Pengertian Sanad, Matan dan Rawi Hadits Nabi Muhammad

Hadits tersusun dari dua bagian penting, yakni sanad dan matan. Keduanya terkait status sebuah hadist apakah shahih dapat diamalkan, hasan, dhaif atau palsu.

Untuk membahas pengertian matan dan apa itu sanad, terlebih dahulu kita perlu memahami definisi dari hadits itu sendiri.

A. Pengertian Hadits

Hadits menurut bahasa artinya “baru”, lawan kata “lawas”.

Adapun secara khusus, hadits menurut istilah adalah segala bentuk perkataan, perbuatan, sikap, sifat fisik dan akhlak yang berasal dari nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Definisi di atas juga berlaku untuk sinonim kata “as-Sunnah”. Dalam ilmu aqidah, al-Hadits sering menggunakan istilah as-sunnah atau sunnatu Rasulillah.

Contoh :

  • Nabi berkata, “Pria terbaik adalah yang paling baik terhadap istrinya…” ini hadits qauliyah (perkataan).
  • “Rasul biasa bersiwak sebelum masuk rumah” Walaupun ini perkataan sahabat, tapi yang dituturkan adalah perbuatan Nabi. Maka ini termasuk hadist (perbuatan).
  • Ada sahabat Nabi makan daging hewan dhob, kemudian beliau membiarkan tanpa melarang, ini juga hadits taqririyah (sikap keputusan).
  • Aroma tubuh Rasulullah selalu harum, kemudian sahabat meriwayatkan hal tersebut, itu juga termasuk hadist (sifat fisik).
  • Jika bertemua orang, Rasulullah selalu senyum dan menyapa terlebih dahulu. Lalu sahabat menyampaikan hal ini pada generasi setelahnya, ini juga hadits (akhlak dan adab).

1. Hadits Qudsi

Sebelumnya, di atas kita telah membaca bahwa di antara hadits adalah perkataan berasal nabi Muhammad. Namun, di luar itu ada juga hadits yang berasal dari Allah yakni hadits qudsi.

Hadits qudsi adalah firman Allah yang diriwayatkan oleh Rasul-Nya, di luar dari al-Quran.

Kata “qudsi” sendiri berarti “suci” sebagai pengagungan terhadap perkataan Allah demi membedakan dari hadits Rasulullah lain.

2. Pengertian Matan

Q: Apa itu matan?

A: Matan adalah orang yang pergi meninggalkan kita.

Itu MANTAN! bukan matan. :v

Adapun matan adalah istilah khusus untuk menyebut redaksi hadits itu sendiri atau lafadz selain sanad.

Ingat! Hadits terdiri dari dua bagian, matan dan sanad.

Artinya, jika hadits qauliyah maka perkataan Nabi itulah matannya. Jika hadits berupa keterangan tentang apa yang dilakukan Rasul, maka keterangan tersebutlah matannya.

Contoh :

“يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَرَى ‌الجِهَادَ أَفْضَلَ العَمَلِ، أَفَلَا نُجَاهِدُ؟ قَالَ: “لَا، لَكِنَّ أَفْضَلَ ‌الجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Ibunda Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang jihad yang paling utama bagi wanita, beliau berkata “Jihad terbaik adalah haji mabrur.” (HR. al-Bukhari)

Nah, teks yang berwarna merah itulah yang disebut matan.

Dalam khazanah keilmuan Islam, matan juga biasa digunakan secara umum untuk merujuk pada redaksi atau teks suatu buku, contoh: matan jurumiyah, matan taqrib.

NB: Waspada! Matan harus berbahasa Arab. Terjemahan rawan disalahgunakan untuk menyesatkan. Banyak netizen berkata hal janggal atas nama Rasul, tapi tidak bisa menjawab ketika diminta hadits aslinya (matan).

B. Apa itu Sanad?

Sanad artinya berdasarkan bahasa adalah penopang, pendukung, penyangga.

Pengertian sanad menurut istilah ilmu hadits adalah rangkaian atau silsilah orang yang menyampaikan matan hadits.

Boleh juga dengan definisi; Sanad adalah jalur periwayatan hadits.

1. Contoh Hadits Lengkap Sanad, Matan dan Rawi

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْغُبَرِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ أَبِي حَصِينٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ ‌كَذَبَ عَلَيَّ ‌مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ ‌مِنَ النَّارِ

Muhammad bin Ubaid al-Gubary menyampaikan kepada kami dari Abu Awanah, dari Abu Hashin, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah; Rasulullah ﷺ bersabda,“Siapa saja yang sengaja berdusta akan diriku, hendaklah ia menempati bangkunya di neraka.” (Muslim)

Perhatikan rangkaian hadits di atas:

  • Semua teks yang berwarna hitam adalah sanad hadits.
  • Semua redaksi yang berwarna merah adalah matan hadist.
  • Setiap nama dalam hadits tersebut adalah rawi. Karena hadits ini diambil dari kitab Shahih Muslim, sengaja mencantumkan nama Muslim dalam kurung, Muslim juga rawi.

2. Apa itu Rawi?

Sebenarnya pertanyaan yang tepat adalah “siapa itu rawi?”.

Rawi dalam ilmu hadits adalah setiap individu yang meriwayatkan hadits langsung dari nabi Muhammad, sahabat, atau tabi’in.

Bahkan Rasul rermasuk rawi dalam kontek hadits quds.

Adapun kita yang hanya baca dari kitab, bukanlah rawi dan tidak masuk dalam sanad.

3. Manfaat Rangkaian Sanad

Selain al-Quran, sanad ini lah yang menjadi ukuran sebuah hadits benar dan valid, shahih, hasan, dhaif atau palsu.

Inilah keunggulan ajaran Islam. Demi menjaga keutuhan umat dari kesesatan, setiap yang diajarkan harus selalu ada rujukannya sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Dalam dunia akademis disebut ilmiah. Tak boleh satupun pernyataan dalam tesis atau disertasi tanpa referensi.

Silsilah atau rangkaian sanad ini juga terdapat dalam ilmu qirat al-Quran dan ilmu lain dalam Islam sampai saat ini.

Tentu akal tak bisa mempercayai perkataan seorang anak generasi zoomer, “Ir. Soekarno presiden pertama Indonesia berkata pada saya untuk menyebarkan kepada rakyat Indonesia, ‘pilihlah paslon nomer X'”.

Karena ada selisih waktu antara wafatnya Soekarno dengan lahirnya anak tersebut. Bagaimana mungkin bisa bertemu? Kemungkian besar, dia berbohong.

4. Derajat Hadits

Sanad hadits juga bisa merubah derajat hadits. Hadits ahad misalnya, bisa naik menjadi mutawatir jika ternyata ditemukan bahwa jalur sanad haditsnya banyak.

Hadits dhaif yang memiliki cacat ‘moral’ pada salah satu rawi dalam sanadnya, bisa naik derajat jadi hasan jika ada sanad lain yang lebih terpercaya.

Di antara moral penyebab rawi hadits menjadikan cacat antaranya adalah pernah menghina orang/ tidak tepat janji/ mantan pelaku kriminal/ tidak akurat hafalannya.

Imam al-Bukhari dan Muslim terkenal mengumpulkan hadits shahih. Keduanya mengumpulkan hadits dengan metode yang sangat ketat.

Hanya hadits dengan sanad yang jelas dan rawi yang bisa dipercaya, yang dapat ditulis ke dalam kitab mereka.

Jadi, andai didapati bahwa salah seorang dalam sanad itu berbohong, maka semua hadits yang melewati orang tersebut dibuang dan tak masuk dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim.

Share your love

Leave a Reply

Blog Openulis

Blog artikel edukasi Islam di atas dan untuk semua golongan.