SHARE

Sejarah mencatat bangsa Mesir, Yunani, Persia, dan Romawi pernah menguasai dunia. Tentu saja kejayaan itu tidak lepas dari majunya ilmu pengetahuan di zaman mereka. Bahkan al-Quran mengukir nama Dzulkarnain sebagai seorang raja muslim yang berhasil memimpin dunia karena ilmu.

ويسألونك عن ذي القرنين قل سأتلو عليكم منه ذكرا () إنا مكنا له في الأرض وآتيناه من كل شيء سببا () فأتبع سببا 

Mereka bertanya padamu tentang Dzulkarnain, Sampaikan, “Kan kuceritakan sebagian kisahnya.” Sungguh telah kami berikan kekuasaan padanya di muka bumi, dan kami berikan dia segala jalan. Kemudian, dia kuasai semua jalan itu. (al-Kahfi: 83-85)

Maksud dari kata “jalan” di atas adalah ilmu dan pengetahuan dalam berbagai bidang. Jika diperhatikan sepanjang kisahnya, selain ahli memimpin dan militer, kita akan menangkap bahwa Sang Raja memiliki keahlian dalam bidang geografi, astronomi, psikologi, fisika, dan arsitektur. Setidaknya, sang raja memiliki sumber daya manusia yang kompeten.

Tidak hanya ilmu sains, Dzulkarnain juga menguasai ilmu agama karena dia seorang yang beriman. Itu jelas tergambar dalam surat ke-18 ayat 88, terlepas dari perdebatan para ilmuan sejarah, kapan dan di mana beliau pernah hidup serta berkuasa, Yunani kuno atau Romawi.

Sebagaimana peradaban lain, awal-mula bangsa Yunani dan Romawi adalah kumpulan suku yang terpecah-belah, namun dengan kesatuan tekad mereka mampu mendirikan imperium besar dan berpengaruh, itulah janji Allah bagi siapa saja yang mau berusaha dan bersatu.

Karena kejayaan dan kemajuan tidak mungkin dapat diraih dengan pertikaian, permusuhan dan peperangan. Begitulah nasib negara yang sibuk dengan konflik tanpa stabilitas, akhirnya mereka tidak mampu mengembangkan ilmu pengetahuan.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ 

“Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah saling bertikai atau kalian akan gagal dan lemah. Bersabarlah, karena Allah bersama orang-orang yang berusaha.” (al-Anfal: 46)

Saat kejayaan berhasil mereka capai, mereka hidup bergelimang harta dan kemewahan, mereka lupa akan usaha dan kerja keras. Akhirnya, mereka terpuruk dalam kelemahan serta kedzaliman, kemudia ditaklukkan oleh “jagoan” baru, yaitu Khilafah Islamiyah yang dimulai pada masa Umar bin al-khattab.

وإذا أردنا أن نهلك قرية أمرنا مترفيها ففسقوا فيها فحق عليها القول فدمرناها تدميرا

Saat Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan, maka sudah sepantasnya berlakukan ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (al-Isra’: 16)

Begitulah Allah jika hendak menghancurkan satu peradaban, mengazab mereka dengan hidup glamor dan kemewahan.

Silih berganti tampuk kepemimpinan umat Islam dipegang Khalifah ar-Rasyidah, kemudian Dinasti Umayyah, lalu Bani Abbasiyah, disusul Kerajaan Andalusia, ada juga Mughal India yang sempat menjaga asia kecil selama beberapa abad.

Puncak kejayaan umat Islam pernah dicapai pada masa sultan Muhammad al-Fatih (1451-1481) dari Turki Utsmani. Lembaran emas kejayaan kaum muslimin yang bersinar selama 14 abad itupun melemah dan hampir tenggelam setelah keruntuhan kesultanan yang dikenal dengan Ottoman lewat kudeta yang dilakukan oleh seorang yahudi, Mustafa Kemal Ataturk tahun 1924.

Sejak saat itu umat Islam tertidur, dan bahkan bisa dikatakan hampir “koma”. Mengenai tidurnya umat Islam, kami pernah menulisnya di sebuah artikel berjudul “Test The Water Umat Islam“.

Memang ada banyak gerakan yang mengarah pada reformasi, harakah it tumbuh di lingkungan umat yang telah terkoyak-koyak secara geografis,1 seperti Waliyullah Dahlawy (1703-1763) di India, Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703-1787) di Hijaz, Ahmadou Bamba (1850-1927) di Sinegal dan Muhammad Abduh (1849-1905) di Mesir. Namun, tampaknya usaha itu belum cukup…

Transformasi Ilmu Pengetahuan

al-Quran Sumber Peradaban Islam

Kemajuan dan ilmu pengetahuan adalah dua hal itu tidak bisa dipisahkan, kemajuan tidak akan tercapai tanpa ilmu pengetahuan. Jadi, dimana ada ilmu pengetahuan di situ pasti ada kemajuan dan kejayaan.

Tidak bisa dipungkiri, bangsa Yunani telah jauh maju dalam ilmu pengetahuan sebelum bangsa Persia dan bangsa Arab muncul ke permukaan, dan perkembangan selanjutnya juga tidak lepas dari mereka, sebagai pioneer ilmu pengetahuan. Tidak heran jika buku rujukan sekolah dan kuliah modern saat ini masih banyak mengutip filsuf Yunani seperti Aristoteles dan Plato yang bisa dibilang sudah “usang”.2

Kalau mereka pioneer ilmu pengetahuan, lantas, mengapa mereka hancur dan digantikan oleh peradaban Islam?

Jawabannya adalah karena bangsa Yunani memgembangkan diri dalam segala bidang ilmu pengetahuan, tetapi mereka melupakan akhlak dan moral. Itulah sumber utama kehancuran mereka.

Islam adalah agama yang sangat dekat dengan akal. Ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabinya adalah perintah membaca. Di banyak ayat ada ajakan untuk berpikir. Di ayat-ayat lain ada perintah diskusi dan musyawarah. Ada juga dalil hadits yang menyatakan bahwa orang berilmu lebih mulia dari orang yang beribadah.3

Saat peradaban Islam kembali bangkit dari kalangan orang Arab, mereka membawa semangat khilafah (memakmurkan bumi dengan manfaat). Tentu saja dengan kesadaran bahwa keinginan luhur itu tidak mungkin dicapai tanpa kemampuan SDM yang dapat mengelola sumber daya alam.

Mereka pun mengembangkan pengetahuan yang telah dicapai peradaban bangsa sebelumnya sesuai panduan al-Quran. Di antaranya pada masa khalifah al-Makmun al-Abbasy terjadi gerakan transformasi ilmu pengetahuan besar-besaran dari Eropa ke Arab, Makmun menerjemahkan ribuan manuskrip Yunani ke dalam bahasa Arab untuk dipelajari di Darul Hikmah, termasuk ilmu teologi dan filsafat yang nantinya membuahkan fitnah di kalangan intelektual muslim.

Ketika bangsa Arab mulai maju, para Kardinal dan raja-raja Eropa mulai mengirimkan delegasi mereka untuk belajar bahasa Arab di Andalusia, karena bahasa Arab saat itu adalah bahasa ilmu pengetahuan dunia sebagaimana bahasa Inggris hari ini.

Di zaman Harun ar-Rasyid, raja Romawi membayar pajak tahunan kepada daulah Islamiyyah, mereka takut kepada Dinasti Abbasiyah seperti Indonesia takut kepada Amerika Serikat saat ini.

Di seluruh kota Barcelona saat itu, masyarakat Barcelona terbiasa berbicara bahasa Arab, bahkan anak-anak muda dianggap “nggak gaul” dan “cupu” kalau tidak bisa berbicara bahasa Arab. Tidak heran jika kota Madrid juga diambil dari kosakata Bahasa Arab.

Pantas kalau dari Andalusia itu datang imam Ibnu Hazm, Imam al-Qurtuby, Ibnu Rusdy yang dikenal sebagai Averroes, dan seabrek ilmuwan lain yang hari ini masih menyisakan hasil pikiran mereka di dunia Barat.

Zaman ini disebut dengan zaman ilmu pengetahuan, mengutip kata penyair Islam, Muhammad Iqbal, “ Hidup ini tidak ada halte, yang bergerak akan maju, dan yang berhenti akan tergilas”, begitulah kehidupan saat ini, setiap Negara yang bergerak dalam ilmu pengetahuan dia yang akan maju memimpin, dan setiap Negara yang duduk berpangku tangan selamanya akan menjadi “budak” Negara lain.

Malas > tertindas, Lambat > tertinggal, Berhenti > mati.

Tanah Palestina adalah tanah tandus  yang tidak memiliki SDA yang begitu berarti, sampai penduduknya saja kesulitan mencari air, tetapi hari ini tanah tandus itu dihuni oleh bangsa Yahudi yang begitu giat bekerja, modal utama mereka adalah keyakinan dan semangat.

Pada tahun 2003 Israel memproduksi senjata senilai 4 milyar dolar! Padahal di Israel itu tidak punya minyak bumi, tidak ada tambang emas, hanya tanah kering yang tandus, tapi kalau Anda melihat kota Haifa di pinggiran laut Tengah, Anda tidak akan menyangka di sekitar itu ada perang yang sedang berkecamuk!.

Kiblat Baru Ilmu Pengetahuan & Sains

Planet mirip bumi dalam al-Quran Ilmu pengetahuan sains
Angkasa terbentang luas, betapa besar karunia Allah

Hari ini, tidak bisa dipungkiri ilmu pengetahuan dalam segala bidang harus berkiblat ke Barat, kalau tidak ‘Barat Eropa’, paling tidak ‘barat geografis’ Negara kita. Bahkan terkadang ilmu tentang diri kita sendiri (baca: psikologi), kita harus ke Barat. Kenyataan pahit yang begitu “nikmat” telah membius umat Islam, kadang jarang diperhatikan, tetapi itulah kenyataan.

Bangsa Barat berhasil memindahkan ilmu pengetahuan dari Timur dengan usaha keras ratusan tahun, segala cara mereka tempuh untuk mencapai tujuan itu, mulai dari belajar baik-baik sampai pencurian mereka lakukan.

Penjarahan perpustakaan di Baghdad oleh tentara Amerika adalah contoh terbaru cara transfer ilmu pengetahuan dari Timur ke Barat. Sejak zaman raja Richard Lion Heart misi itu telah diusung, setiap kali ada invasi ke Timur, mereka selalu menyertakan satu pasukan berisi ilmuwan dan peneliti.

Disini kita tidak mengusung bendera anti-Barat, secara fakta kita harus mengakui kemajuan dan keunggulan mereka dalam segala bidang ilmu pengetahuan hari ini, tetapi bukan berarti kita harus meng-copy paste apa yang kita lihat dari mereka, dengan alasan kemoderenan, tetapi kita harus memfilter semua produksi mereka sebelum kita konsumsi.

Islam mengajarkan metode maju dan berkembang, ayat pertama turun dalam Quran berisi ajakan membaca (al-Alaq:1), dan ayat kedua ajakan menulis (al-Qalam:1), dunia Barat benar-benar berhasil memindahkan itu semua dan mempraktekkan semua tuntunan yang ada dalam Quran, yang ditinggalkan oleh umat Islam.

Ketika umat Islam berada dipuncak kejayaan, dunia damai dan aman, karena mereka tidak hanya bersandar kepada ilmu pengetahuan, tetapi mereka mengimbangi itu dengan akhlak. Hal ini yang berbeda dibandingkan budaya Barat, yang hanya mengandalkan ilmu pengetahuan dan meninggalkan adab, akhirnya dengan bangga mereka menamakan dirinya sex-civilization, seperti yang ditawarkan oleh Sigmund Frued.

Silahkan kita ambil ilmu dari mereka, tapi jangan lupakan akhlak Timur dan akhlak Islam yang kita banggakan sejak kita lahir. Hal ini sangat didengung-dengungkan oleh ulama muslimin kepada seluruh umat Islam. Karena Islam adalah agama Wasatiyyah yang meletakan posisi etika dan moral di atas ilmu.

الادب فوق العلم

 

Sumber Makalah:

  • al-Quran al-Hakim
  • al-Hadits al-Syarif
  • “al- Islam Kabadiil”, Dr. Murad Hoffman, Dar Syuruq, Kairo.
  • “Syams al-Arab tasta’u fil gharb”, Sigrid Hunke, Beirut.
  • “al-Daulah al-Umawiyyah wa al-Daulah al-Abbasiyyah”, Prof.Dr. Yusuf ‘isy, Damascus.
  • “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”, Prof. Dr. Raghib as-Sirjani.
  • https://theculturetrip.com/europe/spain/articles/the-story-of-how-madrid-got-its-name/
  • https://www.lonelyplanet.com/spain/madrid/history
  • https://quranpoin.com/urutan-turunnya-wahyu-al-quran-tabel/
  • https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/04/26/op0b8x313-antara-zulkarnain-dan-aleksander-agung
  • https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/02/16/olgwsh313-siapakah-sosok-dzulkarnain

_______

Sejak runtuhnya khilafah dan daulah Islamiyah, umat Islam terpecah-pecah dalam kotak bernama negara dan nasionalisme. Mereka lupa ikatan dalam Islam bernama ukhuwah, silakan baca Sahih Muslim No. 4685 dan Musnad Ahmad No. 17654. 

2 Orang-orang barat tidak merasa kuno ketika merujuk dan menulis referensi dari bangsa Yunani. Lantas kenapa kaum muslimin merasa malu dan tidak modern saat menjadikan karya ulama salaf dan zaman keemasan islam sebagai acuan dan referensi terpercaya? Padahal penemuan mereka masih relevan hingga saat ini.

3 Al-Alaq: 1-4, al-Qalam: 1, al-Baqarah: 44, 219, Ali Imaran: 65, al-Araf: 176, Yunus: 24, al-Rad: 4, al-Rum: 21, al-Mukmin: 54, al-Ankabut: 43, al-Mujadilah: 11. Abu Daud: 3157.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here