SHARE
Sarapan Kurma Sehat

Lutfi sedang mengolah adonan roti dengan tangannya langsung. Perlahan tapi pasti adonan menjadi kalis dan mudah diatur. Arif karyawan lain, baru saja meletakkan adonan di oven dan dengan agak usil ia mencuil sedikit adonan yang masih di tangan pak Lutfi kemudian ia menempelkannya ke pipi Syafii yang sedang melamun.

“Jangan buang-buang bahan!” tegur pak Lutfi.

Arif nyengir kuda, minta maaf. Lutfi yang semula melotot tiba-tiba menyipit heran karena Syafii tidak merespon apapun kecuali mengelap pipinya yang dinodai adonan itu. Arif dan atasanya saling melirik bingung.

“Fi.. kamu sakit ya?” Tanya Arif merasa sedikit bersalah.

“Gak ko.”

“kamu diam aja.”

“mikirin apa Fi?” kini atasannya yang penasaran.

“Maaf ya bos. Jadi sering bengong gini.” Ucap Syafii sambil mengelap Loyang-loyang basah.

“aku ke depan dulu.” Pamit arif untuk membawa roti yang sudah jadi.

“Kamu tahu Fi, apa yang paling penting dari toko ini?” Tanya pak Lutfi sambil meletakkan adonannya ke Loyang. Syafii terdiam seolah memikirkan jawaban yang tepat untuk atasannya. “Resep.” Jawab Pak Lutfi.

“Iya.” Syafii setuju.

“Aku gak pernah sekolah kejuruan memasak atau sejenisnya. Aku cuma tahu Zahra yang waktu itu belum jadi istriku, dia sangat suka roti. Aku jadi penasaran kenapa dia suka roti kemudian aku belajar membuat roti agar bisa aku persembahkan untuknya. Tapi roti buatanku tidak pernah enak. Aku hampir menyerah. Tapi tidak ingin semua sia-sia, aku nekat membawakan roti buatanku untuk melamarnya. Zahra mencicipi roti yang tidak enak itu. Ia menatapku iba kemudian menghabiskan roti penyiksa lidah itu. Dia bilang. “ini terakhirnya kalinya aku makan roti aneh. Aku tidak akan pernah memakan roti aneh buatanmu.” Aku merasa sedih, kemudian dia bilang lagi. “jangan pernah buat roti lagi sebelum aku mengajarkannya padamu. Dan aku akan mengajarkan care membuat roti yang enak setelah kita menikah nanti.”

“Akhirnya kalian menikah.”

“ya, semua tahu itu.”

“sebenarnya saat aku melamarnya, dia belum ingin menikah karena masih ingin belajar ketatabogaan. Agar dia bisa membuat toko roti, tapi dia sembunyikan itu dan lebih memilih menjadi istri sholeha bagiku. Setelah menikah, setiap hari kami membuat roti. Bukan untuk kami sendiri. Tapi untuk dibagikan ke orang-orang yang sekiranya sulit makan. Aku mulai mengerti maksud tulus istriku yang dulu ingin memiliki toko roti. Maka aku berusaha keras dan jadilah toko roti ini. Dan apa yang membuat toko ini terus bertahan?”

“Resepnya.”

“ya, kamu tahu apa resep rahasianya?”

Syafii menggeleng.

“Cinta.” Jawab pak Lutfi. Syafii tersenyum. “Tidakkah kamu mengerti maksudku?” Tanya pak Lutfi lagi.

“Mengerti, tanpa cinta kalian, mungkin toko ini tidak akan bertahan.”

“kurang tepat. Zahra bilang, jika ia tak menikah denganku, mungkin ia akan lebih lama punya toko roti atau bahkan toko roti itu tak pernah ada. Tapi Allah tak pernah tidur, Dia menjawab impian ketika kita mengutamakan yang utama. Yaitu menikah.” Papar pak Lutfi.

Syafii mulai merenung memaknai kata-kata atasannya.

“jika kamu mencintainya, nikahilah, jangan tunggu apapun karena Allah pasti bersama kita. Sampai kapan kalian menunggu, jika kamu menunggu diterima beasiswa bukannya itu hanya akan membuang waktu. Jika tidak diteima artinya tidak akan menikahinya, atau mungkin jika diterima nanti, ia sudah jadi milik yang lain.”

Syafii menatap pak Lutfi lama, kemudian gerakan mengelapnya menjadi lebih cepat dan bersemangat. Bosnya tersenyum bangga, Arif pun yang kembali ke dapur jadi heran namun senang melihat temannya tidak lagi lesu.


Cuaca siang cukup terik, sangat menggoda untuk menikmati roti ice cream lezat yang sedang jadi menu utama di tempat Syafii bekerja. Rumi sengaja mengajak suaminya, Khairul dan rekan bisnisnya Hafiz, untuk mampir ke toko roti tersebut karena kebetulan mereka sedang ada di kota yang sama dengan Syafii untuk urusan bisnis.

“lihat laki-laki yang sedang duduk bersama suamiku, Apa dia tampan?” tanya Rumi pada Syafii yang baru selesai menata kue di etalase.

“Rumi, Khairul sudah jadi laki-laki yang terbaik untuk mu. Kenapa masih melirik lelaki lain?” heran syafii setelah memperhatikan laki-laki yang dimaksud Rumi.

“bukan untukku!”jawab Rumi segera dengan nada geram. “untuk Shofi. Hafiz namanya.” Jelas rumi cepat-cepat.

Syafii terkejut sampai mendelikkan matanya. Apa maksud Rumi, laki-laki itu untuk Shofi? Gadis yang ia cinta.

“Kamu tahu kan fi, Shofi sangat ingin ke Madinah. Hafiz aku rasa pria yang tepat. Dia tampan, pintar, dan kaya. Tentu dia bisa membahagiakan Shofi termasuk pergi ke Madinah.” Papar Rumi, membuat semangat Syafii yang baru berkembang kembali menjadi layu lagi.

Pertemuan Syafii dengan rumi siang itu sungguh membuatnya resah tak karuan, rasa tak ingin kehilangan gadis yang dicintai muncul berkali-kali hampir setiap saat. Tak hanya malam hari, Syafii shalat sunah setelah sholat wajib, memohon yang terbaik untuknya dan shofi. Dua malam sudah Syafii memimpikan wajah Shofi dengan senyum sumringah. Namun tiap kali wajah gadis itu muncul mata Syafii akan terbuka dan enngan tertutup lagi.

“haruskah aku mempikannya lagi ya Allah?” tanya Syafii dalam hati yang tak tenang.


“maukah kamu mendengarkanku dan menjawab pertanyaanku?”

“Ya tentu.”

“beberapa hari yang lalu kami bertemu, dan sejak saat itu aku merasa tak tenang. Sampai aku memperbanyak shalat sunah. Namun dua malam terakhir ini aku melihat wajah seorang gadis di mimpiku. Wajah yang nampak berseri seakan kebahagiaan tengah menghujaninya. Lalu aku datang ke sini untuk menemui gadis itu dan bertanya padanya. Haruskah aku memilikinya ataukah hanya bisa sekedar memimpikannya?”

Shofi tertegun mendengar pernyataan dan pertanyaan Syafii sampai ia tak tahu harus berkata apa.

“jika aku hanya bisa memimpikannya, maka berapa malam kah yang harus aku lalui dengan rasa tersiksa?”

“pintalah pada walinya jika kau benar-benar ingin memilikinya. Semoga ini malam terakhir kau memimpikan wajah itu.”

Episode sebelumnya: Sarapan Kurma (Cerpen Bag.1)

Cerpen keluarga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here