Novel: UDQ #10 Luka

SHARE
Novel Teenlit Ungkapan Dalam Qalbu

Waktu kamu gak ingin nyakitin perasaan orang lain.
Jusru banyak perasaan yang tersakiti. Terutama perasaan kamu sendiri.

“Kalau gak aku tarik, mungkin Arly udah nolongin si Dhani itu.” Ungkap Kinari, menceritakan apa yang ia lakukan pada Dhani saat ia dan Arly pulang latihan semalam. “Kalau kamu benar suka sama Arly, gerak cepat donk, atau kamu akan keduluan sama yang lain.”

“Semua gak semudah yang kamu pikir Nar, kalau dia berubah ke aku gimana?”

“Arly gak akan berubah, dia bukan tipe orang yang seperti itu. Mungkin aja dia juga suka sama kamu. Lebih baguskan?”

Jika saja semua semudah yang Kinari pikirkan. Tapi memang ada benarnya apa Kinari bilang. Aku harus bergerak cepat atau yang lain akan mendahuluiku.

Selain aku, bukan hanya Dhani yang menyukai Arly, mungkin ada yang lain juga. Tapi aku harus apa?

Aku beranjak meninggalkan Kinari di kelas untuk menemui Arly. Gadis itu di depan kelasnya bersama Erka. Melihat aku mendekati mereka, Arly melambaikan tangannya sekan memintaku segera sampai padanya.

“Permen buat kamu.” Dengan ceria Arly memberikan sebuah permen seperti biasanya.

“Thanks Ar.” Ucapku kemudian menyimpan permen dari Arly di saku celanaku.

“Kok aku ga pernah lihat kamu makan permen dari aku ya Ram?”

‘Deg’ apa yang harus aku jawab? Akhirnya Arly menyadarinya.

“Dimakannya waktu dia lagi suntuk Ar. Kalau lagi sama kamu kan dia gak pernah suntuk.” Ujar Erka yang langsung menjawab pertanyaan Arly.

“Bisa aja.” Arly tersipu.

“Eh Ar, nanti sore kita mau main basket di lapangan dekat rumah kamu. Sekali-sekali dateng dong.” Pintaku berharap.

“Iya Ar, biar ada yang nyemangatin. Kita aja waktu itu mau liat kamu latihan.” Tambah Erka mendukung permintaanku.

Kami mulai berbincang, bercanda tapi suasana berubah karena seseorang datang menggangu. Dhani, ia menghampiri kami. Aku lihat luka lebam di wajahnya. Pukulan yang hebat. Dalam hati aku memuji Kinari, namun nampaknya pukulan Kinari tak cukup membuatnya jera.

“Ar, tadi aku nitipin coklat buat kamu.” Ujar Dhani sok akrab.
“Iya, terima kasih ka.” Kata Arly dengan menatap waspada padaku. “Emp, kakak gak apa-apa?” nada khawatir dari Arly itu membuat aku lirih.

“Gak apa-apa kok, luka kayak gini wajar.”

Luka Dhani yang nampak dan langsung dapat perhatian Arly membuat aku iri. Jika saja Arly melihat lukaku. Tapi lukaku di dalam hati dan ia tak akan pernah tahu itu.


Sore ini adalah jadwal aku dan tim basket yang juga teman-teman sekolahku latihan, kami berlatih minimal 3 kali dalam sepekan. Kami sering berganti-ganti lokasi untuk latihan agar tidak mersa jenuh.

Kali ini aku meminta untuk latihan di lapangan dekat rumah Arly. Ya, aku berharap Arly akan datang untuk sekadar melihatku agar aku tambah bersemangat, tapi jika ia tak datang tak akan mengurangi semangatku.

“Ram.” Indra mempassing bola ke arahku. Aku menerima bola dan membaginya pada Dio. Bola didrible kemudian berpindah tangan pada Erka. Erka berlari menuju ring, dan – shut. Bola memutari ring basket hingga akhirnya bola tercemplung ke dalam ring dengan indah.

“Erka kereeeeeeeen.” Sorak seseorang, kami yang berada di lapangan langsung melihat ke sumber suara.

Arly melambaikan tangan pada kami, khususnya aku dari pinggir lapangan. Ia datang, meningkatkan semangatku. Sesekali aku melihatnya duduk tenang memperhatikan permainan kami di pinggir lapangan. Hingga permainan selesai Arly masih duduk manis di sana.

“Kereeeen.” Lepas Arly saat aku menghampirinya.

“Kirain kamu gak datang.” Aku duduk di samping Arly sambil menyeka keringat dengan handband di pergelangan kiriku.

“Sob!” Erka menghampiri kami, melempar sebotol air mineral padaku dan duduk di sebelahku. Dengan kompak aku dan Erka meneguk air melepas dahaga. Arly tersenyum lebar menyaksikan kami.

“Kamu mau minum?” Tawarku.

“Engga.” Arly menggelengkan kepalanya.

Tanpa pamit Erka kembali ke tengah lapangan menghampiri teman-teman yang beristirahat di sana.

“Ram…” Arly seakan ragu untuk bicara. Aku menatapnya penuh senyum, meyakinkannya bahwa aku siap mendengarnya. “Kenapa waktu itu kamu bertengkar sama kak Dhani?”

Jawaban apa yang tepat untuknya. Aku memalingkan pandanganku dari wajahnya. Aku rasa bukan alasan yang dia butuh dariku sebagai jawaban. Ia ingin aku berpikir akan apa yang aku lakukan waktu lalu, maka aku masih diam tak berkata. Ya, aku sadar aku salah.

“Ram, menurut kamu. Kalau aku disukai sama cowok, itu karena apa ya?”

Kenapa tiba-tiba Arly bertanya seperti itu? Apa dia tahu kalau aku menyukainya?

“Kayaknya aku gak cantik deh, pinter juga engga, tapi kenapa katanya kak Dhani suka sama aku?”

Mendengarnya barusan langsung membuat aku kembali menatapnya. “Apa kamu juga suka sama dia?” tanyaku segera.

Arly terdiam tak memberikan jawaban. Ini pertama kalinya ia membahas tentang laki-laki yang menyukainya. Apa dia juga suka dengan Dhani?


Pilu, itu yang aku rasakan saat melihat matanya. Rama, benarkah ia menyukaiku? apakah aku melukai hatinya? Lalu Seshi, aku juga melukainya? Tapi sungguh aku tak bermaksud seperti itu. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku berharap Erka yang menyukaiku.

Sepertinya itu juga tidak mungkin, kerana jika terjadi bagaimana dengan persaan Raia. Kenapa serumit ini?

Hey, Aku ini pelajar, yang harus mengutamakan pelajaranku. Aku tidak boleh kalah dengan keadaan dan terlena dengan suasana. Jangan sampai hal seperti ini menggangu pelajaranku. Aku bangkit dari tempat tidurku, bersiap dan bergegas untuk berangkat sekolah.

Oh langit biru, sertailah kecerahanmu bersamaku. Gedung sekolah, semoga kau tak bosan aku kunjungi setiap harinya. Tanga sekolah, semoga kau tak merasa sakit karena aku taiki dan turuni. Kelasku, jangan pernah lelah menerimaku, karna tak setiap tahun aku akan bersamamu. Tunggu! Kelasku, kenapa sepi sekali? Ini bukan hari liburkan? Tas mereka ada. Lalu kemana mereka semua? Tak satu pun menghuni. Sepi tak seperti biasanya.

Setangkai mawar putih tergeletak anggun di atas mejaku. Aneh, ku perhatikan sekeliling kelas. Setelah berbalik aku menemukan sebuah kalimat tertulis tebal di white board. Please, jadi cewek kakak! Aku keluar kelas tanpa menyentuh bunga itu. Dan mengejutkan, di luar semua penghuni kelas seakan menantiku.

“Terima, terima, terima…” sorak teman-teman padaku sambil bertepuk tangan.

“Ada apa?” tanyaku heran pada mereka. Tapi pertanyaan ku malah membuat mereka bungkam.

“Ekhem.” Aku membalikkan tubuh karena seseorang menepuk pundakku dari belakang. “Arly, kamu mau gak jadi pacar kakak?” tanya orang itu yang tak lain adalah kak Dhani.

Apa yang ia tanyakan? Aku harus jawab apa?

“Terima aja Ar, kak Dhani udah nunggu kamu dari kelas sepuluh.” Celoteh Raia yang juga berada di bagian teman-temanku.

“Terima, terima…” Sorak teman-teman kembali menggaduhi pendengaranku. Kenapa mereka? Kenapa ada hal seperti ini di sekolah. Ini tempat menuntut ilmu kan? Bagaimana jika ada guru yang tahu? Aku ingin pergi tapi mereka mengelilingku.

Aku bingung, hingga hanya bisa memandangi teman-temanku satu persatu. Nai menatapku tajam. Seshi melihatku riang. Raia, Rama, Erka, Bumi. Mereka seakan juga menantikan jawabanku.

Jawaban apa yang harus aku berikan?

Jika benar Rama menyukaiku, sungguh aku tak ingin menyakitinya. Tapi entah kenapa, ketika aku melihat Erka – kepala ku mengangguk.

“Yeah…!” suara sorak langsung berganti di sekelilingku.

“Terima kasih Arly!” ucap kak Dhani girang dan meraih jemariku.

“Terima kasih semua. Aku diterima.”

Apa? Apa maksudnya? Tunggu, siapa yang menerimanya? Aku? Bukan begitu maksudku. Ini salah paham. Nai, Rama, Erka, dan Bumi mereka menghilang.


Sebagian teman-teman mengucapkan selamat padaku, ikut senang atas apa yang aku alami. Tapi aku malah merasa sedih. Sebagian sahabatku merasa keberatan aku tahu itu. Nai, Rama, Erka, dan Bumi. Apa ini sebuah kesalahan fatal?

Sampai jam pulang sekolah berdering, Bumi dan Erka tak bersuara padaku. Hanya Seshi yang meramaikan perasaanku. Teman-teman meninggalkan kelas satu demi satu, dan aku merasa sepi, bukan di kelas ini tapi di dalam hati.

“Aku tahu kamu gak sama Dhani, tapi kenapa kamu nerima dia?” suara dari belakangku. Pertanyaan dari Erka.

AKU TIDAK TAHU KENAPA AKU MENERIMANYA. Itu sebuah kesalah pahaman yang mungkin sudah terlambat untuk aku perbaiki. Aku akan menyakiti banyak hati. Haruskah aku katakan itu pada Erka. “Aku cuma gak mau nyakitin perasaanya.” Jawabku dengan tertunduk tanpa membalikan tubuhku kearahnya.

“Perasaan Rama? Kamu lebih milih nyakitin perasaan Rama?” Erka kini di hadapanku.

“Aku gak bermaksud gitu, tapi…”

“Kamu gak akan bisa Ar.” Erka segera memotong ucapanku.

“Waktu kamu gak ingin nyakitin perasaan orang lain. Jusru banyak yang perasaanya tersakiti. Terutama perasaan kamu sendiri.” Tandasnya kemudian meninggalkan aku sendiri.

“Mungkin dengan berjalan waktu, aku juga akan menyukainya.” Aku benar-benar sendiri sekarang. Erka tak mau mendengarku.

“Selama aku disamping kamu, aku akan selalu bersedia dengar suara kamu. Jadi jangan pernah ragu untuk mengatakan semuanya.” Itu adalah kata-katanya yang lalu.

“Ar, kita pulang sekarang.” Aku mengangkat kepalaku dan sosok kak Dhani yang ada di hadapanku. Mereka membiarkanku sendiri dan ia datang menemaniku.

Aku melangkah bersama kak Dhani, menjejaki jalan menuju rumahku. Laki-laki ini baik, tapi kenapa sahabatku malah tak setuju aku menerimanya?

“Tadi aku nunggu kamu di depan kelas. Tapi kamu gak keluar dan aku gak sengaja dengar pembicaraan kalian.” Ungkap kan Dhani membuka pembicaraan di perjalanan kami. “Terima kasih udah mikirin perasaan aku. Aku janji, aku gak akan buat kamu menyesal karena mau nerima aku.” Ikrarnya dengan teguh.

“Terima kasih Ka.” Ujarku riang dengan senyum lepas. Aku tak ingin ia merasa ini sebuah keterpaksaan. Aku akan berusaha pula untuknya.


Tapi lukaku di dalam hati dan ia tak akan pernah tahu itu.

Daftar Isi: Ungkapan Dalam Qalbu, Novel Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here