SHARE

Sebagai pengusaha muslim layaknya kita ingat sebuah hadits yang berisi pesan bahwa kita akan diminta bertanggungjawaban atas harta; dari mana didapat dan untuk apa digunakan. Menegaskan, bahwa harta kita adalah media menuju akhirat. Rasulullah bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا وَضَعَهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ

“Tidak seorang pun manusia yang dapat beranjak dari posisinya di hari kiamat hingga ia menjawab 4 pertanyaan: umurnya dihabiskan untuk apa, fisiknya digunakan untuk apa, bagaimana ia mendapatkan harta dan ke mana dibelanjakan, serta apa yang telah ia lakukan dengan ilmunya”. (Tirmidzi & Darimi)

Di sini tampak betapa erat korelasi antara dunia dan akhirat dalam tindak-tanduk pengusaha muslim. Jangan sampai harta menyibukkan dirinya dari kewajiban agama seperti; berdzikir, shalat, zakat, haji, berbakti pada orang tua, bersilaturrahim, qonaah, tenggang rasa dll.

Tidak layak bagi pengusaha muslim melupakan akhirat karena disibukkan oleh mata pencarian, hingga usianya lenyap begitu saja dan bisnisnya pailit karena tidak tersisa baginya keuntungan dunia yang mencukupi bekalnya di akhirat, jadilah ia orang yang membeli dunia dengan akhirat.

Orang berakal seharusnya mengasihani dirinya sendiri dengan menjaga modalnya, yakni agama dan bisnis di dalamnya.

Muadz bin Jabal berwasiat, “Duniamu tak akan pergi kemana-mana, karena yang engkau butuhkan adalah akhirat. Utamakanlah akhiratmu, karena engkau akan mendapatkan dunia yang harus dikelola. Allah berfirman,

وابتغ فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا

‘Gapailah akhiratmu, dan janganlah lupakan bagianmu di dunia’” (Al-Qasas: 77)

Dengan kata lain, jangan lupakan kenikmatan dunia karena akhirat, karena dunia adalah ladang amal untuk akhirat.”1

Al-Quran sungguh memuji mereka yang mengkombinasikan antara ibadah dan menjemput rezeki, Allah berfirman,

في بيوت أذن الله أن ترفع ويذكر فيها اسمه يسبح له فيها بالغدو والآصال () رجال لا تلهيهم تجارة ولا بيع عن ذكر الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة يخافون يوما تتقلب فيه القلوب والأبصار () ليجزيهم الله أحسن ما عملوا ويزيدهم من فضله والله يرزق من يشاء بغير حساب

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, di pagi dan petang hari, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh bisnis dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada hari di mana hati dan penglihatan mereka terguncang. Itu karena mereka berharap  imbalan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (An-Nur: 36-38)

Mereka adalah pengusaha yang sibuk, tapi jika dipanggil adzan untuk menunaikan kewajiban terhadap Tuhan, mereka selalu siaga menjaga mesin uangnya. Tapi, tiidak lupa menunaikan zakat dan ingat akhirat. Maka baiklah pribadi mereka, suci harta mereka dengan keberkahan dari Allah. Allah berfirman,

فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون

“Apabila shalat telah ditunaikan, maka bekerjalah karena Allah dan perbanyaklah mengingat Allah supaya kamu beruntung.” (Al-Jumuah: 10)

Lihatlah bagaimana Qotadah mendeskripsikan para sahabat Rasulullah, “Mereka adalah pedagang, tapi jika tiba waktu menunaikan salah satu hak Allah, mereka tinggalkan bisnis itu hanya untuk menunaikan kewajiban itu.”2

Imam al-Ghazali berkata, “Sahabat Rasulullah adalah para pandai besi dan penjahit. Jika terdengar adzan saat mereka mengangkat besi atau memasukkan jarum, segera mereka shalat meninggalkan pekerjaan, sebelum jarum itu keluar dan martil menyentuh bara.”3

Mereka sangat memahami bahwa profesi adalah ibadah yang seharusnya akuntabel, —

وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ورسوله والمؤمنون وستردون إلى عالم الغيب والشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون

“Katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya beserta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui hal gaib dan yang nyata, lalu ditampakkan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (Al-Taubah: 105)

– sebagaimana mereka memahami shalat sebagai ibadah terbaik, maka tidak ada kebaikan pada pekerjaan yang melalaikan shalat, sedangkan kerugian karena ketinggalan takbiratul ihram tidak bisa digantikan oleh seisi dunia.

Bagi pemilik harta yang mau menunaikan kewajibannya, Allah akan lapangkan hatinya dan tenteramkan batinnya, serta doa dan amalnya pasti diterima. Allah pun akan mengintensifkan aktivitas orang tersebut dan mendongkrang resolusinya.

Seorang sahabat Rasulullah yang bernama Irak bin Malik, seusai melaksanakan shalat jumat, sebelum keluar ia berhenti di pintu masjid dan berdoa, “Ya Allah, telah ku respon seruan shalat-Mu tepat waktu, aku pun keluar sebagaimana perintah-Mu, maka karuniakanlah aku rezeki karena Engkau satu-satunya pemberi rezeki.”4

Bagi seorang pengusaha muslim, seharusnya pekerjaan tidak dapat melalaikannya dari mengingat Allah, menunaikan kewajibannya dan menjauhi segala yang haram. Bisnis itu terpuji, ketika prosedurnya halal, dan dianggap tercela jika keluar dari prosedural di atas. Mengenai ini al-Quran telah memberikan sebuah panduan,

وإذا رأوا تجارة أو لهوا انفضوا إليها وتركوك قائما قل ما عند الله خير من اللهو ومن التجارة والله خير الرازقين

“Ketika mereka lihat perniagaan atau permainan, mereka bubar  meninggalkan dirimu yang sedang berkhutbah dan menuju ke sana. Katakanlah, ‘profit dari Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan itu’, dan Allah adalah Pemberi rezeki terbaik.” (Al-Jumuah: 11)

Jabir berkata, “Ayat di atas diturunkan ketika kami sedang melaksanakan shalat jumat bersama Nabi. Saat itu terdengar kedatangan kafilah yang membawa suplai makanan dari negeri Syam, kemudian orang-orang berduyun-duyun menuju kafilah tersebut dan meninggalkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersama 12 orang yang tersisa.”

Terkait peristiwa di atas, Rasulullah telah menerangkan akibat buruk dan asosiasi mereka yang selalu sibuk dengan kekuasaan, jabatan, kekayaan dan bisnis hingga melupakan shalat.  Beliau berkata,  “Siapa yang menjaga shalat, ia akan mendapat cahaya dan keselamatan di hari kiamat. Sedangkan mereka yang tidak menjaganya, tidak akan mendapatkan cahaya dan keselamatan, hari itu mereka menjadi rekan Karun, Haman, Firaun dan Ubay bin Khalaf.”5

Pengusaha muslim hendaklah gemar mengingat Allah dan menjadikannya penyokong bisnis serta wasilah untuk kelancaran rezekinya.

Muhammad bin Wasi berkata, “dari Salim bin Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah berkata, ‘Siapa yang masuk pasar dengan membaca:

لا اله الا الله وحده لاشريك له له الملك وله الحمد يحي و يميت بيده الخير و هو على كل شيء قدير

Ia akan diberikan satu juta kebaikan dan proteksi dari satu juta keburukan, lalu Allah akan bangunkan satu rumah di surga untuk dirinya.’ Kemudian aku pergi menuju Khurasan untuk bertemu Qutaibah bin Muslim dan menyampaikan hadits di atas. Seketika itu ia menuju pasar, sampai di sana ia berdoa, lalu pergi.”6

Juga, al-Hasan berkatan, “Orang yang selalu mengingat Allah di pasar, kelak di hari kiamat akan memiliki cahaya seperti bulan dan pelita seperti matahari. Siapa saja yang beristighfar kepada Allah di pasar, Allah akan mengampuninya sebanyak jumlah keluarganya.”

Dahulu ketika masuk pasar, Umar bin al-Khattab selalu berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran, kefasikan dan segala keburukan yang Engkau ketahui. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sumpah palsu serta transaksi yang merugikan.”7

Selayaknya pengusaha muslim gemar mensucikan hartanya. Bukan dari sudut pandang bahwa ia memberikan orang miskin, tapi orang miskin lah yang memiliki hak atas dirinya, demi membersikan dan meningkatkan keberkahan harta tersebut. Dalam saat yang sama, agar memperkuat jiwa keberagamaan, melatih diri untuk tenggang rasa, dan menghindari sifat kikir, “pemberian terburuk adalah sifat kikir dan pengecut”.8

Juga, membantu mereka yang membutuhkan sehingga tidak adalagi rasa benci dan permusuhan karena harta tersebut tidak beredar di sekitar orang kaya saja.

Pengusaha muslim tidak boleh merasa kewajibannya finansialnya terlalu banyak, sehingga memberikan setan kesempatan untuk menggodanya melakukan perbuatan keji atau takut kemiskinan. Allah berfirman,

الشيطان يعدكم الفقر ويأمركم بالفحشاء والله يعدكم مغفرة منه وفضلا والله واسع عليم

“Setan menakut-nakutimu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia. Sungguh Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 268)

Dia Yang Maha Mulia juga berkata,

… وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه وهو خير الرازقين

“Apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dialah Pemberi rezeki yang terbaik.” (Saba’: 39)

… وما تقدموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله هو خيرا وأعظم أجرا …

“… kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh balasan terbaik dari Allah dan paling besar pahalanya. …“ (Al-Muzzammil: 20)

Pengusaha muslim juga harus menyegerakan kewajiban haji ketika mampu melaksanakannya. Karena dalam pelaksanaan manasik ada mengingat padang mahsyar di mana saat itu manusia terpisah dari harta dan keluarganya, tunduk penuh takut dan harap kepada Allah.

Sepulang dari perjalanan ibadah ini, ia tersucikan dari dosa bagaikan bayi yang baru dilahirkan, memperbarui aktivitas dan profesinya. Begitulah gambaran umum bagaimana keutamaan melaksanakan ibadah wajib dan sunah yang Allah perintahkan,

“Ibadah wajib adalah cara terbaik hamba untuk mendekati-Ku. Secara simultan ia mendekati-Ku dengan ibadah sunah hingga Aku pun mencintainya. Ketika mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya yang menggenggam dan kakinya yang berjalan. Jika ia memintaku, pasti Aku kabulkan, jika ia berlindung kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan.”9

Hendaklah pengusaha muslim memperbanyak perbuatan baik dan terpuji karena hal itu dapat menyentuh banyak hati dengan lembut, dan menimbulkan rasa cinta,

… وتعاونوا على البر والتقوى …

“… Saling menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan.” (Al-Maidah: 2)

Dalam ketakwaan ada rida Allah, sedangkan dalam perbuatan baik ada rida manusia. Siapa saja yang mampu meraih cinta Allah dan sesamanya, maka sempurnalah kebahagian dan nikmatnya.

Karenanya, pengusaha haruslah menyeimbangkan antara orientasi profesi, kerja keras dan usaha duniawi dengan ibadah. Dengan begitu hatinya akan hidup, dan usahanya sukses dengan adanya peningkatan pada amanat sesuai kemampuan yang Allah berikan.

Ringkasan Pengusaha Muslim

  1. Seimbangkan antara urusan dunia dan akhirat.
  2. Jangan sekuler atau memisahkan antara urusan agama, syariat dan bisnis.
  3. Shalat tepat waktu, zakat, dan haji adalah bukti dunia dan akhirat keseimbangan dunia-akhirat pebisnis muslim.
  4. Surat an-Nur: 36-38 dan al-Jumuah: 10 adalah dalil dianjurkannya setiap muslim untuk menjadi pengusaha.

_______

Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, vol. 2, h. 76.

2 Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, vol. 2, h. 726.

3 Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, vol. 2. H. 78

4 Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Adzim, vol. 4, h. 368.

5 Ibnu Hibban, Sahih Ibnu Hibban, vol. 43, h. 329.

6 Al-Naisaburi, al-Mustadrak ala al-Sahihaini, vol. 1, h. 721.

7 Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, vol. 2. H. 78

8 Ibnu Hibban, Sahih Ibnu Hibban, vol. 8, h. 42

9 Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, vol. 5, h. 2384.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here