SHARE

Setiap bahasa di dunia pasti terpengaruhi oleh bahasa lainnya, termasuk bahasa Indonesia, Arab dan Inggris.

Pengaruh tersebut biasanya datang dari bahasa-bangsa lain yang pernah mengunjungi wilayah tersebut. Dalam konteks bahasa Indonesia, utamanya pengaruh tersebut datang dari bangsa yang pernah menteror negeri ini, seperti Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang.

Selain dari bangsa penjajah, pengaruh juga datang dari bangsa yang pernah berdagang dan berdiplomasi dengan penduduk negeri ini, seperti Arab, Cina, Persia, dan India.

Bahasa Sansekerta juga memberikan pengaruh, karena bahasa ini dijadikan sebagai bahasa sastra dan perantara dalam penyebaran agama bersamaan datangnya Islam. Seluruh pengaruh tadi membentuk kata dan istilah serapan dalam bahasa Indonesia yang dipakai hingga saat ini.

C. Terjemah Istilah Bahasa Arab

Dalam konteks Bahasa Arab, pengaruh tersebut datang dari bangsa sekitar yang pernah melakukan interaksi dengannya, seperti Persia dan Romawi.

Dalam perkembangannya Bahasa Arab juga menyerap beberapa kata dari luar. Uniknya, selain menyerap, Bahasa Arab secara mandiri mampu menciptakan padanan untuk istilah dan konsep bahasa asing yang baru masuk.

  • Contoh: telephone
  • Konsep: Alat komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan suara.
  • Diserap: تِلِفُون (Tilfun)
  • Padanan (bukan serapan): هَاتِف (hatif)

Mengapa hatif?

Jika kita melihat ke dalam kamus atau mu’jam klasik, akan didapati maknanya adalah: Suara yang terdengar namun tidak kelihatan wujud orang yang bersuara atau asal suara tersebut.

Dengan demikian terjawab sudah mengapa kata hatif dipilih sebagai padanan, karena maknanya sama dengan konsep telepon hari ini.

Perlu digarisbawahi, makna di atas hanya dapat ditemui dalam kamus ekabahasa saja, karena itu perlunya menghindari kekeliruan dalam berlajar bahasa asing dengan mempelajari metode yang benar sebagaimana kasus ungkapan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” yang pernah kami bahas sebelumnya.

D. Model Terjemah Bahasa Arab

Ada beberapa cara yang digunakan oleh orang Arab dalam menerjemahkan atau memadankan istilah, diantaranya:

1. Terjemah Sharfiyah

Metode ini mengutamakan struktur atau bentuk. Tarjamah sharfiyah adalah terjemah berdasarkan makna leksikal kamus umum.

  • contoh: conference
  • diterjemahkan: تَشَاوُر, إِتِّحاد, تَدَاوُل, مُذَاكَرَة.

2. Terjemah Bil Ma’na

Penerjamahan ini mengutamakan makna atau pesan. Tarjamah bi al ma’na adalah penerjemahan kata dengan makna pemakaian (istilah).

  • contoh: conference
  • diterjemahkan: مُؤْتَمَر

Terkait dengan dua model terjemah di atas, muncul pandangan lain yang menyempurnakan kedua cara tersebut, yaitu terjemah konteks atau disebut Tarjamah as-Siyaq.

4. Terjemah as-Siyaq

Penerjemahan ini menyesuaikan konteks pemakaian kata dalam bidang tertentu dapat berupa terjemah sharfiyah atau terjemah bil ma’na, misalnya istilah “sang froid” diterjemahkan dengan ثبات جنان (tsabat janan) dalam bidang sastra diartikan ketenangan dalam darurat atau hati yang tabah. Sementara dalam bidang ilmiah diterjemahkan الدم البارد (ad-dam al-barid) atau berdarah dingin.

5. Terjemah as-Sawabiq wa al-Lawahiq

Adalah penerjemahan istilah asing menjadi kata majemuk dalam Bahasa Arab dengan memisahkan suku kata bagian depan dan suku kata lainnya.

Terjemah as-sawabiq wa al-lawahiq atau terjemah kompositum dipakai untuk menerjemahkan bahasa asing yang bercorak gabungan atau dalam Bahasa Arab disebut lughoh ilshaqiyah, lughoh wasliyah, atau lughah tarkibiyah yang terbentuk dari kata dasar yang disebut ‘akar’ yang memuat makna utama istilah kemudian ditambahkan unsur lain yang dipadukan dengan kata dasar tersebut sehingga menjadi sebuah kata baru.

Terjemah Bahasa Arab model ini mirip metode terjemah komunikatif milik Newmark.

Unsur bahasa yang dipadukan dengan akar, bila terdapat di depan disebut sabiq (sawabiq), sedangkan bila terdapat dibelakangnya disebut lahiq (lawahiq). Sawabiq disebut juga as-shudur dan lawahiq disebut juga kawasi’.

Misalnya kata barometre terdiri dari dasar bar artinya ‘tekanan’ dan metre yang berarti ‘satuan ukuran’. Kemudian setelah barometre ditemukan suku katanya, masing-masing diterjemahkan:

  • bar: مقياس
  • metre: ضغط

Setelah itu, tinggal dimasukkan ke dalam aturan Tata Bahasa Arab (ilmu Nahwu) mengenai Mudhof-Mudhof Ilaih, sehingga membentuk rangkaian: مقياس الضغط.

Contoh lain, kata geologi terdiri dari dasar geo artinya ‘bumi’ kemudian ada unsur lain yang dipadukan, yakni logi yang artinya ‘ilmu’. Lalu kata geologi diterjemahkan dalam Bahasa Arab علم الأرض.

6. Terjemah Mukhtasharat

Artinya penerjemahan singkat, maksudnya adalah menerjemahkan istilah yang berbentuk frasa atau klausa dalam BSU dengan sebuah kata dalam BSA.

Istilah asing diterjemahkan dengan memendekkan atau menyingkat kata padanannya dalam Bahasa Arab, contoh:

  • kata: inter-dental
  • diterjemahkan: بَيْأَسْنَانِيْ

بَيْأَسْنَانِيْ adalah kependekan dari  بَيْنَ أَسْنَانِيْ (bayna asnani)

Terjemahan unsur kompositum asing pre, pra dan inter juga dapat disingkat.

Pre dan pra diterjemahkan menjadi ‘qab’ قَبْ yang merupakan kependekan dari قَبْل. Inter diterjemahkan menjadi ‘bay’ بَيْ yang merupakan kependekan dari بَيْنَ.

Contoh terjemahan kata yang terdapat unsur terikat asing pre dan pra:

  • pradentalقَبْصَائِتِي (qobshoiti)
  • prevocalic: قَبْصَامِتِي (qobshomiti)
  • preconsonantal: قَبْخَلْقِي (qabkholqi)
  • prepalatal: قَبْغَارِي (qobghori)
  • prejunctural: قَبْفَاصِلِي (qobfashili)
  • precambrian: قَبْكَمْبِرِي (qabkambiri)

Contoh terjemahan kata yang terdapat unsur terikat asing inter:

  • intervocalic: بَيْصَائِتِي (bayshoiti)
  • interconsonantal: بَيْصَامِتِي (bayshomiti)
  • interlud: بَيْصَائِتِي (bayshoiti)

Begitu pula yang terjadi pada kata desentralisasi menjadi الا مركزية (allamarkaziyyah) berasal dari kata ‘de’ dan ‘sentralisasi’. ‘De’ diterjemahkan dengan الا (alla) kependekan dari ان لا (an laa).

E. Penutup

Terjemah Istilah menjadi masalah serius dalam penerjemahan bila tidak diperhatikan oleh seorang penerjemah, sehingga dapat dipastikan terjemahannya tidak jauh berbeda dibanding mesin-mesin penerjemah.

Padahal dengan adanya kemampuan memahami berbagai aspek dan cara menerapkan seharusnya dapat membedakan karya manusia dan mesin.

Karenanya, hal-hal seperti ini diungkapkan tak pelak menjadi pengetahuan yang wajib diketahui oleh seorang penerjemah agar hasil terjemahannya dapat menjalankan fungsinya sebagai jembatan informasi dan ilmu pengetahuan.

Sumber:

  • Al-Wustho. (2010). Al-Munawir.
  • Diana, D. (2014, 12 14). Bahasa Kompasiana. Retrieved from Kompasiana: bahasa.kompasiana.com/2013/10/21/memahami-bahasa-asing-dalam-al-quran-602503.html
  • Hadi, S. (2002, February 1). Berbagai Ketentuan Baru dalam Ta’rib. Pembahasan Seputer Perkembangan Mutkhir Dalam Bahasa Arab.
  • Khasaarah, M. M. (2008). Ilmu Al Mustolh Wa Tharaaiq Wadh’i Al Mustolh Fi Al Arabiyah. Dimasyk: Dar Al Fikri.
  • Mustaqim, M. (2014, 12 14). Blog Berita Satu. Retrieved from Berita Satu: beritasatu.com/blog/gaya-hidup/2898-vickinisasi-dan-keangkuhan-bahasa.html
  • Newmark, P. (1988). A Textbook of Translation. New York: Prantice Hall.
  • Setiawan, E. (2013). KBBI v1.5.1. Indonesia.
  • Suprayitno. Strategi Penerjemahan Kearsipan. 6-7.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here