SHARE

Secara umum, Psikologi didefinisikan sebagai bidang pengetahuan dan terapan yang mempelajari perilaku, fungsi mental, dan proses mental manusia secara ilmiah.

Melihat Islam sebagai agama yang konsen terhadap manusia secara fisik dan mental. Apalagi Psikologi sendiri berasal dari bahasa latin, “psyche” yang berarti jiwa. Tentu saja psikolog muslim khususnya, harus memahami kaitan antara jiwa, Psikologi, manusia dan Islam.

Inilah yang tidak dimiliki oleh Psikologi barat.

Allah berfirman:

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Pada jiwamu sendiri apakah kamu tidak memperhatikan? (Adz-Dzariyat: 21)

Lagi pula, Sebagai bidang yang mempelajari mental dan perilaku manusia, Psikologi sangat rentan dimasuki metode, teori dan pola pikir kaum Yahudi dan Kristen, yang tentunya tidak islami.

Hal ini terkait sabda Nabi :

  لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ

Kalian akan membebek (ikut-ikutan) budaya/adat kaum Yahudi dan Nasrani sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk ke dalam lubang kadal pun, niscaya kalian akan mengikuti mereka. (Muttafaq Alaihi)

Bagi orang beriman, hadits di atas bukanlah perkataan filosofis semata, apalagi guyonan. Buktinya, dalam budaya berpakaian dan mejalin hubungan terhadap lawan jenis saja, kita sudah mengikuti kebiasaan kaum lain (baca: pacaran).

Sangat mungkin, kita menguasai psikologi namun dengan pola mereka. Terlebih, bidang yang telah menjadi jurusan mandiri ini adalah alat yang pas untuk mengontrol dan mempengaruhi suatu bangsa, terlebih adanya psikologi sosial dan psikologi pendidikan.

Dasar Psikologi Barat VS Ilmu Psikologi Islam

Sebelum lebih jauh mendalami, saya ingin menegaskan bahwa psikologi Islam bukanlah psikologi Timur apalagi psikologi Arab. Karena dalam sejarah, Arab tidak memiliki peradaban. Yang ada adalah Peradaban Islam.

Sebagian orang menganggap Ilmu Pskologi Islam adalah cocoklogi buat-buatan tak mendasar. Ada pula yang mengatakan, orang Islam iri terhadap kemajuan pengetahuan Barat.

Sedihnya, diantara mereka ada segelintir orang yang mengaku muslim dengan keyakinan bahwa Psikologi sebagai sains bersifat netral.

Padahal, para psikolog Barat saat ini mulai menyadari bahwa ilmu Psikologi yang berkembang di Barat selama ini kental kaitannya dengan nilai-nilai budaya mereka.

Artinya, Psikologi Barat adalah produk orang Barat dan untuk kebutuhan masyarakat Barat.

Bahkan para ahli Psikologi di Inggris dan Perancis sekarang ini mulai mengeluhkan betapa pekatnya pengaruh budaya Amerika dalam Psikologi kontemporer.

Akibat dari rujukan kuliah mereka adalah karangan para psikolog Amerika. Mahasiswa Inggris dan Perancis setelah lulus pun ikut-ikutan corak dan gaya Psikologi Amerika.

Padahal Psikologi Amerika adalah based on experiment terhadap binatang seperti tikus, anjing, monyet, kelinci dsb. Kesimpulannya belum tentu berlaku untuk manusia atau konteks budaya di tempat lain.

Dalam konteks ini pun, hanya manusia-manusia bejat dan jahat yang disetarakan al-Quran dengan binatang:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Sungguh Kami jadikan mayoritas jin dan manusia sebagai penghuni neraka Jahannam. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakannya untuk memahami, mereka mempunyai mata tapi tidak digunakannya untuk melihat bukti kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tapi tidak digunakannya untuk mendengar. Mereka itu bagaikan binatang, bahkan lebih sesat. Karena mereka orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)

Jelas sekali Al-Quran tidak ingin manusia disetarakan dengan hewan. Silakan baca beberapa ayat dalam al-Quran, seperti: Muhammad.12, al-Furqan.44, al-Jumuah.5.

Karenanya, sejak lama orang-orang Rusia menolak Psikologi Amerika dengan membangun Psikologi Rusia yang lebih relevan dengan dan untuk orang Rusia.

Mereka berupaya membuat teori-teori baru dan percobaan tersendiri, seperti yang dilakukan Ivan Pavlov pada tahun 1960-an.

Kritik terhadap Psikologi modern yang sekular pun banyak dilontarkan oleh kalangan Katolik di Barat. Betapa naif jika orang Islam masih menelan mentah-mentah psikologi dari Barat yang dianggap modern.

Dalam ayat di atas, juga jelas al-Quran memberikan satu konsep Psikologi tersendiri, bahwa yang berpikir itu adalah hati bukan otak.

Jadi, kalau kita masih menganggap bahwa otak sebagai pusat pikiran, berarti kita sudah ketinggalan zaman.

Perbedaan Konsep Objek Psikologi 

Psikologi Barat dibangun di atas asumsi-asumsi yang keliru tentang manusia dan hakikatnya.

Misalnya teori Sigmund Freud yang mengatakan bahwa manusia hanyalah hewan yang bertindak atas dorongan seksual agresif dari alam bawah sadarnya.Atas dasar ini ia membangun psikoterapinya.

Jangan heran jika caranya mengobati orang sakit jiwa dengan membawa si pasien keluar dari alam bawah sadar ke alam sadarnya.

Ada juga John Watson yang menganggap manusia tak lebih dari hewan yang perilakunya ditentukan sepenuhnya oleh lingkungan.

Dia tidak percaya akan wujudnya jiwa. Maka fokusnya hanya lingkungan. Bagaimana mengubah perilaku manusia dengan mengubah lingkungannya.

Tentu saja teori mereka dapat dimaklumi karena mereka bukan umat yang dekat dengan kitab sucinya bahkan bisa jadi tidak percaya pada agama. Sebagaimana Charles Darwin berpendapat bahwa manusia adalah evolusi dari hewan primitif, yakni kera.

Berbeda dengan Islam yang menegaskan bahwa seluruh manusia adalah keturunan manusia murni, yakni Nabi Adam.

Tentunya, perbedaan mendasar pada konsep manusia sebagai objek Psikologi ini saja sudah cukup membuat jurang pemisah antara Barat dan Islam. Perbedaan ini bagaikan orang buta dan orang yang dapat melihat.

وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ

“Tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.”(Fathir: 19)

Kita tahu, banya dampak buruk yang diakibatkan dari Teori Darwinisme salah satunya adalah pembantaian yang dilakukan oleh Nazi di masa silam dan juga Yahudi kepada warga Palestina hari ini. Pemicunya satu, selain bangsa mereka bukan manusia, melainkan hewan.

Psikologi Bukan Ilmu

Menurut pakar psikologi Prof. Dr. Malik Badri, cakupan psikologi sangatlah luas, dimana hanya beberapa bagiannya saja yang layak disebut sains alias Ilmu, seperti neuropsikologi, psikofarmaka, psikokimia dsb.

Sementara sebagian besarnya lebih tepat disebut sebagai ‘pseudoscience’. Silakan baca artikel Akidah Sesat Motivator dan Sugesti.

Ini penting dipahami oleh psikolog muslim, terutama dosen ketika mengajar mahasiswa. Ia harus selektif memilih mana yang berguna dan memilah yang sampah.

Misalnya, sebagai muslim kita pantas menolak asumsi psikologi behavioristik bahwa manusia adalah hewan belaka. Tetapi behavioristik yang menekankan pentingnya imbalan dan ganjaran boleh saja kita ajarkan.

Namun, sebagai seorang muslim alangkah baiknya kalau diikuti juga petunjuk dan tuntunan Islam dalam menangani penderita masalah psikis. Disinilah pentingnya psikolog muslim menguasai keilmuan Islam yang memadai.

Meminjam nasihat Kiyai Imam Zarkasyi, …

“Jadilah ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama”

Islamisasi Psikologi

Menjadikan psikologi sebagai sebuah ilmu yang sesuai dan bermanfaat bagi umat Islam adalah keharusan, melihat dampak negatif dari psikologi umum lain.

Namun, membangun psikologi Islam tidak semudah menulis status di facebook. Ia memerlukan kerja kolektif yang serius dan proses yang lama, setidaknya terdiri dari tiga tahap:

Pertama, mengkaji secara intensif karya-karya ilmuwan muslim tentang jiwa manusia seperti al-Balkhi, Ibnu Khaldun dan al-Tabari.

Sampai hari ini pun karya-karya ilmuan klasik muslim masih sangan relevan. Bahkan orang-orang Barat sekalipun, selalu kembali kepada filsuf kuno semisal Plato dan Aristoteles.

Kedua, setelah kajian-kajian semacam itu diterapkan, mulailah sedikit demi sedikit membangun psikologi kita sendiri. Berangkat dari kebutuhan dan cara pandang kita sebagai Muslim. Disamping bersikap “seolah-olah psikologi Barat tidak ada sama sekali”.

Ketiga, kita keluarkan teori dan metode baru untuk riset serta terapi. Dengan begini, psikologi Islam dapat keluar dari anggapan cocoklogi ilmu Barat dengan dalil al-Quran dan Hadits.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here