Peluang Rasa (Cerpen)

Rio melambaikan tangan pada seorang lelaki berkulit eksotis yang baru saja memasuki café tempat mereka janjian, Evan namanya. Ia diiringi seorang gadis berkulit putih yang mengenakan baju berwarna peach senada dengan tas mini dan sendal wedgesnya.

“Van.. lama banget lo.” Rio berdiri menyambut sahabatnya dengan jabat tangan khas mereka.

“Iya, gue jemput Sesil dulu.” Ujar Evan sambil menunjuk gadis yang bersamanya. Sebelum duduk, Evan menarik sedikit kursi dan mempersilahkan Sesil duduk.

“Gue kira lo sendiri.” Ujar Rio.

“Sesil mau ikut. Dia mau kenal sama lo. Katanya penasaran.”

Rio mengangguk paham.

“Hai, aku Sesil..” kekasih Evan itu hendak mengajukan tangannya.

“Gue ke toilet dulu sebentar.” Rio langsung berdiri sebelum Sesil selesai bicara.

Sesil sedikit mengerutkan keningnya menyaksikan sikap Rio.

“Katanya dia sahabatan sama kamu dari SD, tapi kok dia benda banget ya sama kamu.” Sewot Sesil pada Evan. “Padahal biasanya, semakin lama persahabatan itu, bakal semakin mirip prilaku seseorang dengan sahabatnya, bahkan mereka bisa suka sama orang yang sama lho. Tapi kok aku ngerasa dia bertolak belakang banget sama kamu. Dia jutek, cuek.” Papar gadis yang baru di lamar Evan.

Evan melebarkan senyumnya. “Ada saatnya dia bersikap kaya aku dan aku bersikap kayak dia, kita kondisional. Kalau aku lagi keras, dia yang lembut, kalau dia lagi keras ya aku harus melunak. Itu namamya saling melengkapi.”

“Ya, mungkin dia gak selalu kaya gitu.” Sesil coba memaklumi. “Tapi kenapa dia ngasih kesan pertama begitu? Padahal aku calon isteri sahabatnya.” Sesil masih saja sewot. “Kan terkesan dia gak suka, gak menerima aku jadi isteri kamu.”

Sementara Rio menghubungi seseorang melalui handphone saat menuju toilet.

“Aku sebentar lagi samp..” Ucap seorang gadis menjawab panggilan Rio.

“Ga jadi Ra, kamu pulang aja. Nanti aku kabarin lagi.” Ucap Rio.

“Tapi Yo..”

“Pulang aja ya.. nanti kita janjian lagi.” Ucap Rio lembut.

Setelah menghela nafas Rio kembali menemui Evan dan kekasihnya.


Rio baru saja membuka pintu gerbang dengan perlahan dan tiba-tiba seorang penghuni rumah keluar. Nara, gadis pertama yang sangat ia ingin temui setelah 7 tahun meninggalkan ibu kota. Sahabatnya sejak SMP yang juga cinta pertamanya.

“Masih bete?” Tanya Rio.

“Aku heran aja, kenapa kamu tiba-tiba batalin ketemuan kita. Padahal aku tadi kaya udah exited banget kita bakal ketemuan.” Jawab Nara lesu. “Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?” curiga Nara.

“Kok kamu tau?” heran Rio. “Taraaa..” Rio mengeluarkan sebatang cokelat dari kantong jaketnya.

“Makasiiiih.” Nara menerima cokelat itu dengan mata berbinar.

Ekspresi Nara tidak berubah dari 8 tahun yang lalu saat Rio memberinya cokelat di sekolah. Saat itu Rio menatap jelas bagaimana reaksi sahabatnya sebelum Rio menyampaikan kabar yang mungkin tidak terlalu menyenangkan.

“Aku bakal lanjut kuliah di PTS Semarang Ra.” Ucap Rio sebelum bel masuk berdering.

Nara terdiam sejenak lalu mengangguk. “Pasti itu pilihan terbaik.” Ujarnya tersenyum getir. “Sebentar lagi bel Yo. Aku masuk kelas dulu.” Pamit Nara dan berbalik meninggalkan Rio.

Hari itu Rio menyesal karena merusak suasana hati Nara dan sejak saat itu dia berjanji untuk tidak memberikan kabar buruk secara langsung. Karena rasanya menyakitkan melihat raut wajah kecewa dari cinta pertamanya.


Evan termanggu di tepi jendela mendengarkan orang yang berbicara dengannya lewat handphone. Ia tidak bisa mengelak perkataan Rio.

“Ini gak akan adil buat siapapun. Baik itu lo, Nara maupun Sesil.” Tandas Rio.

“Gue cuma mau keluar dari lingkaran setan ini Yo.” Tanggap Evan dengan pelan.

“Dan lo bersiap lompat ke lingkaran setan lainnya. Lo gak takut bakal nyakitin Sesil?”

Evan terdiam mendengar pertanyaan Rio. Lelaki 27 tahun ini sedang bimbang untuk melangkah. Semua ini tidak lepas dari hubungannya dengan Nara dan Rio.

10 tahun lalu, saat mereka masih duduk di bangku sekolah dan kelas yang sama. Evan tahu betul bagaimana Rio menyukai Nara, seorang gadis sederhana yang mereka kenal sejak SMP. Sayangnya, Evan juga menyukai gadis yang sama dan dia tidak bisa berbuat banyak karena tak ingin mengkhianati sahabatnya.

Sosok Nara yang mudah bergaul dengan siapapun membuat semua orang nyaman bersamanya. Terlebih dia pendengar yang baik dan peduli dengan orang lain. Sikapnya yang tidak neko-neko membuat Rio menetapkan hatinya bahwa Nara adalah gadis impiannya. Tapi Nara kurang peka dengan perasaan orang lain yang dikhususkan untuknya.

Rio sudah pernah menyatakan perasaannya. Tapi Nara menanggapi dengan santai dan mengatakan “Pacaran itu bisa jadi penghalang dalam persahabatan.”

Berjalan bersama keduanya, Evan hanya bisa tersenyum. Bagi Evan, Nara gadis yang berbeda. Hampir semua siswi di sekolah berharap menjadi pacar Rio dan hanya 3% kemungkinan Rio ditolak, dan itu karena Nara tidak mau menerimanya.

“Van, kayaknya catatanku kurang lengkap. Aku pinjam catetan kamu ya?” Pinta Nara.

“Sama, aku juga kurang lengkap.” Jawab Evan. “Yang selalu lengkap catatannya kan Rio.” Tambah Evan.

Persahabatan mereka bertiga berjalan baik. Tapi bukan berati Rio tidak menyadari perasaan keduanya yang saling suka namun saling menyembunyikan. Nara memang tidak pernah mengatakan bahwa dia menyukai Evan. Tapi dari sikapnya yang lebih mengandalkan Evan membuat Rio paham bahwa Nara ingin Evan yang selalu ada bersamanya.


Handphone Rio bergetar, ada pesan masuk.

“Yo, kata Fina Kamu di JKT? Ketemuanlah mumpung aku di sini juga.” Pesan singkat dari Danish, teman satu fakultasnya di Jogjakarta.

Membaca pesannya, Rio langsung menelepon Danish saat itu juga.


Matahari baru bebarapa saat menjulang, membuat burung burung mungil nan liar berkicau riuh. Nara menghela nafas di tepi jendela menikmati udara pagi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu rumahnya. Sesaat membuka pintu, matanya membelalak terkejut melihat Evan bediri di hadapannya.

Setelah 7 tahun mereka tidak pernah saling betatap muka. Kini Evan hadir tepat di hadapannya dengan senyum manis yang tak pernah luntur.

“Kamu udah mandi?” tanya Evan.

Nara mengangguk.

“Hari ini kamu ada acara?” tanya evan lagi.

Kali ini Nara menggeleng.

“Bagus, kalau begitu kita jalan. Kamu siap-siap, aku tunggu sekarang sambil pesan taksi.” Pinta Evan.

Nara berbalik gugup masih berpikir bahwa ini mimpi. Evan, sahabatnya yang tujuh tahun lalu menghindarinya kini muncul dengan penuh senyum bahkan mengajaknya pergi.

“Ini pasti mimpi.” Ujar Nara sambil membuka lemari dan memilih baju yang akan ia kenakan. “Kalau ini mimpi, aku akan menjalaninya tanpa merubah apapun.” Ikrar Nara.

Nara muncul lagi dengan penampilan kasual menyelaraskan penampilan Evan. Lelaki di hadapannya melebarkan senyumnya meyaksikan gadis yang disukainya tidak jauh berubah, masih sederhana. Taksi pesanan datang dan membunyikan klakson.

“Yuk,” Ajak Evan.

Nara tak bertanya mereka akan kemana meski hatinya penasaran. Ia hanya terus mengikuti Evan dan sesekali memandangi sahabatnya itu.

Evan melihat jam tangannya. “Gimana kalau kita sarapan dulu?” Tanya Evan. “Aku kangen nasi uduk Bang Juki.” Nara hanya mengangguk cepat untuk menyetujui. “Emang masih ada ya?” tanya Evan lagi. Nara hanya tersenyum

Setelah keluar taksi mereka langsung memasuki warung tenda yang khusus menjual nasi uduk. Sebelum duduk Nara memesan menunya.

“Bang, pesan dua. Yang satu biasa, satunya lagi pake semur lengkap tahunya dua, bawang gorengnya banyakkin.”

Evan menatap terkejut pada gadis yang bersamanya. Nara berbalik menatapnya. “Kenapa? Ada yang kurang? Atau selera kamu udah ganti?”

“Aku pikir kamu lagi sariawan makanya tadi gak bersuara,” Jawab Evan. “dan aku pikir kamu udah lupa menu nasi udukku.”

Nara menanggapinya dengan senyuman. Evan merasa luluh berkali-kali dan ingin melupakan tujuannya.

Sejak mereka lulus dan Rio berangkat ke Semarang tujuh tahun lalu. Evan secara bertahap menjauhi Nara. Ia tidak langsung membalas pesan Nara dan tidak pernah menjawab panggilan telephon Nara. Ia perlahan menghilang meskipun Nara selalu menghubunginya dan ingin menemuinya. Nara tidak pernah membahas Evan sama sekali kepada Rio, meskipun Nara tahu bahwa mereka masih berhubungan dengan sangat baik.

Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan menaiki Trans Jakarta, lalu berjalan santai di taman kota.

“Hemp, ternyata banyak yang berubah ya.” Evan memperhatikan pemandangan. “Kamu juga kayaknya sedikit berubah Ra! Gak secerewet dulu.” Evan menampilkan jajaran giginya.

Nara sebenarnya ingin sekali bertanya apa yang terjadi 7 tahun lalu. Tapi ia menahan rasa penasarannya. “Aku senang melihat kamu baik-baik aja.” tanggap Nara.

“Aku juga senang dan aku harap kamu selalu baik-baik aja.” ujar Evan kemudian ia melihat jam tangannya. “Toko buku pasti udah buka. Yuk!” ajak Evan dan Nara mengikuti langkahnya.

Evan memperhatikan sekeliling toko buku yang mereka masuki. “Kayaknya gak seluas dulu ya..” ujar Evan. “Aku gak yakin toko ini selengkap dulu.” Gumamnya terdengar Nara.

“Emang kamu nyari buku apa?”

“Aku cuma mau nemenin kamu hunting buku.” Jawab Evan. Nara menatap heran. “Waktu SMA, kalau kita pergi ke Book Fair. Banyak buku yang kamu mau tapi gak dibeli karena terbatas buget. Sekarang kamu boleh beli buku apapun yang kamu mau dan aku jamin kamu gak perlu mikirin harganya.”

“Kenapa?” Heran Nara namun penuh senyum karena terkesima dengan sikap Evan.

“Ini yang mau aku lakuin dari dulu, cuma dulu aku ga punya penghasilan. Sekarang aku udah punya kartu debit.” Jawab Evan menunjukkan giginya dan menaik turunkan alisnya.

Nara makin tersipu, Evan masih bersikap manis seperti dulu. Ya, saat mereka masih di bangku SMA. Evan selalu jadi orang yang paling bijak diantara Rio dan Nara. Ia selalu bisa jadi penetral suasana jika Rio sedang tidak mood atau Nara sedang galak karena PMS bahkan Evan bisa menunjukan sikapnya yang tidak memihak siapapun tapi selalu mendahulukan kedua sahabatnya.

“Tembuuus.” Rengek Nara saat Rio menghampirinya di kelas untuk mengajak pulang.

“Iket jaket aku di pinggang kamu.” Rio begegas melepas jaketnya.

“Tapi harus tetap pake pembalut, nanti kalau makin tembus gimana?” panik Nara.

“Kan tadi pagi udah aku kasih roti Ra.” Ucap Evan yang memasuki kelas Nara

Nara seketika ingat tadi pagi perkataan Evan sambil menyerahkan paperbag kecil. “Ra, Roti. Kayaknya kamu bakal butuh.” Saat itu Nara menerima dengan tidak semangat.

Nara tesenyum lebar melihat isi paperbag itu. “Ternyata ini pembalut ya, aku pikir roti beneran. Hhe.”

“Makasih Van, Yo. Aku ke toilet dulu,” pamit Nara sambil membawa paperbag dari Evan dan mengikatkan jaket Rio di pinggangnya.

Kini Nara tersenyum geli mengingat kekonyolannya dahulu. Evan yang memperhatikannya ikut tersenyum. “Kamu kepikiran apa Ra?”

“Aku keinget dulu konyolnya aku pas SMA.” Jawab Nara setelah mengambil buku sejarah.

Evan mengangguk sambil mengambil buku yang ada di tangan Nara. “Biar aku yang bawa, kamu pilih aja buku yang kamu mau.”

“Kalau yang kamu mau apa?” Tanya Nara.

“Menghabiskan waktu hari ini bareng kamu.” Jawab Evan.

Nara tersipu dan Evan menghela nafas dengan berat. “Aku berasa lagi mimpi. Mimpi indah dan aku harap aku gak terbangun.” Gumam Nara dan Evan bisa mendengarnya.

Nara mengawasi semua Rak buku, seketika handphonenya bernada pesan masuk dari Rio

“Nara, bisa atau ga? Kabarin ya.”

Nara baru teringat kalau semalam Rio mengajak pergi sore ini. Gadis itu menepuk keningnya dengan buku yang dipeganggnya.

“Kenapa?” Evan sedikit heran.

Nara bingung, apa dia harus bialng ke Rio kalau sedang pergi bersama Evan, atau harus bilang ke Evan kalau mereka tidak bisa pergi seharian karena sore ini ia ada ajakan dari Rio.

Evan tersenyum. “Ekspresi kamu kalau lagi panik, bingung, gak berubah ya.”

Seketika Nara menyadari 1 hal, keadaan mereka sudah berubah. Nara, sudah tidak bisa mengharapkan perasaan Evan lagi.

“Yuk, ke Kasir. Terus kita lanjut makan.” Ajak Nara dengan senyum dan Evan mengikutinya.

Saat itu, saat Rio meneleponnya untuk membatalkan pertemuan. Sebenarnya Nara sudah sampai.

“Ga jadi Ra, Kamu pulang aja. nanti aku kabarin lagi.” Ucap Rio.

“Tapi Yo..”

“Pulang aja ya.. nanti kita janjian lagi.” Ucap Rio lembut sambil mematikan panggilannya.

“Aku udah sampai..”Ucap Nara, sambil melihat seorang gadis duduk bersama Evan.

Nara dan Evan makan di restoran cepat saji langganannya dulu, mereka menikmati makanan pesanan Evan.

 “Aku hampir lupa rasanya ini.” Ucap Nara sambil melahap Float di atas es capucinonya.

“Berati itu udah bukan minuman favorit kamu ya?” tebak Evan.

“Mungkin..” jawab Nara. “Kan gak semua sama seperti dulu Van. Udah banyak rasa, terus aku coba coba rasa yang baru dan aku lupa rasa yang dulu, ternyata ini pernah jadi rasa yang paling aku suka.”

“Iya, mungkin aku aja yang gak pernah coba rasa lain.”

Nara mengangguk ragu. “Oh ya, Kapan kamu nikah?

Seketika Evan terhenti menyeruput es, ia menatap gadis di hadapannya dengan gugup.

“Aku belum lama ini lihat kamu sama perempuan cantik, dan aku yakin pasti itu gadis pilhan kamu. Kayaknya dia baik banget deh, kamu benar-benar beruntung Van.” Ujar Nara seolah tanpa beban.

“Kalau bisa dengan kamu mungkin aku lebih beruntung.” Evan tersenyum teringat tujuannya. “Sebentar lagi aku nikah, itu sebabnya aku nemuin kamu. Ada yang harus aku selesaikan.” Evan terdiam agak lama dan memberanikan diri untuk berkata. “Maafin aku Ra.”

“Kenapa?”

“Karena menghindari kamu tanpa penjelasan. Karena pergi dan membuat pertanyaan besar di hati kamu. Karena gak pernah berani mengakui perasaan kita dulu.” Ucap Evan dengan tertunduk. “dan aku harap kamu bisa bahagia dengan maafin aku.”

“Gak apa Van, aku paham.” Nara mengangguk. Suasana hening sejenak sebelum Nara melanjutkan perkataanya. “Aku memahami sesuatu, Ada orang yang menghindari masa lalunya hingga akhirnya terjebak, dan ada orang yang berusaha menghadapi masa lalunya dan seharusnya orang itu mampu menerima kenyataan. Lucunya kita sama-sama terjebak masa lalu, hanya bedanya kamu membohongi diri sendiri dan aku berusaha jujur.”

Evan perlahan mengangkat pandangannya. “Aku tahu, seharusnya aku gak usah muncul lagi di hadapan kamu sekarang. Tapi aku benar-benar merasa bersalah dan harus menyelsaikan ini.”

“Hari ini kamu datang untuk mengucapkan perpisahan dan akan benar-benar pergi. Tapi tatapan kamu masih sama seperti dulu. Menatapku dengan harapan kosong. Mungkin kali ini kamu muncul dan pergi, itu akan membuatku sedikit sakit. Tapi gak apa, perasaanku pasti segera membaik. Karena aku pernah merasa lebih tersakiti dan aku sudah melewatinya. Jadi ketika bertemu rasa sakit lagi, aku bisa tersenyum menerimanya.”

Evan menatap nanar pada Nara.

“Van, kamu harus benar-benar melepas perasaan itu dan menerima kenyataan atas keputusan yang kamu pilih. Kamu yang dari dulu ga bisa jujur sama perasaan kamu sekarang sudah jauh lebih dewasa dan harus nerima resikonya. Mungkin ini yang namanya cinta tak harus memiliki. Tapi apa benar perasaan itu cinta sementara dari dulu kamu gak bisa mengakuinya?”

“Kamu membenciku?”

Nara menggeleng. “Kamu orang yang baik dan tulus, saking tulusnya kamu benar-benar takut menyakiti perasaan sahabat kamu dan memilih menyakiti perasaan kamu sendiri.”

Suasana hening.

“Kita ga bisa berasama bukan berarti kita harus membenci,” Ujar Nara. “Van, kamu masih terjebak perasaan masa lalu itu, jadinya kamu merasa bersalah dan berharap bisa menuntaskan perasaan itu kan? Kamu takut nyakitin persaan aku.”

Evan diam seolah mengiyakan perkataan Nara.

“Tapi, sejak kamu pergi tanpa pamit.” Nara melanjuktkan perkataannya. “Aku perlahan sadar, aku tetap harus menjalani hari-hariku dan mengabaikan kamu. Bukan melupakan kamu, aku akan selalu ingat kalau kamu pernah jadi bagian manis dalam masa laluku. Jadi aku bisa lebih menerima kenyataan. Kalau kamu hanya bagian dari masa laluku, bukan masa depanku.”

Evan menatap Nara, menemukan kebenaran di mata gadis itu.

“Kamu pun sama, harus menerima kenyataan kalau perasaan itu harus diselsaikan, dan aku cukup jadi potongan puzzle dalam hati kamu. Kamu masih punya potongan-potongan puzzle lainnya yang harus kamu susun dan kamu temukan dalam hidup ini.”

Evan mengangguk menerima semua ucapan Nara. “Kamu mau datang di hari pernikahanku?”

Nara menggeleng. “Aku kuatir tatapan kamu masih sama dan itu akan membuat isteri kamu bertanya ‘siapa’ aku? Dan kamu kalau kamu jawab, itu akan menimbulkan perasaan yang sama lagi.”

Evan tersenyum. “Kamu takut aku gagal move on?”

Nara mengangguk. “Tadinya aku pikir kamu udah berubah, tapi hari ini kamu masih sama. Jadi aku gak yakin kamu akan mudah move on.”

Evan melebarkan senyumnya “Kamu kok bisa seyakin itu?”

Nara hanya menaik turunkan pundaknya sambil membalas senyum.

“Oke, Sekarang kita keluar, terus melangkah ke lain arah. Kalau ada yang menoleh atau berbalik arah, artinya dia yang belum move on.” Pinta Evan memberi tantangan.

Nara tersenyum lagi, kali ini dia hanya berkata dalam hati. “Semakin kamu berusaha membuktikan, semakin kamu menunjukkan ketidak mampuan.” Kali ini Nara mengangguk.

Mereka berdiri dan berjalan keluar restoran lalu mulai melangkah berlawanan arah. Selangkah demi selangkah mereka semakin menjauh tapi di langkah ke sembilan Evan ragu dan ingin menoleh. Evan ingin tau apakah Nara menoleh atau berbalik. Tapi Evan melangkah lagi. Beberapa langkah selanjutnya Evan menoleh bahkan berbalik, namun ia tidak melihat wujud Nara.

Evan kali ini sedikit berlari mencari jejak Nara. Meng-iya-kan perkataan Nara “Tadinya aku pikir kamu udah berubah, tapi hari ini kamu masih sama. Jadi aku gak yakin kamu akan mudah move on.”

Seketika Evan menghentikan langkahnya. “Apa kamu benar-benar pergi? Apa tidak bisa kita bersama?” gumamnya sendiri. Perkataan Nara yang terekam dalam benaknya muncul. Kamu pun sama, harus menerima kenyataan kalau perasaan itu harus diselsaikan. Dan aku cukup jadi potongan puzzle dalam hati kamu. Kamu masih punya potongan-potongan puzzle lainnya yang harus kamu susun dan kamu temukan dalam hidup ini.

Evan mengangguk, “Ya, aku harus menerima kenyataan ini. Kalau perasaan masa lalu ini harus diselesaikan. Aku harus mengabaikan perasaan ini. Ya, walaupun perlahan. Aku pasti bisa untuk menganggapnya potongan puzzle, aku harus menyusun dan menemukan potongan lain untuk melengkapi hidupku.”


Nara melambaikan tangan pada Rio yang sudah menunggunya di depan restoran. Mereka saling menyapa dan memasuki restoran bersama. Di dalamnya sudah ada Fina dan Danish yang menunggu.

“Ini pasti Nara.” Tebak seorang gadis, teman Rio di kampus yang juga tinggal di Jakarta. “Aku Fina.” Sambutnya

Nara tersenyum “Hai.”

“Aku Danish. Senang banget bisa ketemu kamu langsung.” ucap pria bertubuh agak gemuk.

Nara menatap penuh heran dan melirik meminta penjelasan pada Rio namun merasa senang karena teman Rio sangat ramah, mereka bahkan bisa langsung akrab.

Saat di Jogja, Rio memang sering membahas Nara. Bahkan hampir selalu di setiap kesempatan, ia berpikir untuk menganjak Nara ke tempat-tempat menarik di Jogja. “Nara pasti suka ke sini.” Gumamnya. Jadi wajar jika ke dua temannya seolah sudah mengenal Nara.

“Dia itu, kalau bahas materi pelajaran serius banget.” Ujar Danish. “Tapi kalau bahas kamu, kaya anak kecil yang ga bisa berhenti ngoceh.” Bandingnya.

“Begitu ya..” Nara melirik ke Rio. Rio menggeleng malu.

“Kapan kita bisa jalan bareng ke Jogja?” Tanya Fina. “Banyak banget loh tempat yang mau Rio tunjukin ke kamu.”

“Oh ya? Rio malah belum ngajak aku sama sekali.” Ujar Nara.

Fina dan Danis menatap heran ke Rio. Terutama Fina, ia menyadari perasaan Rio yang sering mengalah dan lebih memilih menutupi perasaanya.


Di kamarnya, dari layar laptop Nara melihat foto-foto lama saat masih SMA, foto bersama Evan dan Rio yang lebih banyak. Menatap kenangan terasa sedikit menyekat di hatinya. Nara sebenarnya dari dulu menyadari perasaan Rio, tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya terhadap Evan. Bahkan, dulu Nara sering bertanya dalam hatinya.  Jika Rio tidak ada, apa Evan akan jujur terhadap perasaannya. Tapi setelah Rio ke Jogja, Nara menyadari bahwa tidak akan ada yang berubah.

“Seenggaknya aku bisa lebih lega.” Ujar Nara pada diri sendiri. “Evan udah punya pilihan hati. Jadi aku tahu untuk benar-benar tidak berharap lagi.” Lepasnya sambil menutup laptop.

Nara berusaha sebaik mungkin untuk menghargai perasaan Rio. Namun untuk menerima Rio di hatinya, Nara membutuhkan waktu agar yakin. Bahwa perasaannya untuk Rio harus benar-benar dengan rasa tulus, bukan sebagai pelarian.

***

Danish menyesap kopi hitam sambil menemani Rio yang tengah melamun. Setelah melihat jam dinding, Danish berdehem memberi kode bahwa mereka sudah cukup lama duduk di café tanpa perbincangan.

Rio melirik Danish namun masih enggan membuka suara.

“Kopiku ini hampir habis lho.” Danish membuka suara. “Udah hampir satu jam kita di sini tapi kamu belum bahas apa-apa.”

Rio hanya mengusap seluruh kepalanya dengan satu sapuan tangan.

“Yo.. kamu tuh masih mau sabar nunggu Nara? Atau gimana?” Tanya Danis. “Kamu yang uring-uringan aku yang ikut pusing.”

“Aku tuh mikir peluang untuk diterima Nara.” Jawab Rio. “Apa dia bisa mulai buka hatinya untuk aku? Atau gimana? Dan aku harus gimana?”

“Kalau kamu mau nunggu lagi, ya tunggu. Tapi kamu juga harus tahu Yo, kita gak pernah tahu gimana yang sebenarnya perasaan orang.” Lugas Danish. “prediksi peluang itu percuma dikira-kira. Kamu tahu sendiri kan rasanya nunggu, harus benar-benar sabar. Iya kalau bisa pasti, setelah kita sabar nunggu lama pasti dapat. Tapi kan gak ada yang bisa memastikan toh?”

“Ya itu, terus aku harus gimana?”

“Kalau aku jadi kamu, ya aku akan pilih yang udah pasti. Tapi kan semua tergantung kamu. Kamu bisa aja terus mendapatkan peluang, tapi apa kamu benar-benar bisa memanfaatkannya?”

Rio terdiam menatap temannya.


Suasana kamar Nara sudah hening dan gelap. Tapi matanya enggan terpejam, pikirannya masih terpaku pada satu hal. Rio, lelaki itu sudah menunggu lebih dari 10 tahun, rasanya tidak adil jika Nara meminta waktu lagi. Sudah sewajarnya Nara membuka hati dan menerima Rio.

“Toh selama ini Rio udah banyak berjuang dan berkorban buat Aku.” Ujar Nara menatap langit-langit. “Oke, besok aku akan bialng ke dia, kalau aku siap nerima dia.” Tekadnya. “Tapi kok aku agak canggung ya?” Nara menghela napas.

Seketika ponselnya berdering. Ada panggilan dari Rio.

“Ra.. aku ganggu?” tanya Rio

“Engga lah.. kenapa?”

“Emp.. Nar.. kamu baik-baik aja?”

“Iya.. aku baik-baik aja ko..”

Suasana hening. Nara menunggu Rio bersuara.

“Emp.. Ra.. menurut kamu Fina gimana orangnya?”

“So Kind, humble..”

“Kamu setuju kalau aku sama dia?”

“Kamu sama dia?” Nara agak terkejut. “Fina bukannya pacar Danish?”

“Bukan, mereka sepupu Ra..”

Dari sekian lama Rio menunggu, kini ia bisa menetapkan pilihan.

“Kalau gitu aku dukung.” Ucap Nara.

Malam itu, Nara terpejam dengan sedikit bulir air di ujung matanya.


Mungkin bukan rasa yang telat hadir

Bukan waktu yang salah bergulir

Hanya saja.. memang tak bertakdir

_Selesai_

Karya Asih Langit Biru lainnya…

Share your love
Default image
Asih Sora
Kenangan adalah makna dalam setiap kisah.
Articles: 42

Leave a Reply

Blog Openulis

Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.