Sarapan Kurma (Cerpen Bag. 1)

Sarapan Kurma Sehat

Syafii baru saja men-shut down laptopnya. Tampang lesu tergurat sangat jelas saat laki-laki yang baru lulus D3 itu menutup computer lipatnya.

Tak mau terpuruk, Syafii menggelar kembali sajadahnya yang tadi sudah dilipat seusai shalat Tahajjud. Tak kurang dari 8 kali salam setiap dua rokaat, syafii bangkit lagi dan ber-takbiratul ihram kembali, manambah jumlah rokaat shalat Hajatnya.

Entah berapa rokaat laki-laki itu shalat sampai di speaker masjid terdengar shalawatan tanda waktu subuh akan tiba.

Rizki, teman sekamar Syafii, saat bangun pagi dari tidurnya setelah shalat tahajjud, sempat kaget melihat temannya itu masih jungkir balik dengan khusu. “perasaan tadi megang laptop, shalat lagi dia.” Ujar Rizki dalam hati. “apa shalat fajar?” rizki melihat jam dinding. Dan buru-buru bersiap untuk ke masjid.

“Kamu baik-baik aja Fi?” Tanya Rizki saat mereka keluar dari masjid seusai shalat Subuh.

“Alhamdulillah baik.” Jawab Syafii yakin sambil memakai sandal.

“Lagi ada masalah?”

“Gak ada sih,” ujar Syafii tak yakin. “cuma, namaku gak tercantum di daftar nama calon mahasiswa yang lolos ujian beasiswa ke Madinah.”

“Yang semangat sob,” Rizki yang bertubuh gempal merangkul pundak syafii. “banyak cara sampai ke Mekah, apalagi Madinah, itu urusan kecil bagi Allah.”

“Apa sekecil aku kalau disandingin sama kamu?” Tanya Syafii bercanda.

“Ah,kamu kayak aku gede banget.” Rizki melepas rangkulannya dari pundak Syafii. Syafii sumringah seakan baru saja terlepas dari beban berat, ya. Tapi tangan rizki emang berat sih. “Aku kan cuma 4 per 2 dari kamu.” Tambah Rizki.

“Maksudnya dua kali lipat dari aku?”


Rizki sibuk menyeka etalase dengan kemoceng sambil memungut biji ketapang yang kemudian ia buang ke mulutnya. Sementara Syafii dengan semangat yang menurun, mengelap kaca jendela toko dari luar.

Rizki dan Syafii adalah pegawai di sebuah toko roti, mereka juga tinggal di toko roti tersebut bersama beberapa karyawan lain karena rumah mereka ada di luar kota.

“Udah berapa biji ketapang yang kamu cicipi?” Tanya seseorang dengan suara agak berat.

“pagi ini sih baru satu toples pak.” Jawab Rizki.

“Untung itu biji ketapang kamu buat sendiri dari sisa adonan yang ada, kalau gak, bisa rugi saya.” Ujar pak Lutfi yang tak lain adalah pemilik toko roti tersebut.

“Saya juga tahu diri pak, makanya saya gak mau ke isengan saya jadi beban buat bapak.” Ucap Rizki masih menyeka etalase.

“Riz, Syafii kok hari ini kayaknya gak semangat ya?” Tanya pak Lutfi sambil ikut menyomoti biji ketapang.

“iya, dia lagi sedih kayaknya pak, gara-gara gak lulus ujian beasiswa ke Madinah.”

Pak Lutfi menghela nafas turut simpati pada karyawan yang sudah bekerja padanya selama 2 tahun itu. Siapa yang tak akan merasa terpuruk jika mengalaminya, ini sudah kali ke 3 Syafii ikut ujian dan ia tak kunjung lulus juga. Padahal banyak persiapan yang sudah ia lakukan, terus memperbanyak kosa kata bahasa Arabnya, menghafal ayat al-Quran meski baru separuh yang ia kuasai. Tapi memang belum rezeki, mau dibilang apa? Allah yang lebih tahu.

“Sebenarnya sih pak, yang buat dia sedih bukan gagal ke Madinahnya.” Selain bertubuh besar, ternyata Rizki cukup bermulut besar juga.

“Apa donk?” penasaran pak Lutfi.

“tapi karena dia belum berani ngelamar perempuan yang dia suka.”

“maksudnya?”

“dia pernah bilang, kalau dia lulus ujian beasiswa ke Madiah, dia bakal langsung meminang perempuan yang dia suka. Tapi karena dia gak lulus-lulus, jadi gak jadi deh dia ngelamar gadis itu.” Ceplos Rizki sambil menyayangkan nasib temannya.

Syafii selesai mengelap kaca sampai kinclong. Rizki dan pak Lutfi langsung menjauh berlaga mereka sedang tidak membicara Syafii karena laki-laki itu memasuki toko.

“Pak, saya shalat Duha dulu ya?” izin Syafii sebelum melewati atasannya.

“Iya.” Pak Lutfi mengangguk. “beruntung perempuan itu, tapi sayang, ia kurang berani.” Batin pria paruh baya itu. “Siapa sih perempuan itu?”

Jika ada yang bertanya mengenai perempuan yang disukai Syafii, dia hanyalah gadis biasa yang sangat sederhana, Shofi namanya. Dulu mereka satu sekolah di madrasah Aliyah dan menjadi sahabat yang cukup dekat. Kemudian Syafii mendapat beasiswa kuliah di luar kota, dan mereka harus berpisah entah sampai kapan tanpa syafii pernah mengungkapkan persaannya pada Shofi.

Perasaaan syafii untuk Shofi tersimpan rapi dan sangat terjaga bersama impian mereka. Semula keinginan untuk ke Madinah adalah impian Shofi, dan entah kenapa Syafii sangat ingin mewujudkannya sampai ia serius mengejar impian itu. Shofi tak pernah tahu mengenai itu, Shofi hanya tahu kini sahabtnya sedang bekerja keras agar bisa melanjutkan kuliah ke S-1 bahkan S-2.


“Shofi… aku punya ide supaya kamu bisa ke madinah dengan mudah!” cetus Rumi sambil menutup majalah yang barusan ia baca. “kamu nikah aja sama orang kaya, dan jadiin Madinah itu sebagai maharnya!”

Shofi menepuk jidadnya sendiri tak terpikirkan kalau sahabatnya berpikiran seperti itu.

“ide yang bagus, tapi sayang, pernikahan itu gak bisa dibeli.”

“nah, itu dia. Karena kamu bukan tipe cewek matre, jadi kamu aku daftarin sebagai kandidat calon isterinya.”

“calon isterinya?”

“Hhe..” Rumi cengengesan. “atasannya suami aku, lagi nyari calon isteri Fi, orangnya lumayan ganteng, kira-kira lima tahun lebih tua dari kita dan yang penting, dia bisa ajak kamu bulak-balik ke Madinah. Tajirnya gak akan diragukan. Dan pastinya dia sholeh.” Rumi menjelaskan dengan menggebu-gebu.

Shofi terpaku pada kitab fiqih yang sedang ia baca, mungkin kitab itu terbuka, tapi pikirannya bukan sedang pada kitab, melainkan pada impiannya yang mulai redup.

Saat masih sekolah, Shofi sangat bersemangat agar bisa kuliah di Madinah. Semua akan dia lakukan agar bisa menginjak kota mulia itu, sampai ia mulai sadar, bahwa semua terasa sia-sia.

Shofi memang ingin ke Madinah, tapi menghafal Al-quran agar lulus dalam ujian beasiswa terasa tidak tulus, seharusnya Shofi melakukan itu karena Allah kan? Sama halnya jika Shofi menikah hanya untuk ke Madinah. Memang semua ibadah, hanya saja Shofi merasa ragu dan janggal.

Shofi sangat ingin pergi dan menetap cukup lama di Madinah, entah sejak kapan. Mungkin sejak ia tahu makam Nabi ada di kota mulia itu. Jika orang-orang membayangkan melihat Eiffel, Shofi membayangkan melihat ka’bah yang ada di kota tetangga Madinah.

Jika orang-orang ingin kuliah gratis di Jerman, maka di benak Shofi tengah membayangkan bagaimana menuntut ilmu di Yatsrib kini. Semua indah di bayangan Shofi, hanya, untuk sampai ke Madinah itu shofi harus menempuh jalan terjal.

Satu hal yang paling penting syarat untuk ke Madinah bagi seorang perempuan haruslah didampingi mahrom laki-lakinya.

Bersambung… Cerpen Sarapan Kurma 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here