Kenangan Unik Bersama Ust. Syarif Abadi, Ahli Fiqih Gontor

Bagikan:

Kyai Hasan Abdullah Sahal pernah berkata,

“Kalau pondok lebih terkenal dari kyainya, berarti kyai telah berhasil membesarkan pondok. Kalau kiyai lebih terkenal dari pondoknya, berarti pondok terlah berhasil membesarkan nama kiyai.”

Filsafat ini sangat cocok untuk ustadz dan Pimpinan Pondok Gontor. Banyak orang tahu Gontor, tapi sedikit sekali yang tahu Kyai Ahmad Sahal, Kiyai Imam Zarkasyi, Kyai Zainuddin Fannanie rahimahumullah.

Saya juga sering ditanya orang soal siapa kiyai Gontor saat ini, lantaran orang sering dengar nama pondoknya, tapi tidak dengan nama pimpinannya. Banyak orang juga tidak tahu bahwa sejak berdiri, Ponpes Gontor selalu dipimpin oleh tiga figur kiyai sampai sekarang.

Sebagian orang, tentu merasa bangga akan ketenaran dan memiliki hubungan dengan orang terkenal.

Namun, petuah di atas mengajarkan saya, “Manusia-manusia berilmu, baik dan banyak amal seperti kiyai saja, banyak yang tidak kenal. Siapa saya ingin masyhur di mata orang”. Hal ini ternyata sejalan dengan hadits Rasulullah:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

Allah sungguh mencintai hambanya yang taqi, goni dan tidak suka popularitas. (Muslim)

Melanjuti pembahasan di atas ada sosok guru yang baru saya kenal saat duduk di kelas 6 KMI. Beliau Ustadz Syarif Abadi, salah seorang muallim senior di Pondok Gontor yang menjadi rujukan ilmu fiqih 4 mazhab.

Para sarjana luar negeri yang saat ini mengajar di Pesantren Gontor sangat menghormati beliau, bukan karena senioritas, apalagi gelar, beliau bukan lulusan universitas ternama di dunia.

Tetapi karena dedikasi, akhlak, tawadhu, dan kesederhanaan.

Jangankan di dunia pendidikan nasional, di kalangan santri sendiri ada yang tidak mengenal Ustadz Syarif Abadi.

Hanya namanya saja yang mereka dengar, tapi tidak tahu orangnya, tapi sekali mengenal beliau, dijamin jatuh cinta.

Selama saya diajar saat kelas 6, tidak pernah beliau absen atau telat ngajar.

Demikian cerita dari senior-senior, puluhan tahun mengajar -alhamdulillah- tidak pernah goib dan terlambat.

Suatu hari seperti biasa beliau mengajukan pertanyaan pada santrinya terkait pelajaran kemarin. Terlihat saat itu semua santri menguras otak. Benar-benar mencekam.

Bukan karena beliau killer, tapi kami takut mengecewakan ‘ayah’ yang telah mengajar sepenuh hati.

Tiba-tiba saya yang ditunjuk untuk menjawab teka-teki Usulfiqh, spontan saya kaget dan berharap ada teman yang keceplosan menjawab.

Akhirnya, seolah beliau tahu otak saya kosong jawaban, dalam posisi duduk dan beliau berdiri, saya dipeluknya di dada, sambil mengusap kepala muridnya ini.

Sungguh itu pertama kalinya saya dipeluk seorang guru.

Selain pelajaran ada satu pertanyaan yang khas beliau ajukan saat bertemu santri, “Leh, tadi pagi sholat shubuh shof keberapa?”

Saking perhatiannya terhadap santri dan ibadah sholat, menjelang subuh dan maghrib beliau sering keliling.

Jika ada yang sakit dibangunkannya sambil berkata, “Alim, sholeh, bangun…”

Pernah suatu ketika, salah satu siswa kelas 6 yang akan menjalani ujian Amaliyatu t-Tadris mendapat jatah bimbingan bersama Ust. Syarif Abadi.

Otomatis kakak itu harus menemui Ust. yang sering ngaku SAg. (Sarjana Alama Ghaib) di kampung sebelah untuk mengajukan konsep micro teaching-nya.

Siswa itu pun pergi dengan sepeda. Setelah melewati sungai Malo, terlihatlah sawah terhampar hijau sejauh mata memandang.

Karena tidak tahu rumah ustadznya, siswa itu berhenti dan bertanya, “Pak, dimana ya rumah Ustadz Syarif Abadi?”

Dengan senyum laki-laki yang sedang mengembala itu menjawab, “Kamu jalan terus saja, nanti ada gubuk kecil di pinggir sawah, itulah rumahnya, di situ cuma ada satu rumah.” Diapun melajutkan perjalanan.

Sampai di depan rumah sang ustadz yang terlihat sunyi, siswa itu memberanikan diri turun dan mengucapkan salam, tapi tak ada jawaban.

Setelah 3 kali memberi salam sambil melihat-lihat ke kiri dan kanan rumah itu.

Terdengarlah suara seorang wanita mejawab salam dari dalam…

Setelah mengetahui tujuan santri tersebut, ibu yang menerimanya meminta santri ini menunggu karena al-Ustadz sedang keluar, dan akan dipanggilkan.

Tidak lama ibu itu kembali bersama laki-laki tua yang tadi ia tanya. Siswa itu malu sekali, karena tidak mengenal gurunya yang akan menjadi pembimbing dalam ujian akhir.

Ustadz Syarif Abadi adalah sosok yang luar biasa, tidak pernah sekalipun terlihat beliau marah.

Ada lagi cerita dari seorang senior.

“Suatu hari di tengah perjalanan Ust. Syarif manggil saya, minta tolong untuk memanggilkan seorang santri, saat itu saya membawa mangga mentah yang baru jatuh, saya letakkan buah itu di sepeda ontel.

Satelah saya panggilkan, saya kelupaan mengambil mangga tersebut dari sepeda.

Subhanallah, besoknya saya digojloki temen-temen sekamar karena Ust. Syarif datang mencari saya -jangan bayangkan bagaimana beliau mencari kamar saya karena anggapan saya beliau tidak kenal saya sama sekali- beliau membawa sekresek mangga matang.

Kata temen-temen saya, “beliau minta maaf karena telah membuat mangga saya ketinggalan. Beliau memanjat mangga sendiri untuk menebus kesalahannya.”

Yang membuat beliau istimewa di hati semua alumni Gontor adalah sifat kebapakan beliau, ketulusan, keikhlasan, dan keilmuwannya yang dapat kami rasakan. Tanpa menafikan ke ilmuan asatidz lain.

Tulisan ini kami sajikan bukan untuk berbangga terhadap almamater manapun. Kami juga bukan orang terbaik. Tapi tulidan ini hanya ingin saling berbagi kenikmatan yang telah Allah berikan.

Sebagai murid selayaknya kita meniru akhlak dan adab guru-guru kita yang baik. Di dunia ini masih banyak figur seperti Ust. Syarif Abadi, tidak ada salahnya berkepribadian seperti beliau, ketika orang lain mencari ketenaran.

Sumber tulisan:

  • Darussholeh
  • Saief Alemdar
  • Andik Setiawan
  • Abdul Hamid
  • Muhammad Tohari

Sumber gambar:

  • Gontorgraphy

Leave a Comment