Peninggalan Dinasti Mughal

Dinasti Mughal India berdiri seperempat abad setelah berdirinya Dinasti Safawi. Awal kekuasaan Islam di India terjadi pada masa Khalifah Al-Walid, Khalifah Bani Umayyah.

Pada fase disintegrasi, Dinasti Ghaznawi mengembankan kekuatanya di India dibawah pimpinan Sultan Mahmud pada 1020 M, ia berhasil menaklukkan hampir semua kerajaan Hindu di wilayah itu, sekaligus mengislamkan sebagian masyarakatnya. Setelah Ghaznawi hancur muncul dinasti-dinasti kecil.

Dengan Delhi sebagai ibu kota, didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530), salah satu dari cucu Timur Lenk. Pada tahun 1504, Babur berhasil menduduki Kabul, ibu kota Afghanistan, lalu ia meneruskan ekspansinya ke India.

Terjadinya krisis, dan pengkhianatan oleh Alam Khan, kepada Ibrahim Lodi. Dibantu oleh Babur, Alam berhasilkan meruntuhkan Pemerintahan keponakannya di Delhi setelah pertempuran dahsyat pada 21 Aril 1526 M. Dengan demikian, berdirilah Dinasti Mughal di India.

Setelah berdirinya kerajaan Mughal, raja-raja Hindu di seluruh India menyusun kekuatan untuk menyerang Babur, begitu pula Afghanistan yang masih setia pada keluarga Lodi, namun semua itu dapat dikalahkan oleh Babur pada 1529 M. Setahun kemudian ia meninggal yang diteruskan oleh anaknya Humayun.

Pada masa pemerintahannya (1530-1539M) Humayyun selalu menghadapi pemberontakan diantaranya oleh Bahadur Syah, namun hal itu dapat ditanggani olehnya. Tahun 1540 pertempuran melawan Sher Khan di Kanauj ia mengalami kekalahan yang membuatnya melarikan diri dan mengumpulkan kekuatan.

Setelah 15 tahun berkelana meninggalkan Delhi ia kembali untuk mengalahkan Sher Khan. Setelah itu (1556 M) ia meninggal dunia karena terjatuh dari tangga perpustakaan, Din Patah.

Humayun digantikan oleh anaknya, Akbar I, yang berusia 14 tahun. Pada masanya ini Mughal mencapai masa gemilangnya.

Di awal pemerintahannya, Akbar menghadapi sisa-sisa keturunan Sher Khan yang berkuasa di Punjab, dan Himu penguasa Gwalior dan Agra yang berusaha menyerang Delhi pada 1556 yang berakhir dengan penguasaan Akbar terhadap dua kota kekuasaan Himu.

Setelah Akbar dewasa ia menyingkirkan Bairam Khan yang sudah memiliki pengaruh karena dulu ia sempat diserahkan urusan pemerintah Akbar kecil.

Kemenangannya atas Bairam pada 1561 M, dilanjutkan dengan ekspansi wilayah sekiranya seperti, Ahmadnagar, Bengal, Chundar, Gujarat, Kashmir, dan Narhala. Wilayah yang luas itu diperintah dalam pemerintahan militeristik.

Dalam pemerintahan ini, sultan adalah penguasa diktator, pemerintah daerah dipegang oleh sipar salar (kepala komandan), sedangkan subdistrik dipegang oleh faujdar(komandan). Jabatan-jabatan sipil juga diberi jenjang kepangkatan militer. Pejabat-pejabat itu memang harus melalui latihan kemiliteran.

Akbar juga menerapkan apa yang dinamakan dengan politik sulakhul (toleransi universal) dengan ini, semua rakyat India dipandang sama, tidak dibedakan bedasarkan etnis dan agama.

Kemajuan pemerintahan Akbar I dapat dipertahankan oleh tiga raja setelahnya, yaitu Jehangir (1605-1628). Syah Jehan (1628-1658), dan Aurangzeb (1658-1707). Setelah mereka ini Dinasti Mughal ini tidak dapat dipertahankan oleh raja-raja berikutnya.

Kemajuan dalam bidang politik yang diterapkan Akbar membawa kemajuan dalam bidang ekonomi, dengan mengembankan program pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Akan tetapi, sumber pemasukan terbesar negara berasal dari pertanian. Di sektor pertanian ini komunikasi antar pemerintah dan petani diatur dengan baik, dengan ketentuan kerajaan berhak atas sepertiga dari hasil pertanian.

Disamping untuk keperluan negara, hasil pertanian diekspor ke Eropa, Afrika, Arab, dan Asia Tenggara bersamaan dengan hasil kerajinan, seperti pakaian tenun, dan kain tipis bahan untuk gordiyn.

Untuk meningkatkan hasil produksi, Jehangkir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surat.

Tidak ketinggalan pula kemajuan di bidang seni, yang paling menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana berbahasa India dan Persia. Penyair India yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayazi, seorang sufi dengan karyanya yang berjudul padmavat.

Pada masa Aurangzeb, muncul sejarawan bernama Abu Fadl dengan karyanya Akhbar Nama dan Aini Akhbari, yang memaparkan sejarah Dinasti Mughal berdasrkan figur pemimpinnya.

Karya seni Mughal yang masih bisa dinikmati hingga sekarang di antaranya yang berupa karya arsitektur. Pada masa Akbar dibangun istana Fatehpur Sikri di Sikri, vila, dan masjid-masjid yang indah.

Pada masa Syah Jehan, dibangun masjid berlapiskan mutiara dan Taj Mahal di Agra, Masjid Raya Delhi dan istana indah di Lahore.

Selanjutanya: Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Mughal India

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here