Metode Pondok Pesantren Gontor Mengajar Bahasa Arab & Inggris

Share yuk:

Pesatnya minat dunia pendidikan terhadap bahasa asing, memaksa kita mencari literatur. Dalam hal ini, Pesantren Gontor layak dijadikan role model.

Jauh sebelum mengenal istilah boarding school, sekolah internasional, plus, terpadu; Ponpes Gontor sudah menerapkan ‘full day‘ (24 hours) bilingual Arabic-English.

Di sini, izinkan kami memaparkan secuil konsep edukasi 2 bahasa tersebut di Pondok Gontor.

Kami harap bisa bermanfaat untuk para guru dan dosen yang ingin mendorong kemampuan muridnya.

Atau untuk pelajar yang mau meningkatkan skill bahasanya.

A. Mazhab Kurikulum Pesantren Gontor

Lembaga tarbiyah Islam ini sudah punya kurikulum mandiri, sebelum proklamasi “bangsa Indonesia”.

Terlalu panjang jika diungkap seluruhnya di sini. Kita akan bahas dari aspek kebahasaan saja.

1. Cara Pandang

Tidak sekadar alat komunikasi. Bagi Pondok Gontor, bahasa Arab adalah media character building alias pendidikan akhlak.

Buat yang belum tahu, Arab punya karekteristik sopan, halus, tegas dan indah. Maka pantas jika Allah memilihnya sebagai bahasa pengantar al-Quran & Hadits.

Demikian pula bahasa Inggris punya porsi dan tujuan tersendiri. Menurut penulis, setidaknya bisa dipake dakwah ke masyarakat yang lebih luas.

Jadi, pendidikan bahasa Arab-Inggris bukan pemanis agar laku peminat atau dianggap keren. Namun karena ada cita-cita luhur di dalamnya.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran, sebelum lebih dalam, sebaiknya tentukan apa tujuan Anda. Ini bermanfaat.

2. Bahasa Pengantar

Dalam KBM (kegiatan belajar-mengajar), semua orang dikondiskikan sebagai native speaker. Bahasa pengantar di kelas adalah bahasa mata pelajaran.

Fiqih misalnya, ilmu ini menggunakan kitab berbahasa Arab. Maka, sepanjang pelajaran hanya boleh terdengar bahasa Arab. Demikian juga English.

Bahkan untuk pelajaran ilmu alat, seperti Grammar, Nahwu, Shorof pun dijelaskan dengan bahasa resminya.

Mau bertanya? Pake bahasa Arab-Inggris. Gak ada alasan malu, salah gak apa, ngomong aja!

3. Buku Ajar

Perlu disadari, semua bahasa -kecuali Arab- adalah murni produk budaya. Maka, unsur budaya dan konteks yang menyertainya tidak boleh dilepas begitu saja.

Contoh saja ungkapan “fitnah lebih kejam daripada membunuh“. Asli ini terjemahan kata perkata dari al-Quran. Tapi ketika digunakan di luar konteksnya, kita semua cenderung gagal paham.

Demi hal itu, Gontor tak segan ‘menciptakan’ buku sendiri. Bahasa Arab, konteks dan budayanya juga Arab. Bahasa Inggris, ceritanya seputar London tentunya.

Agak berbeda dibanding kebanyakan sekolah, buku b. Inggris, tapi pake latar Indonesia.

Ini pula salah satu sebab Ponpes Gontor tidak ikut serta dalam ujian nasional sejak berdiri.

Dulu, karena banyak tidak diterima oleh universitas di Indonesia, alumni pesantren Gontor memilih kuliah di luar negeri.

4. Direct Methode

Ada SOP penting yang tidak pernah dilupakan para ustadz di Pondok Gontor saat KBM, menambah kosakata dari mata pelajaran.

Sesaat setelah salam, ustadz menuliskan 5-10 kosakata (Arab / Inggris) baru dari materi jam tersebut pada blackboard.

Ditulis tanpa arti, kemudian beliau menjelaskan dengan direct methode :

  1. Tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Haram!
  2. Kosakata itu dijelaskan maksud atau definsinya menggunakan bahasa pada materi ajar.
    • Contoh, untuk menerangkan kata “حار” (panas), guru mengakatan pada murid, “ضد البريد” (lawan kata dingin).
  3. Jika belum sampai pada pemahaman yang tepat, ustadz boleh menggunakan media atau alat peraga.
    • Untuk menyampaikan arti “laptop” misalnya, guru bisa membuka sebuah buku dengan satu cover tegak membentuk sudut 90 derajat, lalu pura-pura mengetik.

Setelah semua mengerti, para santri menulis makna kata tersebut secara eka bahasa.

Metode ini melatih imajinasi santri dan kemampuan merangkai kata.

B. Integrasi Pendidikan

Seperti kita tahu, pendidikan di pesantren itu holistis; dalam kelas diajar, di luar kelas digembleng.

Guru di ‘sekolah’ adalah ‘ayah’ di asrama. Semua kegiatan dikondisikan sejalan demi membentuk lingkungan yang kondusif.

Semua yang kau lihat, kau dengar, dan kau rasakan adalah pendidikan.

Falsafah Ponpes Gontor

1. Go Internasional

Kulikulum Gontor
Dubes Inggris berkunjung ke Pondok Pesantren Gontor

Dengan segala keterbatasan, santri ponpes Gontor dilarang keras berbahasa Indonesia, terlebih bahasa daerah pada kondisi normal. Bukan berarti Pondok tidak NKRI, tapi memang demikian world view education.

Santri di-setting seolah berada di Saudi, Qatar, Mesir selama 2 pekan dan 2 minggu di London. Ada hukuman bagi yang melanggar.

2. Ilqo Mufrodat (Menghafal Kosakata)

Setiap ba’da Subuh dan tilawah Quran, semua santri di asrama berkumpul perkelas.

Kenapa subuh? Otak masih fresh. Ada keberkahan di saat pagi, berdasarkan hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

“Ya Allah berkahi pagi hari umatku.”

Riwayat Abu Daud

Para pengurus asrama yang notabenenya masih santri kelas 5, berdiri di depan adik-adik mereka. Dengan suara lantang menyampaikan 3 kosakata, idiom, istilah atau uslub, satu persatu.

Sama seperti di kelas, semua makna dan arti dijabarkan. Selama 30 menit, semua santri kompak mengulang-ngulang kosakata tersebut.

Setelah dirasa melekat, beberapa anggota asrama dipilih secara random untuk membuat kalimat dari istilah asing tersebut.

Kosakata yang disampaikan hari itu akan ditanya keesokan hari untuk penguatan. Karenanya, harus ditulis dalam buku khusus, dan diperiksa kelengkapannya setiap pekan.

3. Muhadatsah (Bincang Santai)

Belajar bahasa arab Darunnajah
Suasana muhadatsah di Pondok Modern Darunnajah

Khusus Selasa & Jumat, setelah Ilqo Mufrodat, ada kegiatan Muhadatsah di luar asrama sebelum joging berjamaah.

Para santri berbaris dengan berhadap-hadapan dan dipaksa untuk ngobrol bebas dengan bahasa Arab atau Inggris.

Para language motivators akan berkeliling untuk mendengar chatting mereka sambil mengawasi tata bahasa dan pronunciation yang digunakan.

Kurleb, kegiatan ini juga berdurasi 30 menit.

4. Mahkamah Bahasa

Untuk membentuk habit berbahasa resmi (Arab-Inggris), setiap santri yang kedapatan berbahasa Indonesia atau daerah dikenakan sanksi.

Selepas tilawah al-Quran ba’da magrib, santri-santri akan berkerumun pada sebuah papan di asrama mereka.

Siapa yang namanya terpampang, dipastikan mereka ditunggu di ruang sidang. Berbahagialah yang tak tercantum, karena dinner menunggunya di dapur.

Untuk mahkamah pelanggaran bahasa, wajib membawa kamus ke pengadilan.

Ada banyak sebab santri dianggap melanggar, antaranya:

  • tidak berbahasa resmi; menggunakan bahasa Arab saat pekan bahasa Inggris juga termasuk pelanggaran,
  • merusak bahasa, mempelesetkan bahasa resmi (misal. anta jadi ente), atau
  • tidak membawa kutaib (buku catatan kosakata) saat keluar kamar.

Dalam ruang sidang, para terdakwa diberikan sebuah note yang ditulis agen spy, berisi data: nama, kelas, kamar, pelanggaran, tempat dan waktu melanggar.

Hukumannya adalah menjadi spy, memata-matai dan membuat report pelanggaran 3 rekan seasrama yang harus diserahkan sebelum maghrib keesokan hari.

Siklus ini berjalan sepanjang tahun kecuali saatnya ujian semester.

Pada praktiknya, mahkamah ini cukup menimbulkan efek jera, karena selama 30 menitan harus berdiri dengan satu kaki, sambil memegang kamus, sepanjang itu juga waktu makan malam tertunda.

5. Pondok Pesantren Gontor

Demikian Ponpes Gontor membangun alam pendidikan; semua pengumuman berbahasa resmi, di setiap sudut pondok ada papan kosakata, dinding-dinding asrama mencantumkan motivasi berbahasa Arab dan Inggris.

Diluar itu, ada latihan pidato, lomba folksong, drama, lomba puisi, bahkan pramuka pun menggunakan bahasa Arab-Inggris.

Semua itu demi tujuan, agar bahasa asing mendarah daging.

Harapannya, setelah lulus para pelajar itu dapat membuka pintu-pintu ilmu dengan kunci bahasa yang telah dipersiapkan selama di pondok.

إنّ الدّنيا مدينة العلم و اللّغة بابها 

Dunia adalah kota ilmu, dan bahasa gerbangnya

Metode ini terbukti sukses mengantarkan alumni Gontor menempuh pendidikan di jenjang lebih tinggi di luar negeri.

Inilah rahasia belajar bahasa di pondok Gontor begitu mudah seperti membuka lembaran kitab kuning dan membaca huruf gundul.

Di sini kami tidak bermaksud mentazkiyah Gontor, karena lembaga lain juga tak kalah hebat. Semoga bapak-ibu Guru dan pelajar bisa menjadikan tulisan ini rujukan bermanfaat.

Share yuk:

Leave a Comment