrud – namun tidak mempan – itu sempat nyembah bintang, bulan & matahari.

Nabi yang mendapat gelar Khalilullah1 tersebut silih berganti memilih Tuhan yang sesuai akal kecerdasannya.

Awalnya “Ini bintang Tuhanku”, tapi lenyap dimakan siang, “Masa’ Tuhan hilang!” Kemudian ganti bulan, secara logika bulan lebih indah terang di kegelapan.

Lalu, esok harinya dia sadar ada yang lebih besar lagi dari yang semalam, yakni matahari. Tapi kok tuhan yang ini cuma hidup sampe sore.

Benda langit yang tadinya dikira hebat, bisa melayang tinggi dan bersinar, gak selamanya ada, ternyata bisa kalah oleh waktu.

Akhirnya beliau nyerah, “capek deh, Tuhan kok ngadat. Pasrah, pokoknya aku nyembah siapa pun yang telah ciptakan langit dan bumi.”

Kurleb, begitu kisah nabi Ibrahim mencari Tuhan yang banyak dinarasikan kepada masyarakat kita, sadar atau tidak.

Bermodal terjemah surat al-An’aam : 76-79. Apalagi yang lagi dibahas seputar doa iftitah “Inni wajjahtu wajhiya …”. Pas banget.

Padahal faktanya tidak demikian.

Loh, itu kan ada dalil ayatnya! Mau ingkar?

Ayatnya bener, kita yang salah baca dan memahami. Lanjut aja biar jelas buktinya.

A. Debat Ayahnya Nabi Ibrahim

Mari kita mundur beberapa langkah sebelumnya ada ayat dialog ayahnya nabi ibrahim bernama Azar, kalau pake tajwid “A” pertama dibaca panjang jadi “Aazar”.

Kalau gak salah, ini juga keistimewaan nabi Ibrahim, nama dan sosok ayahnya disebut dalam al-Quran.

Semua nabi, kecuali yang bapaknya juga nabi, sosoknya gak pernah disebut. Nabi Ibrahim, jelas bapak nabi Ismail. Nabi Yaqub ayah nabi Yusuf.

Bahkan Abdullah ayahnya nabi Muhammad pun gak disebut.

Meski demikian, sebagian ulama masih beda pendapat, antara Azar ini ayah kandung atau derajatnya cuma paman yang membesarkan, atau cuma julukan.2

وإذ قال إبراهيم لأبيه آزر أتتخذ أصناما آلهة إني أراك وقومك في ضلال مبين

Ingatlah saat Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar: “Apa pantes berhala-berhala kamu jadikan Tuhan? Sungguh aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. (al-An’aam : 74)

Di sini Khalilullah kita udah mempertanykan soal konsep berhala yang dijadikan tuhan. Ayahnya nabi Ibrahim ini produsen patung. Patung dibuat terus disembah, kan konyol.

Dalam bahasa Arab, kata “أصنام” berarti berhala, lebih luas dari sekedar patung. Bisa juga batu, pohon, gunung, hewan, api, termasuk benda langit objek astronomi.

Ayat selanjutnya berbunyi,

وكذلك نري إبراهيم ملكوت السماوات والأرض وليكون من الموقنين

Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan-kerajaan langit dan bumi, agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. (al-An’am: 75)

Di sini Ayah nabi Ishak ini sudah diperlihatkan kemegahan luasnya langit & bumi. Semuanya milik Allah. Hikmahnya adalah nabi Ibrahim alaihissalam menjadi orang yang yakin.

Kata “yakin” artinya benar-benar percaya, gak bisa digoyahkan sedikitpun.

Jelas di sana ada kata “YAKIN” malah pake Qof, “Yaqin”.

Baru lah ayat 76 berkisah tentang ‘pencarian Tuhan’.

Maka, dari urutan saja sudah jelas sebenarnya nabi Ibrahim tidak mencari Tuhan. Allah sudah tegaskan Ibrahim yang masih muda itu telah benar-benar beriman.

Lah terus, itu ngapa ngakuin “Ini Tuhanku”?

B. Latar Kota Kelahiran Nabi Ibrahim

Menurut sejarah, nabi ibrahim dilahirkan di kota Ur di Mesopotamia yang dipenuhi penyembah bintang.

Saat itu bintang sudah jadi alat navigasi, pengukur jarak, waktu dan tidak lupa media meramal.

Fenomena ini jamak terjadi pada kaum pagan. Sekali Tuhannya berbilang lebih dari 1, kemungkinan dia juga nyembah yang lain.

Sejatinya yang dilakukan pemuda bernama Ibrahim itu hanya mengajak warga berpikir.

فلما جن عليه الليل رأى كوكبا قال هذا ربي فلما أفل قال لا أحب الآفلين

Ketika malam tiba, dia melihat sebuah bintang dan berkata, “Ini Tuhanku”. Tapi kala bintang itu tenggelam dia berkata, “Aku tidak suka yang tenggelam”. (al-An’aam : 76)

Perhatikan, saat ‘menuhankan’ bintang sebenarnya pria yang kelak dijuluki Abul Anbiya3 ini sedang menarik perhatian masyarakatnya.

Dengan begitu orang Ur akan lebih mudah diajak dialog, karena mental blocking-nya sudah tersingkap, “sekarang Baim sama kayak kita”.

Gak sampe 1 hari, paginya beliau langsung mematahkan paham sesat kaum tersebut, “Loh kok Tuhan begitu, gak beres. Kalau Tuhan hilang, dunia bisa kacau.”

Jadi, sebenarnya nabi Ibrahim gak munafik, beliau juga gak nyembah bintang. Ini cuma retorika.

Menyambut malam, tambah lagi dosis akal sehatnya.

فلما رأى القمر بازغا قال هذا ربي فلما أفل قال لئن لم يهدني ربي لأكونن من القوم الضالين

Lalu ketika melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku”. Tapi setelah bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh jika Tuhanku tidak memberi petunjuk padaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. (al-An’aam : 77)

Bulan pun bernasib sama, ‘diakuin tuhan’ tapi sambil nyindir pake kalimat, “Jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk, pasti aku jadi orang sesat.”

Maksudnya, “Jika Tuhanku tidak memberi petunjuk padaku, pasti aku sudah seperti kalian, ‘SESAT'”.

Tapi Abul Anbiya ini orangnya santun, sopan. Perkataan halusnya hanya untuk memancing akal orang. Bukan menghina.

Pagi harinya, beliau tampil dengan statement baru,

فلما رأى الشمس بازغة قال هذا ربي هذا أكبر فلما أفلت قال يا قوم إني بريء مما تشركون

Kemudian saat melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar”. Namun ketika matahari itu terbenam, dia berkata, “Hai kaumku, sungguh aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (al-An’aam : 78)

Secara tidak langsung beliau berkata,

“Kalau kalian nyembah bintang, harusnya kalian sembah matahari juga dong. Inikan lebih terang dan lebih besar. Saya gak mau ikut-ikutan nyembah yang begituan. Payah, tuhan tenggelam.”

Jadi, jelas ini bukan nabi Ibrahim pernah sesat, mencari keberadaan Tuhan. Tapi, karena kaumnya gak beriman, cara satu-satunya merangkul adalah dengan logika yang telah Allah ciptakan.

Inilah proklamasi keimanan sang Rasul yang hidup sezaman dengan nabi Luth. Beliau tidak mau menyekutukan Allah.

إني وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفا وما أنا من المشركين

Sungguh-sungguh aku menghadapkan diri kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan awal, secara lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. (al-An’aa : 79)

Sekali lagi Ibrahim alaihissalam mengajarkan rumus logika, Tuhan kita adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta, semuanya terhubung, maka sembahlah Yang Maha Menciptakan, bukan benda yang diciptakan.

ُEpisode ini berlanjut dengan debat kaumnya yang tidak juga mau beriman. Nabi Ibrahim kokoh menjelaskan semuanya secara logis, supaya mereka merenungi.

Intinya, kalau gak beriman juga, ketahuilah bahwa yang mereka sembah hanyalah benda yang tidak bisa berbuat sesuatu. Bersambung…

C. Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala

Kita lanjut pembahasan, bukan cerita nabi yang mencari Tuhan. Karena itu sudah selesai.

Tapi subjudul ini akan mendukung bahwa nabi Ibrahim tidak pernah berbuat syirik, dan bagaimana akal itu berperan.

Sebagai rasul Allah, nabi Ibrahim senantiasa berdakwah. Meski sudah dijelaskan dengan logika akal, ternyata kaumnya masih menolak.

Kalah logis, mereka pake hujjah budaya, “dari dulu bapak dan kakek kita udah begini kok, kamu mau nyalahin leluhur kita!”

Akhirnya, saat gak ada orang, beliau hancurkan itu semua patung kecuali satu yang paling besar.

Giliran orang lagi pada mau nyembah berhala, mereka kaget, udah ambyar berantakan, “pasti orang radikal yang ngerjain tuhan-tuhan kita sampe begini.”

“Oh, pasti itu bocah yang ngelakuin, Ibrahim namanya.” Kata beberapa orang.

Ketua mereka geram, “bawa dia kemarih biar orang pada lihat.”

Maka disidanglah Ibrahim muda kala itu. Al-Quran menyebutnya “fata”. Kira-kira ukuran anak belasan tahun.

“Kamu kan yang bikin tuhan-tuhan kita jadi begini, Ibrahim!” Desak mereka.

Dengan cerdas beliau menjawab, “Ngak, noh kerjaan yang paling gede. Tanya aja yang udah tepar pada, kalau masih bisa ngomong.”

Jleb, nancep banget retorika ini bocah, merkea saling lihat satu sama lain, dalem hati sambil berkata, “bener juga ya, kok gue tolol banget.”

Tapi itu hanya sementara, seditik mereka udah kembali ke ego-nya lagi, gak mau malu, “konyol lu ye, mana bisa patung ngomong!”

Ibrahum Alahissalam pun menutup debatnya, “Nah itu tahu, kenapa yang begituan disembah, nyembah tuh Allah.”

Orang curang, kalah argumen, gak punya data lain, nyerang pribadi lawan, “bakar Ibrahim!”

Demikian sejarah terus mengulang dirinya, sampe sekarang.

Cuplikan surat al-Anbiya ayat 51-68 ini contoh gaya presentasi seorang Khalilullah, Ibrahim.

Oh… jadi paham, memang demikian style-nya, bukan berarti beliau sesat, bodoh, sampe nganggap patung bisa ngomong.

1) Mencari Tuhan dengan Akal

Jadi teringat cerita seorang ulama yang terlambat mendatangi debat lawan seorang atheis.

Saat ditanya sebab keterlambatannya, beliau menjawab,

“Tadi aku melewati sungai, ternyata tidak ada perahu. Selalang beberapa waktu, pepohonan bergerak sendiri dan membelah menjadi lembaran papan. Seketika kayu-kayu itu membentuk sebuah perahu yang dapat aku gunakan untuk menyebrang.”

Sontak atheis itu merespon, “tidak mungkin, mana hal semacam itu.”

“Kalau begitu debat selesai. Bagaimana mungkin aku menghabiskan waktu menghadapi orang yang meyakini alam semesta tercipta dengan sendirinya.” Tegas sang ulama.

Kasusnya mirip seperti nabi Ibrahim. Memberi jawaban, kadang perlu menggunakan cara pandang lawan.

Omong-omong akal dan logika, emang apa korelasinya dengan Islam?

  • Pertama, Islam adalah agama yang menghormati akal. Di banyak ayat Allah perintahkan kita menggunakan akal.
  • Kedua, akal sehat adalah satu di antara prioritas utama yang harus dilindungi. Jangan heran, narkotika dan miras diharamkan oleh Islam.
  • Ketiga, berakal adalah poin penting dalam menentukan hukum terhadap individu.

Akal adalah pusat kelola informasi. Demikian Allah ciptakan untuk memutuskan sebuah masalah dan memilih antara benar dan salah.

Maka manusia diuji akan hal itu. Apakah memilih iman sebagai representasi kebenaran ataukah nafsu sebagai simbol keburukan?

Dalam kasus nabi Ibrahim, kaumnya diberikan infromasi yang tentunya sesuai dengan akal mereka. Terbetik kebenaran, namun ditolak.

Maka, kesimpulannya adalah penghuni kota kelahiran nabi Ibrahim tersebut memang TIDAK MAU.

Beda halnya, jika menerima. Berarti , selama ini mereka benar TIDAK TAHU.

Apa bedanya tidak tahu vs tidak mau?

Kalau tidak tahu, Allah sediakan ampunan. Kalau tidak mau, nikmati saja hukumanmu.

D. Susunan Al-Quran

Hal menarik lain yang bisa kita petik adalah dakwah nabi Ibrahim terhadap bapaknya.

Saat membaca surat al-An’aam, dialog nabi Ibrahim langsung menggunakan kata ganti orang kedua, “kamu”.

Tapi, jika merujuk pada surat Maryam : 42-45, beliau selalu menggunakan kata “abah” yang artinya “ayahku sayang”.

Menurut ilmu psikolinguistik, perbedaan ini punya arti.

Rasakan aja bedanya saat dipanggil pasangan, antara pake nama langsung dengan sebutan “sayang”. Apalagi Kitab Suci al-Quran.

Usut punya usut, ternyata kedua kisahnya punya urutan waktu berbeda.

Yang pakai “sayang” itu awal-awal dakwah. Yang pake “kamu” itu akhir-akhir dakwah di kota kelahirannya.

Nampak beliau sudah ‘gemes’ ngajak bapaknya. Harapannya, dengan mengubah bahasa, Aazar merasakan sang anak udah gak cinta, “harus berubah nih, daripada dicampakan”.

Ini hanya sedikit bukti tambahan, bahwa sebelum hari pencarian Tuhan itu, nabi Ibrahim memang sudah jadi rasul Allah.

E. Ada Apa Dengan Mencari Tuhan?

Mungkin ada yang heran dan bertanya. Emang kenapa sih kalau nabi Ibrahim diceritakan mencari Tuhan. Toh akhirnya dia menyembah Allah!

  • Pertama, menghormati sosok pribadi beliau. Kita sendiri gak suka biografi hidup kita diubah orang.
  • Kedua, nabi Ibrahim adalah teladan. Salah cerita, pasti menimbulkan salah persepsi. Nanti semua orang berdalih dengan pencarian ini.
  • Ketiga, menepis pemahaman sesat bahwa nabi Ibrahim bapak 3 agama, beliau mendapat pencerahan setelah mencari. Padahal nabi Ibrahim sendiri adalah muslim.

ما كان إبراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما وما كان من المشركين

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula Nasrani, dia adalah seorang yang lurus sebagai muslim lagi tidak pernah berbuat musyrik. (Ali Imran : 67)

F. Hikmah Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan

Meski menafikan narasi sesat tentang Abul Anbiya ini, tapi tidak dapat dipungkiri, kita mendapat hikmah dari proses konfirmasi ayat. Antaranya:

  1. Keteladanan nabi Ibrahim dalam mendakwahi bapaknya tanpa putus asa.
  2. Demi kebenaran, beliau tidak segan pada sang ayah, tidak takut pada banyak orang.
  3. Dakwah butuh proses, waktu dan kesabaran. Meski hanya untuk berkata “Ini Tuhanku”
  4. Tidak semua usaha mesti berhasil. Yang terpenting adalah ikhtiar dan tawakal.

1 Khalilullah artinya orang yang paling Allah cintai. Karena “khalil” sendiri maknanya “yang paling tulis cintanya”.

2 Tafsir al-Mawardi.

3 Abul Anbiya artinya ayah para nabi. Gelar nabi Ibrahim as. karena banyak keturunan nabi dan rasul berasal dari nasabnya. Bahkan nabi muhammad saw merupakan keturunan nabi ibrahim as dari jalur nabi Ismail.

Leave a Reply